Series
38
BAB 10 — MIMPI DI BALIK CAHAYA
Cahaya.
Itulah hal pertama yang Eiravelle sadari ketika membuka mata.
Cahaya lembut menyelimuti ruangan, hangat seperti sinar pagi, tetapi tidak menyilaukan seperti matahari Lumindor.
Dia mengerjap beberapa kali sebelum menyadari bahwa dirinya sedang berbaring di atas tempat tidur yang sangat luas, dengan selimut putih lembut menutupi sebagian tubuhnya.
Perlahan, dia bangkit dan mengamati sekeliling.
Ruangan itu jauh lebih besar daripada kamarnya di Istana Lumindor. Dinding putih keperakan dihiasi ukiran asing, sementara pilar-pilar tinggi berdiri megah di beberapa sisi. Kristal-kristal kecil melayang di udara, memancarkan cahaya yang berkilauan seperti bintang.
Semuanya tampak indah.
Namun, ada sesuatu yang terasa salah.
Tidak ada pelayan. Tidak ada Sarah. Bahkan suara langkah kaki pun tidak terdengar.
Hanya keheningan.
[Tempat apa ini?]
Eiravelle menurunkan kakinya ke lantai yang dingin, lalu berjalan menuju jendela besar di seberang ruangan.
Semakin dekat dia melangkah, semakin aneh perasaan yang muncul di dadanya.
Akhirnya, dia berdiri di depan jendela dan menyentuh permukaan kacanya.
Lalu, dia melihat ke luar.
Eiravelle terdiam.
"...Apa?"
Pemandangan di hadapannya sama sekali bukan Lumindor.
Tidak ada hutan hijau yang membentang hingga cakrawala. Tidak ada istana putih atau langit biru yang disinari matahari.
Sebaliknya, hamparan langit tanpa batas terbentang di hadapannya, dipenuhi pulau-pulau raksasa yang melayang di antara lapisan awan putih keperakan.
Aliran cahaya menyerupai sungai menghubungkan pulau-pulau tersebut, berkelok di udara tanpa pernah jatuh ke bawah. Jauh di atasnya, lingkaran cahaya raksasa mengambang di langit, ditemani beberapa lingkaran lain yang sebagian tersembunyi di balik awan.
Bintang-bintang masih berkilauan di antara semuanya, bahkan di tengah langit yang terang.
Pemandangan itu begitu menakjubkan hingga Eiravelle nyaris lupa bernapas.
"...Di mana aku?"
Dia memejamkan mata, berharap ketika membukanya kembali, semuanya akan menghilang.
Namun, pemandangan itu tetap sama.
Keindahan yang luar biasa itu justru membuatnya semakin gelisah.
Lalu, dia menyadari sesuatu yang lain.
Udara.
Eiravelle menarik napas perlahan.
Atmosfer di tempat ini terasa berbeda dari Lumindor. Bukan lebih sulit untuk dihirup, melainkan jauh lebih kaya, seolah-olah setiap tarikan napas membawa energi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Sihir di dalam tubuhnya bergerak dengan ringan.
Mengalir tanpa hambatan.
Bahkan sebelum dia menyadarinya, cahaya tipis telah muncul di ujung jarinya.
Eiravelle menatap tangannya dengan heran.
Dia tidak sengaja menggunakan sihir.
Namun, energi itu muncul begitu mudah, seakan-akan tempat ini sendiri sedang menyambut keberadaannya.
[Udara di sini... penuh dengan sihir.]
Dia belum sempat memahami apa artinya ketika sebuah suara terdengar dari belakangnya.
Klik.
Pintu terbuka.
Eiravelle segera berbalik.
Seorang pria memasuki ruangan sambil membawa nampan berisi makanan. Rambutnya berwarna gelap, kontras dengan sepasang mata merah yang langsung menarik perhatian Eiravelle.
Dia bukan elf. Setidaknya, Eiravelle tidak merasakan aura khas bangsanya dari pria itu.
Anehnya, kehadirannya tidak langsung membangkitkan rasa takut.
Pria tersebut bahkan tersenyum kepadanya dengan begitu lembut, seolah-olah mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.
"Selamat pagi, Lia."
Langkah Eiravelle terhenti.
[Lia?]
Pria itu berjalan menuju meja di samping tempat tidur dan meletakkan nampannya di sana.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?"
Eiravelle hanya menatapnya.
[Siapa Lia?]
Pria itu kembali menoleh. Senyumnya perlahan memudar ketika menyadari bahwa Eiravelle tidak memberikan jawaban.
"Kenapa kau diam saja hari ini?"
Dia mendekat, kerutan tipis muncul di antara alisnya.
"Apakah kau mengalami mimpi buruk tadi malam, Lia?"
Eiravelle mundur selangkah.
[Siapa pria ini? Mengapa dia memanggilku dengan nama itu?]
Dia ingin menjelaskan bahwa dirinya bukan orang yang sedang dicari pria tersebut. Dia bahkan ingin menanyakan tempat apa ini dan bagaimana dirinya bisa berada di sana.
Namun, kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya.
Pria itu berhenti tepat di hadapannya.
Kemudian, dengan gerakan yang begitu akrab, dia mengangkat tangan dan menyentuh dahi Eiravelle.
"Hei, kenapa wajahmu pucat sekali?"
Sentuhannya terasa hangat.
Terlalu akrab untuk seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Eiravelle menatap mata merah itu, berusaha menemukan jawaban dari ekspresinya. Namun, yang terlihat hanya kekhawatiran tulus.
"Lia?"
Tiba-tiba, kepalanya terasa berat.
Pandangannya berputar, dan ruangan di sekelilingnya mulai kabur. Eiravelle mencoba mundur, tetapi kedua kakinya kehilangan kekuatan.
"Tunggu..."
Tubuhnya terhuyung.
Pria itu segera menangkapnya sebelum dia jatuh ke lantai.
"Lia!"
Kali ini, suaranya terdengar panik.
Eiravelle ingin meraih sesuatu, ingin bertanya apa yang sedang terjadi. Namun, tubuhnya terasa semakin ringan, seolah-olah dirinya perlahan terlepas dari dunia tersebut.
Suara pria itu semakin jauh.
"Lia!"
Lalu semuanya menghilang.
---
"Hah—!"
Eiravelle terbangun dengan napas tersengal.
Dia langsung bangkit, mencengkeram selimut erat-erat sementara dadanya naik turun. Untuk beberapa saat, dia hanya duduk di tempat tidur, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Kemudian, dia melihat sekeliling.
Tempat tidur.
Meja kecil.
Lemari.
Tirai yang bergerak lembut tertiup angin.
Dia mengenali semuanya.
Ini kamarnya.
Kamarnya sendiri di Istana Lumindor.
Eiravelle segera menoleh ke jendela.
Langit cerah membentang di luar sana. Pepohonan hijau bergerak perlahan, dan cahaya Lumindor menyinari taman seperti biasanya.
Tidak ada pulau melayang.
Tidak ada sungai cahaya di langit.
Tidak ada lingkaran raksasa yang menggantung di antara bintang-bintang.
Semuanya kembali normal.
Perlahan, Eiravelle melepaskan cengkeramannya pada selimut dan menyentuh dadanya, menunggu detak jantungnya kembali tenang.
[Itu hanya mimpi... bukan?]
Dia mencoba mengingat setiap detailnya.
Ruangan putih keperakan. Udara yang dipenuhi energi sihir. Pemandangan langit yang mustahil. Dan pria berambut gelap dengan mata merah yang memperlakukannya seolah-olah mereka sangat dekat.
Semakin keras dia berusaha mengingat, semakin samar semuanya terasa.
Namun, satu hal tetap melekat di benaknya.
Suara pria itu.
Lembut, penuh kekhawatiran, seolah-olah nama yang diucapkannya memiliki arti yang sangat besar.
"Lia..."
Eiravelle mengangkat wajahnya dan menatap jendela tanpa berkedip.
[Siapa Lia?]
Dia tidak mengenal nama itu.
Dia juga tidak mengenal pria tersebut.
Lantas, mengapa semuanya terasa begitu nyata?
Eiravelle merapatkan selimut di sekeliling tubuhnya, tetapi kegelisahan di dadanya tidak kunjung menghilang.
Untuk pertama kalinya, dia tidak yakin apakah dirinya baru saja terbangun dari sebuah mimpi...
Atau justru dipaksa meninggalkan sesuatu yang benar-benar pernah ada.
Share this novel