Bab 12 – Jarak Yang Menyusut

Romance Completed 183

Ibu Sari masuk rumah sakit hari Jumat.

Bila yang mengurus semua administrasinya sendiri. Mengisi formulir, berbicara dengan perawat, memastikan kamar yang tersedia sesuai dengan yang tertera di sistem BPJS, menandatangani berbagai dokumen yang datang silih berganti di meja pendaftaran. Semua itu ia lakukan dengan tenang meski di dalam kepalanya ada banyak hal yang berputar sekaligus.

Dana dari Harraz sudah masuk rekening Kamis malam. Jumlahnya lebih dari yang Bila sebut dalam pertemuan di kafe itu. Ketika ia mengirim pesan menanyakan kelebihannya, jawaban Harraz singkat. Untuk keperluan tak terduga selama perawatan. Bila tidak membalas pesan itu karena ia tidak tahu harus membalas apa.

Ibu Sari berbaring di tempat tidur rumah sakit dengan selimut tipis yang Bila bawa dari rumah karena ibunya tidak nyaman dengan selimut rumah sakit yang terlalu kaku. Ia terlihat lebih kecil dari biasanya di antara peralatan medis dan dinding putih yang steril. Tapi matanya masih sama, hangat dan memperhatikan, dan itu cukup membuat Bila merasa bahwa segalanya masih bisa dikendalikan.

"Kamu tidak perlu menunggu di sini, Bila."

"Bila mau di sini."

"Kamu ada sekolah besok."

"Sabtu, Bu. Tidak ada sekolah."

Ibu Sari tidak menemukan alasan lain untuk mengusir anaknya. Ia menyerah dengan senyum kecil dan membiarkan Bila duduk di kursi di samping tempat tidurnya dengan buku yang tidak benar-benar dibaca.

Malam itu Bila bermalam di rumah sakit.

Minggu pertama perawatan berjalan dengan ritme yang Bila sesuaikan dengan cepat. Pagi mengajar, siang mampir ke rumah sakit sebelum atau sesudah jam makan siang, sore kembali ke sekolah untuk keperluan yang masih ada, malam ke rumah sakit lagi sampai ibunya tidur baru pulang ke rumah yang terasa sangat sepi tanpa kehadiran ibunya.

Harraz mengirim pesan Rabu pagi minggu berikutnya.

Singkat seperti biasa. Kondisi ibu kamu bagaimana?

Bila menjawab dengan sama singkatnya. Stabil. Dokter bilang ada perbaikan.

Harraz tidak membalas lagi setelah itu. Bila menyimpan ponselnya dan kembali memeriksa buku ulangan kelas tiga yang menumpuk di mejanya.

Tapi Kamis sorenya, ketika Bila sedang di koridor rumah sakit menunggu dokter selesai melakukan pemeriksaan rutin ibunya, ia melihat seseorang yang tidak ia duga akan ada di sana.

Harraz berdiri di dekat lift dengan kemeja biru gelap dan ekspresinya yang selalu datar itu. Matanya menyapu koridor dan berhenti ketika menemukan Bila.

Bila tidak bergerak dari tempatnya. "Kamu di sini?"

"Kebetulan ada keperluan di gedung ini." Harraz berjalan ke arahnya dengan langkah yang tidak terburu-buru.

Bila menatapnya sebentar. "Keperluan apa di rumah sakit kalau tidak ada yang sakit atau tidak ada urusan medis?"

Harraz tidak menjawab langsung. Ia berdiri di sebelah Bila dan melihat ke arah pintu kamar ibunya yang masih tertutup. "Kamar berapa?"

"Dua dua tujuh."

"Dokternya bagus?"

"Cukup bagus."

"Kalau kamu mau pindah ke dokter spesialis yang lebih senior, saya bisa urus."

Bila melihat ke arahnya. "Dokter yang sekarang sudah baik. Tidak perlu."

Harraz mengangguk. Ia tidak memaksakan.

Mereka berdiri berdampingan di koridor itu tanpa berbicara selama beberapa saat. Bukan diam yang canggung. Lebih seperti dua orang yang sudah cukup nyaman dengan keheningan masing-masing meski mereka baru saling kenal dalam hitungan minggu.

"Kamu sudah makan?" tanya Harraz tiba-tiba.

Bila mengingat-ingat. Siang tadi ia melewatkan makan karena terburu-buru dari sekolah ke sini. "Belum."

"Ada kafetaria di lantai bawah."

"Saya tahu."

"Tapi kamu belum ke sana."

Bila menatapnya. Ada sesuatu dalam cara ia menyampaikan itu yang tidak seperti perintah tapi juga tidak seperti pertanyaan biasa. Lebih seperti pengamatan yang mengandung kekhawatiran yang tidak ingin terlalu kelihatan.

"Nanti setelah dokter selesai," kata Bila.

Harraz tidak menanggapi lebih lanjut. Beberapa menit kemudian pintu kamar ibunya terbuka dan dokter keluar dengan senyum yang cukup menenangkan.

"Kondisinya membaik. Fungsi ginjalnya merespons dengan baik terhadap penanganan ini. Kita lihat lagi tiga hari ke depan."

Bila menghela napas dengan lega yang ia tahan baru keluar. "Terima kasih, Dok."

Dokter itu pergi dan Bila masuk ke kamar ibunya. Ia duduk di samping tempat tidur dan mengambil tangan ibunya.

Ibu Sari memandang ke arah pintu yang masih terbuka. "Tadi ada yang ikut kamu masuk?"

"Tidak ada."

"Saya lihat seseorang di balik pintu."

Bila menoleh ke pintu. Di ambangnya, Harraz berdiri sebentar lalu mundur ketika melihat Bila menoleh. Bila keluar sebentar.

"Kamu mengintip?"

"Saya tidak mengintip. Saya berdiri di luar."

"Itu sama saja."

Harraz tidak membantah. Matanya melewati bahu Bila ke arah dalam kamar di mana Ibu Sari sedang berbaring. "Ibunya sadar?"

"Iya."

"Boleh saya masuk sebentar?"

Bila terdiam. Itu pertanyaan yang tidak ia duga.

Ia menatap Harraz beberapa saat, mencari sesuatu di wajahnya yang bisa memberinya alasan untuk menolak. Tapi tidak ada niat buruk yang bisa ia temukan di sana. Hanya sesuatu yang terlihat seperti keinginan sederhana yang tidak dibuat-buat.

"Sebentar saja," kata Bila akhirnya.

Mereka masuk bersama. Ibu Sari langsung menoleh dan matanya bergerak dari Bila ke Harraz dengan rasa ingin tahu yang jelas terpancar.

"Bu, ini Harraz." Bila memperkenalkan dengan nada yang datar. "Yang membantu biaya perawatan Ibu."

Ibu Sari menatap Harraz dengan cara seorang ibu menatap orang asing yang tiba-tiba ada di dekat anaknya. Menilai. Hati-hati.

Harraz mengangguk hormat. "Selamat sore. Semoga lekas pulih."

Ibu Sari tidak langsung menjawab. Ia memandang Harraz lebih lama dari yang nyaman bagi kebanyakan orang. Tapi Harraz tidak bergeming.

"Kamu yang menelepon Bila?" tanya Ibu Sari.

"Bukan. Bila yang menghubungi saya."

"Tapi kamu yang menawarkan pertama."

"Iya."

"Kenapa?"

Pertanyaan langsung dari perempuan yang berbaring di tempat tidur rumah sakit dengan tubuh yang lemah tapi matanya masih setajam itu membuat Bila menahan napas sebentar.

Harraz menjawab tanpa ragu. "Karena saya bisa membantu dan situasinya membutuhkan bantuan."

"Tidak ada alasan lain?"

Jeda yang sangat singkat. "Belum ada yang bisa saya jelaskan sekarang."

Ibu Sari terdiam. Lalu perlahan senyum kecil muncul di wajahnya. "Jujur."

Bila menatap ibunya dengan ekspresi yang mengatakan tolong jangan terlalu mudah luluh. Tapi ibunya sudah mengalihkan pandangannya ke luar jendela dengan ekspresi orang yang sudah mendapat jawaban yang cukup.

Harraz tidak tinggal lama. Sepuluh menit kemudian ia pamit dengan anggukan singkat ke arah Ibu Sari dan satu tatapan ke arah Bila yang tidak bisa Bila beri nama dengan tepat.

Di koridor, Bila mengikutinya sebentar. "Kamu tidak harus ke sini."

"Saya tahu."

"Lalu kenapa?"

Harraz berhenti berjalan dan menoleh ke arahnya. Di koridor rumah sakit yang sepi di jam seperti ini, jarak di antara mereka terasa lebih dekat dari biasanya.

"Saya ingin memastikan kondisinya baik." Ia menjawab dengan nada yang sama datarnya seperti biasa. "Dan saya ingin memastikan kamu sudah makan."

Bila membuka mulutnya lalu menutupnya kembali.

Harraz melanjutkan jalannya ke arah lift.

Bila berdiri di koridor itu beberapa detik setelah pintu lift menutup. Di tangannya tidak ada apapun. Di dadanya ada sesuatu yang tidak bisa ia identifikasi dengan tepat.

Bukan perasaan yang besar. Hanya sesuatu yang kecil dan hangat yang muncul di tempat yang selama ini terbiasa dingin karena terlalu lama mengurus segalanya sendirian.

Ia masuk kembali ke kamar ibunya.

Ibu Sari memandangnya dengan senyum yang terlalu tahu.

"Jangan," kata Bila sebelum ibunya sempat berkata apapun.

"Ibu tidak bilang apa-apa."

"Ibu mau bilang sesuatu."

"Ibu hanya mau bilang," kata Ibu Sari dengan tenang, "kamu belum makan. Turun ke kafetaria."

Bila menatap ibunya satu detik lebih lama dari perlu.

Lalu mengambil dompetnya dan pergi ke lantai bawah.

Di lift yang turun, Bila menatap pantulan dirinya di pintu lift yang mengkilap. Perempuan di sana terlihat sama seperti biasa. Rambut yang agak berantakan, seragam yang sudah kusut setelah seharian dipakai, tas kain yang sudah mulai lusuh di salah satu sudutnya.

Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya.

Sesuatu yang ia belum mau akui bahkan kepada dirinya sendiri.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience