Completed
183
Malam itu Bila duduk lebih lama dari biasanya di depan meja kecilnya.
Buku catatannya terbuka di halaman yang sama seperti seminggu lalu. Angka-angkanya tidak berubah. Tentu saja tidak berubah. Angka tidak punya belas kasihan dan tidak perduli seberapa keras seseorang sudah berusaha. Angka hanya mencatat kenyataan, dan kenyataan malam ini tidak lebih baik dari kenyataan minggu lalu.
Bila mengambil pensilnya dan mulai menghitung ulang dari awal. Bukan karena ia berharap hasilnya berbeda, tapi karena menghitung ulang memberinya ilusi bahwa ia masih punya kendali atas situasinya.
Gaji honorer bulan ini sudah masuk. Jumlahnya sama seperti biasa, tidak pernah naik dalam tiga tahun terakhir. Dari jumlah itu, sepertiganya langsung habis untuk kebutuhan harian, makan, listrik, air, dan berbagai keperluan kecil yang kalau dijumlah tidak pernah terasa kecil.
Sisanya untuk obat ibu dan tagihan klinik.
Dan tagihan rawat jalan bulan ini lebih besar dari biasanya karena dokter menyarankan pemeriksaan tambahan. Hasil labnya belum keluar semua, tapi dokter sudah menyebut kemungkinan rawat inap dalam waktu dekat dengan nada yang tidak memberi banyak ruang untuk optimisme.
Bila menekan ujung pensilnya ke kertas sampai meninggalkan titik gelap.
Rawat inap berarti biaya yang berbeda hitungannya. BPJS menanggung sebagian besar, tapi tetap ada selisih yang harus ditutup. Dan selisih itu, kalau melihat pengalaman rawat inap dua tahun lalu, bisa mencapai angka yang membuat Bila harus berhenti bernapas sebentar setiap kali mengingatnya.
Ia menutup buku catatannya.
Di kamar sebelah, ibu sudah tidur sejak setengah sembilan. Nafasnya terdengar agak berat tadi waktu Bila mengecek sebelum duduk di sini. Bukan mengkhawatirkan, kata dokter itu masih dalam batas wajar untuk kondisinya. Tapi bagi Bila, suara napas ibunya yang sedikit berbeda dari biasanya selalu cukup untuk membuat tidurnya tidak tenang.
Ia berdiri dan berjalan ke dapur. Mengisi segelas air dan meminumnya berdiri di depan wastafel. Dari jendela kecil dapur, ia bisa melihat gang sempit di luar yang remang diterangi lampu tetangga. Kucing liar yang biasa lewat sini sudah ada di sana, duduk di atas bak sampah dengan santai.
Bila mengetuk kaca jendela pelan. Kucing itu menoleh sebentar lalu mengabaikannya.
"Enak ya," gumam Bila. "Tidak punya tagihan."
Ia kembali ke kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya tanpa mengganti baju. Langit-langit kamarnya yang sudah hafal ia tatap menatap balik dengan diam yang tidak membantu.
Pikirannya mulai bergerak ke arah yang tidak ia inginkan. Satu per satu opsi yang sudah berkali-kali ia pertimbangkan kembali melintas.
Pinjam uang ke bank. Tapi rekeningnya tidak punya aset yang cukup untuk dijadikan jaminan, dan penghasilan honorer tidak dilirik oleh institusi keuangan manapun sebagai jaminan yang layak. Ia sudah pernah mencoba dua tahun lalu dan jawabannya datang dalam bentuk formulir penolakan yang sopan tapi menyakitkan.
Pinjam ke orang. Ia sudah meminjam ke Bu Lastri bulan lalu, belum lunas. Meminjam lagi terasa seperti mengambil sesuatu dari orang yang tidak seharusnya menanggung bebannya.
Cari kerja sampingan. Ini yang paling masuk akal tapi paling sulit dieksekusi. Waktunya habis antara mengajar, mengurus ibu, dan perjalanan bolak-balik yang menguras tenaga. Pernah ia coba les privat tiga bulan lalu, dua murid, tapi ibunya jatuh sakit dan jadwalnya berantakan dan akhirnya murid-muridnya pindah ke guru lain.
Jual sesuatu. Bila menatap sekeliling kamarnya dalam gelap. Tidak ada yang bisa dijual yang nilainya cukup untuk membuat perbedaan berarti.
Ia memejamkan matanya.
Satu nama muncul di kepalanya tapi langsung ia tepis. Bibi Ratna, adik ibunya yang menikah dengan pria kaya dan tinggal di Bekasi. Mereka masih keluarga di atas kertas tapi sudah lama tidak ada kontak yang berarti. Terakhir Bibi Ratna menelepon adalah setahun lalu, lebih untuk memastikan bahwa ia tidak akan dimintai bantuan daripada untuk menanyakan kabar dengan tulus.
Bila tidak akan menelepon ke sana.
Ada batas-batas yang ia jaga bukan karena gengsi, tapi karena ia tahu persis pintu mana yang tidak akan dibuka meski ia ketuk sampai tangannya sakit.
Ia membuka matanya kembali.
Di ponselnya yang diletakkan di atas dada, ada notifikasi yang masuk. Pesan grup guru-guru sekolah. Desi mengirim artikel tentang kebijakan baru tenaga honorer yang katanya akan mulai diberlakukan tahun depan. Di bawahnya ada rentetan komentar dari guru-guru lain, sebagian khawatir, sebagian bercanda untuk menutupi khawatir.
Bila tidak membalas. Ia meletakkan ponselnya kembali di meja.
Satu masalah dalam satu waktu, katanya kepada dirinya sendiri. Prinsip yang mudah diucapkan dan jauh lebih susah dijalankan di malam hari ketika semua masalah datang sekaligus dan tidak ada yang mau antre dengan tertib.
Ia akhirnya tertidur lewat tengah malam.
Dan pagi harinya, di sela-sela jam istirahat sekolah, ia duduk di bangku panjang di koridor dan membuka ponselnya untuk memeriksa apakah ada informasi tentang bantuan sosial atau program kesehatan tambahan yang bisa ia akses. Bukan untuk pertama kalinya ia mencari ini. Tapi kondisi ibunya yang makin membutuhkan penanganan lebih serius membuat ia perlu mencari lebih jauh dari yang biasanya.
Desi duduk di sebelahnya dengan bekal nasi dari rumah.
"Kamu tidak makan?"
"Nanti."
"Bila." Desi menatapnya. "Kamu baik-baik saja?"
"Baik."
"Kamu bilang baik tapi muka kamu bilang hal lain."
Bila menyimpan ponselnya. "Ibu kemungkinan perlu rawat inap dalam waktu dekat."
Desi berhenti mengunyah. "Serius?"
"Dokter belum memastikan. Tapi kemungkinannya besar."
"Biayanya?"
"Sedang saya pikirkan."
Desi diam sebentar, lalu dengan pelan ia menawarkan, "Saya punya sedikit tabungan. Kalau kamu butuh?"
"Tidak perlu." Bila menggeleng cepat. "Kamu juga perlu tabungan kamu, Des. Kamu ada rencana nikah tahun depan."
"Itu masih lama."
"Tetap tidak perlu. Tapi terima kasih."
Desi menatapnya dengan ekspresi yang ingin berargumen tapi mengenal Bila cukup lama untuk tahu bahwa berdebat soal ini tidak akan kemana-mana. Ia kembali makan dengan diam yang menyimpan kekhawatiran.
Sore itu sepulang sekolah, Bila mampir ke klinik untuk mengambil hasil lab ibunya yang sudah jadi. Dokter yang menerimanya adalah dokter muda yang bicara dengan hati-hati tapi jelas.
Kondisi ginjal ibu Bila menunjukkan penurunan fungsi yang perlu dimonitor lebih ketat. Bukan stadium yang mengkhawatirkan, tapi kalau tidak ditangani dengan benar bisa berkembang lebih cepat dari yang diharapkan. Rawat inap untuk observasi selama beberapa hari sangat disarankan, paling lambat dua minggu lagi.
Bila mendengarkan semua itu dengan wajah yang tenang.
Ia mengangguk di tempat yang tepat. Ia mengajukan pertanyaan yang relevan. Ia mencatat beberapa hal di ponselnya dengan jari yang tidak gemetar.
Ia keluar dari ruang dokter dan berjalan ke lorong klinik yang sepi di jam seperti ini. Di kursi tunggu panjang yang kosong, ia duduk sebentar.
Hanya sebentar.
Ia tidak menangis. Bukan karena tidak ingin, tapi karena tidak ada gunanya sekarang. Nanti, mungkin. Di kamarnya, di bawah selimut, setelah ibunya tidur dan tidak ada yang perlu ia jaga tampilan tenangnya. Tapi sekarang, di kursi tunggu klinik ini, ia hanya perlu menarik napas dalam dan mengeluarkannya pelan.
Lalu berdiri.
Lalu jalan.
Di parkiran klinik, ia duduk di atas motornya yang belum ia nyalakan. Matahari sudah rendah dan sinarnya kemerahan di antara atap-atap rumah di sekitarnya. Suara azan ashar terdengar dari masjid di ujung jalan.
Bila menundukkan kepalanya.
Dua minggu. Ia punya dua minggu untuk menemukan solusi yang selama ini belum ia temukan dalam waktu berbulan-bulan.
Angka itu memenuhi kepalanya lagi. Angka-angka yang tidak berbohong dan tidak pernah meminta maaf atas kebenarannya yang menyakitkan.
Ia menyalakan motornya.
Suara mesinnya yang kasar mengisi udara sore itu. Bila menggenggam setangnya, menarik napas sekali lagi, lalu melaju ke jalan pulang.
Di kepalanya hanya satu hal yang terus berputar. Bukan nama seseorang. Bukan wajah siapapun. Hanya satu kalimat sederhana yang sudah menjadi semacam mantra dalam setiap situasi berat yang pernah ia lalui.
Pasti ada jalan.
Pasti ada.
Ia hanya belum menemukannya.
Belum.
Share this novel