Completed
183
Seminggu setelah kunjungan Harraz yang tidak diundang itu, Bila masih belum mengubah keputusannya.
Ia tidak menyesal menolak. Setiap kali ingatannya kembali ke pagi itu, ke pria yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan penawaran yang terlalu besar untuk tidak mencurigainya, ia masih merasa bahwa jawabannya benar. Tidak ada versi dari situasi itu yang membuatnya merasa seharusnya ia menjawab berbeda.
Tapi kenyataan tidak berhenti bergerak hanya karena keputusannya sudah bulat.
Dokter menelepon Selasa pagi. Ibu Sari perlu masuk rumah sakit paling lambat akhir minggu ini. Kondisi ginjalnya menunjukkan perkembangan yang tidak bisa ditunda penanganannya lebih lama. Bukan darurat, tapi mendekati darurat kalau dibiarkan.
Bila mengucapkan terima kasih kepada dokter dan menutup telepon.
Lalu ia duduk di kursi dapur dan menatap meja selama beberapa menit.
Ia sudah menghitung ulang semua opsinya malam sebelumnya, dan malam sebelumnya lagi, dan malam sebelum itu. Angkanya tidak berubah. Tidak ada jalan yang tidak menyakitkan. Semuanya membutuhkan sesuatu yang tidak ia punya dalam jumlah yang cukup, waktu, uang, atau koneksi ke orang yang bisa membantu tanpa komplikasi.
Desi sudah menawarkan. Ia menolak karena jumlah yang Desi bisa berikan tidak akan membuat perbedaan yang berarti dan ia tidak mau mengambil tabungan pernikahan sahabatnya untuk menambal lubang yang terlalu besar.
Bu Lastri sudah bertanya dengan lembut apakah ada yang bisa dibantu. Ia menolak karena Bu Lastri sendiri pensiunan dengan penghasilan tetap yang tidak besar.
Bibi Ratna adalah pilihan yang sudah ia tutup rapat jauh sebelum situasi ini sampai di titik ini.
Dan bank sudah memberikan jawabannya dua tahun lalu.
Bila berdiri dari kursinya dan pergi ke kamar ibunya.
Ibu Sari sedang duduk di tepi tempat tidur, memandang ke luar jendela kecil yang menghadap ke gang samping. Cahaya pagi masuk dari sela korden yang tidak tertutup rapat, membuat wajahnya terlihat lebih tua dari yang seharusnya.
Bila duduk di sebelahnya.
Mereka diam berdampingan selama beberapa saat. Ibu Sari tidak bertanya. Ia tahu anaknya sedang memikirkan sesuatu yang berat dan pengalaman dua puluh empat tahun menjadi ibu Bila mengajarinya bahwa perempuan itu butuh ruang untuk sampai ke kata-katanya sendiri.
"Dokter tadi telepon, Bu," kata Bila akhirnya.
Ibu Sari menoleh.
"Ibu perlu rawat inap akhir minggu ini."
Ibu Sari tidak terkejut. Mungkin ia sudah menduga dari bagaimana tubuhnya terasa belakangan ini. "Biayanya?"
"Sedang Bila urus."
"Bila." Suara ibunya pelan tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak bisa Bila hindari. "Jangan bohong sama Ibu."
Bila menatap ibunya. Perempuan tua yang sudah menghabiskan separuh hidupnya untuk membesarkan Bila seorang diri setelah ayahnya pergi. Yang tidak pernah mengeluh meski Bila tahu hidupnya tidak mudah. Yang selalu meletakkan kebutuhan Bila di atas kebutuhannya sendiri sampai tubuhnya sendiri yang akhirnya protes.
"Bila sedang cari jalan," kata Bila pelan.
"Ada yang menawarkan bantuan?"
Bila tidak langsung menjawab. Dan jeda itu cukup untuk menjawab sendiri.
Ibu Sari mengambil tangan Bila dan menggenggamnya. "Siapa?"
"Orang yang Bila tidak terlalu kenal."
"Orangnya baik?"
"Bila tidak tahu."
"Tapi dia menawarkan dengan tulus?"
Bila memikirkan pagi di depan pintu itu. Wajah Harraz yang datar tapi tidak mengancam. Cara ia menerima penolakan tanpa berdebat. Cara ia mengucapkan semoga kondisi ibu kamu membaik sebelum berbalik pergi, tanpa basa-basi, tanpa drama.
"Bila tidak tahu itu juga."
Ibu Sari mengangguk pelan. Jemarinya yang kurus menggenggam tangan Bila lebih erat. "Bila, Ibu tidak mau kamu menanggung semua ini sendirian karena gengsi."
"Bukan gengsi, Bu. Ini soal tidak mau berutang kepada orang yang motivasinya tidak jelas."
"Motivasi orang baik tidak selalu perlu dijelaskan dulu sebelum kita terima."
"Dan motivasi orang tidak baik juga tidak selalu kelihatan dari awal."
Ibunya tersenyum tipis. "Kamu terlalu waspada."
"Karena Ibu mengajarkan saya untuk waspada."
"Ibu mengajarkan kamu untuk waspada pada yang memang perlu diwaspadai. Bukan untuk menutup pintu sebelum tahu apa yang ada di baliknya." Ibu Sari melepaskan tangan Bila pelan. "Kalau orangnya menawarkan dengan syarat yang bisa kamu terima, tidak ada salahnya dipertimbangkan. Ibu tidak mau kamu menyesal karena terlalu keras kepala sementara Ibu bisa ditangani dengan lebih baik."
Bila tidak menjawab. Ia menatap tangan ibunya yang kurus di atas selimut tipis.
Sore itu, setelah mengajar dan menyelesaikan semua keperluannya, Bila duduk di kamarnya dan mengeluarkan kartu nama yang sudah seminggu tersimpan di lipatan dompetnya.
Harraz meninggalkannya di celah pintu sebelum pergi minggu lalu. Tanpa berkata apapun, tanpa meminta apapun. Hanya kartu nama yang diletakkan begitu saja seolah ia tahu Bila tidak akan menerimanya kalau diberikan langsung.
Bila menekan nomornya.
Telepon berdering dua kali sebelum diangkat.
"Bila." Suaranya langsung menyebut namanya. Ia menyimpan nomornya.
"Saya mau bicara." Suara Bila tidak gemetar meski perasaannya tidak setenang itu. "Tapi saya perlu tahu dulu. Tidak ada syarat tersembunyi?"
Jeda sebentar. "Tidak ada."
"Anda yakin?"
"Yakin."
Bila menarik napas pelan. "Baik. Kapan bisa ketemu?"
Mereka bertemu keesokan harinya di sebuah kafe yang Harraz tentukan, bukan yang terlalu mewah tapi cukup privat untuk bicara tanpa merasa diperhatikan. Bila datang lima menit lebih awal dan memilih meja di sudut. Kebiasaan lama, duduk di tempat yang bisa melihat seluruh ruangan.
Harraz datang tepat waktu. Ia memesan dua minuman tanpa bertanya Bila mau apa, air putih untuk keduanya, dan itu entah kenapa membuat Bila sedikit lebih nyaman daripada kalau ia memesan sesuatu yang mahal.
Harraz mengeluarkan selembar dokumen dari map tipis yang ia bawa.
"Ini bukan kontrak yang mengikat kamu pada apapun," katanya sebelum Bila sempat berkata apapun. "Ini hanya perjanjian pinjaman standar. Jumlah yang dipinjam, tenor pengembalian yang fleksibel, tanpa bunga."
Bila mengambil dokumen itu dan membacanya dari awal. Baris per baris. Harraz tidak terburu-buru. Ia memegang gelasnya dan menunggu.
Bila membaca dua kali. Isi dokumen itu memang seperti yang Harraz katakan. Perjanjian pinjaman sederhana. Tidak ada klausul aneh, tidak ada hal yang tersembunyi di antara kalimat-kalimat panjang yang biasanya menjadi tempat jebakan disembunyikan.
Tapi ada satu hal yang mengganjal.
"Kolom jaminan ini kosong," kata Bila.
"Sengaja."
"Pinjaman tanpa jaminan?"
"Kepercayaan saya bahwa kamu akan mengembalikannya adalah jaminan yang cukup."
Bila menatapnya. "Itu tidak masuk akal dari sudut pandang bisnis."
"Benar." Harraz tidak berdalih. "Tapi ini bukan transaksi bisnis."
"Lalu apa?"
Harraz menatapnya sebentar sebelum menjawab. "Bantuan. Tidak lebih dari itu."
Bila meletakkan dokumen itu di meja. Ia menatap permukaannya yang bersih, garis-garis kalimat yang rapi, kolom tanda tangan di bagian bawah yang masih kosong.
Sesuatu dalam dirinya masih bergerak tidak tenang. Insting yang sama yang membuat ia menolak seminggu lalu masih ada. Tapi di sisi lain ada wajah ibunya pagi tadi, ada suara dokter yang tidak bisa ditunda lagi, ada kenyataan yang tidak perduli seberapa keras ia ingin melawannya.
"Kalau suatu hari saya tidak bisa mengembalikan tepat waktu?" tanya Bila.
"Kita bicara ulang soal tenornya. Tidak ada penalti."
"Kalau saya tidak bisa mengembalikan sama sekali?"
"Itu belum terjadi. Kita tidak perlu membahas kemungkinan yang belum ada."
Bila menarik napas panjang.
Ia mengambil pulpennya dari dalam tasnya.
Tangannya tidak gemetar ketika ia menandatangani dokumen itu. Tapi ada sesuatu yang berat dalam gerakan itu, bukan karena ia menyesal, tapi karena ia tahu bahwa beberapa keputusan membawa perubahan yang jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan.
Dan meski ia tidak tahu apa yang akan berubah, ia bisa merasakannya.
Harraz mengambil dokumen itu dan menyimpannya tanpa ekspresi yang berubah. Tidak ada kemenangan di wajahnya. Tidak ada kepuasan yang mencolok.
"Dana akan ditransfer hari ini," katanya.
Bila mengangguk. "Terima kasih."
Harraz menatapnya sebentar. "Ibu kamu akan baik-baik saja."
Bila tidak menjawab itu. Karena itu bukan janji yang bisa siapapun buat dengan pasti. Tapi ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya yang terdengar bukan seperti basa-basi.
Mereka berpisah di depan kafe.
Bila berjalan ke arah motornya dengan langkah yang sama seperti biasa. Tegak. Tidak ragu.
Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang baru saja bergeser. Sesuatu yang kecil tapi terasa permanen.
Dan ia tidak tahu apakah itu pertanda baik atau awal dari sesuatu yang akan jauh lebih rumit dari perjanjian pinjaman sederhana yang baru saja ia tandatangani.
Share this novel