Series
38
SENJA DI ANTARA DUA DUNIA
Bab 1 — Putri dari Cahaya
Lapangan latihan kerajaan Lumindor masih dipenuhi sisa-sisa cahaya sihir ketika Eiravelle menurunkan busurnya.
Gadis berusia delapan belas tahun itu berdiri di tengah arena dengan napas yang sedikit terengah.
Rambut panjangnya yang berwarna kuning lembut bercampur keemasan jatuh melewati punggung, beberapa helainya menempel di pipinya akibat latihan. Sepasang mata emerald menatap sasaran di kejauhan.
Di hadapannya—
sebuah target kayu telah hancur hampir seluruhnya.
Maurice, guru sihir sekaligus instruktur tempurnya, berdiri beberapa langkah di belakang.
"Bagus."
Eiravelle menoleh.
"Bagus?"
Maurice mengangkat satu alis.
"Untuk seseorang yang baru berusia delapan belas tahun, kau sudah memiliki kendali yang sangat baik."
Eiravelle tersenyum kecil.
"Baru berusia delapan belas?"
"Jangan terlalu bangga."
Eiravelle tertawa pelan.
Ia mengangkat tangan kanannya.
Cahaya keemasan dan hijau mulai berkumpul di telapak tangannya.
Tidak ada senjata yang tergantung di pinggangnya.
Tidak ada busur yang dibawa sejak awal.
Namun dalam beberapa detik—
cahaya itu membentuk lengkungan panjang.
Sebuah busur muncul dari sihirnya sendiri.
Keemasan di bagian luar, dengan cahaya hijau lembut yang mengalir seperti urat kehidupan di sepanjang permukaannya.
Maurice memperhatikannya dengan serius.
"Itulah kemampuan yang paling harus kau kuasai."
Eiravelle memandang busur yang terbentuk dari sihirnya.
"Busur cahaya?"
"Lebih dari itu."
Maurice berjalan mendekat.
"Busur itu terbentuk dari energi sihirmu sendiri. Selama kau masih memiliki kendali atas sihirmu, kau tidak membutuhkan senjata fisik."
Eiravelle mengangguk.
Ia memang memiliki kemampuan sihir penyembuhan yang sangat tinggi.
Namun kemampuan pertahanannya juga berada di tingkat yang jarang dimiliki penyihir seusianya.
Dan ketika dibutuhkan untuk menyerang—
ia dapat menggunakan sihirnya untuk menciptakan busurnya sendiri.
Sihir penyembuhan.
Sihir pertahanan.
Dan busur yang dapat digunakan sebagai senjata serangan.
Tiga kemampuan yang membuatnya berbeda dari kebanyakan penyihir muda di Lumindor.
Maurice menatapnya sejenak.
"Latihan selesai untuk hari ini."
Busur di tangan Eiravelle perlahan menghilang menjadi serpihan cahaya.
"Baik, Guru Maurice."
Ia membungkuk kecil.
Kemudian meninggalkan lapangan latihan.
***
Koridor utama istana Lumindor membentang panjang di hadapannya.
Eiravelle berjalan melewati lorong yang sudah sangat dikenalnya.
Ia melewati pilar-pilar putih yang dihiasi ukiran bunga dan tanaman merambat. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, memenuhi seluruh koridor dengan warna keemasan.
Lumindor memang selalu seperti itu.
Terang.
Hangat.
Tidak pernah benar-benar gelap.
Sejak kecil, Eiravelle telah diberitahu bahwa tanah kelahirannya diberkati oleh cahaya yang tidak pernah padam.
Kerajaan para elf itu berdiri di bawah langit yang selalu cerah.
Dan jauh di seberang wilayah kerajaan—
terdapat Vorath.
Kerajaan yang selama seribu tahun hidup dalam kegelapan.
Setidaknya...
itulah yang selalu diajarkan kepadanya.
Tidak ada sinar matahari yang mencapai tanah Vorath.
Tidak selama seribu tahun.
Perbatasan antara kedua kerajaan dijaga dengan ketat.
Bukan hanya karena sejarah peperangan mereka, tetapi juga karena kedua kerajaan tumbuh dengan keyakinan yang sangat berbeda.
Lumindor percaya bahwa cahaya adalah kehidupan.
Vorath—
menurut apa yang Eiravelle dengar sejak kecil—
adalah negeri yang hidup di bawah kegelapan.
Negeri yang tidak mengenal matahari.
Negeri yang berbeda dari mereka.
Terlalu berbeda.
Eiravelle berhenti di depan sebuah jendela tinggi.
Dari sana, ia dapat melihat jauh hingga ke arah perbatasan.
Di kejauhan berdiri garis wilayah yang memisahkan Lumindor dan Vorath.
Dan di tengah perbatasan itu terdapat sebuah bangunan tua.
Sebuah paviliun batu yang telah berdiri selama bertahun-tahun.
Paviliun itu merupakan tempat pertemuan diplomatik antara kedua kerajaan.
Setiap tahun, perwakilan Lumindor dan Vorath akan bertemu di sana untuk membicarakan hubungan kedua kerajaan.
Eiravelle sering melihatnya dari kejauhan.
Namun ia belum pernah benar-benar pergi ke sana.
Ia kembali menatap langit.
Cerah.
Biru.
Tidak ada awan gelap.
Tidak ada tanda-tanda malam.
"Another peaceful day today."
Senyumnya tipis.
Hari yang damai.
Setidaknya...
seharusnya begitu.
Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan.
Mimpinya.
Hampir setiap beberapa malam, Eiravelle melihat tempat yang sama.
Tempat yang tidak pernah ia kenal.
Bukan Lumindor.
Bukan pula tempat mana pun yang pernah ia kunjungi.
Di sana, ia selalu melihat dua orang.
Sepasang pria dan wanita.
Wajah mereka tidak pernah terlihat jelas.
Eiravelle tidak pernah bisa mengingat detailnya setelah terbangun.
Namun ada beberapa hal yang selalu tertinggal dalam ingatannya.
Sang wanita.
Ia berdiri di dalam cahaya.
Bukan sekadar cahaya biasa.
Cahaya itu mengelilinginya seolah-olah wanita tersebut adalah matahari itu sendiri.
Dan pria di sampingnya—
berdiri dalam kegelapan.
Namun bukan kegelapan sihir.
Tidak ada aura jahat.
Tidak ada ancaman.
Kegelapan di sekelilingnya justru terasa tenang.
Dalam.
Seperti malam.
Seperti bulan yang berdiri sendirian di langit.
Yang paling aneh adalah...
mereka berdiri berdampingan.
Sang wanita tidak takut pada pria itu.
Pria itu juga tidak menjauh darinya.
Tidak ada permusuhan.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada pertempuran.
Mereka hanya...
bersama.
Eiravelle menutup matanya sejenak.
Entah mengapa, pemandangan itu terasa sangat familiar.
Terlalu familiar.
Namun setiap kali ia mencoba mengingat lebih banyak—
mimpi itu menghilang.
"Aku ingin tahu..."
Eiravelle membuka matanya kembali.
"Siapa mereka?"
Sebuah suara terdengar dari belakang.
"Yang Mulia!"
Eiravelle sedikit terkejut.
Ia menoleh.
Sarah berdiri beberapa langkah darinya.
Maid pribadinya sejak kecil itu kini berusia dua puluh lima tahun. Rambutnya tertata rapi, pakaian maid kerajaan dikenakannya dengan sempurna, tetapi ekspresinya tetap sama seperti yang Eiravelle kenal sejak masa kanak-kanak.
Sarah berjalan mendekat.
"Yang Mulia, saya sudah mencari Anda."
Eiravelle tersenyum.
"Maaf. Aku hanya berhenti sebentar."
Sarah kemudian melihat ke arah jendela.
"Memikirkan sesuatu lagi?"
Eiravelle diam sejenak.
Kemudian menggeleng kecil.
"Sedikit."
Sarah tidak memaksanya menjelaskan.
Ia sudah terlalu lama mengenal Eiravelle untuk mengetahui kapan putri itu ingin berbicara dan kapan ia hanya membutuhkan waktu untuk berpikir.
Namun kali ini Sarah membawa pesan penting.
"Yang Mulia."
"Hm?"
"Yang Mulia Raja meminta Anda datang ke aula utama."
Eiravelle langsung menatapnya.
"Ayah?"
Sarah mengangguk.
"Ya. Raja Thalion ingin berbicara dengan Anda."
Eiravelle kembali melirik ke arah jendela.
Ke arah perbatasan.
Ke arah negeri yang selama hidupnya hanya ia kenal melalui cerita.
Vorath.
Kerajaan yang selalu dikatakan hidup dalam kegelapan.
Ia tidak tahu mengapa.
Namun entah kenapa...
setiap kali memandang ke arah sana akhir-akhir ini, ia merasa ada sesuatu yang sedang menunggunya.
Sesuatu yang belum ia mengerti.
Eiravelle akhirnya berbalik.
"Baik."
Ia mulai berjalan bersama Sarah menuju aula utama.
Tanpa mengetahui bahwa percakapan dengan ayahnya hari itu—
akan menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Sesuatu yang perlahan akan membuatnya mempertanyakan...
bukan hanya Vorath.
Tetapi juga seluruh dunia yang selama ini ia kenal.
Share this novel