13. Harapan yang Menjadi Beban

Romance Series 38

BAB 13 — Harapan yang Menjadi Beban

Tiga hari telah berlalu sejak pengumuman pernikahan Putri Eiravelle dari Lumindor dan Pangeran Klause dari Vorath.

Kabar itu menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kedua kerajaan. Di Lumindor, rakyat menyambutnya dengan senyum dan persiapan meriah. Di Vorath, kegembiraan serupa mulai memenuhi jalan-jalan kota yang biasanya diselimuti langit gelap.

Setelah seribu tahun hidup berdampingan dalam perbedaan, kedua kerajaan akhirnya memiliki alasan untuk merayakan sesuatu yang sama.

Pernikahan kedua pewaris takhta.

Bagi rakyat, itu bukan sekadar penyatuan dua keluarga kerajaan. Itu adalah harapan bahwa perdamaian yang telah bertahan selama berabad-abad akan terus berlanjut.

Namun, bagi kedua orang yang akan menikah...

Harapan itu tidak sesederhana yang dibayangkan rakyat mereka.

---

Pagi itu, Eiravelle mengunjungi sebuah pasar kecil tidak jauh dari pusat Lumindor.

Ia tidak mengenakan mahkota ataupun gaun resmi kerajaan. Rambut panjangnya diikat sederhana, sementara jubah tipis menutupi sebagian besar pakaiannya. Dengan penampilan seperti itu, ia dapat berjalan di antara rakyat tanpa menarik perhatian.

Sarah mengikutinya beberapa langkah di belakang.

"Putri, apakah Anda yakin tidak ingin mengunjungi tempat lain?"

Eiravelle menggeleng pelan. "Aku hanya ingin berjalan-jalan."

Sarah tidak bertanya lebih jauh.

Mereka melewati deretan toko yang dipenuhi barang-barang, kios makanan, serta rangkaian bunga berwarna cerah. Suasana pasar begitu hidup. Para pedagang sibuk melayani pembeli, sementara anak-anak berlarian di antara orang dewasa.

Namun, di tengah keramaian itu, ada satu topik yang terus terdengar.

"Pernikahannya tinggal beberapa minggu lagi, bukan?"

"Benar! Aku dengar persiapannya akan sangat besar."

"Sudah seribu tahun sejak perdamaian dimulai. Ini pasti menjadi perayaan yang bersejarah."

"Semoga kedua pewaris itu hidup bahagia."

Langkah Eiravelle melambat.

Di dekat sebuah kios bunga, seorang wanita tua sedang memilih beberapa rangkaian bunga bersama pedagangnya.

"Aku ingin membeli lebih banyak," ujar wanita itu sambil tersenyum. "Putriku bersikeras bahwa rumah kami harus dihias sebelum hari pernikahan."

Pedagang bunga itu tertawa kecil. "Kalau begitu, pastikan Anda masih punya uang untuk membeli makanan setelahnya."

Keduanya tertawa bersama.

Eiravelle berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan percakapan sederhana itu.

Tidak seorang pun mengenalinya.

Mereka tidak tahu bahwa gadis berjubah yang berdiri di dekat kios tersebut adalah putri yang sedang mereka bicarakan dengan begitu gembira.

Bagi mereka, pernikahan itu merupakan kabar baik. Sesuatu yang layak disambut dengan bunga, pesta, dan doa untuk masa depan.

Seorang anak kecil tiba-tiba berlari menghampiri ibunya.

"Ibu! Apakah nanti akan ada kembang api saat pernikahan Putri?"

Ibunya tersenyum sambil merapikan rambut anak itu. "Mungkin saja. Tapi kalau kau ingin melihatnya, jangan sampai tertidur sebelum pesta dimulai."

"Aku tidak akan tidur!"

Jawaban itu mengundang tawa orang-orang di sekitar mereka.

Eiravelle ikut tersenyum, meskipun hanya sebentar.

Tatapannya kemudian jatuh pada tangannya sendiri yang menggenggam ujung jubah.

[Mereka semua benar-benar menantikannya...]

Ia sudah mengetahui bahwa pernikahan tersebut penting bagi kedua kerajaan. Namun, mendengar kegembiraan rakyat secara langsung membuat kenyataan itu terasa berbeda.

Mereka tidak tampak takut.

Tidak ada yang merasa sedang dikorbankan.

Mereka hanya melihat sebuah masa depan yang lebih baik.

[Kalau begitu... kenapa aku justru merasa takut?]

Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang mampu menenangkannya.

Sarah memperhatikan perubahan ekspresi sang putri. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung melakukannya.

Sebagai pelayan yang telah lama mendampingi Eiravelle, ia tahu bahwa sang putri tidak membutuhkan kata-kata penghiburan setiap kali merasa gelisah.

Terkadang, ia hanya membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya sendiri.

Eiravelle akhirnya kembali berjalan menyusuri pasar.

Ia tidak ingin merusak kebahagiaan rakyatnya hanya karena dirinya belum siap menghadapi masa depan. Namun, semakin ia melihat senyum mereka, semakin sulit baginya membayangkan bagaimana caranya menolak pernikahan tersebut.

Beban itu tidak datang dari ancaman ataupun paksaan yang diucapkan secara langsung.

Beban itu tumbuh dari harapan orang-orang yang bahkan tidak mengetahui kegelisahannya.

---

Jauh dari Lumindor, malam telah menyelimuti Vorath.

Kristal-kristal bercahaya menerangi jalan utama, memantulkan kilau pucat pada bangunan batu berwarna gelap. Pasar malam dipenuhi pedagang yang menawarkan makanan, pakaian, dan berbagai barang untuk persiapan perayaan mendatang.

Di antara kerumunan, seorang pria berambut gelap berjalan dengan pakaian sederhana.

Tidak ada lambang kerajaan di tubuhnya. Tidak ada pengawal yang mengiringinya. Penampilannya begitu biasa sehingga tak seorang pun menyadari bahwa ia adalah pewaris takhta Vorath.

Klause berjalan melewati kios-kios bersama Kaguya yang berada beberapa langkah di belakangnya.

Keduanya tidak banyak berbicara.

Mereka telah meninggalkan istana untuk mencari udara segar, tetapi suasana pasar justru membuat pikiran Klause semakin penuh.

"Menurutmu, apakah Putri Lumindor benar-benar akan tinggal di Vorath setelah menikah?" tanya seorang pedagang kepada rekannya.

"Tentu saja. Bukankah itu bagian dari pernikahan kerajaan?"

Pedagang pertama mengangguk, lalu tersenyum.

"Aku penasaran seperti apa seorang putri elf. Sudah lama sekali kita tidak memiliki hubungan sedekat ini dengan Lumindor."

"Selama tidak ada perang lagi, aku tidak keberatan dengan siapa pun yang datang."

Percakapan itu membuat Klause memperlambat langkahnya.

Tidak jauh dari sana, seorang pria tua duduk di depan kedai sambil menikmati minuman hangat. Ia mendengar pembicaraan para pedagang sebelum akhirnya ikut menanggapi.

"Pernikahan itu memang harus dilaksanakan."

Beberapa orang menoleh kepadanya.

Pria tua itu tidak berbicara dengan nada memerintah. Ia hanya menyampaikan keyakinan yang telah dipegangnya selama bertahun-tahun.

"Selama seribu tahun, kita hidup tanpa perang dengan Lumindor. Jika pernikahan ini dapat menjaga perdamaian itu untuk seribu tahun berikutnya, mengapa kita harus menolaknya?"

Orang-orang di sekitarnya mengangguk setuju.

Klause terdiam.

Tangannya mengepal perlahan di balik lengan bajunya, tetapi kali ini bukan amarah yang memenuhi dadanya.

Ia teringat pertengkarannya dengan ayahnya, juga perasaan sesak ketika menyadari bahwa masa depannya telah ditentukan tanpa persetujuannya.

Namun, rakyatnya tidak melihat semua itu.

Mereka hanya melihat sebuah pernikahan yang dapat menjamin kehidupan damai bagi generasi berikutnya.

Di dekat kios pakaian, seorang gadis kecil menarik lengan ayahnya.

"Ayah, apakah kita boleh melihat Putri Lumindor saat dia datang?"

Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Tentu. Kita akan mencari tempat yang bagus agar kau bisa melihatnya."

Gadis kecil itu bersorak gembira.

Klause menundukkan pandangan.

[Semua orang benar-benar menantikannya...]

Ia tidak membenci Lumindor. Ia juga tidak memiliki alasan untuk membenci seorang putri yang bahkan belum pernah ditemuinya.

Yang membuatnya marah adalah kenyataan bahwa dirinya harus menyerahkan pilihan hidupnya demi keputusan yang dibuat jauh sebelum ia dilahirkan.

Namun, ketika melihat rakyatnya tertawa dan membicarakan masa depan dengan penuh harapan, ia tidak mampu mengabaikan alasan di balik keputusan tersebut.

[Jika pernikahan ini benar-benar menjaga perdamaian...]

Pikirannya terhenti.

Ia belum menemukan jawaban untuk pertanyaan yang paling mengganggunya.

Kaguya berjalan di sampingnya tanpa menyela. Ia mengenal Klause cukup baik untuk mengetahui bahwa sahabatnya itu sedang berusaha memahami sesuatu yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan kemarahan.

Klause akhirnya melanjutkan langkahnya.

Di sekeliling mereka, pasar tetap ramai. Orang-orang terus membicarakan pesta, tamu kerajaan, dan kedatangan seorang putri dari negeri cahaya.

Tidak seorang pun menyadari bahwa pangeran yang menjadi pusat pembicaraan mereka sedang berjalan di antara mereka, memikirkan apakah ia masih berhak menolak masa depan yang telah disiapkan untuknya.

---

Hari mulai beranjak sore ketika Eiravelle kembali ke istana Lumindor.

Ia berdiri di dekat jendela kamarnya, memandang cahaya keemasan yang menyelimuti taman. Pemandangan itu biasanya memberikan ketenangan, tetapi hari ini pikirannya masih dipenuhi suara rakyat di pasar.

[Jika mereka semua percaya bahwa pernikahan ini akan membawa kebahagiaan...]

Jari-jarinya menyentuh permukaan kaca.

[...apa aku benar-benar sanggup mengecewakan mereka?]

Di tempat lain, Klause berdiri di balkon kamarnya di Vorath.

Langit malam terbentang luas di atas kerajaan. Lampu-lampu kristal di kejauhan tampak seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Ia mengingat wajah-wajah rakyatnya, terutama gadis kecil yang begitu bersemangat ingin melihat calon pengantinnya.

[Jika pernikahan ini memang dapat menjaga perdamaian...]

Klause memejamkan mata sejenak.

[...apa hakku untuk menghancurkan harapan mereka?]

Mereka berada di dua kerajaan yang berbeda, dipisahkan oleh jarak, tradisi, dan sejarah panjang.

Mereka bahkan belum pernah bertemu.

Namun, pada hari yang sama, Eiravelle dan Klause menghadapi pertanyaan yang hampir serupa.

Bukan karena seseorang mengancam mereka.

Bukan pula karena pedang diarahkan ke leher mereka.

Melainkan karena mereka mulai menyadari bahwa keputusan yang seharusnya menjadi milik mereka sendiri telah menjadi harapan bagi ribuan orang.

Dan terkadang, harapan orang lain terasa jauh lebih berat daripada ancaman.

Lima hari lagi, para penguasa Lumindor dan Vorath akan bertemu di paviliun perbatasan—tempat yang dibangun sebagai lambang hubungan kedua kerajaan.

Pertemuan itu akan membahas persiapan pernikahan, kelanjutan perjanjian, dan masa depan perdamaian yang telah bertahan selama seribu tahun.

Namun, di balik semua pembicaraan tersebut, ada dua pewaris yang belum pernah saling mengenal.

Dua orang yang diminta menjadi jembatan bagi masa depan kerajaan mereka.

Dan tanpa mereka sadari, langkah pertama menuju pernikahan itu telah membawa mereka pada pertanyaan yang sama:

Apakah mereka masih boleh memilih jalan hidup mereka sendiri?

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience