Bab 9 — Ditolak

Romance Completed 183

Harraz tidak terbiasa menunggu.

Bukan karena ia tidak sabaran. Tapi karena dalam hidupnya, hampir semua hal bergerak sesuai jadwal yang ia tentukan. Rapat dimulai tepat waktu karena ia yang memulainya. Keputusan diambil cepat karena ia yang mengambilnya. Orang-orang di sekelilingnya bergerak mengikuti ritme yang ia tetapkan, dan ritme itu tidak pernah menyertakan jeda yang tidak perlu.

Tapi pagi ini ia duduk di dalam mobilnya di depan sebuah gang sempit di kawasan Jakarta Selatan dan ia menunggu.

Bukan tanpa alasan.

Setelah pertemuan dengan Reyhan dua hari lalu, Harraz menghabiskan satu malam penuh dengan pikiran yang tidak mau diam. Ia sudah mencoba membaca laporan, sudah mencoba tidur lebih awal, sudah mencoba mengalihkan perhatiannya dengan berbagai cara yang biasanya berhasil. Tidak ada yang berhasil.

Yang ada di kepalanya hanya satu hal. Kondisi yang Reyhan ceritakan. Perempuan yang pergi ke klinik sendirian dan menanyakan skema cicilan biaya rawat inap dengan suara yang tenang meski situasinya tidak tenang sama sekali.

Harraz bukan orang yang impulsif. Setiap keputusan dalam hidupnya, sekecil apapun, selalu melewati proses pertimbangan yang cukup. Tapi ada kalanya pertimbangan itu selesai lebih cepat dari yang ia duga, dan hasilnya sudah ada bahkan sebelum ia sadar mulai memikirkannya.

Pagi ini ia memutuskan untuk datang.

Bukan dengan niat yang ia bisa jelaskan sepenuhnya bahkan kepada dirinya sendiri. Hanya dengan kesadaran bahwa ada sesuatu yang perlu ia selesaikan, dan satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah dengan menghadapinya langsung.

Pak Amin sudah mengetahui alamat itu dari informasi yang Reyhan berikan. Rumah kecil di ujung gang, cat biru yang sudah pudar, pot bunga di depan pintu.

Harraz turun dari mobilnya.

Gang itu terlalu sempit untuk mobilnya masuk, jadi ia berjalan kaki beberapa meter. Suasana pagi di sini berbeda jauh dengan kawasan tempat ia tinggal. Lebih hidup dalam cara yang berbeda. Ada ibu-ibu yang menjemur baju, ada anak kecil yang berlari dengan seragam sekolah, ada suara radio dari balik jendela yang terbuka.

Ia berhenti di depan rumah yang dimaksud.

Pot bunga di depan pintu itu berisi tanaman kecil yang tumbuh rapi. Ada seseorang yang merawatnya dengan telaten. Pintu kayu rumah itu setengah terbuka.

Harraz mengetuk.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka lebih lebar dan Bila berdiri di sana dengan celemek dapur masih terikat di pinggangnya dan ekspresi yang bergerak dari terkejut ke tidak percaya dalam waktu kurang dari satu detik.

"Kamu." Suaranya datar tapi matanya bertanya banyak hal sekaligus.

"Selamat pagi."

Bila tidak mempersilakannya masuk. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan memegang pinggiran kusen, posisi yang dengan jelas mengatakan bahwa ia belum memutuskan apakah ini kunjungan yang akan ia izinkan berlanjut.

"Bagaimana kamu tahu alamat ini?"

"Saya mencarinya."

"Itu bukan jawaban yang membuat saya lebih nyaman."

Harraz mengakui itu dengan anggukan kecil. "Maaf. Saya tidak bermaksud membuat kamu tidak nyaman. Saya hanya perlu bicara sebentar."

"Tentang apa?"

"Tentang sesuatu yang mungkin bisa membantu situasi kamu."

Mata Bila menyempit tipis. "Situasi saya?"

"Ibu kamu. Biaya rawat inap."

Hening sebentar. Bila tidak bergerak. Tapi ada sesuatu yang berubah di wajahnya, bukan lembut, justru lebih waspada.

"Dari mana kamu tahu soal itu?"

"Bukan dari cara yang seharusnya saya ceritakan di depan pintu." Harraz menatapnya langsung. "Kalau kamu mau, saya jelaskan di dalam."

"Saya tidak kenal kamu cukup untuk mempersilakan kamu masuk ke rumah saya."

"Kamu tahu nama saya."

"Nama saja tidak cukup."

Harraz tidak membalas itu karena ia tidak salah. Ia menggeser pandangannya sebentar ke gang di belakangnya, beberapa tetangga sudah mulai melirik dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan, lalu kembali ke Bila.

"Baik. Di depan rumah pun tidak masalah." Ia berbicara dengan nada yang sama, tidak merendah berlebihan tapi juga tidak memaksakan diri. "Saya ingin menawarkan bantuan untuk biaya perawatan ibu kamu. Tanpa syarat yang rumit."

Bila menatapnya lama. Lama sekali. Dengan cara yang membuat kebanyakan orang tidak nyaman tapi Harraz tahan karena ia terbiasa dengan tatapan yang menilai.

"Kenapa?"

Satu kata. Tapi bobotnya berat.

Harraz tidak langsung menjawab. Ia mempertimbangkan jawabannya dengan jujur karena perempuan ini terlihat seperti tipe yang bisa membedakan kejujuran dari basa-basi.

"Karena saya bisa. Dan karena situasi kamu seharusnya bisa dibantu."

"Itu alasan yang terlalu umum dari orang yang datang ke rumah orang yang hampir tidak ia kenal di pagi hari."

"Saya tahu."

"Orang yang menawarkan bantuan tanpa alasan yang jelas selalu punya alasan yang tidak mereka ceritakan."

Harraz menatapnya. "Kamu tidak salah."

Bila mengerutkan dahinya tipis. Ia tidak menduga konfirmasi itu.

"Jadi kamu akui ada alasan lain."

"Saya akui situasinya lebih kompleks dari yang bisa saya jelaskan di depan pintu rumah kamu pagi ini. Tapi bantuan yang saya tawarkan nyata dan tidak ada jebakan di dalamnya."

Bila menghela napas pelan. Ia melepaskan pegangannya pada kusen pintu dan menyilangkan tangannya di depan dada. Posisi yang mengatakan bahwa ia sedang mendengarkan tapi belum memutuskan apapun.

"Berapa?"

"Berapa yang dibutuhkan, itu yang akan ditutup."

"Itu bukan angka."

"Saya tahu. Karena saya tidak mau kamu merasa terbatas pada angka tertentu sementara kebutuhannya mungkin lebih dari yang kamu berani sebutkan."

Bila diam. Harraz melihat sesuatu bergerak di balik matanya, pertimbangan, kewaspadaan, dan di lapisan paling bawah yang ia harus perhatikan dengan seksama, kelelahan yang sudah lama disimpan terlalu rapat.

"Tidak." Bila menurunkan tangannya. Suaranya tenang. "Terima kasih untuk tawarannya. Tapi tidak."

Harraz tidak bergerak. "Bila."

"Kamu bahkan tidak mengenal saya. Saya tidak akan mengambil uang dari orang yang tidak saya kenal dengan alasan yang tidak jelas, tidak peduli seberapa besar kebutuhan saya." Bila menatapnya langsung. Tidak ada getaran di suaranya. "Saya tidak tahu kamu siapa sebenarnya. Saya tidak tahu apa yang kamu inginkan. Dan saya tidak mau berutang kepada orang yang motivasinya tidak saya pahami."

"Ini bukan utang."

"Semua bantuan dari orang asing adalah utang. Mungkin bukan dalam bentuk uang. Tapi selalu ada yang harus dibayar dengan cara lain." Suaranya tidak pahit, hanya seperti orang yang menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia pelajari dari pengalaman. "Saya sudah belajar itu."

Harraz menatapnya. Ada sesuatu dalam jawaban itu yang tidak bisa ia bantah bukan karena ia tidak punya argumen, tapi karena argumennya tidak akan lebih jujur dari apa yang baru saja Bila katakan.

"Baik." Ia mengangguk sekali. "Saya menghargai jawaban kamu."

Bila sedikit terkejut. Mungkin ia mengharapkan lebih banyak perlawanan.

"Maaf sudah datang tanpa pemberitahuan." Harraz berbalik. "Semoga kondisi ibu kamu membaik."

Ia berjalan kembali ke arah mobilnya. Punggungnya tegak, langkahnya tidak terburu-buru. Di belakangnya ia tidak mendengar suara pintu ditutup, yang berarti Bila masih berdiri di sana.

Tapi ia tidak menoleh.

Di dalam mobilnya, Pak Amin tidak bertanya apapun. Sudah cukup lama bekerja untuk mengenal kapan Pak Harraz tidak ingin diganggu.

Harraz duduk dengan punggung bersandar ke kursi dan matanya lurus ke depan.

Ia sudah menduga kemungkinan penolakan. Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk itu. Tapi ada perbedaan antara menduga sebuah jawaban dan benar-benar menerimanya, dan pagi ini ia menemukan bahwa perbedaan itu terasa lebih besar dari yang ia perhitungkan.

Bukan karena egonya terluka. Bukan karena ia tidak terbiasa dengan penolakan dalam konteks bisnis.

Tapi karena alasan yang Bila berikan bukan alasan yang bisa ia patahkan dengan logika apapun. Karena alasan itu benar. Dan kebenaran yang datang dari mulut seseorang dengan cara yang sesederhana dan se-langsung itu jarang sekali ia temui.

"Ke kantor, Pak Amin."

Mobil bergerak.

Di luar jendela, gang sempit itu perlahan hilang dari pandangan.

Harraz meraih ponselnya dan membuka pesan dari tim kantornya yang sudah menumpuk sejak pagi. Ia mulai membalas satu per satu dengan efisiensi yang sudah menjadi sifat keduanya.

Tapi di antara satu balasan dan balasan berikutnya, pikirannya kembali ke wajah Bila yang tidak bergeming. Ke suaranya yang tenang meski menolak sesuatu yang jelas-jelas ia butuhkan.

Ke satu kalimat yang masih terdengar jelas di kepalanya.

Semua bantuan dari orang asing adalah utang.

Harraz menyimpan ponselnya.

Perempuan itu salah dalam satu hal. Tidak semua bantuan adalah utang. Tapi untuk bisa membuktikan itu, ia perlu cara yang berbeda. Pendekatan yang berbeda. Waktu yang mungkin lebih dari satu kunjungan pagi yang tidak direncanakan dengan baik.

Dan Harraz Adriansyah, dalam empat belas tahun menjalankan bisnis, tidak pernah menyerah hanya karena penolakan pertama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience