Completed
183
Bila tidak suka pernikahan yang terlalu ramai.
Bukan karena ia tidak suka kebahagiaan orang lain. Tapi karena pernikahan yang ramai selalu berarti banyak orang yang belum pernah ia temui tiba-tiba merasa punya hak untuk mengomentari hidupnya. Sudah kerja di mana, sudah punya pacar belum, kapan nyusul, pertanyaan-pertanyaan yang dibalut senyum tapi ujungnya selalu terasa seperti jarum kecil yang ditusukkan pelan-pelan.
Tapi hari ini ia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk tidak datang.
Pernikahan ini adalah pernikahan anak dari Pak Rahmat, tetangga dua rumah yang sudah seperti paman sendiri. Sejak ayah Bila meninggal delapan tahun lalu, Pak Rahmat dan istrinya yang sering membantu mereka dengan cara-cara kecil yang tidak pernah mereka besar-besarkan. Tidak datang bukan pilihan.
Bila mengenakan kebaya putih gading yang sudah beberapa kali ia pakai ke acara serupa. Bahannya masih bagus, potongannya sederhana tapi rapi. Ia menyisir rambutnya ke belakang dan memakai sedikit bedak. Tidak lebih dari itu.
Ibunya tidak bisa ikut. Kondisinya masih belum memungkinkan untuk duduk terlalu lama di tempat yang ramai. Bila menitipkan ibunya kepada Bu Lastri, tetangga sebelah yang baik hati, dengan pesan-pesan panjang tentang obat jam berapa dan makanan apa yang boleh dan tidak boleh.
Gedung pernikahan itu tidak terlalu besar tapi dirias dengan cukup meriah. Bunga-bunga putih dan hijau di mana-mana. Musik tradisional mengalun pelan dari speaker di sudut ruangan. Bila masuk, mencari wajah-wajah yang ia kenal, dan langsung menemukan Bu Rahmat yang segera memeluknya dengan hangat.
"Bila, cantik sekali. Makasih ya sudah datang, Nak."
"Tentu, Bu. Selamatkan untuk Kak Dinda."
Ia duduk di meja yang ditunjukkan pramusaji, di bagian tengah ruangan. Tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang. Cukup. Ia mengambil segelas air putih dan mulai mengamati ruangan dengan kebiasaan lamanya.
Acara berjalan dengan hangat. Prosesi akad berlangsung khidmat, ada beberapa tamu yang menangis haru, ada anak-anak kecil yang berlarian di sela-sela kursi sampai dimarahi orangtuanya dengan bisikan keras. Bila tersenyum melihat semuanya.
Sesi foto keluarga selesai, tamu-tamu mulai bergerak ke meja prasmanan. Bila ikut mengambil piring dan mengisi dengan beberapa pilihan makanan. Perutnya memang belum terisi sejak tadi pagi.
Ia sedang berdiri mengambil kerupuk ketika seseorang berdiri tepat di sebelahnya, dan Bila melihat tangan itu. Tangan yang rapi dengan jam tangan yang ia sudah dua kali lihat sebelumnya.
Bila tidak perlu mengangkat mukanya untuk tahu.
Tapi ia tetap mengangkat mukanya.
Pria itu juga melihatnya pada saat bersamaan. Dan untuk pertama kali sejak pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya, Bila melihat sesuatu yang nyaris seperti terkejut di wajahnya yang selalu datar itu.
"Kamu." Suaranya rendah.
"Masih saya." Bila menjawab datar lalu mengambil kerupuknya.
Pria itu tidak bergerak dari tempatnya. Bila melangkah ke sisi lain meja prasmanan, mengambil sepotong ayam, lalu berjalan kembali ke mejanya. Ia duduk dan mulai makan dengan tenang.
Tapi tiga menit kemudian, pria itu duduk di kursi yang tersisa dua tempat darinya. Bukan di sebelahnya langsung, tapi cukup dekat. Di antara mereka ada seorang bapak tua yang sedang sibuk dengan makanannya dan tidak memperhatikan siapapun.
Bila tidak mengomentari. Ia fokus pada makanannya.
"Kamu kenal keluarga Rahmat?" pria itu bertanya tanpa basa-basi.
Bila mengunyah sebentar sebelum menjawab. "Tetangga. Kamu?"
"Keluarga jauh dari pihak ibu."
Bila mengangguk sekali. Masuk akal. Keluarga Pak Rahmat memang besar dan tersebar.
"Keluarga jauh yang cukup jauh sampai tidak saling kenal rupanya," kata Bila tanpa bermaksud kasar, tapi juga tanpa berusaha memperhalus.
Pria itu menatapnya. "Harraz."
Bila mengangkat alis.
"Nama saya. Harraz."
Bila meletakkan sendoknya sebentar. "Saya tidak tanya."
"Tapi kamu akan tanya."
"Tidak juga."
Harraz menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan tersinggung. Lebih seperti orang yang tidak terbiasa dengan jawaban seperti itu dan sedang memproses cara meresponsnya.
"Kamu tidak kenal nama saya?" tanyanya.
Bila mengambil sendoknya kembali. "Harusnya saya kenal?"
Jeda sebentar. "Tidak harus."
Bila melihat ke arahnya sekilas. Ada sesuatu yang berbeda dari cara ia menjawab itu. Lebih jujur dari jawaban-jawaban sebelumnya. Seperti orang yang biasa dikenal dan tiba-tiba menemukan seseorang yang tidak peduli, dan entah mengapa itu tidak membuatnya tidak nyaman, justru sebaliknya.
"Bila," katanya akhirnya. "Nama saya Bila."
Harraz mengangguk pelan. Tidak tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya yang sedikit berubah.
Mereka makan dalam diam setelah itu. Bukan diam yang canggung. Lebih seperti dua orang yang tidak merasa perlu mengisi keheningan dengan kata-kata yang tidak perlu.
Bapak tua di antara mereka selesai makan duluan dan pergi. Kursinya kosong. Jarak antara Bila dan Harraz terasa sedikit lebih dekat meski tidak ada yang bergerak.
"Sudah ketiga kali kita bertemu," kata Harraz tiba-tiba.
"Saya hitung juga."
"Kebetulan yang tidak biasa."
"Jakarta tidak sebesar yang orang kira." Bila mengangkat bahunya. "Apalagi kalau lingkaran pergaulannya sama."
"Lingkaran pergaulan kita jelas tidak sama."
Bila menoleh ke arahnya. Pria itu berkata itu bukan dengan nada sombong, tapi dengan cara yang datar dan faktual. Seperti mengamati langit mendung dan mengatakan bahwa hari ini akan hujan.
"Benar," kata Bila. "Tidak sama."
"Tapi kita tetap ketemu."
Bila tidak menjawab itu. Ia menghabiskan makanannya dan meletakkan piring dengan rapi. Di atas panggung, MC mulai mengumumkan sesi hiburan.
"Ibu kamu, kondisinya membaik?" tanya Harraz tiba-tiba.
Bila menoleh cepat. "Kamu tahu?"
"Kamu bawa kartu BPJS waktu itu. Dan wajah orang yang pergi ke rumah sakit karena urusan keluarga berbeda dengan wajah orang yang pergi untuk dirinya sendiri."
Bila menatapnya sebentar. Orang ini lebih memperhatikan dari yang terlihat.
"Stabil," jawab Bila singkat. "Terima kasih sudah bertanya."
Harraz mengangguk. Ia tidak bertanya lebih lanjut dan Bila menghargai itu.
Acara di depan mulai meriah. Ada penampilan tari dari keluarga mempelai perempuan yang disambut tepuk tangan. Bila menonton dengan senyum kecil.
Di sebelahnya, Harraz duduk dengan tenang. Tidak mengeluarkan ponsel, tidak berbicara dengan siapapun, tidak terlihat bosan meski jelas ia bukan tipe yang menikmati keramaian seperti ini.
Sebelum Bila sempat memikirkan lebih jauh, seorang perempuan paruh baya dengan kebaya hijau berjalan ke arah meja mereka. Wajahnya familiar bagi Bila karena pernah beberapa kali terlihat di rumah Pak Rahmat waktu lebaran.
Perempuan itu melihat Harraz dan langsung tersenyum lebar. "Harraz, kamu datang juga. Ibu kamu tidak ikut?"
"Tidak bisa hadir, Tante Sri. Titip salam."
Tante Sri mengangguk lalu matanya beralih ke Bila. "Ini siapa? Teman kamu?"
Bila hendak menjawab sendiri tapi Harraz lebih dulu bicara. "Tetangga keluarga Rahmat. Kebetulan satu meja."
Tante Sri mengangguk dengan senyum yang menyimpan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan dengan baik, lalu pergi setelah bertukar beberapa kalimat dengan Harraz.
Bila menatap Harraz setelah perempuan itu pergi.
"Kenapa tidak bilang saja kita tidak saling kenal?"
Harraz menatap ke depan. "Karena kita sudah saling tahu nama masing-masing. Itu sudah cukup untuk disebut kenal."
Bila diam sebentar. Lalu tanpa bisa ditahan, sudut bibirnya naik sedikit.
Logika yang aneh. Tapi tidak sepenuhnya salah.
Di luar gedung, langit mulai menggelap. Bila melirik jam tangannya. Sudah hampir dua jam ia di sini. Ibunya pasti mulai menunggu.
Ia berdiri dan merapikan kebayanya.
"Saya pamit duluan."
Harraz mendongak. Matanya mengikutinya berdiri.
"Hati-hati," katanya pelan.
Dua kata yang sederhana. Tapi dari mulut pria yang selama tiga pertemuan hampir tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak perlu, dua kata itu terasa berat dengan sesuatu yang belum punya nama.
Bila berjalan keluar tanpa menoleh.
Tapi senyum kecil itu tidak hilang dari wajahnya sampai ia tiba di parkiran.
Share this novel