Completed
183
Reyhan Pradipta punya kebiasaan yang sudah lama membuat Harraz gemas.
Ia terlalu memperhatikan orang.
Bukan dalam arti yang buruk. Reyhan bukan tipe yang usil atau suka mencampuri urusan orang lain untuk kesenangan sendiri. Tapi ia memiliki semacam antena alami yang selalu aktif, kemampuan untuk menangkap hal-hal kecil yang terlewat oleh kebanyakan orang dan menyimpannya dengan rapi di kepalanya sampai suatu saat informasi itu menjadi relevan.
Harraz mengenal Reyhan sejak bangku kuliah. Empat belas tahun pertemanan yang melewati berbagai fase, dari dua mahasiswa yang berbagi biaya kos, sampai dua pria dewasa yang duduk di dua sisi meja bisnis yang berbeda. Reyhan tidak bekerja di bawah Harraz. Ia punya konsultan keuangannya sendiri yang cukup berhasil. Tapi pertemanan mereka tidak pernah terganggu oleh jarak profesional itu.
Justru karena Reyhan tidak bekerja untuknya, Harraz bisa berbicara jujur kepada Reyhan dengan cara yang tidak bisa ia lakukan kepada siapapun di kantornya.
Siang itu mereka makan di restoran langganan mereka di kawasan Sudirman. Tempat yang tidak terlalu formal tapi cukup tenang untuk bicara tanpa khawatir didengar orang lain.
Reyhan sudah duduk ketika Harraz tiba. Sudah memesan air untuk keduanya dan sudah membuka menu meski ia hafal isinya.
"Telat tiga menit," kata Reyhan tanpa mengangkat muka dari menu.
"Macet."
"Selalu macet."
Harraz duduk dan mengambil menu. Mereka memesan dengan cepat, keduanya sudah tahu apa yang akan mereka pilih bahkan sebelum melihat halaman pertama.
"Kamu terlihat seperti orang yang semalam tidak tidur," kata Reyhan setelah pelayan pergi.
"Tidur."
"Tidak nyenyak."
Harraz tidak mengkonfirmasi tapi juga tidak menyangkal. Reyhan membaca itu sebagai jawaban.
"Ibu sudah bicara sama kamu?"
Harraz menatapnya. "Kamu tahu?"
"Ibu kamu menelepon saya minggu lalu." Reyhan mengangkat bahunya dengan santai yang sedikit dibuat-buat. "Minta pendapat saya."
"Pendapat kamu tentang apa?"
"Tentang apakah saya pikir kamu akan mempertimbangkan atau langsung menolak mentah-mentah."
Harraz meletakkan menunya. "Dan kamu bilang apa?"
"Saya bilang Harraz akan menolak dulu, marah sebentar, lalu diam-diam memikirkannya selama berminggu-minggu sebelum akhirnya mengambil keputusan yang tidak ada yang bisa tebak." Reyhan tersenyum tipis. "Saya kenal kamu, Raz."
Harraz tidak membalas. Itu terlalu akurat untuk bisa ia bantah.
Makanan datang. Mereka makan beberapa menit dalam diam yang biasa bagi keduanya. Tidak ada percakapan yang harus diisi paksa di antara mereka.
"Kamu tidak akan tanya pendapat saya?" kata Reyhan akhirnya.
"Kamu akan kasih pendapat itu dengan atau tanpa saya minta."
Reyhan tertawa kecil. "Benar juga." Ia meletakkan sendoknya. "Saya tidak akan bilang apa yang seharusnya kamu lakukan. Itu bukan urusan saya. Tapi saya akan bilang satu hal yang saya lihat dari luar."
"Apa?"
"Pernikahan kamu dengan Nadira sudah lama tidak bisa disebut pernikahan yang sehat. Kamu tahu itu. Nadira tahu itu. Semua orang yang cukup dekat dengan kalian tahu itu." Reyhan berbicara dengan nada yang datar, bukan menghakimi, hanya menyampaikan fakta. "Masalahnya bukan pada apakah kamu harus menikah lagi atau tidak. Masalahnya ada di sini dulu." Ia mengetuk dadanya sendiri. "Kamu belum selesai dengan dirimu sendiri, Raz. Dan orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri tidak akan pernah bisa hadir sepenuhnya untuk orang lain."
Harraz mengunyah makanannya dengan pelan.
"Itu pendapat kamu?"
"Itu observasi saya. Pendapat saya adalah kamu perlu lebih banyak tidur."
Harraz menatapnya sebentar lalu kembali ke makanannya. Ada benarnya yang tidak ingin ia akui terlalu cepat.
Setelah makan, Reyhan memesan kopi dan bersandar di kursinya dengan cara orang yang tidak terburu-buru ke manapun.
"Ada hal lain yang ingin saya ceritakan," kata Reyhan dengan nada yang sedikit berbeda. Lebih hati-hati.
Harraz mendongak.
"Kebetulan yang menarik sebenarnya." Reyhan memutar cangkir kopinya pelan. "Kamu tahu saya ada proyek konsultasi kecil untuk klinik di daerah Jakarta Selatan. Sudah tiga bulan ini."
"Saya tahu."
"Dua minggu lalu saya ke klinik itu untuk pertemuan rutin. Di ruang tunggu, saya lihat seorang perempuan muda keluar dari ruang dokter. Wajahnya tenang tapi ada sesuatu di cara ia duduk setelah keluar yang membuat saya perhatikan." Reyhan mengangkat matanya ke arah Harraz. "Saya tidak sengaja dengar percakapannya dengan suster di meja administrasi. Ibunya perlu rawat inap. Kondisi ginjal. Dan dari cara ia bertanya tentang cicilan biaya, jelas bahwa ia sedang dalam kondisi keuangan yang tidak mudah."
Harraz tidak bergerak.
"Saya penasaran," lanjut Reyhan, "jadi saya tanya ke salah satu staf yang saya kenal di sana. Perempuan itu guru honorer di SD negeri di daerah sini. Tinggal berdua sama ibunya. Tidak ada saudara kandung. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu."
Harraz menatap Reyhan. "Kenapa kamu ceritakan ini ke saya?"
Reyhan mengangkat bahunya. "Karena deskripsi saya tadi cocok dengan seseorang yang kamu ceritakan meski kamu tidak menyadari kamu menceritakannya."
Harraz diam.
"Dua hari lalu kamu bilang ketemu perempuan yang sama tiga kali dalam seminggu. Kamu bilang ia tidak kenal nama kamu. Kamu bilang ia menjawab dengan cara yang tidak seperti kebanyakan orang." Reyhan menyesap kopinya. "Saya dua ditambah dua, Raz."
"Namanya siapa yang kamu dengar?"
"Salsabila. Tapi dipanggil Bila."
Harraz meletakkan sendoknya dengan pelan.
Jadi perempuan itu punya nama lengkap. Salsabila. Dan kondisinya jauh lebih berat dari yang terlihat di permukaan saat mereka berbicara singkat di acara pernikahan kemarin.
Ia teringat cara Bila menjawab pertanyaannya soal ibu. Stabil. Satu kata. Tidak lebih. Cara orang yang terbiasa tidak membagi bebannya kepada siapapun.
"Kamu mau apa dengan informasi itu?" tanya Harraz.
"Saya tidak mau apa-apa. Saya hanya menyampaikan." Reyhan menatapnya dengan tenang. "Yang mau apa-apa itu kamu, Raz. Atau tidak. Itu pilihan kamu."
Harraz tidak menjawab. Ia melihat ke luar jendela restoran. Jalanan Sudirman di siang hari selalu penuh dengan orang-orang yang masing-masing punya tujuan sendiri, tergesa-gesa, tidak saling melihat.
"Ibu kamu menyebut nama siapapun?"
"Belum. Tapi saya rasa ibu kamu sedang dalam proses yang sama." Reyhan meluruskan duduknya. "Keluarga Pak Rahmat dan ibu kamu ada hubungan keluarga jauh dari jalur yang sama. Ibu kamu pasti sudah tahu tentang Bila lebih dari yang kita kira."
Harraz menggeser cangkir airnya ke sisi lain meja tanpa tujuan.
Semua ini terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Tapi ia juga belum siap menyebutnya takdir karena kata itu membawa implikasi yang lebih besar dari yang ingin ia tanggung siang ini.
"Saya tidak akan melakukan sesuatu berdasarkan informasi yang kamu kumpulkan tanpa sepengetahuan yang bersangkutan," kata Harraz akhirnya.
"Saya tidak menyarankan kamu melakukan apapun."
"Tapi kamu menceritakan ini bukan tanpa alasan."
Reyhan tersenyum tipis lagi. Senyum yang selalu membuat Harraz ingin melempar sesuatu ke arahnya karena terlalu banyak menyimpan hal yang tidak diucapkan.
"Saya cerita karena saya pikir kamu berhak punya informasi yang lengkap sebelum mengambil keputusan apapun. Termasuk keputusan untuk tidak melakukan apapun." Reyhan berdiri dan meraih dompetnya. "Hari ini saya yang bayar."
"Selalu kamu yang bayar."
"Karena kamu selalu datang dengan masalah yang lebih besar dari tagihan makan siang."
Harraz tidak tertawa tapi ada sesuatu yang sedikit mengendur di sudut matanya.
Mereka berpisah di depan restoran. Reyhan pergi ke arah parkiran dengan langkah santainya yang tidak pernah terburu-buru. Harraz berdiri sebentar di depan pintu restoran sebelum berjalan ke arah mobilnya yang sudah menunggu di seberang.
Di dalam mobil, Pak Amin bertanya akan ke mana. Harraz menyebut nama jalan menuju kantor. Lalu ia bersandar di kursi dan menutup matanya sebentar.
Di kepalanya sekarang ada lebih banyak hal daripada tadi pagi.
Nama lengkap yang ia tidak tahu sebelumnya. Kondisi yang jauh lebih berat dari kesan pertama. Seorang perempuan yang menjawab pertanyaannya tentang ibunya hanya dengan satu kata dan tidak meminta belas kasihan dari siapapun.
Dan di sudut yang lebih jauh, suara ibunya dari dua hari lalu masih terdengar.
Pasti ada jalan, kata orang-orang. Selalu ada. Tapi jalan itu tidak pernah datang sendiri. Selalu ada tangan yang membuka pintu sebelumnya. Selalu ada keputusan yang harus diambil seseorang sebelum jalan itu bisa dilewati.
Harraz tidak tahu apakah ia mau menjadi tangan itu.
Ia tidak tahu apakah ia punya hak untuk menjadi tangan itu.
Yang ia tahu hanya satu hal yang sederhana dan mengganggu pada saat bersamaan.
Untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama, ada sesuatu yang membuat pikirannya tidak bisa diam. Bukan laporan keuangan, bukan strategi ekspansi, bukan permasalahan perusahaan yang biasanya cukup untuk memenuhi seluruh kapasitas kepalanya.
Hanya bayangan perempuan yang berjalan keluar dari acara pernikahan kemarin dengan punggung tegak dan langkah yang tidak ragu meski ia tahu sendiri betapa berat yang sedang ia bawa.
Mobil bergerak memasuki kemacetan siang hari.
Harraz membuka matanya dan meraih laptopnya dari tas. Ada pekerjaan yang menunggu. Selalu ada pekerjaan yang menunggu.
Tapi hari ini, untuk pertama kali, pekerjaan itu terasa seperti pelarian. Bukan tujuan.
Dan Harraz tidak yakin ia suka dengan kesadaran itu.
Share this novel