Bab 3 – Pertemuan Kedua

Romance Completed 183

Bila tidak percaya pada kebetulan yang berlebihan.

Sekali bertemu orang asing di lorong rumah sakit, itu kebetulan biasa. Dua kali bertemu orang yang sama dalam waktu kurang dari seminggu, di tempat yang sama sekali berbeda, itu mulai terasa seperti sesuatu yang lain. Tapi Bila tidak mau menyebutnya apa-apa. Ia hanya menyebutnya sial.

Hari itu Minggu. Bila seharusnya tidak keluar jauh. Rencananya hanya ke pasar pagi, beli sayur dan tempe, lalu pulang masak untuk ibu. Sederhana. Terjadwal. Aman.

Tapi Desi menelepon pagi-pagi dengan suara yang sudah mengandung permintaan sebelum ia selesai mengucap salam.

"Bila, tolong temani aku sebentar. Perlu beli kado buat sepupu yang nikah minggu depan. Sebentar saja."

"Des, aku ada keperluan."

"Sejam. Paling lama sejam. Aku tidak mau pergi sendiri, nanti salah pilih."

Bila menghela napas. Desi tahu persis kapan harus merengek. Dan Bila terlalu tidak tega untuk menolak orang yang ia kenal betul tidak punya niat buruk.

Mereka pergi ke pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Selatan. Bukan tempat yang biasa Bila kunjungi. Terlalu besar, terlalu ramai, dan harga-harganya membuat Bila refleks menggenggam tasnya lebih erat meski ia tidak berencana membeli apapun.

Desi sibuk memilih di toko peralatan rumah tangga lantai tiga. Bila menemaninya dengan sabar, sesekali memberi pendapat kalau ditanya, tapi lebih banyak diam sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang.

Ia suka mengamati orang. Kebiasaan lama sejak kecil. Ibunya bilang itu tanda ia terlalu banyak pikiran. Bila bilang itu tanda ia penasaran dengan cerita orang lain.

"Yang ini bagus tidak?" Desi mengangkat set piring keramik putih dengan motif bunga kecil di pinggirnya.

"Bagus. Praktis juga."

"Tapi mahal."

"Kamu yang minta aku menemani, bukan minta aku yang bayar."

Desi tertawa dan kembali melihat-lihat. Bila berbalik dan melangkah pelan ke arah lorong di luar toko untuk memberi ruang. Keramaian di dalam sedikit pengap.

Di lorong itu, ia berdiri sebentar dan mengeluarkan ponselnya. Ada pesan dari perawat yang sesekali membantu menjaga ibu di rumah, memberitahu bahwa ibu sudah makan dan istirahat dengan baik. Bila membalas dengan ucapan terima kasih dan menambahkan bahwa ia akan pulang tidak lama lagi.

Ia memasukkan ponselnya kembali.

Dan ketika ia mendongak, ia melihatnya.

Pria yang sama. Kemeja yang berbeda, kali ini abu-abu gelap, tapi potongannya sama rapinya. Ekspresinya sama dinginnya. Ia berjalan dari arah eskalator bersama seorang pria lain yang dari cara jalannya terlihat sudah terbiasa mengikuti langkah orang penting.

Bila tidak bergerak.

Pria itu juga melihatnya. Tepat bersamaan. Dan untuk sepersekian detik, ada sesuatu di matanya yang berbeda dari hari di lorong rumah sakit itu. Bukan kehangatan. Tapi semacam pengakuan. Bahwa ia juga mengingat.

Bila memilih untuk mengalihkan pandangannya duluan. Ia tidak punya urusan dengan orang itu. Ia akan berpura-pura tidak kenal dan selesai.

Tapi semesta rupanya sedang tidak berpihak padanya hari itu.

"Kamu."

Suara itu datang dari arah yang tepat dan Bila tidak bisa pura-pura tidak mendengar karena tidak ada orang lain di dekatnya.

Ia menoleh. Pria itu berdiri dua langkah darinya. Rekannya sudah tidak terlihat, mungkin masuk ke salah satu toko.

"Saya?" tanya Bila.

"Lorong rumah sakit. Empat hari lalu."

Bila sedikit terkejut ia mengingat. "Oh. Iya." Ia mengangguk sekali. "Maaf sekali lagi soal itu."

"Tidak perlu minta maaf dua kali."

Bila mengangkat alisnya tipis. Nada bicaranya datar tapi tidak kasar. Lebih seperti orang yang tidak terbiasa berbasa-basi dan memilih langsung pada intinya.

"Baik." Bila mengangguk sekali lagi. "Kalau begitu tidak perlu minta maaf lagi."

Pria itu menatapnya sebentar. Ada sesuatu di sudut matanya yang hampir terlihat seperti rasa ingin tahu, tapi terlalu singkat untuk bisa Bila pastikan.

"Kamu keluarga pasien di sana?"

"Ibu saya. Kenapa?"

"Tidak." Ia berhenti sebentar. "Saya juga ada keperluan di sana waktu itu."

Bila menunggu kelanjutannya. Tidak ada. Rupanya itu saja yang ingin ia sampaikan.

Percakapan yang aneh, pikir Bila.

"Oke." Bila sedikit mengangguk sopan. "Kalau begitu, permisi."

Ia berbalik hendak masuk kembali ke toko tempat Desi masih sibuk memilih piring. Tapi langkahnya berhenti ketika mendengar suara pria itu lagi.

"Namamu siapa?"

Bila menoleh setengah badan. "Kenapa?"

"Karena kita sudah ketemu dua kali."

"Itu tidak otomatis membuat kita perlu saling kenal."

Pria itu tidak membalas langsung. Ekspresinya tidak berubah, tapi Bila mendapat kesan bahwa jawaban itu tidak ia duga.

Bila melanjutkan langkahnya masuk ke toko. Desi langsung melompat ke arahnya begitu ia masuk.

"Bila, kamu lihat tadi? Pria di luar itu, yang pakai kemeja abu-abu." Desi berbisik dengan mata berbinar. "Ganteng banget. Kamu ngobrol sama dia?"

"Tidak ngobrol. Cuma kebetulan ketemu."

"Kebetulan? Tapi kalian ngobrol."

"Desi, sudah pilih piringnya belum?"

Desi menatapnya dengan ekspresi tidak percaya tapi akhirnya kembali ke rak piring sambil bergumam. Bila berdiri di dekat pintu dan tidak sengaja melirik ke arah lorong luar.

Pria itu sudah tidak ada.

Bila membuang napas pelan.

Mereka keluar dari pusat perbelanjaan itu sekitar satu jam kemudian. Desi membawa kantong besar berisi set piring yang akhirnya ia beli juga. Bila membawa satu plastik kecil berisi dua ikat sayur bayam yang ia temukan di supermarket lantai dasar, lebih murah dari pasar tapi tidak banyak selisihnya.

Di parkiran, waktu mereka menunggu motor Desi dikeluarkan dari area parkir, Bila mendengar suara mesin mobil yang pelan dan rapi. Ia tidak menoleh. Tidak perlu.

Tapi Desi menoleh dan langsung menyenggol lengannya.

"Bila. Itu dia lagi."

Bila terpaksa melihat. Sebuah mobil gelap keluar perlahan dari parkiran, dan di kursi penumpang belakang, pria itu memandang lurus ke depan. Tidak menoleh ke arah Bila.

Tapi di detik terakhir sebelum mobilnya melewati sudut dan hilang dari pandangan, Bila melihatnya menoleh sebentar. Sekilas. Dan mata mereka bertemu untuk sepersekian waktu sebelum mobil itu pergi.

Bila mengalihkan pandangannya ke plastik sayur di tangannya.

"Siapa sih dia?" gumam Desi.

"Tidak tahu." Bila menjawab jujur.

Dan itu benar. Ia tidak tahu siapa orang itu. Tidak tahu namanya, tidak tahu apa urusannya, tidak tahu kenapa mereka bisa bertemu dua kali dalam seminggu di tempat yang berbeda.

Yang Bila tahu hanya satu hal.

Ada sesuatu dalam cara pria itu memandang yang tidak seperti kebanyakan orang yang memandangnya. Bukan dengan kasihan, bukan dengan meremehkan, bukan juga dengan ketertarikan yang dibuat-buat.

Lebih seperti ia sedang membaca sesuatu. Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang tidak terbiasa mengambil keputusan terburu-buru.

Bila tidak tahu apa artinya itu.

Dan ia memilih untuk tidak mencari tahu.

Motor Desi keluar dari parkiran. Bila menaiki boncengan dan memegang kantong sayurnya erat. Di luar, Jakarta siang itu terik dan ramai seperti biasa.

Hidupnya tetap sama. Sayur bayam, ibu yang menunggu di rumah, dan minggu depan tagihan yang harus dibayar.

Pria bermata dingin itu bukan bagian dari hidupnya.

Belum.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience