11. Pagi Yang Berbeda

Romance Series 38

BAB 11 — PAGI YANG BERBEDA

Tok... tok... tok...

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Eiravelle.

Sang putri masih berdiri di dekat jendela, menatap taman istana yang disinari cahaya pagi. Meski telah terbangun sejak beberapa waktu lalu, pikirannya belum sepenuhnya lepas dari mimpi yang dialaminya.

Pulau-pulau yang melayang di antara awan. Sungai cahaya yang mengalir di langit. Udara yang dipenuhi energi sihir.

Dan pria bermata merah itu.

Eiravelle mengerutkan kening, berusaha mengingat wajahnya. Namun, semakin keras dia mencoba, semakin samar ingatan tersebut. Hanya sepasang mata merah dan suara lembut yang memanggilnya dengan nama asing masih tertinggal jelas.

"Lia..."

Tanpa sadar, Eiravelle menyentuh bibirnya.

[Siapa Lia?]

Tok... tok...

"Putri Eiravelle?"

Suara yang dikenalnya membuat Eiravelle kembali tersadar.

"Masuk."

Pintu terbuka, memperlihatkan Sarah yang membawa nampan sarapan.

"Selamat pagi, Putri."

"Selamat pagi, Sarah."

Sarah berjalan menuju meja di dekat jendela, lalu meletakkan nampan dengan hati-hati. Secangkir minuman hangat, roti, buah-buahan, dan beberapa hidangan ringan tersusun rapi di atasnya.

Semuanya seperti pagi-pagi sebelumnya.

Namun, entah mengapa, Eiravelle memperhatikan setiap gerakan pelayannya itu sedikit lebih lama dari biasanya.

Cara Sarah menata piring, merapikan cangkir, lalu memastikan semuanya siap sebelum mundur beberapa langkah terasa begitu akrab.

Ingatan tentang pria dalam mimpinya kembali melintas.

Pria itu juga datang membawa makanan. Dia pun meletakkan nampan di atas meja sebelum menatap Eiravelle dengan perhatian yang lembut.

Tanpa sadar, sudut bibir sang putri terangkat.

Senyum kecil itu hanya bertahan sesaat, dan Sarah tidak menyadarinya karena masih sibuk membereskan nampan.

"Putri?" Sarah menoleh. "Apakah Anda merasa lebih baik pagi ini?"

Eiravelle sedikit terkejut.

"Ya. Sepertinya aku hanya terlalu banyak berpikir kemarin."

Sarah mengangguk lega.

"Saya senang mendengarnya."

Eiravelle duduk dan mengangkat cangkirnya. Dia meniup permukaan minuman hangat itu sebelum menyesapnya perlahan.

Rasanya familier.

Kehangatannya pun sama seperti yang selalu dia nikmati setiap pagi.

Namun, ketika meletakkan cangkir kembali, pikirannya tanpa sengaja melayang pada tempat asing yang dikunjunginya dalam mimpi.

[Kenapa semuanya terasa begitu nyata?]

Bukan hanya pemandangannya. Dia masih bisa mengingat bagaimana energi sihir mengalir bebas di dalam tubuhnya, seolah-olah tidak ada hambatan sedikit pun.

Perasaan itu begitu berbeda dari yang biasa dia alami di Lumindor.

Eiravelle menatap jemarinya sejenak.

[Tidak. Itu hanya mimpi.]

Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, kemudian melanjutkan sarapan tanpa membiarkan pikirannya berkelana lebih jauh.

Setelah selesai, Eiravelle berdiri dan kembali mendekati jendela.

Taman istana tampak menyenangkan di bawah cahaya pagi. Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalur batu putih, sementara pepohonan tinggi bergoyang lembut tertiup angin.

"Aku ingin berjalan-jalan sebentar."

Sarah segera mengangguk.

"Tentu, Putri. Apakah Anda ingin saya menemani?"

Eiravelle mengambil selendang tipis yang terletak di dekat kursinya.

"Ya. Ayo."

---

Begitu tiba di taman, Eiravelle memperlambat langkahnya.

Sebuah air mancur kecil berdiri di tengah taman, dikelilingi batu-batu putih yang berkilau terkena sinar matahari. Air jernih mengalir dari bagian atasnya menuju kolam dangkal di bawah, menghasilkan suara gemericik yang menenangkan.

Di sepanjang jalur, bunga-bunga putih, kuning, merah muda, dan biru bermekaran. Kupu-kupu beterbangan di antara kelopaknya, sesekali hinggap sebelum kembali mengepakkan sayap.

Eiravelle berhenti ketika seekor kupu-kupu putih dengan semburat keemasan terbang melewatinya.

Dia mengikuti gerakannya dengan pandangan hingga serangga kecil itu akhirnya hinggap di atas sekuntum bunga.

Senyum tipis muncul di wajah sang putri.

Untuk pertama kalinya sejak bangun tidur, pikirannya terasa sedikit lebih ringan.

Dia melanjutkan langkah menuju air mancur, lalu duduk di bangku batu di dekatnya.

Suara gemericik air berpadu dengan desir angin dan bisikan dedaunan. Eiravelle memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan.

"Jauh lebih baik..."

Bisikannya hampir tenggelam di antara suara air.

Taman ini telah menjadi tempat pelariannya sejak kecil. Setiap kali merasa lelah atau membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, dia selalu bisa menemukan ketenangan di antara bunga-bunga dan pepohonan tersebut.

Pagi ini, dia membutuhkannya lebih dari biasanya.

Pernikahan yang telah ditentukan untuknya masih menjadi beban yang belum bisa dia singkirkan. Mimpi aneh itu pun meninggalkan pertanyaan yang belum mampu dijawabnya.

Namun, dia tidak ingin memikirkan keduanya sekarang.

Setidaknya selama beberapa menit, dia ingin menjadi Eiravelle yang biasa—seorang putri yang bisa duduk menikmati taman kesayangannya tanpa harus mencemaskan masa depan.

Dia membuka mata dan memandang kupu-kupu yang kembali beterbangan di dekat air mancur.

Angin menyentuh wajahnya dengan lembut.

Eiravelle membiarkan dirinya menikmati keheningan itu.

Beberapa langkah di belakangnya, Sarah memperhatikan sang putri. Melihat raut wajah Eiravelle yang mulai tenang, dia memilih untuk tidak mengganggunya.

Sarah hanya tersenyum kecil.

Mungkin, untuk pagi ini, tidak ada yang perlu dilakukan selain membiarkan sang putri menikmati waktunya sendiri.

Sebab terkadang, ketenangan sederhana sudah cukup untuk membantu seseorang menghadapi hari yang terasa terlalu berat.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience