Series
38
BAB 16 — Di Antara Dua Kerajaan
Matahari mulai turun ketika pertemuan di paviliun perbatasan akhirnya berakhir.
Cahaya keemasan menyentuh dinding batu bangunan itu, sementara bayangan panjang membentang di sepanjang jalan yang menghubungkan Lumindor dan Vorath.
Di dalam paviliun, Raja Thalion dan Raja Valerius berdiri dari kursi mereka. Dokumen-dokumen yang sejak pagi memenuhi meja telah dirapikan. Pembicaraan panjang mereka akhirnya menghasilkan kesepakatan yang akan menjadi dasar persiapan pernikahan kedua pewaris.
Sebelum berpisah, kedua raja berhenti di depan pintu paviliun.
Valerius mengulurkan tangan.
"Terima kasih atas kerja samanya, Raja Thalion."
Thalion menyambut uluran tangannya dengan mantap.
"Aku juga berterima kasih. Semoga kesepakatan hari ini membawa kebaikan bagi kedua kerajaan."
"Semoga demikian."
Mereka berjabat tangan untuk terakhir kalinya hari itu.
Tidak ada pidato panjang ataupun janji yang berlebihan. Hanya dua raja yang memahami bahwa keputusan mereka akan memengaruhi bukan hanya hubungan kedua kerajaan, melainkan juga kehidupan anak-anak mereka.
Setelah melepaskan tangan masing-masing, keduanya berjalan menuju kereta kerajaan.
Thalion menaiki kereta putih keemasannya, sedangkan Valerius memasuki kereta hitam kebiruan milik Vorath.
Tak lama kemudian, kedua rombongan bergerak meninggalkan paviliun ke arah yang berlawanan.
Satu menuju kerajaan cahaya.
Satu lagi menuju kerajaan kegelapan.
Namun, kali ini, mereka membawa pulang sesuatu yang sama.
Keputusan yang akan mengubah masa depan Eiravelle dan Klause.
---
Istana Lumindor
Ketika rombongan kerajaan tiba, Queen Elara telah menunggu di ruang penerimaan.
Ia tidak langsung bertanya begitu melihat suaminya memasuki ruangan. Sebaliknya, ia memperhatikan wajah Thalion, berusaha menebak apakah pertemuan itu berjalan sesuai harapan.
Thalion melepaskan sarung tangannya dan menyerahkannya kepada seorang pelayan.
"Kau sudah menunggu lama?"
"Tidak terlalu lama." Elara mendekat. "Bagaimana hasilnya?"
Thalion mengembuskan napas sebelum menjawab.
"Kami sudah mencapai kesepakatan untuk persiapan pernikahan."
Elara terdiam sejenak.
"Kalau begitu, mari kita dengarkan."
Mereka duduk berhadapan di ruang keluarga pribadi. Setelah pelayan meninggalkan ruangan, Thalion mulai menjelaskan hasil pembicaraan mereka.
"Pertama, upacara pernikahan akan dilaksanakan di paviliun perbatasan."
Elara mengangguk perlahan.
"Tempat yang netral."
"Benar. Eiravelle tidak perlu memasuki wilayah Vorath hanya untuk menikah, begitu pula Klause tidak perlu datang ke Lumindor. Kedua kerajaan akan mempersiapkan paviliun bersama-sama."
Pilihan itu terasa masuk akal. Paviliun tersebut telah menjadi tempat pertemuan diplomatik selama berabad-abad. Melangsungkan pernikahan di sana akan menghindarkan kedua pihak dari kesan bahwa salah satu kerajaan harus mengalah kepada kerajaan lainnya.
Thalion melanjutkan.
"Kedua, setelah pernikahan, Eiravelle akan berangkat menuju Vorath bersama rombongan kecil dari Lumindor. Ia boleh membawa beberapa pengawal pilihannya, seorang penyembuh kerajaan, dan Sarah."
Wajah Elara sedikit melunak mendengar nama pelayan yang telah lama mendampingi putrinya.
"Bagus. Setidaknya dia tidak harus meninggalkan semua orang yang dikenalnya sekaligus."
"Itu juga yang kupikirkan. Valerius menyetujui permintaan tersebut."
Elara tampak lega, meskipun kecemasan di matanya belum sepenuhnya menghilang.
"Dan tempat tinggalnya di Vorath?"
Thalion tersenyum tipis.
"Valerius mengusulkan sesuatu yang cukup baik."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Vorath akan menyediakan sebuah rumah khusus bagi Eiravelle dan Klause. Rumah itu akan dibangun di dalam kawasan istana, sehingga mereka tetap berada di lingkungan kerajaan, tetapi memiliki ruang pribadi sendiri."
Elara tampak terkejut.
"Sebuah rumah di dalam kawasan istana?"
"Ya. Mereka dapat tinggal di rumah itu atau memilih tinggal di kediaman utama istana. Keputusan akhirnya akan diserahkan kepada mereka setelah menikah."
Elara merenungkan hal tersebut.
Memiliki tempat tinggal sendiri di dalam kawasan istana akan memberikan putrinya ruang untuk beradaptasi tanpa harus selalu berada di tengah kesibukan keluarga kerajaan Vorath.
"Valerius benar-benar mempertimbangkannya," katanya pelan.
"Dia memahami bahwa Eiravelle akan memasuki lingkungan yang asing. Rumah itu diharapkan menjadi tempat bagi mereka berdua untuk membangun kehidupan tanpa terlalu banyak campur tangan."
Elara mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan diumumkan, ia dapat membayangkan sebuah kemungkinan yang tidak sepenuhnya menakutkan bagi putrinya.
Namun, masih ada satu hal yang ingin ia pastikan.
"Apakah Valerius bersedia menerima Eiravelle sebagai bagian dari keluarganya?"
Thalion mengangguk.
"Dia menyampaikan dengan jelas bahwa Vorath tidak akan memaksa Eiravelle melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya hanya karena dia telah menjadi istri Klause. Mereka akan menyambutnya sebagai putri mereka sendiri, bukan sekadar menantu yang harus memenuhi tuntutan kerajaan."
Elara menundukkan pandangan sejenak.
Kata-kata itu tidak menghapus semua kekhawatirannya. Menjadi bagian dari kerajaan lain tetap merupakan perubahan besar, terlebih bagi seorang putri yang belum pernah bertemu dengan calon suaminya.
Namun, setidaknya, kesepakatan tersebut memberi Eiravelle ruang untuk menentukan bagaimana ia akan menjalani kehidupan barunya.
"Aku berharap mereka benar-benar menepati janji itu," ujar Elara.
"Aku juga."
Thalion kemudian menyampaikan keputusan berikutnya.
"Kami juga menyepakati pemberian akses perjalanan bagi kedua pewaris. Setelah menikah, Eiravelle dan Klause akan memiliki izin khusus untuk melintasi perbatasan kedua kerajaan."
Elara mengangkat wajahnya.
"Artinya, Eiravelle dapat kembali ke Lumindor kapan pun dia ingin pulang?"
"Benar. Ia tidak perlu menunggu undangan resmi atau meminta izin diplomatik setiap kali ingin mengunjungi kita. Perjalanan itu cukup mengikuti pengaturan keamanan yang disepakati kedua kerajaan."
Thalion berhenti sebentar.
"Klause boleh menemaninya jika ia bersedia. Namun, kesepakatan tersebut tidak mewajibkan Klause ikut dalam setiap perjalanan."
Elara tersenyum kecil.
"Itu penting. Eiravelle harus tahu bahwa pernikahan tidak berarti dia kehilangan jalan pulang."
Thalion memandang istrinya dengan tenang.
"Itulah yang ingin kami pastikan."
Setelah jeda singkat, ia menjelaskan keputusan terakhir.
"Satu bulan setelah pernikahan, kedua kerajaan akan mulai mengadakan kegiatan bersama untuk memperkenalkan rakyat masing-masing."
"Kegiatan seperti apa?"
"Pasar bersama dan pasar malam di area terbuka dekat paviliun perbatasan. Pedagang dari Lumindor dan Vorath akan mendapat kesempatan untuk membawa barang dagangan mereka, sementara rakyat kedua kerajaan dapat berkunjung, berinteraksi, dan mengenal kebiasaan satu sama lain."
Elara tampak mulai tertarik.
"Jadi, bukan hanya pertemuan para bangsawan?"
"Tepat. Perdamaian tidak akan menjadi lebih kuat hanya karena para penguasa menandatangani perjanjian. Rakyat juga harus memiliki kesempatan untuk mengenal tetangga mereka."
"Dan keamanan?"
"Kedua kerajaan akan menunjuk masing-masing satu orang yang bertanggung jawab atas patroli di sekitar paviliun. Mereka akan mengawasi kawasan tersebut dan berkoordinasi jika terjadi sesuatu."
Elara mengangguk puas.
"Setidaknya, mereka tidak hanya memikirkan upacara pernikahan. Mereka juga mulai memikirkan hubungan kedua kerajaan setelahnya."
"Itulah harapannya."
Untuk beberapa saat, keduanya terdiam.
Enam kesepakatan telah dicapai: tempat pernikahan, rombongan Eiravelle, rumah bagi pasangan itu, kebebasan Eiravelle untuk beradaptasi, akses lintas perbatasan, serta kegiatan bersama bagi rakyat kedua kerajaan.
Semuanya terdengar masuk akal.
Namun, bagi Thalion dan Elara, masih ada satu hal yang tidak dapat ditentukan melalui pembicaraan diplomatik.
Perasaan putri mereka sendiri.
Elara menatap suaminya.
"Sudahkah kau memikirkan bagaimana kita akan memberitahunya?"
Thalion menghela napas.
"Belum. Aku ingin berbicara dengannya setelah dia memiliki waktu untuk menenangkan diri."
"Jangan membuatnya merasa bahwa semua keputusan ini telah ditetapkan tanpa memberinya kesempatan untuk menyampaikan pendapat."
Thalion mengangguk.
"Aku akan berhati-hati."
Elara berdiri dan merapikan lengan jubahnya.
"Kalau begitu, biarkan dia menjalani malam ini seperti biasa. Kita bisa berbicara dengannya besok."
Thalion menyetujui usulan itu.
Untuk malam ini, mereka tidak perlu menambahkan beban baru ke pundak putri mereka.
---
Istana Vorath
Di Vorath, Raja Valerius juga telah kembali ke istana.
Queen Alexandra menunggunya di ruang keluarga mereka. Begitu suaminya tiba, ia segera mengetahui dari ekspresi Valerius bahwa pertemuan itu telah mencapai hasil.
"Jadi?" tanyanya.
Valerius melepaskan sarung tangannya.
"Kami telah menyepakati persiapan utama pernikahan."
Alexandra memberi isyarat agar ia duduk.
"Ceritakan semuanya."
Valerius mulai dari keputusan pertama.
"Upacara akan dilaksanakan di paviliun perbatasan. Tidak ada pihak yang perlu memasuki wilayah kerajaan lainnya untuk melangsungkan pernikahan."
Alexandra mengangguk.
"Itu pilihan yang adil."
"Kedua, Eiravelle akan membawa beberapa pengawal dari Lumindor, seorang penyembuh, dan Sarah ketika ia berangkat ke Vorath setelah pernikahan."
Alexandra tampak puas mendengarnya.
"Sarah adalah orang yang sudah dikenalnya. Kehadirannya akan membantu Eiravelle menyesuaikan diri."
"Itulah pertimbangan Thalion, dan aku menyetujuinya."
Valerius kemudian menjelaskan rencana rumah khusus bagi kedua pewaris.
"Rumah itu akan berada di dalam kawasan istana. Mereka dapat tinggal di sana atau memilih kediaman utama istana."
Alexandra terdiam sesaat, membayangkan sebuah rumah yang memberikan ruang pribadi bagi pasangan muda itu.
"Bagus. Mereka akan membutuhkan tempat yang dapat mereka anggap sebagai rumah sendiri, bukan hanya kamar di istana."
"Rumah itu akan disiapkan untuk mereka setelah pernikahan."
Valerius melanjutkan, "Aku juga menegaskan bahwa Vorath tidak akan memaksa Eiravelle melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya hanya karena statusnya sebagai istri Klause. Kita akan menerimanya sebagai putri keluarga ini."
Alexandra menatap suaminya.
"Dan kau sungguh-sungguh dengan itu?"
"Tentu."
"Kalau begitu, pastikan Klause memahami hal yang sama."
Valerius terdiam sejenak.
Ia tahu putranya tidak mudah menerima pernikahan tersebut. Ia juga tahu bahwa menerima Eiravelle dengan baik bukan hanya tanggung jawab orang tua mereka, melainkan juga Klause sendiri.
"Aku akan berbicara dengannya," jawabnya.
Alexandra mengangguk, lalu mendengarkan ketika Valerius menjelaskan kesepakatan mengenai akses perjalanan.
"Eiravelle dan Klause akan mendapatkan izin khusus untuk melintasi perbatasan. Eiravelle dapat pulang ke Lumindor kapan pun ia ingin, mengikuti pengaturan keamanan yang telah disepakati. Klause boleh menemaninya jika ia bersedia."
"Jadi, dia tidak akan terkurung di Vorath setelah menikah."
"Tidak."
Alexandra mengembuskan napas lega.
"Keputusan yang bijaksana."
Terakhir, Valerius menjelaskan rencana pasar bersama dan pasar malam yang akan diselenggarakan satu bulan setelah pernikahan, di area terbuka dekat paviliun perbatasan.
Kedua kerajaan akan mengirimkan pedagang dan membuka kesempatan bagi rakyat mereka untuk berinteraksi. Untuk menjaga keamanan, masing-masing kerajaan akan menunjuk satu orang penanggung jawab patroli di kawasan paviliun.
Alexandra tersenyum.
"Rakyat kita akan memiliki kesempatan mengenal Lumindor secara langsung. Selama ini, sebagian besar dari mereka hanya mengenalnya melalui cerita dan catatan sejarah."
"Dan rakyat Lumindor juga akan memiliki kesempatan yang sama terhadap Vorath."
"Semoga kegiatan itu berjalan dengan baik."
Valerius menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Semua persiapan utama telah disepakati. Sekarang, kita tinggal mempersiapkan pelaksanaannya."
Alexandra memperhatikan suaminya.
"Dan Klause?"
Valerius tidak segera menjawab.
Pertanyaan itu jauh lebih sulit daripada menentukan tempat pernikahan atau mengatur perjalanan.
"Dia belum mengetahui hasil pertemuan hari ini," katanya akhirnya. "Aku akan memberitahunya."
"Jangan hanya menyampaikan keputusan. Jelaskan juga alasannya."
Valerius mengangguk.
"Aku akan mencoba."
Alexandra duduk di sampingnya.
"Dia mungkin masih marah. Beri dia waktu untuk memahami semuanya."
"Aku tahu."
Valerius menatap jendela yang menghadap ke halaman istana.
Ia berharap kesepakatan yang dibuat hari ini dapat mengurangi beban putranya, meskipun ia menyadari bahwa tidak ada aturan diplomatik yang mampu menjamin dua orang akan saling menerima.
Pada akhirnya, Eiravelle dan Klause tetap harus menemukan cara mereka sendiri untuk menghadapi masa depan.
---
Malam turun di kedua kerajaan.
Di Lumindor, Thalion dan Elara sepakat menunggu hingga keesokan hari sebelum berbicara dengan putri mereka.
Di Vorath, Valerius juga memutuskan untuk tidak langsung mencari Klause malam itu. Ia akan menyampaikan hasil pertemuan tersebut ketika mereka dapat berbicara dengan tenang.
Untuk saat ini, Eiravelle dan Klause masih menjalani kehidupan masing-masing tanpa mengetahui seluruh kesepakatan yang telah dibuat.
Mereka belum tahu bahwa upacara pernikahan mereka akan berlangsung di paviliun perbatasan.
Mereka belum tahu bahwa sebuah rumah akan disiapkan untuk mereka di dalam kawasan istana Vorath.
Dan mereka belum tahu bahwa satu bulan setelah pernikahan, rakyat kedua kerajaan akan mulai bertemu melalui pasar bersama dan pasar malam.
Dua raja telah mencapai kesepakatan.
Dua ratu mulai memikirkan bagaimana menyambut perubahan besar dalam kehidupan keluarga mereka.
Kini, hanya tinggal menyampaikan semuanya kepada dua orang yang paling berkaitan dengan keputusan tersebut.
Eiravelle dan Klause.
Dan mungkin, bagi kedua pewaris itu, bagian tersulit dari seluruh persiapan ini bukanlah upacara, perjalanan, ataupun kehidupan di kerajaan yang asing.
Melainkan kenyataan bahwa masa depan mereka telah mulai dibangun, sementara mereka sendiri masih berusaha menerima bahwa masa depan itu benar-benar akan menjadi milik mereka.
Share this novel