Series
38
SENJA DI ANTARA DUA DUNIA
Bab 4 — Kejutan Sang Pangeran
Suasana aula utama Istana Vorath perlahan menjadi sunyi.
Laporan Klause telah selesai disampaikan, tetapi Raja Valerius belum memberikan tanggapan seperti biasanya.
Sang raja duduk di atas singgasana, menatap putranya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Cahaya redup dari kristal-kristal sihir menyinari wajahnya, sementara bayangan pilar-pilar tinggi memanjang di sepanjang lantai batu.
Klause menunggu beberapa saat.
Biasanya, ayahnya akan memberikan pertanyaan, menyampaikan pendapat, atau langsung memerintahkan penyelidikan lebih lanjut jika menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Namun, kali ini Valerius hanya diam.
"Ayahanda?"
Valerius tidak segera menjawab.
Klause mengerutkan kening. Ia memperhatikan wajah ayahnya, mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Sejak pagi tadi, sikap Valerius memang terasa berbeda. Bahkan sekarang, setelah mendengar laporan penting mengenai keadaan di wilayah kerajaan, pikirannya tampak masih tertuju pada sesuatu yang lain.
"Father, are you listening to what I said just now?"
Valerius tersentak ringan.
"Hm?"
Klause menghela napas.
Ia tidak tahu apakah harus merasa khawatir atau kesal karena ayahnya tampaknya sama sekali tidak menyadari bahwa laporan mereka telah selesai.
Valerius berdeham.
"Ehem."
Ia mengubah posisi duduknya, lalu kembali menatap putranya.
"Baiklah. Untuk saat ini, kita kesampingkan dahulu masalah itu."
Klause mengangkat sebelah alis.
Mengesampingkan laporan tentang kemunculan makhluk iblis yang semakin sering bukanlah kebiasaan ayahnya. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Valerius sudah melanjutkan perkataannya.
"Ada sesuatu yang lebih penting yang perlu kita bicarakan."
Ekspresi Klause berubah serius.
Jika ayahnya sampai menganggap sesuatu lebih penting daripada keadaan di wilayah kerajaan, berarti persoalan itu bukan hal sepele.
"Apa itu, Ayahanda?"
Valerius menatapnya selama beberapa saat.
Kemudian, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat biasa, sang raja membuka mulut.
"Karena sang pangeran sekarang sudah berusia dua puluh lima tahun..."
Klause menunggu kelanjutannya.
Ia sudah terbiasa mendengar nasihat mengenai tanggung jawab sebagai pewaris takhta. Terkadang, ayahnya juga mengingatkannya bahwa seorang raja kelak harus memikirkan masa depan kerajaan, bukan hanya kekuatan militernya.
Jadi, ia tidak merasa terkejut mendengar kalimat pembuka tersebut.
Setidaknya, belum.
"Satu bulan dari sekarang," lanjut Valerius dengan tenang, "kau akan menyambut Putri Lumindor sebagai istrimu."
"Eh?"
Klause berkedip.
Ia menatap ayahnya tanpa bergerak.
Satu detik berlalu.
Kemudian dua detik.
"...Apa?"
Valerius tetap tenang, seolah baru saja memberitahunya mengenai jadwal pertemuan biasa.
Klause perlahan mengangkat tangannya dan menunjuk dirinya sendiri.
"Ayahanda sedang membicarakan aku?"
"Memangnya ada pangeran lain di sini?"
Klause terdiam.
"..."
Lalu matanya membesar.
"WHAT?!!!"
Seruannya menggema di seluruh aula.
Beberapa penjaga yang berdiri di dekat pintu masuk saling melirik, tetapi tidak seorang pun berani memberikan komentar.
Klause sama sekali tidak memedulikan mereka.
"Ayahanda, apa maksudnya aku akan menikah?"
"Seperti yang baru saja kukatakan. Kau akan menikah."
"Dengan Putri Lumindor?"
"Benar."
"Satu bulan lagi?"
"Benar."
Klause menatap ayahnya dengan ekspresi seolah seluruh dunia baru saja berbalik.
Jawaban Valerius terlalu singkat. Terlalu tenang. Dan yang paling menyebalkan, sang raja bahkan tidak terlihat menyadari betapa mengejutkannya berita tersebut bagi putranya sendiri.
"Ayahanda!"
Klause menarik napas panjang.
"Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?!"
"Karena baru sekarang aku memberitahumu."
"..."
Klause memejamkan mata sejenak.
Ia sungguh membutuhkan kesabaran yang jauh lebih besar untuk menghadapi ayahnya hari ini.
"Ayahanda bahkan tidak bertanya apakah aku setuju!"
Valerius menyandarkan punggungnya pada singgasana.
"Jika aku bertanya, apakah jawabanmu akan berbeda?"
"Tentu saja!"
"Begitu rupanya."
Klause menunggu.
Valerius tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Ayahanda, jangan hanya mengatakan begitu rupanya!"
"Apa lagi yang kauharapkan dariku?"
Klause hampir kehilangan kata-kata.
Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, berusaha menenangkan diri sebelum benar-benar mengatakan sesuatu yang mungkin akan disesalinya nanti.
"Ayahanda, ini bukan masalah sepele. Ini pernikahan!"
"Aku tahu."
"Dan dia adalah Putri Lumindor!"
Kali ini, nada suara Klause terdengar lebih serius.
Selama hidupnya, ia telah mempelajari sejarah hubungan antara Vorath dan Lumindor. Kedua kerajaan telah mempertahankan perdamaian selama seribu tahun, tetapi keduanya tetap merupakan dunia yang berbeda.
Lumindor adalah kerajaan para elf yang hidup di bawah cahaya matahari abadi.
Vorath adalah negeri yang diselimuti kabut dan kegelapan.
Mereka memiliki tradisi, keyakinan, dan cara hidup yang tidak sama. Meskipun perjanjian kuno menjaga hubungan kedua kerajaan, Klause tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menjadi bagian dari perjanjian tersebut dengan cara seperti ini.
"Selama hidupku, aku hanya mengenal Lumindor melalui catatan sejarah dan perjanjian kerajaan," katanya. "Sekarang Ayahanda ingin aku menikahi putri mereka tanpa memberiku kesempatan untuk mempersiapkan diri?"
"Ini bukan keputusan yang dibuat tanpa alasan."
Valerius menjawab dengan suara yang lebih tegas.
"Perjanjian ini telah disusun oleh leluhur kita sejak seribu tahun yang lalu."
Klause terdiam.
Ia teringat sesuatu.
Pagi tadi, ayahnya telah memeriksa kembali perjanjian kuno yang mengikat kedua kerajaan. Sejak itu, Valerius tampak memikirkan sesuatu yang tidak ingin dibicarakannya secara terbuka.
Kini, semuanya mulai terlihat saling berhubungan.
"Jadi, ini berkaitan dengan perjanjian seribu tahun itu?"
Valerius mengangguk.
"Ya."
Klause mengerutkan kening.
"Aku mengetahui keberadaan perjanjian tersebut. Namun, aku tidak pernah mengetahui bahwa ada ketentuan yang mengharuskan pewaris kedua kerajaan menikah."
"Itu karena ketentuan tersebut belum pernah perlu dilaksanakan sebelumnya."
"Dan sekarang tiba-tiba waktunya telah tiba?"
"Benar."
Klause menggeleng pelan.
"Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya."
"Itu bisa diperbaiki."
"Aku tidak tahu seperti apa sifatnya."
"Kau akan mengetahuinya setelah bertemu dengannya."
"Ayahanda!"
Valerius mengangkat sebelah alis.
"Klause."
Suaranya berubah lebih tegas, membuat sang pangeran akhirnya berhenti berbicara.
"Kau berusia dua puluh lima tahun. Kau adalah putra mahkota dan satu-satunya pewaris Vorath. Ada tanggung jawab yang harus kaupikul, termasuk tanggung jawab terhadap perjanjian yang telah menjaga perdamaian kerajaan kita."
"Aku mengetahui tanggung jawabku."
"Kalau begitu, kau juga seharusnya memahami bahwa keputusan ini bukan sekadar urusan pribadimu."
Klause mengepalkan tangannya, kemudian perlahan melepaskannya.
Ia memahami maksud ayahnya.
Namun, memahami alasan di balik keputusan itu tidak membuatnya lebih mudah menerima kenyataan bahwa masa depannya telah ditentukan tanpa sepengetahuannya.
Valerius kembali berbicara.
"Namanya Eiravelle. Putri Eiravelle dari Lumindor."
"Eiravelle..."
Klause mengulang nama itu pelan.
Nama tersebut terasa asing di telinganya.
Ia tidak mengetahui wajah sang putri, kepribadiannya, ataupun bagaimana pendapatnya mengenai pernikahan ini. Bahkan, ia tidak tahu apakah Eiravelle telah menerima keputusan yang sama atau baru akan mendengarnya dari ayahnya sendiri.
"Dia benar-benar akan datang ke Vorath?" tanyanya.
"Sebulan lagi."
Klause menundukkan kepala sejenak.
Dalam pikirannya, berbagai pertanyaan mulai bermunculan.
Apakah sang putri akan merasa takut ketika menginjakkan kaki di Vorath?
Apakah ia akan memandang kerajaan ini sebagaimana Lumindor menggambarkannya dalam sejarah mereka?
Dan yang terpenting, apakah Eiravelle sendiri menginginkan pernikahan ini?
Klause mengusap wajahnya.
[Ini pasti lelucon.]
Namun, ketika ia kembali menatap ayahnya, ekspresi Valerius tetap serius.
Tidak ada sedikit pun tanda bahwa sang raja sedang bergurau.
"Kalau aku menolak?" tanya Klause akhirnya.
Valerius terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Kalau begitu, kau harus menjelaskan sendiri kepada kerajaan mengapa kau memilih menghancurkan perjanjian yang telah menjaga perdamaian selama seribu tahun."
Klause membeku.
Ia tidak langsung menjawab.
Sebagai pewaris Vorath, ia mengetahui beratnya konsekuensi yang mungkin timbul jika perjanjian tersebut dilanggar. Keputusan itu bukan hanya akan memengaruhi dirinya, melainkan juga hubungan antara dua kerajaan.
Namun, menerima pernikahan tanpa mengetahui apa pun tentang calon istrinya juga bukan perkara sederhana.
Klause menghela napas panjang.
Hari ini, ia hanya berniat menyampaikan laporan kepada ayahnya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa sebelum meninggalkan aula, dirinya akan mendapatkan seorang calon istri.
Dan bukan sembarang calon istri.
Putri Eiravelle dari Lumindor.
Seseorang yang bahkan belum pernah ia temui, tetapi dalam waktu satu bulan akan menjadi bagian dari hidupnya.
Klause menatap ayahnya sekali lagi.
"Ayahanda, setidaknya aku berharap pertemuan pertama kami tidak akan menjadi bencana."
Valerius hanya mengangkat sebelah alis.
"Itu bergantung pada dirimu juga, Klause."
Sang pangeran terdiam.
Entah mengapa, jawaban itu sama sekali tidak membuatnya merasa lebih tenang.
Satu bulan.
Hanya tersisa satu bulan sebelum Putri Lumindor tiba di Vorath.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Klause merasa bahwa menghadapi makhluk iblis di medan pertempuran mungkin jauh lebih mudah daripada menghadapi calon istrinya sendiri.
Share this novel