Completed
6699
Aku melangkah masuk ke dalam bangunan hospital itu dengan rasa bangga . Impian dan cita - cita aku sudah tercapai . Segala usaha aku tidak berakhir dengan sia - sia .
Aku membetulkan coat doktor yang diberikan oleh kakitangan hospital dengan bangganya aku menyarungkannya ke tubuh .
Aku betulkan tudung sikit supaya kemas sebab sekejap lagi aku nak pergi jumpa dengan pengarah hospital . Aku gugup dan berdoa dalam hati aku diterima untuk menjadi doktor praktikal kat sini .
Aku kena bertanding dengan dua orang lagi daripada lulusan universiti yang cemerlang dari dua universiti lain .
Kami bertiga tunggu di luar pintu masuk dengan gugup . Perempuan cina yang nampak sangat nerd tu masuk dulu tapi masa dia keluar dia menangis . Tak dapat ke ? Muka pandai pun tak dapat apa lagi buka biasa aku ni ?
Tapi yang aku pelik sangat sekarang ni kenapa diorang cari pekerja macamni ? Dah macam kerja pejabat dah . Padahal kerjanya merawat pesakit . Lagipun aku tengok resume orang lain ada yang lagi hebat dari aku tetapi dari tadi tiada siapa pun yang terpilih untuk bekarja di hospital ini .
" Hospital ini cari orang yang berkebolehan macammana lagi ? Nak cari yang ada super power ke ? ", gerutu aku dalam hati .
Satu persatu orang keluar dari bilik itu dengan kekecewaan sampailah nama aku dipanggil untuk temu duga .
" Nur Imanina binti Zulfa Adha " .
Aku senyum untuk menaikkan semangat sendiri dan bangun dari duduk .
Bissmillah...
" Ha ? ",suasana bilik itu berubah . Sepasang mata amber mendekatinya sambil tersenyum manis .
Aku pun tersenyum bila melihat alis tebal , mata amber ,hidung mancung , kulit sawo matang dan bibir merah merekah yang sedang tersenyum kearahnya .
Aku alihkan pandangan dan mengucap perlahan .
" Don't you remember me ? ", suara lunak yang serak basah itu menyapa telinganya .
Aku palingkan wajah dan muka itu terlalu dekat dengannya membuatkan aku berpaling semula .
" Please , you and I was so ... close ", aku memejamkan mata . Dalam hati aku sekarang ialah aku berdoa dan berharap agar dia menjauhkan diri dia sedikit .
Aku takut . Aku gemgam kedua belah tanganku gementar takut terjadi sesuatu yang tidak di ingini .
" Aaron Iskandar ", suara yang dingin namun tegas membuatkan lelaki tadi mengundurkan diri setapak ke belakang memberi sedikit ruang untuk mereka .
" Aaron ? Macam aku pernah dengar nama tu tapi kat mana eh ? ", kataku dalam hati untuk mengingat siapa gerangan jejaka rupawan dihadapannya saat ini .
Aku teliti wajah yang sangat maskulin itu untuk seketika .
" Ha , you Aaron Iskandar kawan I kan ? Argh lamanya kita tak bertemu semula ", ujarku ceria lepas aku ingat dia ni siapa pada aku .
Dia ni sahabat aku time sekolah menengah tapi lepas SPM dua - dua hilang entah ke mana . Tapi setahu aku dia diterima di Harvard university .
" Dah habis tenung muka I baru you ingat ? You ni tak ada semangat setia kawan betullah ", perli dia dengan segaknya .
" I'm already make my choice . This girl will be our new doctor here ", ucap Aaron dengan suaranya yang dalam itu kepada staff hospital .
" So , you ke pengarah hospital ni ? ", soalku ingin tahu .
" Nope but this guy . I'm only ' timbalan pengarah ' dekat sini ", katanya dengan buat muka annoying masa ' timbalan pengarah ' disebut . Tangannya ditunjukkan kepada lelaki yang bersuara dingin tadi .
" HAHAHA , you still got a job though but don't you think this is can make a little bit misunderstanding among the other people who have a high expectations to become a part of this hospital staff ? ", aku tiba - tiba rasa kasihan dengan peserta lain yang cuba semaksimal mungkin untuk menonjol tapi aku dipilih sebab aku kenalan lama dia aja .
" We choose you . We are the boss ", suara dingin jejaka dingin itu kembali menyapa telinganya .
" Yeah ", balasku sedikit kesal dengan sikap sombong mereka berdua .
" Along aku nak keluar dengan Nina lepas habis shif au ", katanya selamba dan terus menarik tangan aku ingin segera keluar dari situ .
" Hish , apa ni Aaron ", aku cuba menepis tangan kekar itu .
" Enough Aaron . Don't . Hurt . Her ", suara dingin itu menjadi semakin beku .
" She mine bitch . Don't you ever take my girl again ", ucap Aaron dengan penuh amarah .
" Well past is past . Enough mean enough . Simple right ? ", dua - dua tak mahu kalah nampaknya .
Api kemarahan menyala dalam mata mereka berdua . Adik beradik tapi hubungan mereka macam duri dalam daging , gunting dalam lipatan dan anjing dengan kucing .
" Marry me ", aku terpana . Baru aja jumpa bff balik tapi dia dah propose kat aku . Terus kaku tubuh .
" No , marry me ", ujar lelaki dingin itu.
" Okay , kita settle down benda ni sekarang . Sebelum parah ", kata aku cuba bertolenrasi dengan mereka berdua.
Mereka perlahan - lahan akur dan duduk semeja dekat dalam bilik tersebut yang sudah sedia ada .
" Okay , macamni Aaron dan .. ", kataku sedikit meleret supaya lelaki dingin itu beritahu nama dia .
" Aariz . Aariz Ilyas Dato Badrul ", dia faham akan nada yang digunakan gadis yang berada didepannya sekarang ini .
" Baik Encik Aariz ", ujarku sopan . Memandangkan dia lebih tua dua tahun darinya dan juga majikan yang mempunyai jawatan tertinggi disini .
" Aariz je . I prefer that ", dan aku mengangguk faham .
" Sekarang tolong cerita dari A - Z . Kenapa ni ? Apa dah berlaku ? Kenapa bergaduh ? ", soalku bertalu - talu .
" Haish , macam ni ...
Cerita ni akan jadi super slow update tau . Stay tune untuk bab seterusnya dalam Cerita Cinta Kami . Terima kasih
Share this novel