8. Duel Di Balik Penghalang

Romance Series 38

Bab 8 — Duel di Balik Penghalang

Kaguya mengambil posisi bertarung.

Satu kaki berada di depan, tubuhnya sedikit merendah, sementara pedangnya terangkat di sisi tubuh.

Di hadapannya, Klause masih berdiri dengan pedang terhunus. Aura crimson berputar liar di sekeliling sang pangeran, membuat udara di arena terasa semakin berat.

Kaguya menghela napas.

“Jadi, kau benar-benar tidak mau bicara?”

Klause tidak menjawab.

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan bertanya sambil bertarung.”

Kaguya melesat maju.

WUSH!

Pedangnya menebas dari samping.

CLANG!

Klause menangkisnya, lalu langsung melancarkan serangan balasan. Kaguya memiringkan tubuh, membiarkan ujung pedang itu melintas dekat bahunya sebelum melompat mundur dari gelombang crimson yang menyapu lantai.

“Kau bertengkar dengan Raja Valerius?”

Klause menjawab dengan tebasan lain.

Kaguya menangkisnya, kemudian melirik retakan yang membelah lantai arena.

“Berarti bukan itu masalahnya. Dan kalau kau terus begini, tempat latihan kerajaan akan hancur sebelum malam berakhir.”

Klause kembali menyerang.

Kaguya menyeringai tipis.

“Baiklah. Bagaimana dengan perjanjian seribu tahun itu?”

Untuk sesaat, gerakan Klause terhenti.

Hanya sekejap, tetapi Kaguya sudah mengenalnya terlalu lama untuk melewatkan reaksi sekecil itu.

“Ah. Jadi itu masalahnya.”

BOOM!

Ledakan sihir crimson mendorong Kaguya beberapa meter ke belakang. Dia menstabilkan tubuh dengan bantuan lingkaran sihir di bawah kakinya, lalu kembali mengangkat pedang.

“Sepertinya aku benar.”

“Berhenti mengoceh.”

“Oh? Jadi kau masih bisa berbicara.”

“Diam!”

Klause menerjang lagi.

CLANG!

Kedua pedang beradu, menghasilkan percikan sihir di antara mereka.

“Kalau kau tidak marah kepada ayahmu,” ujar Kaguya sambil menahan tekanan pedang lawannya, “berarti kau marah kepada perjanjian itu sendiri.”

Klause menggertakkan gigi. Tekanan pada pedangnya semakin kuat hingga Kaguya harus menggeser kakinya untuk mempertahankan keseimbangan.

Kaguya tersenyum kecil.

“Dan sesuatu yang datang bersama perjanjian tersebut.”

Tatapan crimson Klause menajam.

Aura di sekelilingnya melonjak, diikuti ledakan yang memaksa Kaguya melompat mundur.

“Begitu rupanya.”

“KA-GU-YA!”

“Baik, baik! Aku belum selesai bertanya.”

Kaguya kembali menyerang, memaksa Klause menangkis.

“Kau bahkan belum pernah bertemu dengannya.”

Klause membalas dengan tebasan keras.

“Kau tidak tahu seperti apa dirinya. Bisa saja dia pendiam, cerewet, atau justru lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan.”

“Cukup!”

“Oh, jadi kau tidak suka membicarakan calon istrimu?”

CLANG!

Pedang Klause menghantam senjata Kaguya dengan begitu keras hingga kedua lengannya bergetar. Kaguya menahan benturan itu, lalu memutar tubuh untuk melepaskan diri.

“Baiklah. Aku sudah mendapatkan jawabanku.”

“Aku bilang, diam!”

“Dan aku mendengarmu.”

Kaguya melancarkan serangan balasan. Klause menangkisnya, tetapi benturan itu memaksanya mundur setengah langkah.

Mereka terus bertukar serangan. Pedang beradu, sihir meledak, dan lantai arena semakin dipenuhi retakan. Penghalang di sekeliling tempat latihan bergetar hebat.

Di luar, para penjaga saling bertukar pandang dengan wajah pucat.

“Berapa lama lagi penghalang itu bisa bertahan?”

“Jangan bertanya kepadaku!”

Ledakan lain mengguncang arena.

Salah seorang penjaga menelan ludah.

“Semoga Yang Mulia Kaguya berhasil menghentikannya sebelum kita harus membangun tempat latihan yang baru.”

---

Di dalam arena, Kaguya mulai memperhatikan perubahan pada gerakan Klause.

Sang pangeran masih menyerang dengan kekuatan luar biasa, tetapi napasnya semakin berat. Genggaman tangannya pun tidak lagi sekokoh sebelumnya.

Kaguya mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan berikutnya.

CLANG!

Pada saat kedua senjata bertemu, dia menggerakkan dua jari tangan kirinya.

Sebuah lingkaran sihir kecil terbentuk di balik tubuhnya, tersembunyi di antara percikan crimson dan gelombang energi.

Tidak ada ledakan atau cahaya mencolok. Hanya aliran sihir halus yang menyusup ke dalam pusaran energi Klause, perlahan menguras stamina fisiknya.

Kaguya terus bertarung seolah tidak terjadi apa-apa.

Satu tangkisan.

Satu langkah menghindar.

Dan setiap kali pedang mereka beradu, sihir itu bekerja sedikit lebih jauh.

Klause belum menyadarinya.

“Masih mau lanjut?” tanya Kaguya.

“Ya.”

“Keras kepala sekali.”

Klause menyerang dari samping. Kaguya menangkisnya, tetapi kali ini tekanan pada pedangnya sedikit berkurang.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

[Bagus. Sedikit lagi.]

Klause mengayunkan pedangnya kembali. Namun, ketika dia mengubah posisi kaki, gerakannya terlambat sepersekian detik.

Kaguya segera menjauh.

“Klause, kau mulai lelah.”

“Aku masih bisa bertarung.”

“Kakimu mulai kesulitan mengikuti keinginanmu sendiri.”

“Aku masih bisa!”

Kaguya mengangguk serius.

“Tentu saja. Kalau begitu, silakan lanjutkan.”

Klause mengangkat pedangnya lagi.

Kaguya hampir merasa kasihan.

Hampir.

[Maaf, teman. Tapi kau sendiri yang tidak mau berhenti.]

Klause menerjang dengan serangan keras. Kaguya menangkisnya, lalu memperkuat pijakannya menggunakan sihir.

BOOM!

Gelombang energi menyebar di antara mereka. Lantai retak di bawah kaki Kaguya, sementara bahunya berdenyut akibat tekanan serangan.

Keduanya terdorong mundur.

Namun, kali ini Klause membutuhkan satu langkah tambahan untuk menjaga keseimbangan.

Napasnya semakin berat. Aura crimson di sepanjang pedangnya mulai berkedip.

Kaguya menatapnya.

“Klause, cukup.”

“Belum.”

“Kalau begitu, kita akhiri dengan serangan terakhir.”

Klause tidak menjawab. Dia menurunkan pusat gravitasinya dan mengumpulkan sisa kekuatan yang dimilikinya. Aura crimson kembali menyala di sepanjang bilah pedangnya.

Kaguya segera memahami maksudnya.

Klause berniat mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk satu serangan terakhir.

[Kalau begitu, aku juga tidak boleh lengah.]

Klause melesat maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Pedangnya mengarah lurus ke Kaguya, membawa sisa kekuatan crimson yang masih mampu dikumpulkannya.

Tepat ketika bilah itu hampir mencapai sasaran—

Kaguya bergerak.

Dia memiringkan tubuh, menggeser pedangnya ke sudut yang tepat, lalu memutar pergelangan tangannya.

CLANG!

Pedang Klause terpental dari genggamannya dan jatuh beberapa meter jauhnya.

Mata crimson sang pangeran melebar.

“Apa—”

Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dia berusaha menguatkan pijakan, tetapi lututnya menyerah lebih dahulu.

DUK!

Klause jatuh ke tanah.

Dia mencoba bangkit dengan satu tangan bertumpu pada lantai, tetapi lengannya gemetar. Beberapa detik kemudian, dia kembali terbaring dengan wajah kesal.

“...Sial.”

Kaguya berdiri beberapa langkah darinya.

Kemudian, dia tertawa kecil.

“Heh.”

Klause menoleh tajam.

“Kau melakukan sesuatu.”

Kaguya terdiam sesaat sebelum tersenyum tanpa rasa bersalah.

“...Mungkin.”

“Kau curang.”

“Benar.”

Kaguya bahkan tidak berusaha menyangkalnya.

“Aku curang.”

“Dasar—”

“Jangan memaksakan diri. Kau bahkan tidak bisa berdiri sekarang.”

Klause menatapnya seolah sedang mempertimbangkan apakah dia masih memiliki cukup tenaga untuk melemparkan sesuatu ke kepalanya.

Sayangnya, pedangnya terlalu jauh.

Dan tubuhnya terlalu lelah.

Kaguya akhirnya duduk di sampingnya.

“Kalau aku tidak melakukan itu, kau mungkin akan terus bertarung sampai seluruh tempat latihan runtuh.”

“Aku masih bisa menang.”

“Tentu. Dan aku adalah Raja Lumindor.”

Klause mendengus.

Kaguya menyandarkan kedua tangannya ke belakang.

“Lagi pula, aku tidak pernah mengatakan bahwa aku akan bertarung dengan adil.”

“Kau menyebalkan.”

“Aku tahu.”

“Kau juga licik.”

“Terima kasih. Aku menganggapnya sebagai pujian.”

Klause memejamkan mata, terlalu lelah untuk melanjutkan perdebatan. Perlahan, aura crimson yang menyelimuti tubuhnya menghilang.

Beberapa saat berlalu sebelum dia kembali berbicara.

“...Aku tetap tidak menyukai perjanjian itu.”

Kali ini, Kaguya tidak membalas dengan candaan.

“Aku tahu.”

“Perjanjian itu menyebalkan.”

“Untuk sekali ini, aku setuju.”

Klause membuka mata, tetapi tidak menoleh kepadanya.

“Aku tidak pernah meminta semua ini.”

Suaranya lebih rendah daripada sebelumnya. Kemarahannya belum hilang, tetapi kini terdengar lebih pahit daripada meledak-ledak.

Kaguya memahami maksudnya.

Klause tidak sekadar menolak menikahi seseorang yang belum pernah ditemuinya. Dia marah karena masa depannya telah ditentukan oleh keputusan yang dibuat jauh sebelum dirinya lahir.

Kaguya tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia juga tidak menyuruh Klause menerima kenyataan.

Sebaliknya, dia menepuk bahu temannya sekali.

“Kalau begitu, untuk malam ini, setidaknya berhentilah menghancurkan tempat latihan.”

Klause mendengus pelan.

“...Aku membencimu.”

Kaguya tersenyum lebar.

“Tidak mungkin. Kau terlalu menyayangiku untuk itu.”

“Dalam mimpimu.”

“Kalau begitu, aku akan menganggapnya sebagai pengakuan.”

“KA-GU-YA!”

Tawa Kaguya menggema di dalam arena.

---

Di luar penghalang, para penjaga akhirnya melihat aura sihir Klause menghilang. Getaran penghalang perlahan mereda.

Salah seorang penjaga langsung menyandarkan punggungnya ke dinding.

“Syukurlah...”

Penjaga lainnya memandang ke dalam arena. Klause masih terbaring di lantai, sementara Kaguya duduk santai di sampingnya seolah mereka baru saja selesai menikmati waktu luang.

“Apakah Yang Mulia Kaguya benar-benar berhasil menghentikannya?”

Penjaga di sebelahnya melirik lingkaran sihir yang perlahan menghilang.

“Berhasil.”

Dia berhenti sejenak.

“Walaupun menggunakan cara curang.”

Penjaga pertama mengangguk serius.

“Yang penting tempat latihan masih berdiri.”

“Benar.”

Keduanya kembali menatap arena.

“Semoga besok Yang Mulia Klause tidak meminta pertandingan ulang.”

Untuk pertama kalinya malam itu, para penjaga memiliki satu doa yang sama.

Semoga sang pangeran tidur dengan nyenyak.

Dan semoga Kaguya tidak mendapatkan ide untuk menguji mode curangnya lagi.

Setidaknya...

Tidak sebelum tempat latihan diperiksa terlebih dahulu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience