Series
38
SENJA DI ANTARA DUA DUNIA
Bab 6 — Pelukan Sang Ibu
Lumindor.
Matahari telah tenggelam di balik cakrawala, tetapi kegelapan tidak pernah benar-benar menyelimuti kerajaan para elf itu. Cahaya lembut masih menerangi langit, menyinari menara istana dan pepohonan yang bergerak perlahan tertiup angin.
Di balkon kamarnya, Eiravelle berdiri dalam diam.
Air matanya telah mengering, tetapi kesedihan di hatinya belum mereda. Ia tidak ingin memikirkan pernikahan itu, perjanjian kuno yang dibuat seribu tahun lalu, ataupun pangeran Vorath yang bahkan belum pernah ditemuinya.
Ia hanya ingin menikmati ketenangan rumahnya untuk beberapa saat lagi.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan terdengar dari pintu kamar.
“Eiravelle?”
Queen Elara memasuki ruangan. Ketika tidak menemukan putrinya di dekat tempat tidur, pandangannya beralih ke balkon.
Ia segera menghampiri Eiravelle setelah melihat putrinya berdiri di luar dengan pakaian tidur tipis.
“Sayang, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu bisa kedinginan.”
Elara mengambil jubah di dekat pintu balkon, lalu menyampirkannya ke bahu putrinya.
Eiravelle menoleh.
Begitu melihat wajah ibunya, matanya kembali berkaca-kaca.
“Mother…”
Sebelum Elara sempat bertanya, Eiravelle langsung memeluknya erat.
“I don't want this marriage…”
Suaranya bergetar.
“Why me, Mother? Why do I have to be the one?”
Elara terdiam sejenak sebelum membalas pelukan itu.
“Oh, Sayang…”
“Aku tidak mau menikah dengannya,” isak Eiravelle. “Aku bahkan tidak mengenalnya. Bagaimana jika dia orang yang kejam? Bagaimana jika dia membenciku?”
Elara mengusap punggung putrinya perlahan.
“Ibu di sini. Menangislah jika kamu membutuhkannya.”
Mendengar itu, Eiravelle semakin terisak.
Sejak keputusan ayahandanya disampaikan, ia telah berusaha menahan kesedihannya. Namun, di dalam pelukan ibunya, ia tidak perlu berpura-pura kuat.
Untuk sesaat, ia bukan seorang putri yang harus menerima tanggung jawab demi kerajaan.
Ia hanya seorang anak perempuan yang takut kehilangan kehidupan yang dicintainya.
---
Setelah tangisnya sedikit mereda, Elara mengajak putrinya masuk dan duduk di sofa dekat jendela.
“Sayang, lihat Ibu.”
Eiravelle mengangkat wajahnya.
“Apakah Ayahanda benar-benar tidak akan memberiku pilihan?”
Elara menggenggam tangannya.
“Perjanjian itu menyangkut perdamaian antara Lumindor dan Vorath. Ayahandamu memiliki banyak hal yang harus dipertimbangkan sebagai raja.”
“Tapi perjanjian itu dibuat seribu tahun lalu!” Eiravelle berseru pelan. “Mengapa aku yang harus menanggung keputusan orang-orang yang bahkan sudah lama tiada?”
Elara memahami kemarahan putrinya.
“Kamu merasa masa depanmu sudah ditentukan tanpa ada yang bertanya apa yang kamu inginkan,” katanya lembut.
Eiravelle mengangguk, air matanya kembali menggenang.
“Aku ingin menikah karena mencintai seseorang. Aku ingin memilih sendiri orang yang akan menghabiskan hidup bersamaku. Apakah itu salah, Ibu?”
“Tidak, Sayang. Sama sekali tidak.”
Jawaban tegas itu membuat Eiravelle menatap ibunya.
“Keinginanmu untuk mencintai dan memilih pasanganmu sendiri bukanlah sesuatu yang salah,” lanjut Elara. “Ibu mengerti mengapa kamu merasa terluka.”
“Lalu mengapa semuanya harus seperti ini?”
Elara terdiam sesaat.
“Andai Ibu memiliki jawaban yang bisa mengubah keadaan, Ibu pasti akan memberikannya kepadamu.”
Eiravelle menunduk, meremas ujung jubahnya.
“Aku takut, Ibu.”
“Apa yang paling kamu takutkan?”
“Segalanya.” Eiravelle menarik napas gemetar. “Bagaimana jika pangeran itu kejam? Bagaimana jika rakyat Vorath tidak menerimaku karena aku seorang elf? Kita selalu mendengar cerita tentang kerajaan vampire sejak kecil. Bagaimana jika semua cerita itu benar?”
Elara memegang kedua bahu putrinya dengan lembut.
“Tarik napas perlahan, Sayang.”
Eiravelle menurutinya.
“Sekali lagi.”
Setelah putrinya sedikit tenang, Elara membelai rambutnya.
“Ibu tidak akan mengatakan bahwa Vorath pasti menjadi tempat yang menyenangkan bagimu. Ibu juga tidak bisa menjamin bahwa pangeran itu akan menjadi suami yang baik.”
Eiravelle terdiam.
“Tetapi kita belum mengetahui semuanya,” lanjut Elara. “Kamu belum pernah bertemu dengannya atau melihat kehidupan di Vorath dengan matamu sendiri.”
“Jadi, Ibu tidak takut?”
“Tentu saja Ibu takut.”
Eiravelle mengangkat wajahnya, terkejut mendengar jawaban itu.
Elara tersenyum samar, meskipun kekhawatiran masih terlihat di matanya.
“Ibu tidak tahu bagaimana kehidupanmu nanti. Ibu juga tidak tahu apakah kamu akan bahagia di sana atau merindukan rumah ini setiap hari.”
Ia menggenggam tangan putrinya lebih erat.
“Yang paling Ibu takutkan adalah ketika kamu merasa sedih atau terluka di tempat yang jauh, sementara Ibu tidak bisa langsung berada di sisimu.”
Mata Eiravelle kembali berkaca-kaca.
“Ibu…”
“Namun, Ibu tidak ingin ketakutan Ibu membuatmu semakin takut.” Elara mengusap pipinya. “Kamu tidak harus merasa berani malam ini. Kamu juga tidak harus berpura-pura bahagia hanya karena semua orang mengharapkannya.”
Eiravelle kembali memeluk ibunya.
“Aku tidak mau meninggalkan Lumindor. Aku tidak mau meninggalkan Ayahanda dan Ibu.”
Elara membalas pelukannya.
“Ibu tahu, Sayang.”
“Aku tidak ingin tinggal di kerajaan yang tidak kukenal bersama seseorang yang tidak kupilih.”
Suara Eiravelle semakin kecil.
“Kenapa tidak ada yang bertanya apa yang kuinginkan?”
Pertanyaan itu membuat Elara kehilangan kata-kata.
Ia mengusap punggung putrinya, menahan sesak di dadanya.
“Maafkan Ibu, Sayang. Maaf karena malam ini Ibu belum bisa memberikan jawaban yang kamu butuhkan.”
Eiravelle terdiam dalam pelukannya.
“Tapi perasaanmu penting bagi Ibu. Jangan pernah berpikir bahwa kamu harus menyembunyikan kesedihanmu hanya karena kamu seorang putri.”
Elara mencium puncak kepala putrinya.
“Kamu tetap anak Ibu, apa pun yang terjadi.”
---
Beberapa saat kemudian, Eiravelle mengangkat wajahnya.
“Mother, bagaimana jika aku tidak pernah bisa menyukai pangeran itu?”
“Jangan memaksakan dirimu menyukai seseorang yang bahkan belum kamu kenal,” jawab Elara. “Perasaan tidak bisa dipaksakan.”
“Bagaimana jika dia juga tidak menyukaiku?”
“Kalau begitu, kalian mungkin harus saling mengenal terlebih dahulu.”
Eiravelle mengerutkan kening.
“Itu terdengar merepotkan.”
Elara tertawa kecil.
“Memang.”
Untuk sesaat, senyum tipis muncul di bibir Eiravelle. Namun, senyum itu segera menghilang ketika ia kembali mengingat pernikahan yang menunggunya.
Elara tidak memaksanya untuk tersenyum lagi.
“Ibu juga tidak tahu banyak tentang kehidupan di Vorath,” katanya. “Selama ini, Ibu hanya mengenalnya melalui catatan sejarah, laporan para utusan, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.”
Ia menatap putrinya dengan lembut.
“Jadi, Ibu tidak akan memintamu mempercayai sesuatu yang bahkan belum Ibu ketahui kebenarannya.”
Eiravelle terdiam.
Selama ini, Vorath selalu hadir dalam pikirannya sebagai kerajaan tanpa matahari, tempat para vampire yang ditakuti rakyat Lumindor tinggal.
Namun, ia belum pernah melihatnya sendiri.
Ia belum pernah bertemu rakyatnya.
Bahkan, ia belum pernah melihat wajah pria yang akan menjadi suaminya.
Seperti apa sebenarnya Vorath?
Pertanyaan itu muncul di benaknya, meskipun rasa takutnya belum menghilang.
“Ibu?”
“Ya, Sayang?”
“Bolehkah aku memeluk Ibu lebih lama?”
Hati Elara terasa sesak mendengar pertanyaan sederhana itu.
“Tentu saja.”
Ia merengkuh putrinya kembali.
“Kamu boleh memeluk Ibu selama yang kamu inginkan.”
Eiravelle memejamkan mata, mendengarkan detak jantung yang telah dikenalnya sejak kecil.
Malam ini, ia tidak ingin memikirkan perjanjian kuno, kewajiban seorang putri, ataupun masa depan yang belum bisa dibayangkannya.
Ia hanya ingin menjadi Eiravelle, seorang anak perempuan yang masih ingin tinggal di rumah bersama orang-orang yang dicintainya.
Elara terus membelai rambutnya, membiarkannya bersandar tanpa perlu mengatakan apa-apa lagi.
Pernikahan itu belum berubah. Vorath masih menantinya di kejauhan, dan masa depannya tetap dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab.
Namun, setidaknya malam ini, Eiravelle tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Sebelum menjadi seorang istri dan melangkah menuju dunia yang asing, ia tetaplah putri Queen Elara.
Dan di dalam pelukan ibunya, ia masih memiliki tempat untuk merasa aman.
Share this novel