5. Satu Bulan Tersisa

Romance Series 38

SENJA DI ANTARA DUA DUNIA

Bab 5 — Satu Bulan Tersisa

Klause masih berdiri di hadapan singgasana.

Namun kali ini, wajahnya tidak lagi menunjukkan keterkejutan.

Ia terlihat kesal.

Sangat kesal.

"Ayahanda, aku tidak setuju."

Valerius menatapnya dengan tenang.

"Aku sudah menduganya."

"Kalau begitu, mengapa Ayahanda tetap mengatakannya seolah-olah semuanya sudah diputuskan?"

"Karena memang sudah diputuskan."

Klause mengepalkan tangannya.

"Setidaknya berikan aku alasan yang lebih masuk akal daripada hanya mengatakan bahwa aku adalah pewaris kerajaan."

Valerius tidak langsung menjawab.

Klause melanjutkan, "Aku bahkan belum pernah bertemu Putri Lumindor. Aku tidak tahu seperti apa sifatnya, dan aku juga tidak tahu apakah dia bersedia menikah denganku."

"Belum," jawab Valerius singkat. "Kau akan mengetahuinya nanti."

Klause menghela napas panjang.

"Ayahanda, apakah tidak ada cara lain?"

Valerius menggeleng.

"Bagaimana jika kedua kerajaan menyetujui perubahan perjanjian?"

"Tidak."

"Bagaimana jika pernikahannya ditunda?"

"Tidak."

"Bagaimana jika—"

"Tidak."

Klause langsung terdiam.

Ia menatap ayahnya dengan kesal, sementara Valerius tetap duduk tenang di atas singgasana. Seolah-olah sang raja sudah mengetahui setiap kemungkinan yang akan diajukan putranya.

Klause mengusap dahinya.

"Setidaknya jelaskan kepadaku mengapa semuanya harus dilakukan sekarang."

Kali ini, Valerius tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia mengangkat satu tangan dan menggerakkannya perlahan.

Cahaya sihir muncul di tengah aula. Udara bergetar ketika sebuah gulungan kuno terbentuk dari dalam cahaya tersebut, melayang di antara ayah dan anak itu.

Klause segera mengalihkan pandangannya.

Gulungan itu terbuka dengan sendirinya.

Tulisan-tulisan kuno muncul di atas permukaannya, diselimuti cahaya keemasan yang semakin terang.

Klause melangkah mendekat.

Tatapannya menyusuri barisan tulisan tersebut hingga berhenti pada sebuah kalimat yang muncul lebih besar daripada yang lainnya.

SATU BULAN TERSISA.

Cahaya tulisan itu begitu terang hingga membuat Klause menyipitkan mata.

Namun, ia tidak berpaling.

Satu bulan.

Hanya satu bulan sebelum batas waktu perjanjian tiba.

Klause mendekat lagi, meneliti setiap bagian gulungan itu. Ia mencari celah, syarat tersembunyi, atau sesuatu yang mungkin dapat digunakan untuk membatalkan pernikahan tersebut.

Namun, semakin lama ia membaca, semakin jelas kenyataan yang harus dihadapinya.

Tidak ada jalan keluar yang terlihat.

Klause mengembuskan napas panjang.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bahwa dirinya tamat.

"Ayahanda..."

Valerius menatapnya.

"Jika perjanjian ini sudah bertahan selama seribu tahun, mengapa batas waktunya harus tiba sekarang?"

"Karena waktunya memang telah tiba."

"Dan jika aku menolak?"

Valerius terdiam sejenak.

"Kalau kau menolak, kau bukan hanya menolak pernikahan. Kau juga menolak perjanjian yang dibuat oleh kedua kerajaan."

Klause mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Jadi selama seribu tahun, tidak ada seorang pun yang pernah menggunakan bagian ini?"

Valerius menggeleng.

Klause kembali menatap gulungan tersebut.

"No wonder..."

Ia mengembuskan napas perlahan.

"No wonder the agreement was never usable for so long by our ancestors."

Nada suaranya mengandung kemarahan dan ketidakpercayaan.

"It's cruel..."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara lebih rendah.

"Seribu tahun perjanjian itu... dan sekarang semuanya harus berakhir dengan pengorbanan seperti ini."

Tatapannya kembali tertuju pada gulungan kuno.

"Yang lebih penting, perjanjian ini disegel dengan begitu sempurna. Seolah-olah semuanya memang menunggu sampai waktunya tiba."

Klause bukanlah seseorang yang mudah terkesan oleh sihir kuno. Sebagai seorang Grandmaster dalam ilmu pedang dan sihir, ia telah mempelajari berbagai teknik serta artefak yang tidak dapat dipahami oleh kebanyakan penyihir.

Namun, energi yang mengelilingi gulungan ini terasa berbeda.

Terlalu tua.

Terlalu kuat.

Bahkan jauh lebih rumit daripada sihir yang selama ini dikenalnya.

Klause mempersempit matanya.

Ada dua jenis energi yang menyelimuti gulungan itu.

Energi pertama terasa gelap, berat, dan dalam.

Sihir Vorath.

Namun, di antara kekuatan tersebut terdapat energi lain yang berbeda sifatnya. Lebih terang dan lembut, tetapi sama sekali tidak kalah kuat.

Sihir Lumindor.

Klause terdiam.

Dua kekuatan.

Dua kerajaan.

Satu perjanjian yang telah bertahan selama seribu tahun.

Dan sekarang, hanya satu bulan tersisa.

Ia belum mengetahui alasan sebenarnya di balik semua ini. Namun, satu hal mulai terasa jelas baginya: perjanjian tersebut menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang pernah diajarkan dalam sejarah kerajaan.

******

Di sisi lain, di Kerajaan Lumindor...

Eiravelle berada di kamarnya.

Namun, sang putri yang biasanya tenang dan mudah tersenyum itu tidak terlihat seperti dirinya sendiri.

Ia menangis.

Tubuhnya tertutup selimut, sementara wajahnya disembunyikan di balik bantal. Isak tangisnya terdengar pelan dari dalam kamar.

Sarah berdiri di dekat pintu dengan tatapan khawatir.

Selama bertahun-tahun mendampingi Eiravelle, ia hampir tidak pernah melihat sang putri menangis separah ini.

Terakhir kali Eiravelle menangis seperti ini adalah ketika dirinya masih sangat kecil.

Sarah ingin mengetahui apa yang telah terjadi di aula utama, tetapi ia memilih untuk tidak mendesak sang putri.

Mungkin Eiravelle hanya membutuhkan waktu untuk meluapkan perasaannya.

Di dalam kamar, Eiravelle masih menggenggam erat selimutnya.

Pikirannya kembali pada percakapannya dengan Raja Thalion, pada gulungan sihir kuno yang melayang di hadapannya, dan pada keputusan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Pernikahan.

Setelah bertemu ayahnya di aula utama, Eiravelle akhirnya mengetahui semuanya.

Dalam waktu satu bulan, ia akan menikah dengan seseorang yang belum pernah ditemuinya.

Awalnya, ia telah mencoba menolak. Ia bahkan mempertanyakan bagaimana mungkin hidupnya ditentukan oleh perjanjian yang dibuat seribu tahun lalu.

Namun, setelah melihat gulungan tersebut dengan mata kepalanya sendiri, ia tahu bahwa ayahnya tidak sedang bercanda.

Perjanjian itu benar-benar ada.

Dan batas waktunya semakin dekat.

Satu bulan.

Hanya satu bulan.

Eiravelle menarik selimut lebih tinggi hingga hampir menutupi seluruh kepalanya.

[Bagaimana bisa... aku, sebagai Putri Lumindor...]

Ia menggigit bibirnya.

[...harus menikah dengan pria itu... vampir itu...]

Semakin ia memikirkannya, semakin banyak air mata yang jatuh.

Menikah dengan seseorang yang belum pernah ditemuinya sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi seorang putri kerajaan. Sejak kecil, Eiravelle telah memahami bahwa suatu hari nanti, tanggung jawab terhadap kerajaannya mungkin akan memengaruhi pilihan hidupnya.

Namun, masalahnya bukan hanya tentang menikahi orang asing.

Masalahnya adalah kerajaan tempat pria itu tinggal.

Vorath.

Eiravelle membenamkan wajahnya kembali ke bantal.

Selama hidupnya, ia mengenal Vorath melalui cerita dan pelajaran sejarah. Kerajaan yang tidak pernah menikmati sinar matahari, tempat kabut menyelimuti daratan dan para vampir hidup dalam kegelapan.

Setidaknya, itulah yang selama ini diajarkan kepadanya.

[Bagaimana mungkin...?]

Air matanya kembali mengalir.

[Bagaimana mungkin aku, seorang elf, harus tinggal di sana?]

Ia membayangkan langit gelap, hutan yang tidak pernah disentuh cahaya matahari, serta makhluk-makhluk vampir yang selama ini hanya dikenalnya melalui cerita.

Tubuhnya semakin meringkuk di bawah selimut.

[Aku tidak mau...]

Ia menarik napas gemetar.

[Aku tidak mau meninggalkan rumahku. Aku tidak mau pergi ke tempat seperti itu...]

Di luar kamar, Sarah akhirnya tidak sanggup hanya berdiri diam.

Ia mengetuk pintu dengan lembut.

"Putri Eiravelle?"

Tidak ada jawaban.

Sarah menunggu sebentar sebelum kembali berbicara.

"Putri, bolehkah saya masuk?"

Beberapa saat kemudian, terdengar suara kecil dari balik selimut.

"...Masuklah."

Sarah membuka pintu perlahan dan menghampiri tempat tidur.

"Putri..."

Eiravelle tidak menjawab.

Sarah duduk di tepi ranjang, lalu mengusap lembut bagian atas selimut yang menutupi kepala sang putri.

"Anda tidak perlu menyembunyikan wajah Anda dari saya."

"Aku jelek..."

Sarah terdiam sesaat sebelum tersenyum tipis.

"Kalau begitu, hari ini saya akan berpura-pura tidak melihat apa-apa."

"...Sarah."

"Ya, Putri?"

"Itu tidak membantu."

Sarah menahan senyum.

"Maaf."

Untuk sesaat, Eiravelle mengeluarkan suara yang hampir menyerupai tawa. Namun, suara itu segera menghilang ketika ia kembali teringat pada pernikahan yang menantinya.

Sarah mengambil saputangan dan menyerahkannya kepada sang putri.

Eiravelle menerimanya, lalu mengusap air mata di pipinya.

"Sarah..."

"Ya?"

"Apakah kau pernah membayangkan aku akan menikah dengan seorang vampir?"

Sarah terdiam sejenak.

"Sejujurnya, tidak, Putri."

Eiravelle menundukkan kepala.

"Aku juga tidak pernah membayangkannya."

Jemarinya meremas saputangan.

"Aku tahu suatu hari nanti aku mungkin harus menikah demi kerajaan. Tetapi mengapa harus Vorath? Mengapa harus seseorang yang bahkan belum pernah kutemui?"

Suaranya mulai bergetar lagi.

"Bagaimana jika dia tidak menyukaiku? Bagaimana jika aku tidak bisa hidup di sana?"

Sarah mendengarkan tanpa menyela.

"Aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaan di sana sebenarnya. Selama ini, aku hanya mempelajarinya melalui buku-buku dan cerita yang diajarkan kepada kita."

Eiravelle menatap Sarah dengan mata yang dipenuhi kegelisahan.

"Bagaimana aku bisa pergi ke tempat yang begitu asing, lalu tinggal di sana sebagai istri seseorang?"

Sarah menggenggam tangannya dengan lembut.

"Putri, saya tidak bisa menjanjikan bahwa semuanya akan mudah."

Eiravelle menunduk.

"Namun, Anda juga belum pernah melihat Vorath dengan mata Anda sendiri. Anda belum pernah bertemu pangeran yang akan menjadi suami Anda. Saat ini, Anda hanya mengetahui cerita-cerita yang pernah Anda dengar."

"Tetapi bagaimana jika cerita itu benar?"

"Kalau begitu, Anda akan menghadapinya ketika waktunya tiba."

Sarah tersenyum lembut.

"Anda tidak harus menghadapi semua ketakutan itu malam ini."

Eiravelle terdiam.

Kemudian, perlahan-lahan, jemarinya membalas genggaman Sarah.

"Aku takut, Sarah."

"Saya tahu, Putri."

"Aku tidak ingin meninggalkan rumah."

"Saya mengerti."

"Aku tidak ingin pergi ke tempat yang tidak kukenal."

Sarah tidak membantah. Ia hanya tetap berada di sisi Eiravelle, membiarkan sang putri mengungkapkan semua perasaan yang selama ini tertahan.

Beberapa saat kemudian, Eiravelle kembali menyandarkan kepalanya pada bantal.

"Sarah?"

"Ya?"

"Bisakah kau tetap di sini sebentar?"

Sarah tersenyum.

"Tentu saja."

Ia tidak berniat pergi selama sang putri masih membutuhkannya.

Eiravelle perlahan memejamkan mata, meskipun pikirannya belum juga tenang.

Satu bulan.

Hanya tersisa satu bulan sebelum kehidupannya berubah.

Jauh di Kerajaan Vorath, seorang pangeran yang belum pernah ditemuinya mungkin sedang memikirkan hal yang sama.

Mereka belum mengetahui wajah satu sama lain, belum mengetahui sifat masing-masing, dan belum memahami rahasia yang tersembunyi di balik perjanjian kuno tersebut.

Namun, keduanya kini menghadapi kenyataan yang sama.

Dalam satu bulan, hidup mereka tidak akan lagi seperti sebelumnya.

Dan bagi Eiravelle, semakin dekat hari itu, semakin sulit baginya membayangkan kehidupan yang menantinya di seberang dunia.

Vorath.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience