Bab 5 – Permintaan Yang Tidak Masuk Akal

Romance Completed 183

Harraz tidak pernah suka dipanggil pulang di tengah hari kerja.

Ibunya tahu itu. Tapi ibunya juga tahu bahwa Harraz tidak akan pernah benar-benar menolak kalau yang memanggil adalah ia. Itulah mengapa perempuan itu selalu menelepon dengan nada yang tidak memberi ruang untuk negosiasi.

"Pulang siang ini. Ada yang perlu kita bicarakan."

"Saya ada meeting jam dua, Bu."

"Sebelum jam dua. Ini tidak lama."

Harraz tiba di rumah Menteng pukul dua belas lewat lima belas. Ibunya sudah duduk di ruang tengah dengan teh di meja dan ekspresi yang mengatakan bahwa ia sudah memikirkan percakapan ini jauh sebelum Harraz masuk pintu.

Harraz duduk di sofa seberangnya. Tidak mengambil teh. Ia tahu kalau ia terlalu santai ibunya akan semakin panjang berbicara.

"Langsung saja, Bu."

Hj. Maryam menatap anaknya dengan tenang. Tidak terburu-buru. Ia meletakkan cangkirnya dengan pelan lalu menyatukan kedua tangannya di atas pangkuan.

"Ibu ingin kamu menikah lagi."

Ruangan itu tidak berubah. Jam dinding di sudut sana masih berdetak. Angin dari AC masih berhembus pelan. Tapi Harraz merasa sesuatu di dadanya berhenti sebentar lalu kembali berjalan dengan ritme yang berbeda.

"Tidak." Ia menjawab tanpa jeda.

"Harraz."

"Tidak, Bu. Saya masih menikah dengan Nadira."

"Ibu tahu. Ibu tidak bilang ceraikan Nadira." Hj. Maryam tetap tenang. Justru ketenangannya itu yang membuat Harraz lebih waspada. "Ibu bicara tentang pernikahan kedua. Dengan perempuan yang baik. Yang bisa memberikan apa yang Nadira belum bisa berikan."

Harraz berdiri. Ia tidak bisa duduk diam mendengar ini.

"Ini bukan abad ke-14, Bu."

"Ini bukan soal abad. Ini soal keluarga. Soal keturunan. Soal kamu, Harraz." Suara ibunya naik setengah nada, bukan marah, tapi tegas. "Kamu sudah enam tahun menikah. Ibu tidak menyalahkan Nadira. Ibu tidak menyalahkan siapapun. Tapi kenyataannya ada di sana dan kita tidak bisa terus berpura-pura tidak melihatnya."

"Masalah keturunan bukan satu-satunya ukuran pernikahan."

"Tidak. Tapi kebahagiaan kamu juga ukuran pernikahan. Dan kamu tidak bahagia, Harraz. Ibu lihat itu sejak lama."

Harraz berbalik menghadap jendela. Di luar, taman depan rumah ibunya terawat seperti biasa. Ada burung kecil yang hinggap sebentar di pagar lalu pergi.

Ia tidak langsung menjawab karena jawaban yang pertama muncul di kepalanya terlalu keras dan tidak akan menghasilkan apapun yang baik.

"Ibu tidak bisa meminta saya melakukan ini."

"Ibu tidak meminta. Ibu mohon." Nada ibunya berubah. Lebih pelan. Dan itu lebih sulit dihadapi daripada ketegasannya. "Ibu sudah tua, Harraz. Ibu ingin melihat kamu punya rumah yang benar-benar hidup. Bukan rumah yang besar dan sepi. Ibu ingin ada suara anak kecil sebelum ibu tidak bisa lagi mendengar dengan jelas."

Harraz menoleh. Ibunya menatapnya dengan mata yang tidak ia ragukan kejujurannya.

Itulah masalahnya dengan Hj. Maryam. Perempuan itu tidak pernah meminta sesuatu untuk dirinya sendiri. Setiap permintaannya selalu dibungkus dengan alasan yang jauh lebih besar dari kepentingannya sendiri, dan Harraz tidak pernah menemukan cara yang tepat untuk melawannya.

"Ini tidak sesederhana yang Ibu bayangkan." Harraz duduk kembali. "Ada Nadira. Ada keluarganya. Ada perjanjian yang tidak bisa diabaikan begitu saja."

"Ibu tahu semua itu."

"Kalau Ibu tahu, Ibu seharusnya juga tahu kenapa ini tidak bisa dilakukan semudah Ibu mengucapkannya."

Hj. Maryam tidak langsung menjawab. Ia mengambil tehnya kembali dan meminumnya pelan. Ada jeda yang panjang di antara mereka, bukan jeda yang canggung, tapi jeda yang menyimpan banyak hal yang tidak terucap.

"Ibu sudah bicara dengan Nadira."

Harraz menatap ibunya tajam. "Kapan?"

"Minggu lalu."

"Dan?"

"Nadira tidak menolak."

Harraz terdiam. Itu bukan jawaban yang ia duga. Ia pikir Nadira akan menjadi tembok pertama yang menghalangi, dan ia sudah menyiapkan argumen itu sebagai alasan utama untuk menutup percakapan ini.

Tapi ternyata tidak.

"Tidak menolak bukan berarti setuju."

"Benar. Tapi itu juga bukan tidak setuju." Ibunya meletakkan cangkirnya kembali. "Nadira perempuan yang cerdas. Ia tahu kondisi pernikahannya sendiri. Ibu tidak memaksanya. Ibu hanya berbicara jujur dengannya seperti ibu berbicara jujur denganmu sekarang."

Harraz mengusap wajahnya dengan satu tangan. Kepala mulai berat.

"Ibu sudah punya calonnya juga?"

"Belum resmi. Tapi Ibu sudah melihat seseorang."

"Siapa?"

Hj. Maryam menggeleng pelan. "Belum waktunya Ibu ceritakan. Ibu hanya ingin tahu dulu. Apakah kamu mau membuka pikiranmu sedikit saja untuk mempertimbangkan ini."

Harraz menatap ibunya lama. Perempuan tua itu menatap balik dengan tenang yang tidak bisa ia tembus. Selama tiga puluh empat tahun hidupnya, ia tidak pernah berhasil mengalahkan keteguhan ibunya dalam hal apapun.

"Saya tidak berjanji apapun."

"Ibu tidak minta janji. Ibu minta pertimbangan."

Harraz berdiri dan mengambil jasnya. Meeting jam dua tidak bisa ditunda lebih lama.

"Saya harus pergi."

"Makan siang dulu."

"Tidak sempat."

"Harraz." Ibunya memanggil sebelum ia mencapai pintu. "Ibu tahu kamu tidak suka dengan ini. Ibu tahu kamu merasa ini tidak adil. Tapi ibu juga tahu bahwa kamu anak yang baik. Yang tidak akan membiarkan orang-orang yang kamu cintai hidup dalam keadaan yang tidak semestinya hanya karena kamu takut mengubah sesuatu."

Harraz berhenti. Punggungnya masih menghadap ibunya.

"Itu tidak fair, Bu."

"Tidak. Tapi itu jujur."

Ia keluar tanpa menjawab.

Di dalam mobilnya, Harraz duduk sebentar sebelum memerintahkan Pak Amin untuk jalan. Kepalanya masih berat. Ada sesuatu yang berputar di dalam dadanya, campuran antara marah, lelah, dan sesuatu lain yang lebih susah diberi nama.

Ia tidak mau menikah lagi.

Bukan karena ia terlalu mencintai Nadira untuk meninggalkannya. Bukan juga karena ia tidak mampu. Tapi karena ia sudah terlalu lelah menjalani satu pernikahan yang berjalan seperti mesin tanpa bahan bakar. Melakukan hal yang sama dua kali terasa seperti kesalahan yang ia lakukan dengan sadar.

Dan ada hal lain yang tidak bisa ia akui bahkan kepada dirinya sendiri. Bahwa ia tidak percaya ia bisa memberikan hal yang benar kepada siapapun sekarang. Hatinya sudah terlalu lama berjalan dengan setengah kapasitas. Apa yang bisa ia tawarkan kepada perempuan manapun selain nama dan fasilitas.

Bukan itu yang harusnya disebut pernikahan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Reyhan.

"Jadi makan siang? Aku sudah di resto."

Harraz membalas singkat. "Langsung ke kantor saja. Meeting dua jam lagi."

Ia meletakkan ponselnya dan menatap jalanan di depan.

Di kepalanya, tanpa ia undang, muncul bayangan perempuan di lorong rumah sakit itu. Dan di pusat perbelanjaan kemarin. Yang menjawabnya dengan kalimat pendek tanpa gentar. Yang berbalik pergi sebelum ia selesai bicara.

Harraz tidak tahu kenapa perempuan itu muncul di kepalanya sekarang.

Mungkin karena ibunya baru saja membicarakan perempuan dan pernikahan.

Mungkin hanya itu.

Mobilnya bergerak memasuki jalanan Jakarta yang seperti biasa tidak memberi ruang untuk berhenti terlalu lama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience