Bab 2 – Harraz

Romance Completed 183

Jakarta menyambutnya dengan macet.

Harraz Adriansyah duduk di kursi belakang mobilnya, menatap deretan kendaraan yang tidak bergerak di depan sana. Sopirnya, Pak Amin, sudah dua puluh menit tidak berhasil maju lebih dari seratus meter. Di luar, klakson bersahutan. Di dalam, hening.

Harraz tidak keberatan dengan kemacetan. Ia sudah lama tidak merasakan ini. Dua tahun di Singapura membuat ia lupa bagaimana rasanya terjebak di tengah-tengah kota yang tidak pernah benar-benar tidur ini. Tapi Jakarta tetap Jakarta. Berisik, sesak, dan entah mengapa selalu berhasil menariknya kembali.

Ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat sudut matanya sedikit menegang.

Ibu.

Ia mengangkatnya.

"Sudah mendarat kemarin, kenapa tidak langsung ke rumah?"

"Ada urusan kantor dulu, Bu."

"Kantor bisa menunggu. Ibu tidak bisa."

Harraz tidak menjawab langsung. Ia melihat ke luar jendela. Seorang pedagang asongan mengetuk kaca mobil di sebelah, menawarkan tisu dan permen. Lampu merah di depan berganti hijau tapi tidak ada yang bergerak.

"Harraz."

"Iya, Bu. Nanti malam Harraz ke sana."

"Makan malam. Jangan telat."

Sambungan terputus. Harraz meletakkan ponselnya di atas pahanya dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Matanya menutup sebentar.

Dua tahun. Ia pikir jarak itu cukup untuk membuat segalanya berubah. Perusahaan sudah berjalan lebih stabil. Ekspansi ke pasar Asia Tenggara berjalan lebih baik dari proyeksi awal. Angka-angkanya memuaskan. Seharusnya ia pulang dengan kepala lebih ringan.

Tapi yang pertama kali ia rasakan ketika pesawat mendarat kemarin pagi adalah perasaan yang sama persis seperti dua tahun lalu. Berat. Tidak jelas beratnya di mana. Hanya berat.

"Pak Harraz, macetnya masih panjang. Mungkin empat puluh menit lagi baru sampai kantor."

"Tidak apa-apa, Pak Amin."

Harraz membuka kembali matanya dan meraih laptopnya dari tas di sebelah. Ada laporan kuartal yang belum ia baca sampai selesai. Ada email dari tim legal yang menunggu respons. Ada jadwal pertemuan besok yang perlu ia konfirmasi ulang.

Ia tenggelam ke dalam pekerjaannya. Itu yang paling mudah. Pekerjaan tidak pernah rumit seperti hal-hal lain dalam hidupnya.

Malam itu, ia tiba di rumah keluarganya di kawasan Menteng pukul delapan lewat sedikit. Rumah besar dengan halaman depan yang selalu terawat rapi. Lampu teras menyala hangat. Dari luar sudah tercium aroma masakan yang familiar.

Ibu Harraz, Hj. Maryam, sudah duduk di ruang makan ketika Harraz masuk. Perempuan enam puluh dua tahun itu masih tegap posturnya. Rambutnya yang putih selalu tertutup kain yang rapi. Matanya tajam tapi hangat, kombinasi yang selalu membuat Harraz merasa seperti anak kecil lagi setiap kali berhadapan dengannya.

"Kurus." Itu kata pertama ibunya.

"Sehat, Bu."

"Duduk. Makan dulu."

Harraz duduk. Tidak ada perdebatan soal itu. Di meja makan keluarga ini, perintah ibunya adalah hukum tertua yang tidak pernah berhasil ia langgar.

Mereka makan dalam diam yang nyaman selama beberapa menit pertama. Harraz mengakui bahwa makanan di sini tidak ada tandingannya. Dua tahun makan di restoran dan dapur apartemen sendiri tidak bisa mengalahkan masakan rumah ini.

"Nadira tidak ikut?" tanya ibunya.

"Dia ada acara."

"Acara apa?"

"Tidak tahu."

Ibu Maryam meletakkan sendoknya pelan. Ia menatap anaknya dengan cara yang Harraz kenal betul. Cara yang artinya percakapan ini akan berbelok ke arah yang tidak ia inginkan.

"Sudah dua tahun, Harraz."

"Bu."

"Ibu hanya bicara. Pernikahan itu bukan cuma soal dua orang tinggal serumah dan punya nama yang sama di kartu keluarga."

Harraz melanjutkan makannya. "Kita baik-baik saja."

"Baik-baik saja itu bukan berarti baik." Ibunya mengangkat tehnya. "Ibu tidak buta. Ibu lihat bagaimana kalian. Sudah berapa lama tidak ada percakapan sungguhan di antara kalian?"

Harraz tidak menjawab. Karena jawaban yang jujur tidak akan menyenangkan siapapun.

Pernikahannya dengan Nadira sudah berjalan enam tahun. Enam tahun yang pada tahun-tahun pertamanya masih punya sisa-sisa usaha. Lalu perlahan, seperti api yang tidak diberi kayu bakar, segalanya mengecil sampai hanya tinggal bara yang hampir padam. Mereka masih satu rumah ketika Harraz tidak ke luar kota. Mereka masih hadir bersama di acara keluarga. Tapi di antara mereka, sudah lama tidak ada yang tersisa selain formalitas.

Harraz tidak menyalahkan Nadira. Ia juga tidak menyalahkan dirinya sendiri. Ada hal-hal yang memang tidak bisa dipaksa untuk tumbuh, tidak peduli seberapa banyak usaha yang dikeluarkan.

"Ibu tidak perlu khawatir."

"Ibu selalu khawatir. Itu tugas ibu." Hj. Maryam meletakkan cangkirnya. "Harraz, kamu anak ibu satu-satunya. Ibu ingin kamu bahagia. Benar-benar bahagia. Bukan bahagia di laporan tahunan perusahaan."

Harraz melihat ibunya. Ada kelelahan di wajah tua itu yang tidak selalu ia perhatikan. Ibunya menua. Dan perempuan ini, dalam segala ketegasannya, menyimpan kekhawatiran yang tidak pernah ia ucapkan setengah-setengah.

"Kita lihat nanti, Bu."

Ibunya tidak membalas. Tapi dari cara ia kembali mengangkat sendoknya, Harraz tahu percakapan ini belum benar-benar selesai. Hanya dipindah ke lain waktu.

Harraz pulang ke rumahnya sendiri lewat pukul sepuluh. Rumah besar di kawasan selatan kota, dibeli tiga tahun lalu sebagai simbol pencapaian yang waktu itu masih terasa berarti. Sekarang terasa terlalu besar untuk dua orang yang hampir tidak pernah benar-benar bertemu.

Nadira belum pulang.

Harraz tidak mengirim pesan menanyakan. Nadira juga tidak akan mengirim pesan memberitahu. Begitulah cara mereka sudah lama.

Ia masuk ke ruang kerjanya dan menyalakan lampu meja. Laporan yang tadi di mobil belum selesai ia baca. Ia membuka laptopnya kembali.

Tapi malam itu, untuk pertama kali dalam waktu yang lama, Harraz tidak bisa berkonsentrasi pada angka-angka di depannya.

Pikirannya kembali ke lorong rumah sakit tadi siang. Perempuan yang menabraknya. Ia ingat wajahnya karena sedikit tidak biasa untuk ia temui, bukan karena cantiknya yang mencolok, tapi karena ekspresinya. Panik yang jujur. Mata yang langsung mencari foto kecil ibunya di antara barang-barang yang berhamburan sebelum mencari yang lain.

Prioritas yang sederhana. Tapi Harraz memperhatikannya.

Ia tidak tahu kenapa ia mengingatnya.

Harraz menutup laptopnya dan berdiri. Ia berjalan ke jendela besar ruang kerjanya yang menghadap ke taman belakang yang gelap. Di pantulan kaca, ia melihat bayangannya sendiri. Pria yang menurut semua orang sudah punya segalanya.

Tapi segalanya, kadang, terasa seperti tidak ada apa-apa.

Harraz mematikan lampu meja dan naik ke lantai atas. Kamar utama pintunya tertutup rapat seperti biasa. Ia berjalan melewatinya tanpa berhenti dan masuk ke kamar yang ada di ujung lorong. Kamar yang sudah lama ia jadikan tempat tidurnya sendiri.

Ia berbaring dalam gelap.

Jakarta di luar masih berisik. Suara kendaraan, sesekali klakson, angin yang menggoyangkan daun-daun di luar jendela.

Harraz menutup matanya.

Besok ada pertemuan dengan tim direksi. Besok ada laporan yang harus ia tanda tangani. Besok ada hal-hal yang menunggu untuk diselesaikan.

Hidupnya penuh dengan besok yang terencana. Tapi malam ini, untuk alasan yang tidak ia mengerti sendiri, yang ada di kepalanya justru sesuatu yang kecil dan tidak penting.

Sebuah foto usang di dompet plastik lusuh. Dan tangan kecil yang memungutnya lebih cepat dari semua barang lain yang berhamburan.

Harraz membuka matanya sebentar, menatap langit-langit kamarnya dalam gelap.

Lalu ia memejamkan matanya kembali dan memilih untuk tidak memikirkannya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience