Bab 1 – Bila

Romance Completed 183

Namanya Salsabila. Tapi semua orang memanggilnya Bila.

Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia sudah berdiri di depan kompor sejak setengah enam. Menggoreng telur dadar tipis dengan satu sendok minyak sedikit karena minyaknya hampir habis dan gajian masih seminggu lagi. Ia tidak mengeluh. Ia tidak pernah terbiasa mengeluh.

Rumah mereka kecil. Dinding catnya sudah mengelupas di beberapa sudut. Atap di pojok dapur kadang menetes kalau hujan deras, dan Bila sudah hafal meletakkan ember di mana. Tapi rumah ini hangat. Selalu hangat. Mungkin karena ibunya ada di sana.

"Bila, sudah masak?" Suara dari balik kamar terdengar pelan, sedikit serak karena baru bangun.

"Sudah, Bu. Sebentar lagi."

Bila menyusun piring dengan hati-hati. Telur dadar, nasi putih yang masih mengepul, dan sambal kemarin yang masih tersisa sedikit. Ia membawa semuanya ke kamar ibunya dengan nampan plastik yang salah satu sisinya retak.

Ibu Sari sudah duduk di tepi tempat tidur. Rambutnya putih lebih dari separuhnya sekarang, dan kulitnya tampak lebih pucat dari biasanya. Dokter bilang tekanan darahnya tidak stabil. Sudah tiga bulan terakhir ini ia tidak bisa banyak bergerak. Bila yang mengurus segalanya, dari mandi, makan, sampai kontrol ke puskesmas dua minggu sekali.

"Kamu sudah makan?" tanya ibunya.

"Nanti di sekolah, Bu."

"Bila."

"Iya, Bu, nanti Bila makan. Sudah biasa."

Ibu Sari menatap putrinya lama. Ada sesuatu di matanya yang selalu membuat Bila ingin berpaling, karena tatapan itu terlalu penuh dengan rasa bersalah yang tidak seharusnya ada di sana.

"Maaf ya, Nak. Merepotkan."

"Ibu tidak merepotkan." Bila meletakkan nampan di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia duduk sebentar di sisi ibunya, menggenggam tangannya yang kurus. "Ibu jangan ngomong kayak gitu lagi."

Ibu Sari hanya mengangguk. Tapi matanya basah.

Bila berangkat ke sekolah dengan motor bebek tua yang suaranya sudah agak kasar. Jalanan pagi di sini tidak pernah sepi, tapi tidak pernah semacet jalan-jalan besar Jakarta. Ini bukan Jakarta yang ada di poster-poster wisata. Ini pinggiran. Dengan warung-warung kecil yang baru buka, anak-anak sekolah yang jalan kaki di trotoar sempit, dan bau asap knalpot yang bercampur dengan aroma gorengan dari gerobak pinggir jalan.

SD Negeri tempat Bila mengajar sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Catnya pun tidak jauh berbeda kondisinya dengan rumah Bila. Tapi anak-anak di sini selalu masuk tepat waktu. Dan Bila selalu disambut oleh ocehan-ocehan kecil mereka begitu kakinya melewati gerbang.

"Bu Bila! Bu Bila! Kemarin saya bisa baca sampai halaman sepuluh!"

"Bu Bila, tadi Dino jatuh di lapangan!"

"Bu Bila, rambut ibu bagus hari ini!"

Bila tertawa. Senyumnya lebar dan tulus. Inilah bagian dari hidupnya yang tidak bisa ditukar dengan apapun.

Ia masuk ke ruang guru dan meletakkan tasnya. Desi, rekan satu angkatan yang juga guru honorer, langsung melongok dari balik mejanya.

"Bila, kamu dengar kabar belum?"

"Kabar apa?"

"Katanya tahun depan ada pemangkasan tenaga honorer lagi. Serius. Kemarin kepala sekolah rapat sama pengawas."

Bila terdiam sebentar. Lalu menghela napas pelan. "Kita lihat nanti saja."

"Kamu santai banget sih."

"Mau gimana lagi, Des. Panik juga tidak mengubah keputusan mereka."

Desi menatapnya dengan ekspresi antara kagum dan kasihan. Bila pura-pura tidak melihat. Ia membuka buku absen dan mulai memeriksa jadwal hari ini.

Tapi di balik ketenangannya, Bila menyimpan sesuatu yang tidak ia tunjukkan kepada siapapun. Tagihan rumah sakit ibu yang terus bertambah. Tabungannya yang hampir menyentuh angka nol. Pinjaman kecil ke tetangga yang belum terbayar. Dan rasa takut yang diam-diam tumbuh setiap malam ketika ia berbaring di kamarnya yang sempit dan langit-langitnya dipelototi sampai matanya mengantuk.

Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan.

Tapi pagi ini ia masuk ke kelas dengan senyum yang sama. Karena anak-anak di depannya tidak perlu tahu beban gurunya. Mereka hanya perlu tahu bahwa Bu Bila ada. Dan Bu Bila baik-baik saja.

Jam istirahat, Bila pergi ke warung kecil di seberang sekolah untuk membeli nasi bungkus. Seribu lima ratus perak lebih murah dari kantin sekolah. Ia sudah hafal hitungannya.

Di depan rumah sakit umum daerah, sore hari setelah pulang mengajar, Bila parkir motornya dan berjalan masuk. Jadwal kontrol ibu memang besok, tapi kemarin malamnya ibu mengeluh pusing lebih dari biasa, dan Bila tidak bisa tenang kalau tidak memastikan dulu.

Lorong rumah sakit selalu ramai di jam seperti ini. Bila berjalan cepat, menunduk sambil merogoh dompetnya untuk memastikan kartu BPJS masih ada di tempatnya.

Dan karena ia menunduk, ia tidak melihat orang yang berjalan dari arah berlawanan.

Tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Dompetnya jatuh. Isi dompetnya berhamburan di lantai, beberapa lembar uang lusuh, kartu BPJS, foto kecil ibunya yang sudah pudar, dan struk-struk tagihan yang ia lipat kecil-kecil.

"Maaf, maaf, saya tidak lihat."

Bila langsung jongkok memunguti barang-barangnya. Tangannya bergerak cepat, sedikit panik. Ia tidak ingin ada yang terinjak, terutama foto ibunya.

Seseorang ikut jongkok di hadapannya. Tangan yang rapi, kuku bersih, jam tangan yang bahkan dari sudut mata Bila sudah terlihat bukan jam tangan biasa, memunguti beberapa lembar uangnya dan mengulurkannya.

Bila mendongak.

Pria itu menatapnya datar. Usia pertengahan tiga puluhan, mungkin. Wajahnya terlalu tampan untuk tidak diperhatikan, tapi ekspresinya terlalu dingin untuk membuat orang nyaman. Rambutnya rapi, kemejanya putih dengan lengan yang dilipat sebatas siku. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.

Ia hanya mengulurkan uang itu.

"Oh, terima kasih." Bila mengambilnya cepat. "Maaf, tadi saya tidak lihat ke depan. Tidak apa-apa?"

Pria itu tidak menjawab. Ia berdiri, merapikan kemejanya sebentar, lalu berjalan pergi.

Bila menatap punggungnya sebentar.

Sombong sekali, pikirnya.

Lalu ia mengangkat bahunya dan kembali memunguti sisa struk tagihan yang berserakan di lantai. Ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan daripada pria tak ramah itu.

Sore itu, setelah mengurus keperluan ibunya dan pulang dengan motor yang suaranya makin kasar, Bila duduk di meja kecilnya dan membuka catatan keuangan yang ia tulis tangan di buku tulis bekas.

Angka-angkanya tidak bohong.

Tagihan rumah sakit bulan ini saja sudah dua kali lipat dari bulan sebelumnya. Dokter menyarankan pemeriksaan lebih lanjut, ada kemungkinan ibu perlu rawat inap dalam waktu dekat. BPJS menanggung sebagian, tapi tidak semuanya.

Bila menutup bukunya.

Ia bersandar di kursi dan menatap langit-langit kamarnya. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar. Lampu jalan di depan rumah mereka yang satu sudah mati sejak dua minggu lalu dan belum juga diperbaiki.

Ia memikirkan opsi-opsinya. Minta tambahan jam mengajar. Cari kerja sampingan. Jual sesuatu. Pinjam lagi.

Semuanya terasa seperti menambal lubang dengan kain yang sudah tipis.

Tapi Bila tidak menangis malam itu. Ia tidak punya waktu untuk menangis. Besok ada ulangan harian kelas tiga yang harus ia periksa. Besok ada kontrol ibu yang harus ia antar. Besok ada hidup yang harus terus berjalan.

Ia mematikan lampu dan berbaring.

Di kepalanya, tanpa ia minta, muncul sekilas bayangan tangan yang mengulurkan uangnya tadi. Rapi. Tenang. Seperti orang yang tidak pernah tahu rasanya panik.

Bila mengedipkan matanya dalam gelap.

Orang-orang seperti itu, pikirnya, tidak akan pernah mengerti dunia tempat ia berdiri.

Dan ia pun tidak perlu mengerti dunia mereka.

Ia menutup matanya. Napasnya pelan. Dan perlahan, malam membawanya tidur.

---

Salsabila tidak tahu bahwa pria yang menabraknya di lorong rumah sakit itu, pria dengan jam tangan mahal dan ekspresi yang dingin seperti musim kemarau, akan kembali hadir dalam hidupnya. Tidak sekali. Tidak dua kali. Tapi terus-menerus, sampai ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa kehadirannya tidak mengubah apapun.

Hidup memang tidak pernah meminta izin.

Share this novel

Guest User
 

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience