Completed
183
Hj. Maryam tidak pernah melakukan sesuatu tanpa rencana.
Itu bukan sifat yang datang dari kesombongan. Lebih kepada kebiasaan yang terbentuk selama puluhan tahun menjadi perempuan yang harus mengurus banyak hal sekaligus. Sejak suaminya meninggal dua belas tahun lalu, ia yang mengelola rumah, ia yang memastikan bisnis keluarga tidak oleng di masa transisi, ia yang membesarkan Harraz sendirian meski Harraz waktu itu sudah dewasa dan tidak perlu dibesarkan lagi dalam arti harfiahnya.
Perencanaan adalah caranya bertahan. Dan bertahan, bagi Hj. Maryam, tidak pernah cukup hanya untuk dirinya sendiri. Selalu untuk orang-orang yang ia cintai juga.
Pagi itu ia sudah bangun sejak subuh seperti biasa. Shalat, membaca, sarapan ringan. Rutinitasnya tidak pernah berubah dalam dua puluh tahun terakhir dan ia tidak berencana mengubahnya. Ada ketenangan dalam hal-hal yang konsisten. Dunia di luar boleh berubah secepat apapun, tapi pagi harinya tetap miliknya.
Setelah sarapan, ia menelepon seseorang.
Bukan Harraz. Bukan Nadira. Seseorang yang lain.
Sri Wahyuni, sepupu jauh dari jalur ayah yang sudah lama tinggal di kawasan yang sama dengan keluarga Pak Rahmat. Perempuan yang hadir di pernikahan kemarin dan yang dengan tidak sengaja menjadi jembatan informasi yang Hj. Maryam butuhkan tanpa perlu repot-repot mencarinya sendiri.
"Sri, kamu sempat mengobrol kemarin?"
"Sempat, Mbak. Acaranya bagus. Sayang Mbak Maryam tidak bisa hadir."
"Kondisi lutut saya tidak mengizinkan terlalu lama duduk di kursi keras." Hj. Maryam berbicara santai sambil memegang cangkir tehnya. "Saya dengar Harraz sempat ngobrol dengan anak Pak Rahmat yang guru itu."
Ada jeda kecil di seberang. "Oh, Bila maksudnya? Iya, mereka satu meja waktu makan. Saya sempat ke sana sebentar."
"Orangnya bagaimana menurut kamu?"
Sri tertawa kecil. "Pertanyaan apa itu, Mbak. Kenapa tanya saya?"
"Karena kamu yang ketemu langsung kemarin. Harraz tidak akan menceritakan detail yang saya butuhkan."
Sri diam sebentar, seperti sedang memilih kata-katanya. "Orangnya biasa saja penampilannya. Tidak mencolok. Tapi cara bicaranya rapi, tidak lebay, tidak mencari perhatian. Waktu saya datang ke meja itu, dia tidak berusaha terlihat lebih dari yang dia adanya." Suara Sri sedikit menurun. "Justru itu yang menarik. Harraz kamu ngobrol sama dia dengan cara yang tidak biasa."
"Tidak biasa bagaimana?"
"Harraz kamu itu orangnya sibuk sama ponsel atau keluar lebih cepat dari yang diperlukan kalau ada di acara keluarga. Kemarin dia duduk di sana sampai Bila yang pamit duluan."
Hj. Maryam menyesap tehnya dengan tenang. Informasi kecil itu tidak kecil baginya.
"Keluarganya bagaimana?"
"Ayahnya sudah meninggal lama. Ibunya sakit, saya dengar kondisinya tidak ringan. Dia tinggal berdua sama ibunya. Guru honorer di SD negeri sini." Sri menurunkan suaranya lebih jauh. "Mbak Maryam, jangan bilang saya tidak tahu diri ya, tapi saya dengar-dengar biaya rawat inap ibunya sedang jadi masalah besar. Orangnya tidak pernah cerita, tapi tetangga-tetangga di sini saling tahu."
Hj. Maryam tidak langsung merespons. Ia meletakkan cangkirnya dan menatap taman di luar jendela ruang duduknya.
"Orangnya keras kepala?"
Sri tertawa lagi, kali ini lebih panjang. "Itu pertanyaan yang aneh, Mbak."
"Jawab saja."
"Dari yang saya lihat kemarin dan dari cerita tetangga, iya. Tapi bukan keras kepala yang menyebalkan. Lebih ke keras kepala yang datang dari harga diri. Tidak mau merepotkan orang, tidak mau kelihatan susah meski susah."
Hj. Maryam mengangguk pelan meski Sri tidak bisa melihatnya.
"Terima kasih, Sri."
"Mbak Maryam mau apa sebenarnya?"
"Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu."
Sri tidak percaya sepenuhnya tapi tidak bertanya lebih jauh. Ia kenal Hj. Maryam cukup lama untuk tahu bahwa perempuan itu tidak akan memberi penjelasan sampai ia memang sudah siap memberikannya.
Sambungan terputup. Hj. Maryam duduk diam sebentar.
Ia sudah memikirkan ini jauh sebelum Harraz pulang dari Singapura. Bukan dalam arti yang tergesa-gesa, tapi dalam arti seorang ibu yang mengamati anaknya dari jarak yang cukup untuk melihat gambaran besar yang tidak selalu terlihat dari dekat.
Harraz tidak bahagia. Itu fakta yang tidak perlu diperdebatkan.
Pernikahannya dengan Nadira sudah lama berjalan seperti mesin yang kehabisan oli, masih bergerak tapi suaranya tidak beres dan kalau dibiarkan terlalu lama akan berhenti dengan cara yang lebih merusak. Hj. Maryam tidak menyalahkan Nadira. Perempuan itu punya luka sendiri yang tidak pernah ditangani dengan benar dan itu bukan sepenuhnya kesalahannya.
Tapi kebaikan hati tidak mengubah kenyataan. Dan kenyataannya adalah anaknya satu-satunya butuh sesuatu yang berbeda.
Dua minggu lalu, secara tidak sengaja, Sri menyebut nama Bila dalam percakapan yang sama sekali tidak berhubungan. Hanya cerita kecil tentang anak Pak Rahmat yang cantik hatinya dan rajin merawat ibunya yang sakit. Tapi Hj. Maryam memperhatikan. Ia selalu memperhatikan hal-hal kecil yang orang lain anggap tidak penting.
Dan kemarin, Harraz sendiri yang menceritakan pertemuan di acara pernikahan itu, tidak langsung, tidak dengan kata-kata yang jelas, tapi dengan cara ia menyebut nama Bila di sela percakapan yang lain. Cara yang tidak Harraz sadari tapi yang langsung tertangkap oleh antena seorang ibu.
Sekarang Hj. Maryam perlu melihat sendiri.
Sore itu ia meminta sopirnya mengantarnya ke klinik tempat Bila biasa membawa ibunya berobat. Bukan untuk menemui Bila secara langsung. Belum. Ia hanya ingin melihat lingkungannya, merasakan atmosfer tempat perempuan itu menjalani hidupnya sehari-hari.
Informasi dari kata orang punya batas. Ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan kalau dilihat sendiri.
Klinik itu sederhana. Bersih tapi tidak mewah. Antrean di depan meja pendaftaran cukup panjang untuk ukuran sore hari. Hj. Maryam duduk di ruang tunggu dengan tenang, tidak mencolok dalam balutan baju batik dan kerudungnya yang rapi.
Ia tidak harus menunggu lama.
Dua puluh menit setelah ia duduk, pintu klinik terbuka dan Bila masuk dengan langkah cepat. Masih berseragam guru, tas kain di bahunya, rambut yang sedikit berantakan karena angin. Ia langsung menuju meja pendaftaran dan berbicara dengan suster dengan nada yang tenang tapi jelas ada sesuatu yang ia tanyakan dengan serius.
Hj. Maryam mengamati dari tempatnya.
Ia memperhatikan cara Bila berdiri. Tidak ada keluhan dalam postur tubuhnya meski kelelahan hari itu pasti ada. Ia memperhatikan cara Bila mendengarkan jawaban suster dengan seksama dan mencatat sesuatu di ponselnya. Ia memperhatikan cara Bila mengangguk dan berterima kasih kepada suster bahkan untuk informasi yang jelas bukan kabar baik dari ekspresinya setelahnya.
Bila berbalik dari meja pendaftaran dan untuk satu detik matanya menyapu ruang tunggu. Pandangan mereka hampir bertemu tapi Bila tidak mengenal Hj. Maryam dan matanya berlanjut ke arah lain.
Perempuan tua itu menarik napas pelan.
Ada sesuatu tentang Bila yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata yang Sri berikan tadi pagi. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan dengan melihat langsung. Bukan kecantikan yang mencolok, bukan kemampuan yang bisa dicantumkan di atas kertas.
Tapi cara ia berdiri di tengah situasi yang berat tanpa membiarkan beratnya itu membungkukkan punggungnya.
Hj. Maryam sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa itu bukan hal yang bisa dipelajari. Itu datang dari dalam. Dari karakter yang dibentuk oleh pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap hari selama bertahun-tahun.
Ia berdiri dari kursinya ketika Bila sudah berjalan ke area lain klinik.
Di luar, sopirnya sudah menunggu.
Hj. Maryam masuk ke dalam mobil dan duduk dengan punggung tegak seperti biasanya. Di luar jendela, langit sore Jakarta mulai menggelap di tepinya.
Rencananya masih sama. Tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda. Bukan lagi rencana yang disusun berdasarkan informasi dari orang lain.
Sekarang ada keyakinan yang datang dari apa yang ia lihat sendiri.
Anak perempuan itu kuat. Tapi kekuatan yang tidak pernah mendapat tempat untuk bersandar lama-lama akan patah juga.
Dan Hj. Maryam, dalam seluruh rencananya yang panjang dan terukur, ingin memastikan bahwa sebelum itu terjadi, ada sesuatu yang berubah.
Untuk Bila. Dan untuk anaknya.
Keduanya, kalau semesta mengizinkan, sekaligus.
Share this novel