Series
38
SENJA DI ANTARA DUA DUNIA
Bab 18 — Keputusan Sang Putri
Pagi itu, Eiravelle dipanggil menghadap ayahnya.
Ia berjalan menyusuri koridor Istana Lumindor bersama Sarah. Sejak Raja Thalion kembali dari pertemuannya dengan Raja Valerius, sang putri menunggu kabar mengenai hasil pembicaraan kedua kerajaan.
Kini, ia akan segera mengetahuinya.
Ketika mereka tiba di aula utama, Sarah berhenti di luar, sementara Eiravelle melangkah masuk seorang diri.
Raja Thalion berdiri di dekat singgasana, mengenakan pakaian kerajaan berwarna putih dan emas. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan keseriusan.
"Eiravelle."
Sang putri berhenti beberapa langkah di hadapannya.
"Ayahanda."
"Datanglah lebih dekat."
Eiravelle mematuhi permintaannya.
Thalion mengamati putrinya sejenak sebelum berbicara.
"Pertemuan dengan Raja Valerius telah selesai. Kami sudah mencapai kesepakatan mengenai pernikahanmu dan hubungan kedua kerajaan setelahnya."
Jari-jari Eiravelle perlahan saling menggenggam.
"Jadi, semuanya sudah diputuskan?"
Thalion mengangguk.
"Ya."
Eiravelle menundukkan pandangan, mempersiapkan diri untuk mendengar keputusan yang tidak dapat dihindarinya.
"Upacara pernikahan akan dilaksanakan di paviliun perbatasan. Kedua raja dan ratu akan hadir sebagai saksi, bersama sejumlah pejabat dari masing-masing kerajaan."
Eiravelle mendengarkan dalam diam.
"Setelah upacara selesai, kau akan berangkat ke Vorath bersama rombonganmu. Kau diperbolehkan membawa beberapa penjaga, seorang penyembuh, dan Sarah."
Mendengar nama pendampingnya, Eiravelle sedikit mengangkat wajah. Setidaknya, ia tidak harus memasuki kerajaan asing tanpa seorang pun yang dikenalnya.
Thalion melanjutkan.
"Raja Valerius juga telah menyediakan sebuah kediaman pribadi untukmu dan Klause di dalam kawasan istana Vorath. Kalian boleh tinggal di sana atau di istana utama."
"Kediaman pribadi?" ulang Eiravelle pelan.
"Benar. Selain itu, Vorath tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginanmu. Mereka akan menyambutmu sebagai bagian dari keluarga kerajaan."
Eiravelle tidak segera menjawab.
Ia menghargai usaha ayahnya untuk memastikan bahwa dirinya akan diperlakukan dengan baik. Namun, semua persiapan itu tidak mengubah kenyataan bahwa ia akan menikahi seseorang yang belum pernah ditemuinya.
"Ayahanda juga telah mengatur izin khusus agar kau dan Klause dapat melintasi perbatasan kedua kerajaan," tambah Thalion. "Kau boleh kembali ke Lumindor kapan pun kau menginginkannya. Klause dapat menemanimu jika ia bersedia, tetapi itu bukan kewajibannya."
Eiravelle tampak sedikit terkejut.
"Jadi, aku masih bisa pulang?"
"Tentu. Pernikahan ini tidak berarti kau harus memutuskan hubungan dengan rumahmu."
Eiravelle mengembuskan napas pelan.
"Terima kasih, Ayahanda."
Thalion mengangguk, tetapi ekspresi putrinya belum menunjukkan kelegaan sepenuhnya.
"Ada satu kesepakatan lagi," katanya. "Sebulan setelah pernikahan, kedua kerajaan akan membuka pasar bersama dan pasar malam di kawasan lapang dekat paviliun perbatasan. Rakyat Lumindor dan Vorath akan memiliki kesempatan untuk saling mengenal."
Eiravelle mengangkat wajahnya.
"Rakyat kedua kerajaan akan bertemu di sana?"
"Ya. Masing-masing kerajaan akan menunjuk seorang penanggung jawab untuk mengawasi keamanan kawasan tersebut. Kami ingin memastikan bahwa pertemuan itu berlangsung dengan tertib."
Sang putri membayangkan penduduk kedua kerajaan berdagang dan berbincang di tempat yang sama. Gagasan itu terdengar menarik, meskipun ia sendiri masih belum tahu bagaimana harus menghadapi masa depannya.
Setelah beberapa saat, ia kembali menatap ayahnya.
"Aku masih tidak setuju dengan perjanjian ini."
Suaranya pelan, tetapi tegas.
"Aku tidak mengenal Pangeran Klause. Aku bahkan tidak tahu seperti apa orangnya. Bagaimana aku bisa menerima pernikahan dengan seseorang yang belum pernah kutemui?"
Thalion terdiam.
Sebagai seorang ayah, ia memahami keberatan putrinya. Namun, sebagai raja, ia tidak dapat mengabaikan perjanjian yang telah diwariskan selama seribu tahun.
"Ayahanda tahu," jawabnya akhirnya. "Dan Ayahanda minta maaf."
Eiravelle menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Seandainya Ayahanda bisa mengubah keadaan ini tanpa membahayakan perdamaian kedua kerajaan, Ayahanda akan melakukannya."
Satu tetes air mata jatuh di pipi Eiravelle. Ia segera menghapusnya.
"Aku mengerti."
Ia memahami tanggung jawab ayahnya, tetapi pemahaman itu tidak membuatnya lebih mudah menerima keputusan tersebut.
Thalion membiarkan keheningan berlangsung beberapa saat sebelum mengalihkan pembicaraan.
"Ada persoalan lain yang perlu kita tangani. Kemunculan makhluk iblis di wilayah perbatasan semakin sering."
Eiravelle langsung memusatkan perhatian kepadanya.
"Apakah ada yang terluka?"
"Beberapa anggota patroli mengalami luka ringan dan sudah mendapatkan perawatan. Namun, jumlah serangan terus meningkat meskipun pasukan dan para penyihir telah melakukan patroli rutin."
"Apakah mereka sudah menemukan penyebabnya?"
"Belum. Kita masih menyelidiki dari mana makhluk-makhluk itu berasal."
Thalion berjalan menuju meja di dekat jendela, tempat beberapa laporan patroli tersusun rapi.
"Kemunculan mereka terlalu sering untuk dianggap sebagai kejadian biasa. Karena itu, pengawasan akan ditingkatkan."
Eiravelle memandang laporan tersebut.
"Aku ingin pergi ke perbatasan."
Thalion menoleh kepadanya.
"Kau ingin ikut dalam patroli?"
"Aku ingin membantu para penyihir dan memeriksa keadaan di sana. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang terlewatkan dalam laporan."
Thalion mempertimbangkan permintaan itu. Ia tahu Eiravelle memiliki kemampuan sihir yang baik, tetapi wilayah perbatasan bukan tempat yang aman.
"Kau boleh pergi," putusnya. "Namun, kau harus berangkat bersama rombongan yang telah ditentukan. Ikuti arahan komandan dan jangan bertindak gegabah."
"Aku mengerti."
"Maurice akan diberi tahu agar ia dapat mempersiapkan kebutuhanmu."
Eiravelle mengangguk, sedikit lega karena diizinkan membantu.
Namun, sebelum ia sempat berpamitan, Thalion menambahkan sesuatu yang membuatnya kembali terdiam.
"Pasukan Vorath juga menjaga sisi perbatasan mereka. Mereka telah mengirimkan penjaga dan penyihir untuk menghadapi ancaman yang sama."
"Vorath?"
"Benar."
Pikiran Eiravelle seketika melayang pada kerajaan yang kelak akan menjadi rumah barunya.
Untuk pertama kalinya, ia akan berada cukup dekat dengan wilayah yang selama ini hanya dikenalnya melalui cerita. Ia mungkin dapat melihat sendiri bagaimana para penjaga Vorath bertarung dan bagaimana kerajaan itu menangani ancaman makhluk iblis.
Mungkin, dengan begitu, ia bisa memahami sedikit lebih banyak tentang tempat yang akan menjadi bagian dari hidupnya.
Namun, ia segera mengingatkan dirinya sendiri bahwa tujuan perjalanannya bukanlah untuk mencari calon suaminya.
Ia pergi untuk membantu menjaga perbatasan.
"Kalau begitu, aku akan bersiap," katanya.
Thalion mengangguk.
"Berhati-hatilah, Eiravelle. Keselamatanmu tetap yang utama."
"Aku akan mengingatnya."
Sang putri membungkuk hormat, lalu berjalan menuju pintu aula.
"Eiravelle," panggil Thalion sekali lagi.
Ia berhenti dan menoleh.
"Apa pun yang terjadi setelah ini, kau tetap putri Ayahanda. Kau tidak harus menghadapi semuanya sendirian."
Eiravelle terdiam sejenak sebelum tersenyum kecil.
"Terima kasih, Ayahanda."
Di luar aula, Sarah segera menghampirinya.
"Bagaimana hasil pembicaraannya, Putri?"
"Semua keputusan telah dibuat," jawab Eiravelle. "Dan aku akan pergi ke perbatasan untuk membantu menangani makhluk iblis."
Sarah mengangguk, tidak mengajukan pertanyaan lebih jauh.
"Kalau begitu, kita harus mulai mempersiapkan barang-barang Putri."
Eiravelle menyetujui perkataan itu.
Ketika mereka melewati jendela yang menghadap taman, sang putri sempat berhenti. Bunga-bunga masih bermekaran di bawah sinar matahari, sama seperti hari-hari sebelumnya.
Namun, hidupnya tidak lagi terasa sama.
Dalam waktu yang tidak lama, ia akan menikah dan meninggalkan Lumindor untuk tinggal di Vorath. Ia belum siap menerima perubahan itu, tetapi setidaknya perjalanan ke perbatasan memberinya kesempatan untuk melakukan sesuatu atas pilihannya sendiri.
Di sisi lain perbatasan, pasukan Vorath juga sedang bersiap menghadapi ancaman yang semakin meningkat.
Dua kerajaan kini menghadapi masalah yang sama, sementara penyebab kemunculan makhluk-makhluk iblis itu masih belum diketahui.
Tanpa disadari Eiravelle maupun Klause, langkah mereka mulai mengarah ke wilayah yang sama.
Dan di antara kedua kerajaan, di balik pepohonan yang menyimpan banyak rahasia, ancaman itu belum berakhir.
Share this novel