15. Hari yang Biasa

Romance Series 38

BAB 15 — Hari yang Biasa

Pagi datang seperti biasanya.

Cahaya matahari memenuhi Istana Lumindor, menyinari taman dan koridor marmer yang dihiasi tanaman merambat. Jauh di Vorath, langit tetap gelap, sementara kristal-kristal bercahaya menerangi jalan dan bangunan kerajaan.

Dua kerajaan menjalani pagi mereka dengan cara yang berbeda.

Namun, di kedua tempat itu, ada dua pewaris takhta yang memiliki keinginan serupa.

Mereka ingin menyibukkan diri.

Apa pun kegiatannya, selama mereka tidak perlu memikirkan pernikahan yang semakin mendekat.

---

Di Istana Lumindor, Eiravelle baru saja menyelesaikan sarapannya ketika ia meletakkan peralatan makannya.

Sarah yang berdiri di dekat meja segera memperhatikan gerakannya.

"Apakah Anda ingin berjalan-jalan di taman, Putri?"

"Aku ingin pergi ke tempat latihan."

Sarah mengangkat alis.

"Tempat latihan lagi?"

Eiravelle mengangguk tanpa ragu.

"Sudah lama aku tidak berlatih dengan sungguh-sungguh."

Sarah melirik jendela. Pagi masih cukup awal, dan sang putri bahkan belum menyelesaikan secangkir tehnya.

"Kalau begitu, sebaiknya saya menyiapkan pakaian latihan Anda."

"Terima kasih, Sarah."

Eiravelle tersenyum kecil, merasa lega karena Sarah tidak mengajukan pertanyaan lebih jauh.

Sebenarnya, ia tahu betul alasan dirinya ingin berlatih.

Hari ini, Raja Thalion sedang menghadiri pertemuan dengan Raja Valerius di paviliun perbatasan. Mereka tentu membicarakan pernikahan yang telah ditentukan oleh perjanjian kuno itu.

Eiravelle tidak tahu keputusan apa yang akan mereka ambil. Ia juga tidak ingin menghabiskan pagi dengan membayangkan berbagai kemungkinan.

Semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan muncul di kepalanya.

Dan ia sudah cukup lelah dengan semua itu.

Ada hal lain yang sesekali mengganggu pikirannya, meskipun ia berusaha mengabaikannya.

Mimpi aneh yang dialaminya beberapa hari lalu.

Tempat bercahaya dengan pulau-pulau melayang. Sungai yang berkilauan seperti cahaya bintang. Seorang pria berambut gelap dengan mata merah yang memanggilnya menggunakan nama asing.

Lia.

Eiravelle masih mengingat suara itu, tetapi detail lainnya perlahan memudar. Ia belum pernah mengalami mimpi yang terasa begitu nyata sebelumnya, dan justru itulah yang membuatnya sulit melupakan pengalaman tersebut.

Tangannya sempat terangkat, menyentuh dadanya.

Tidak ada yang berubah. Detak jantungnya teratur, dan tubuhnya terasa sehat.

[Mungkin aku hanya terlalu lelah waktu itu.]

Ia menurunkan tangannya.

[Sudahlah. Aku tidak akan mendapatkan jawaban dengan terus memikirkannya.]

Setelah berganti pakaian, Eiravelle meninggalkan kamarnya bersama Sarah.

Kali ini, ia berniat benar-benar memusatkan perhatian pada latihan.

---

Area latihan kerajaan telah ramai ketika mereka tiba.

Para prajurit berlatih menggunakan pedang di lapangan utama, sementara beberapa penyihir menguji kemampuan mereka di bawah pengawasan instruktur. Benturan senjata, instruksi para pelatih, dan suara mantra memenuhi udara.

Eiravelle segera menemukan Maurice di sisi lapangan.

Pria itu sedang mengamati sekelompok prajurit ketika menyadari kedatangannya.

"Putri Eiravelle."

"Guru Maurice."

Maurice mengangguk, lalu memandang pakaian latihan yang dikenakan sang putri.

"Kau datang lebih awal. Ada sesuatu yang ingin kau latih secara khusus?"

"Aku ingin mengasah kemampuan memanah dan sihirku."

"Memanah dan sihir?" Maurice mengangkat sebelah alis. "Keduanya sekaligus?"

Eiravelle tersenyum polos.

"Apakah itu masalah?"

"Bukan. Aku hanya ingin memastikan kau tidak akan mengeluh kelelahan setelah setengah jam."

"Aku tidak akan mengeluh!"

Jawabannya terdengar begitu cepat sehingga Maurice tertawa kecil.

"Baiklah. Kita lihat nanti."

Ia membawa Eiravelle ke lapangan yang lebih sepi, tempat beberapa sasaran telah disiapkan.

Latihan dimulai dengan memanah.

Eiravelle mengangkat tangan. Cahaya hijau keemasan berkumpul di telapak tangannya, membentuk sebuah busur yang berkilau lembut. Ia menarik tali busur, memusatkan pandangan pada sasaran di kejauhan, lalu melepaskan anak panah sihirnya.

Anak panah itu melesat dan menancap tepat di tengah sasaran.

"Bagus," komentar Maurice. "Sekali lagi."

Eiravelle mengulangi gerakannya.

Kali ini, ia mengubah sudut tembakan dan mengatur aliran sihirnya agar anak panah tidak kehilangan kestabilan di udara. Hasilnya kembali tepat sasaran.

Perlahan, pikirannya mulai terpusat pada gerakan tangan, arah angin, dan kendali sihir.

Tidak ada paviliun perbatasan.

Tidak ada pembicaraan kedua raja.

Tidak ada pernikahan.

Hanya dirinya dan latihan yang harus diselesaikannya.

Setelah beberapa kali mencoba, Maurice menyuruhnya berhenti sejenak untuk beralih ke latihan pengendalian sihir.

Eiravelle mengangkat kedua tangannya. Cahaya keemasan muncul di antara jemarinya, lalu membentuk beberapa bola kecil yang melayang di udara.

Ia menggerakkan tangannya perlahan, mengarahkan setiap bola ke titik yang berbeda tanpa membiarkannya saling bertabrakan.

Satu demi satu, bola-bola itu bergerak mengikuti kendalinya.

"Jangan hanya mengandalkan kekuatan," ujar Maurice. "Kendalikan alirannya. Sihir yang besar belum tentu berguna jika kau tidak dapat mengarahkannya."

Eiravelle mengangguk dan mencoba lagi.

Kali ini, ia memperlambat aliran sihirnya. Gerakannya menjadi lebih halus, dan bola-bola cahaya itu berhenti tepat pada posisi yang diinginkannya.

Maurice mengangguk puas.

"Lebih baik."

Eiravelle mengembuskan napas, lalu tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak pengumuman pernikahan itu, ia merasa mampu menghabiskan waktu tanpa terus memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tentu saja, latihan tidak akan mengubah keputusan kedua kerajaan.

Namun, setidaknya pagi ini masih menjadi miliknya.

Dan untuk sementara, itu sudah cukup.

---

Di Vorath, suasananya jauh berbeda.

Raungan keras mengguncang hutan yang terletak tidak jauh dari wilayah kerajaan.

Seekor makhluk iblis menerobos semak-semak, memperlihatkan tubuh besar dengan cakar tajam. Sebelum makhluk itu sempat menyerang para penjaga yang berada di jalurnya, Klause telah menghunus pedang.

"Jangan biarkan ia mendekati barisan belakang!"

Para prajurit segera berpencar. Dua penyihir membentuk lingkaran sihir untuk membatasi pergerakan makhluk itu, sementara yang lain bersiap menghadapi serangannya.

Klause bergerak lebih dahulu.

Pedangnya berkilat di antara pepohonan. Ia menghindari cakar yang menyambar dari samping, kemudian membalas dengan tebasan cepat ke bagian tubuh lawannya.

Makhluk itu menggeram dan berusaha menerjangnya lagi.

Klause tidak memberinya kesempatan.

Dengan satu gerakan terukur, ia menghindari serangan berikutnya dan menjatuhkan makhluk tersebut sebelum para penyihir menutup jalur pelariannya.

Beberapa saat kemudian, hutan kembali tenang.

Klause menurunkan pedangnya dan memeriksa tubuh makhluk itu sekilas.

"Berikutnya."

Kaguya, yang baru saja mendekat, menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

"Yang itu baru saja tumbang."

"Aku bisa melihatnya."

"Dan sekarang kau sudah mencari lawan berikutnya?"

Klause memasukkan pedangnya ke sarungnya.

"Daripada membuang waktu."

Kaguya menyilangkan tangan.

"Menarik. Biasanya kau tidak keberatan membuang waktu untuk mengeluh kepadaku."

"Itu karena kau sering memberikan alasan."

"Aku merasa tersinggung."

"Kau akan bertahan."

Kaguya menghela napas panjang, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis.

Ia mengenal Klause sejak kecil. Ia tahu kapan sahabatnya sedang benar-benar ingin berlatih dan kapan ia sekadar mencari alasan agar tidak perlu memikirkan sesuatu.

Hari ini jelas termasuk kategori kedua.

Pernikahan itu masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Pertemuan para raja di paviliun perbatasan juga berlangsung tanpa kehadiran mereka.

Klause tidak tahu apa yang sedang dibicarakan ayahnya bersama Raja Thalion, dan ia tampaknya tidak berniat mencari tahu dalam waktu dekat.

"Baiklah," kata Kaguya akhirnya. "Kita lanjutkan pemeriksaan hutan. Tetapi jangan berharap aku akan membiarkanmu bertarung sendirian sepanjang hari."

Klause meliriknya.

"Aku tidak meminta bantuanmu."

"Benar. Kau hanya selalu berjalan terlalu jauh sampai aku harus mengikutimu."

Tanpa menunggu jawaban, Kaguya berbalik dan memberi isyarat kepada para penjaga agar melanjutkan perjalanan.

Klause mengikuti dari belakang.

Hutan Vorath telah beberapa kali menjadi lokasi kemunculan makhluk iblis yang tidak biasa. Karena itu, pemeriksaan wilayah tetap menjadi tugas penting, terlepas dari persoalan yang sedang dihadapi keluarga kerajaan.

Setidaknya, pekerjaan ini memiliki tujuan yang jelas.

Mereka mencari jejak makhluk berbahaya, memeriksa perubahan aliran sihir, dan memastikan tidak ada ancaman yang mendekati wilayah penduduk.

Hal-hal yang dapat dilihat, diperiksa, dan ditindaklanjuti.

Tidak seperti pernikahan yang keputusan akhirnya terasa berada di tangan semua orang, kecuali dirinya sendiri.

Klause mengencangkan genggaman pada tali sarung pedangnya.

[Aku hanya perlu fokus pada apa yang ada di hadapanku.]

Ia terus berjalan, memperhatikan pepohonan dan tanah di sepanjang jalur.

Kaguya tidak mengganggunya lagi.

Namun, ketika rombongan memasuki bagian hutan yang lebih dalam, Klause mendadak berhenti.

Kaguya langsung menyadari perubahan itu.

"Ada apa?"

Klause mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua orang diam.

Di antara pepohonan, tidak terdengar suara burung maupun gerakan hewan kecil. Angin yang sebelumnya menggerakkan dedaunan pun seolah mereda.

Klause menatap ke arah lereng yang tertutup bayangan.

Beberapa detik kemudian, sebuah raungan terdengar dari kejauhan.

Lebih dalam daripada suara makhluk yang baru saja mereka hadapi.

Para penjaga segera menghunus senjata. Kaguya mengangkat tangan, mulai mengumpulkan sihir di ujung jemarinya.

Klause menarik pedangnya kembali.

"Sepertinya kita belum selesai."

Ia melangkah menuju sumber suara, kali ini dengan kewaspadaan penuh.

Kaguya mengikutinya tanpa melontarkan gurauan lain.

Apa pun yang berada di depan mereka, pemeriksaan hutan belum berakhir.

Dan untuk saat ini, Klause lebih memilih menghadapi ancaman yang bisa ia lawan daripada duduk di istana, menunggu keputusan orang lain mengenai hidupnya.

---

Di Lumindor, Eiravelle kembali menarik tali busur sihirnya.

Di Vorath, Klause melangkah semakin jauh ke dalam hutan bersama Kaguya.

Mereka berada di tempat yang berbeda, menjalani kegiatan yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama.

Mengisi hari dengan sesuatu yang bisa mereka kendalikan.

Untuk sementara, Eiravelle memilih latihan.

Klause memilih perburuan.

Dan selama perhatian mereka tertuju pada tugas masing-masing, pernikahan itu bisa menunggu di sudut pikiran mereka.

Setidaknya sampai hari biasa ini berakhir.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience