Series
38
BAB 14 — Pertemuan di Paviliun Perbatasan
Lima hari telah berlalu sejak pengumuman pernikahan Putri Eiravelle dari Lumindor dan Pangeran Klause dari Vorath.
Hari yang telah disepakati untuk pertemuan kedua kerajaan akhirnya tiba.
Sejak pagi, kedua istana disibukkan oleh persiapan keberangkatan para penguasa mereka. Para pelayan memastikan segala kebutuhan perjalanan telah tersedia, sementara pengawal kerajaan memeriksa jalur menuju perbatasan.
Pertemuan ini bukan sekadar urusan diplomatik biasa.
Setelah seribu tahun berlalu, perjanjian yang diwariskan oleh leluhur mereka kembali menjadi dasar bagi keputusan besar kedua kerajaan. Kali ini, keputusan tersebut menyangkut masa depan dua pewaris takhta yang bahkan belum pernah bertemu.
Dan sebagai orang tua sekaligus penguasa, kedua raja harus menemukan cara untuk menjalankan perjanjian itu tanpa melupakan anak-anak mereka sendiri.
---
Di Istana Lumindor, Raja Thalion berdiri di hadapan sebuah cermin besar.
Jubah putihnya dihiasi sulaman emas yang membentuk pola sinar matahari. Lambang matahari keemasan terletak di bagian dada, melambangkan cahaya yang telah menaungi kerajaan itu selama turun-temurun. Mahkota emas bertengger di kepalanya, sederhana dalam bentuk, tetapi menunjukkan kewibawaan seorang raja.
Thalion dikenal sebagai penguasa yang tenang dan bijaksana. Ia tidak terbiasa mengambil keputusan hanya berdasarkan tekanan, sekalipun keputusan itu menyangkut hubungan antara dua kerajaan.
Di belakangnya, Queen Elara merapikan lipatan jubah sang raja.
"Jangan bergerak."
Thalion tersenyum melalui pantulan cermin.
"Aku hanya sedang berdiri."
"Dan entah bagaimana, kau masih berhasil membuat jubahmu berantakan."
Tawa kecil keluar dari bibir Thalion.
Elara menyelesaikan pekerjaannya, lalu menatap suaminya dengan ekspresi yang lebih serius.
"Thalion, aku ingin kau berhati-hati hari ini."
Senyum sang raja memudar sedikit.
"Kau mengkhawatirkan pertemuan itu?"
"Aku mengkhawatirkan keputusan yang mungkin dibuat di dalamnya."
Thalion terdiam.
Elara melanjutkan, "Kita tahu apa yang tertulis dalam perjanjian. Namun, Eiravelle bukan sekadar pewaris yang namanya tercantum dalam dokumen kuno. Dia putri kita."
"Aku tidak pernah melupakan itu."
"Aku tahu." Suara Elara melembut. "Tetapi mengetahui sesuatu dan benar-benar mempertimbangkannya ketika saatnya tiba adalah dua hal yang berbeda."
Thalion berbalik menghadap istrinya.
Selama bertahun-tahun, Elara selalu menjadi orang yang mengingatkannya pada hal-hal yang mudah terabaikan ketika tanggung jawab kerajaan memenuhi pikirannya. Ia memahami pentingnya perdamaian, tetapi tidak pernah menganggap kebahagiaan keluarga kerajaan sebagai sesuatu yang boleh dikorbankan begitu saja.
"Aku tidak akan memutuskan apa pun tanpa mempertimbangkan keadaan Eiravelle," jawab Thalion.
Elara mengamati wajahnya sejenak sebelum mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan menunggumu kembali."
Thalion menggenggam tangan istrinya sebentar.
"Jaga Eiravelle untukku."
"Seperti biasanya."
Setelah melepaskan tangan Elara, Thalion mengambil sarung tangannya dan meninggalkan ruangan.
Namun, bahkan setelah pintu tertutup, Elara masih berdiri di tempatnya.
Ia berharap pertemuan hari ini membawa hasil yang baik.
Akan tetapi, sebagai seorang ibu, ia tahu bahwa perdamaian dua kerajaan tidak otomatis menjamin kebahagiaan putrinya.
---
Di Istana Vorath, persiapan berlangsung dengan suasana yang serupa, meskipun penampilan kerajaan itu sangat berbeda dari Lumindor.
Raja Valerius berdiri di depan cermin, mengenakan jubah hitam kebiruan dengan sulaman perak di sepanjang tepinya. Pola lengkungan bulan menghiasi kain tersebut, sementara lambang bulan sabit perak terpasang di dadanya.
Mahkota gelap dengan hiasan perak melengkapi penampilannya.
Valerius memiliki pembawaan yang tegas. Ia terbiasa menghadapi persoalan kerajaan dengan kepala dingin dan memahami bahwa keputusan seorang raja sering kali membawa konsekuensi jauh melampaui kehidupan pribadinya.
Namun, hari ini, persoalan yang akan dibicarakannya bukan hanya menyangkut dua kerajaan.
Queen Alexandra berdiri di belakangnya, merapikan bagian bahu jubah sang raja.
"Sudah," katanya setelah memastikan semuanya rapi.
Valerius menatap pantulan dirinya.
"Bagaimana? Cukup pantas untuk bertemu dengan Raja Lumindor?"
"Cukup pantas," jawab Alexandra. "Asalkan kau tidak mengubah pertemuan ini menjadi perdebatan tentang siapa yang memiliki hak lebih besar atas perjanjian lama."
Valerius melirik istrinya melalui cermin.
"Aku tidak berniat bertengkar."
"Bagus. Karena aku tidak ingin mendengar bahwa kau dan Thalion menghabiskan waktu berjam-jam berdebat, tetapi pulang tanpa keputusan yang jelas."
Valerius tertawa pelan, tetapi Alexandra tidak ikut tertawa.
Ekspresinya membuat sang raja kembali serius.
"Valerius, ingatlah Klause."
Nama putra mereka membuat keheningan singkat menyelimuti ruangan.
"Aku tahu dia tidak menyukai pernikahan ini," ujar Valerius.
"Mengetahuinya saja tidak cukup." Alexandra menatap suaminya dengan lembut, tetapi tegas. "Klause tidak pernah diberi kesempatan untuk mengenal calon istrinya. Dia bahkan belum pernah berbicara dengannya."
Valerius menghela napas.
Ia masih mengingat kemarahan Klause ketika pernikahan itu dibicarakan. Putranya bukan anak yang mudah tunduk hanya karena seseorang menyebutkan kewajiban. Semakin ia merasa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri, semakin kuat pula keinginannya untuk menentang keputusan tersebut.
"Aku tidak bisa membatalkan begitu saja perjanjian yang telah menjaga perdamaian selama seribu tahun," katanya.
"Aku tidak memintamu membatalkannya."
Alexandra membenarkan ujung lengan jubah suaminya.
"Aku hanya memintamu memastikan bahwa kita tidak memperlakukan Klause seolah-olah dia hanyalah bagian dari perjanjian itu."
Valerius terdiam cukup lama.
Akhirnya, ia mengangguk.
"Aku akan mengingatnya."
Alexandra tersenyum tipis.
"Kalau begitu, pergilah sebagai seorang raja yang memahami tanggung jawabnya, tetapi jangan lupa bahwa kau juga seorang ayah."
Valerius mengambil sarung tangan hitamnya.
Kata-kata itu mengikutinya hingga ia meninggalkan ruangan.
---
Tidak lama kemudian, dua rombongan kerajaan meninggalkan istana masing-masing.
Dari Lumindor, sebuah kereta putih keemasan melintasi jalan yang disinari matahari. Lambang matahari terpasang di sisinya, diiringi sejumlah pengawal berkuda dengan seragam kerajaan.
Dari Vorath, kereta hitam kebiruan bergerak melewati jalan-jalan yang diterangi kristal. Hiasan perak dan lambang bulan sabit pada kereta itu menandai kedatangan rombongan penguasa Vorath.
Kedua rombongan menempuh perjalanan dari arah yang berlawanan, menuju tempat yang sama.
Paviliun Perbatasan.
Bangunan batu itu berdiri di wilayah yang menghubungkan Lumindor dan Vorath. Tidak semegah istana kedua kerajaan, tetapi tempat tersebut telah menyaksikan berbagai perundingan selama berabad-abad.
Paviliun itu tidak dibangun untuk menonjolkan keunggulan salah satu pihak. Tidak ada lambang raksasa yang mendominasi bangunannya, tidak pula gerbang yang menghalangi jalan dari salah satu wilayah.
Tempat itu dimaksudkan sebagai ruang pertemuan yang setara.
Hari ini, makna tersebut kembali diuji.
Rombongan Lumindor tiba lebih dahulu. Raja Thalion turun dari keretanya dan menunggu di depan paviliun, sementara pengawalnya mengambil posisi di luar.
Beberapa menit kemudian, kereta Vorath terlihat mendekat.
Ketika kereta itu berhenti, Raja Valerius turun dan menyerahkan sarung tangannya kepada seorang pelayan.
Kedua raja akhirnya berdiri berhadapan.
Untuk sesaat, mereka saling mengamati. Tidak ada permusuhan terbuka di antara mereka. Mereka telah mengetahui nama dan kedudukan masing-masing sejak lama, tetapi hubungan diplomatik tidak selalu berarti kedekatan pribadi.
Valerius mengulurkan tangan.
"Raja Thalion."
Thalion menyambutnya.
"Raja Valerius. Senang akhirnya kita dapat bertemu secara langsung."
"Semoga pertemuan ini membawa hasil yang baik bagi kedua kerajaan."
"Itulah harapanku."
Jabat tangan mereka singkat, tetapi tegas.
Setelah bertukar salam, kedua raja memasuki paviliun. Para pengawal tetap berada di luar, memberikan ruang bagi pembicaraan yang tidak perlu didengar oleh orang lain.
---
Di dalam ruangan utama, sebuah meja panjang telah disiapkan. Dua kursi ditempatkan saling berhadapan, sementara jendela-jendela tinggi membiarkan udara perbatasan mengalir ke dalam.
Thalion duduk lebih dahulu. Valerius mengambil tempat di seberangnya.
Beberapa saat berlalu sebelum salah satu dari mereka membuka pembicaraan.
"Kurasa kita sebaiknya langsung membahas tujuan utama pertemuan ini," kata Thalion. "Pernikahan anak-anak kita."
Valerius mengangguk.
"Setuju. Ada banyak hal yang perlu disepakati sebelum hari pernikahan tiba."
"Pertama-tama, perjalanan Putri Eiravelle menuju Vorath perlu dipersiapkan dengan baik. Kita harus memastikan keamanannya dan menentukan siapa saja yang akan mendampinginya."
"Vorath akan menyediakan pengawalan kerajaan ketika waktunya tiba," jawab Valerius. "Namun, aku juga ingin rombongan Lumindor tetap dapat membawa pengawal dan pelayan yang dipercaya sang putri."
Thalion tampak sedikit lega mendengar usulan itu.
"Itu akan membuat perjalanannya lebih nyaman."
"Bagaimanapun, dia akan memasuki negeri yang belum pernah dikunjunginya."
"Dan Klause juga belum pernah mengunjungi Lumindor," tambah Thalion.
Keduanya terdiam sejenak.
Pembicaraan mereka sejauh ini berjalan lancar. Namun, ada persoalan yang lebih sulit daripada mengatur perjalanan, pengawalan, atau tempat berlangsungnya upacara.
Valerius menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Apakah Putri Eiravelle telah diberi tahu mengenai rencana pertemuan pertamanya dengan Klause?"
"Dia mengetahui bahwa pernikahan ini akan dilaksanakan, tetapi kami belum menetapkan kapan mereka akan bertemu secara langsung."
"Keadaan di pihakku sama."
Tatapan kedua raja bertemu.
Mereka memahami bahwa kedua pewaris itu tidak memiliki hubungan sebelumnya. Tidak ada persahabatan yang dapat menjadi dasar, tidak ada kenangan bersama yang bisa mereka kenang, bahkan tidak ada percakapan sederhana yang pernah mereka lakukan.
Mereka hanya mengetahui nama satu sama lain dan masa depan yang telah ditentukan bagi mereka.
Thalion melipat tangannya di atas meja.
"Aku tidak ingin pertemuan pertama mereka berlangsung di tengah keramaian atau di hadapan banyak pejabat kerajaan. Itu hanya akan menambah tekanan."
Valerius mempertimbangkan usulan tersebut.
"Aku setuju. Mereka seharusnya memiliki kesempatan untuk berbicara tanpa merasa sedang diadili oleh seluruh kerajaan."
"Kalau begitu, kita perlu menentukan waktu dan tempat yang sesuai setelah membahas persiapan utama."
Valerius mengangguk.
"Dan sebelum itu, kita harus memastikan bahwa mereka memahami tanggung jawab yang akan mereka emban."
Thalion menatapnya dengan serius.
"Memahami tanggung jawab tidak berarti mereka harus mengabaikan perasaan sendiri."
Valerius tidak langsung menjawab.
Ia teringat perkataan Alexandra sebelum keberangkatannya. Ia juga teringat wajah Klause ketika mendengar bahwa pernikahan itu tidak dapat ditolak begitu saja.
"Aku mengerti," katanya akhirnya. "Perjanjian ini penting, tetapi kita tidak boleh menganggap bahwa pernikahan akan berjalan baik hanya karena kedua kerajaan menyetujuinya."
Thalion mengangguk perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, mereka menemukan kesepakatan yang tidak hanya didasarkan pada isi perjanjian lama.
Mereka sepakat bahwa pernikahan tersebut harus dipersiapkan dengan hati-hati, bukan sekadar dilaksanakan demi memenuhi tuntutan sejarah.
Di luar paviliun, angin melintasi perbatasan. Cahaya Lumindor menyinari satu sisi jalan, sementara langit Vorath menaungi sisi lainnya.
Dua kerajaan tetap berdiri dengan identitas masing-masing.
Namun, di dalam bangunan sederhana itu, kedua raja mulai membicarakan masa depan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan keputusan para leluhur.
Mereka masih harus menentukan banyak hal: perjalanan, upacara, kediaman setelah pernikahan, serta pertemuan pertama kedua pewaris.
Dan di balik semua persiapan itu, ada dua orang yang belum mengetahui seperti apa wajah, suara, ataupun kepribadian calon pasangan mereka.
Eiravelle dan Klause.
Dua nama yang telah diikat oleh sebuah perjanjian selama seribu tahun.
Kini, untuk pertama kalinya, orang tua mereka mulai membicarakan bagaimana kedua nama itu dapat menjadi dua manusia yang benar-benar saling mengenal.
Pertemuan di paviliun perbatasan baru saja dimulai.
Namun, keputusan yang dibuat di sana akan menentukan bagaimana langkah pertama mereka menuju satu sama lain.
Share this novel