2. Perjanjian Seribu Tahun

Romance Series 38

SENJA DI ANTARA DUA DUNIA

Bab 2 — Perjanjian Seribu Tahun

Setelah berjalan sebentar bersama Sarah, Eiravelle akhirnya tiba di depan pintu utama aula kerajaan.

Langkah mereka perlahan berhenti.

Di hadapan mereka berdiri dua pintu besar yang menjadi jalan masuk menuju aula utama istana.

Pintu itu terbuat dari kayu berwarna cokelat gelap, dengan permukaan yang halus dan terawat. Ukiran sederhana berbentuk sulur dan daun membingkai kedua sisinya, sementara di bagian tengah terdapat lambang kerajaan Lumindor yang terukir dalam warna emas.

Cahaya dari koridor memantul lembut pada ukiran tersebut.

Tidak terlalu megah.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ruangan di baliknya bukanlah tempat yang biasa dimasuki sembarang orang.

Dua penjaga berdiri di sisi pintu.

Keduanya mengenakan seragam penjaga istana Lumindor dan memegang busur mereka dengan tenang. Begitu melihat sang putri mendekat, mereka segera berdiri lebih tegak lalu menundukkan kepala dengan hormat.

"Yang Mulia Putri."

Eiravelle membalas dengan anggukan kecil.

"Terima kasih."

Salah satu penjaga kemudian berbalik dan mendorong pintu besar itu hingga terbuka.

Suara engsel pintu terdengar pelan di sepanjang koridor.

"Silakan masuk, Yang Mulia."

Eiravelle melangkah masuk sendirian.

Sarah tidak mengikutinya.

Ia berhenti di sisi pintu, seperti biasanya ketika Eiravelle dipanggil untuk menemui Raja Thalion secara pribadi.

Sarah hanya tersenyum kecil kepada sang putri sebelum membiarkan pintu tetap terbuka.

Begitu Eiravelle memasuki aula utama, langkahnya perlahan melambat.

Aula kerajaan Lumindor terasa luas dan tenang.

Berbeda dengan koridor istana yang lebih ramai, aula ini hampir selalu dipenuhi suasana hening. Bahkan suara langkah kaki seseorang dapat terdengar jelas ketika melewati lantai marmernya.

Lantai marmer putih membentang hingga ke ujung ruangan, memantulkan cahaya yang masuk dari jendela-jendela tinggi di kedua sisi.

Cahaya matahari Lumindor membuat seluruh aula tampak terang tanpa membutuhkan banyak penerangan tambahan.

Pilar-pilar putih berdiri berjajar di sepanjang sisi aula, dihiasi ukiran daun dan bunga yang menjadi ciri khas kerajaan para elf.

Di beberapa bagian dinding terdapat lambang keluarga kerajaan dan hiasan sederhana yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu lambang yang paling mudah dikenali adalah lambang kerajaan Lumindor, berupa matahari keemasan yang melambangkan cahaya kerajaan tersebut.

Tidak ada suara percakapan.

Tidak ada para penasihat yang sedang berdiskusi.

Hanya keheningan.

Dan di bagian paling ujung aula terdapat tangga pendek yang menuju singgasana kerajaan.

Di sanalah Raja Thalion berada.

Namun, kali ini sang raja tidak sedang duduk di singgasana.

Ia berdiri beberapa langkah di depannya.

Tatapannya tertuju pada sesuatu yang melayang di udara.

Sebuah gulungan sihir.

Gulungan itu terbuka di hadapannya, melayang tanpa disentuh oleh siapa pun. Cahaya tipis berwarna keemasan mengelilingi permukaannya, membuat tulisan-tulisan kuno yang memenuhi gulungan tersebut terlihat jelas.

Tulisan yang telah bertahan selama seribu tahun.

Perjanjian damai antara Lumindor dan Vorath.

Perjanjian yang dibuat oleh para leluhur kedua kerajaan.

Perjanjian yang telah menjadi dasar hubungan kedua kerajaan selama seribu tahun.

Thalion menatapnya dalam diam.

Matanya bergerak perlahan dari satu baris tulisan ke baris berikutnya.

Ia telah membaca perjanjian itu berkali-kali sebelumnya.

Namun entah mengapa, hari ini terasa berbeda.

Semakin lama ia membaca, semakin berat ekspresinya.

Ada sesuatu pada kata-kata yang ditulis oleh para leluhur mereka yang membuat pikirannya tidak tenang.

Seribu tahun.

Sudah selama itulah perjanjian tersebut berdiri.

Seribu tahun tanpa perang besar antara Lumindor dan Vorath.

Seribu tahun sejak para leluhur mereka menyepakati bahwa kedua kerajaan akan mempertahankan perdamaian.

Namun di balik semua itu, dunia telah berubah.

Generasi demi generasi telah berlalu.

Raja-raja sebelumnya telah meninggalkan dunia.

Anak-anak mereka tumbuh, menjadi raja dan ratu, lalu digantikan kembali oleh generasi berikutnya.

Dan sekarang...

Perjanjian itu masih tetap ada.

Masih berlaku.

Masih menjadi alasan mengapa kedua kerajaan tidak kembali mengangkat senjata satu sama lain.

Thalion menurunkan pandangannya sedikit.

"Seribu tahun..."

Suaranya hampir seperti bisikan.

Ia menatap bagian terakhir dari gulungan itu.

Tanda tangan dan lambang para leluhur dari kedua kerajaan masih terlihat jelas di sana.

Begitu banyak hal telah berubah selama seribu tahun.

Namun perjanjian itu masih tetap sama.

Masih berlaku.

Masih menjadi alasan mengapa kedua kerajaan tidak kembali berperang.

Thalion menghela napas panjang.

Dadanya terasa sedikit berat.

Ia tidak tahu apakah yang sedang ia rasakan adalah kekhawatiran, keraguan, atau sesuatu yang bahkan belum mampu ia beri nama.

Yang ia tahu hanyalah satu hal.

Hari ini ia harus berbicara dengan putrinya.

Tatapan Thalion kembali jatuh pada gulungan sihir tersebut.

Ia sedang begitu tenggelam dalam pikirannya hingga tidak menyadari langkah kaki yang mendekat dari arah pintu.

"Ayahanda, Anda memanggilku?"

Suara lembut itu membuat Thalion tersentak.

Matanya segera terangkat.

Eiravelle berdiri beberapa langkah darinya.

Rambut panjang berwarna kuning lembut dan keemasan milik sang putri jatuh melewati bahunya. Cahaya dari jendela tinggi di belakangnya membuat beberapa helai rambutnya tampak berkilau.

Untuk beberapa detik, Thalion hanya menatap putrinya.

Mulutnya sedikit terbuka.

Kemudian tertutup kembali.

Ia ingin mengatakan sesuatu.

Namun tidak ada kata yang keluar.

Pikirannya yang tadi dipenuhi oleh isi perjanjian seolah berhenti begitu saja.

Ia sudah memikirkan bagaimana cara menjelaskan semuanya.

Sudah memikirkan kata-kata yang harus ia gunakan.

Tetapi sekarang, setelah Eiravelle benar-benar berdiri di hadapannya...

Semua kata itu menghilang.

Thalion hanya bisa menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit disembunyikan.

Eiravelle memperhatikan ayahnya.

[Ada sesuatu yang aneh.

Ayahnya biasanya akan langsung menjawab ketika ia menyapanya.

Namun sekarang... Diam.]

"Ayahanda?"

Eiravelle melangkah sedikit lebih dekat.

Alisnya perlahan berkerut.

[Ayahnya hampir tidak pernah memanggilnya ke aula utama hanya untuk berbicara berdua dengannya.]

Biasanya, jika ada sesuatu yang ingin disampaikan, Thalion akan memanggilnya ke ruang kerja atau meminta Sarah menyampaikan pesan.

Tetapi hari ini berbeda.

Dan ekspresi Thalion...

Juga berbeda.

Eiravelle tidak pernah melihat ayahnya terlihat seperti ini.

Tatapannya tampak berat.

Wajahnya menunjukkan keraguan.

Seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi ia sendiri belum menemukan cara untuk mengatakannya.

Eiravelle berdiri diam.

Kemudian pandangannya perlahan berpindah dari wajah ayahnya.

Ke arah sesuatu yang berada di hadapannya.

Sebuah cahaya keemasan menarik perhatiannya.

Eiravelle mengedipkan mata.

Baru sekarang ia benar-benar menyadari keberadaan benda yang melayang di depan Thalion.

Sebuah gulungan sihir.

Tulisan kuno terlihat memenuhi permukaannya.

Ia bisa merasakan energi sihir yang berbeda dari sihir biasa.

Energi yang terasa jauh lebih tua.

Eiravelle memiringkan kepalanya sedikit.

"Apa itu?"

Thalion akhirnya menutup mulutnya dan menarik napas perlahan.

Tatapannya kembali tertuju pada gulungan itu.

Kemudian ia menatap putrinya.

Untuk pertama kalinya hari itu, Eiravelle melihat sesuatu yang jarang ia lihat dari ayahnya.

Keraguan.

Dan itu membuat rasa ingin tahunya semakin besar.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience