Completed
183
Rumah itu selalu bersih.
Terlalu bersih, sebenarnya. Bukan karena penghuninya rajin, tapi karena ada tiga orang asisten rumah tangga yang bekerja setiap hari dan tahu persis konsekuensi dari setitik debu yang tertinggal di permukaan marmer putih ruang tamu.
Nadira Khairunnisa berdiri di depan cermin kamar utama lantai dua dan memeriksa riasannya untuk ketiga kalinya pagi itu. Bukan karena ada yang salah. Tapi karena berdiri di depan cermin adalah salah satu dari sedikit hal yang membuatnya merasa punya kendali atas sesuatu.
Kulitnya terawat, rambutnya selalu tersisir sempurna, pakaiannya tidak pernah salah warna. Dunia di luar sana mengenal Nadira sebagai istri Harraz Adriansyah, perempuan yang tampil sempurna di setiap acara, yang tahu cara tersenyum di depan kamera dan cara berbicara di hadapan orang-orang penting.
Dunia di luar sana tidak perlu tahu hal lain.
Ponselnya bergetar di meja rias. Nama yang muncul membuat sudut bibirnya sedikit mengencang.
Mama.
Ia mengangkatnya.
"Harraz sudah pulang kemarin. Kamu tahu?"
"Tahu, Ma."
"Kamu tidak jemput?"
"Dia tidak minta dijemput."
Suara di seberang sana menghela napas dengan cara yang sudah sangat Nadira hafal. Cara yang artinya kamu seharusnya lebih berusaha dan kamu tidak cukup baik sebagai istri dan apa yang orang lain pikirkan tentang kita.
"Nadira, pernikahan itu perlu dijaga. Bukan dibiarkan jalan sendiri."
"Iya, Ma."
"Jangan iya saja. Harraz itu pria yang sibuk. Kamu harus hadir. Harus kelihatan. Jangan sampai dia merasa tidak diperhatikan di rumah sendiri."
Nadira menatap bayangannya di cermin. Perempuan di sana menatap balik dengan ekspresi yang datar.
"Baik, Ma. Nanti Nadira perhatikan."
Sambungan ditutup. Nadira meletakkan ponselnya dan kembali menatap cermin.
Dijaga. Kata ibunya pernikahan itu perlu dijaga. Seolah pernikahan adalah tanaman yang cukup disiram dan diberi pupuk lalu akan tumbuh dengan sendirinya. Seolah masalahnya sesederhana itu.
Nadira tahu persis kapan pernikahannya dengan Harraz mulai retak. Bukan satu peristiwa besar. Bukan satu pertengkaran hebat yang meninggalkan bekas. Keretakan itu datang pelan-pelan, seperti air yang merembes melalui celah kecil dan tidak terasa sampai suatu hari lantainya sudah basah seluruhnya.
Tahun pertama mereka masih baik. Atau setidaknya masih bisa disebut berusaha. Harraz bukan tipe yang romantis, tidak pernah, tapi ia hadir. Masih ada percakapan di meja makan. Masih ada sesekali mereka pergi bersama bukan karena ada acara keluarga yang mengharuskan.
Tahun kedua mulai ada jarak. Pekerjaannya makin menyita, Harraz makin sering tidak pulang, dan Nadira yang menunggu lama-lama berhenti menunggu.
Tahun ketiga, Nadira hamil untuk pertama kali.
Ia ingat betul malam itu. Ia duduk di tepi bathtub dengan dua garis di alat tes kehamilan di tangannya. Ia menangis, tapi bukan karena sedih. Untuk pertama kali dalam waktu yang lama, ia merasa ada sesuatu yang nyata. Sesuatu yang miliknya. Sesuatu yang tidak bisa diatur oleh ibunya, tidak bisa diukur oleh keluarga Harraz, tidak bisa dinilai oleh siapapun.
Ia kandas di minggu kesepuluh.
Harraz ada di luar kota waktu itu. Nadira pergi ke rumah sakit sendiri, pulang sendiri, dan malam itu berbaring di kamarnya sendiri dengan rasa sakit yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun karena semua orang terlalu sibuk dengan duka versi mereka sendiri untuk mendengar duka versinya.
Keguguran kedua datang enam bulan kemudian. Keguguran ketiga setahun setelah itu.
Dokter bilang kondisinya bisa diperbaiki dengan penanganan yang tepat. Bukan tidak mungkin. Perlu waktu, perlu ketenangan, perlu dukungan.
Tapi siapa yang akan memberikan ketenangan itu, dan dari mana ia harus mendapatkan dukungan itu, dokter tidak memberitahu.
Setelah keguguran ketiga, sesuatu dalam diri Nadira menutup rapat. Bukan karena ia menyerah. Tapi karena membuka diri terlalu lama untuk sesuatu yang terus-menerus diambil terasa jauh lebih menyakitkan daripada tidak membuka diri sama sekali.
Ia berhenti mencoba.
Harraz tidak bertanya kenapa.
Dan keheningan itu menjawab segalanya.
Pagi itu Nadira turun ke ruang makan seperti biasa. Jam setengah delapan. Harraz sudah duduk di sana dengan kopi dan laptopnya, matanya di layar, jarinya mengetik.
Mereka tidak langsung berbicara. Itu bukan hal aneh. Asisten meletakkan sarapan Nadira di depannya dan ia mulai makan dengan tertib.
"Kamu ada acara malam ini?" tanya Harraz akhirnya, tanpa mengalihkan matanya dari layar.
"Ada gathering kantor."
Harraz mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut. Nadira juga tidak menjelaskan lebih lanjut.
Begitulah cara mereka berbicara sekarang. Informasi tanpa percakapan. Kalimat-kalimat pendek yang cukup untuk membuktikan bahwa mereka masih saling menyadari keberadaan satu sama lain.
Nadira mengangkat cangkir tehnya dan menatap ke arah taman yang terlihat dari jendela ruang makan. Rumput hijau yang rapi, pohon kecil yang dipangkas berbentuk bulat, kolam ikan yang jernih.
Semua terlihat sempurna dari jauh.
Harraz menutup laptopnya dan berdiri. Ia mengambil jasnya dari sandaran kursi. Sebelum pergi, ia berhenti sebentar.
"Kamu baik-baik saja?"
Nadira menoleh. Pertanyaan itu terdengar asing dari mulutnya. Atau mungkin bukan asingnya yang membuat Nadira sedikit terdiam, tapi caranya bertanya. Ada sesuatu yang berbeda. Semacam perhatian yang tidak biasa, seperti orang yang baru kembali dari perjalanan jauh dan melihat segalanya dengan mata yang sedikit berbeda.
"Baik." Nadira tersenyum tipis. "Kamu?"
Harraz menatapnya sebentar. "Baik."
Lalu ia pergi.
Nadira mendengar suara pintu depan tertutup. Suara mobil yang menjauh. Lalu sunyi.
Ia meletakkan cangkirnya. Menatap teh yang tinggal setengah.
Ia tahu pernikahannya sudah lama tidak bisa disebut pernikahan yang sesungguhnya. Ia tahu ada hal-hal yang hilang dan tidak akan kembali. Ia tahu semua itu dengan sangat jelas, lebih jelas dari yang bisa ia ucapkan kepada ibunya, kepada siapapun.
Yang tidak ia tahu adalah apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ibu Harraz sudah dua kali meneleponnya dalam sebulan terakhir. Pembicaraan yang terasa normal di permukaan tapi menyimpan sesuatu di bawahnya. Pertanyaan-pertanyaan kecil yang berkumpul menjadi satu arah yang Nadira mulai bisa tebak.
Perempuan tua itu sedang mempersiapkan sesuatu.
Nadira tidak tahu apa. Belum.
Tapi ia sudah memutuskan satu hal sejak lama, jauh sebelum Harraz pulang dari Singapura, jauh sebelum ibu mertuanya mulai bertanya dengan nada yang terlalu hati-hati.
Apapun yang akan terjadi selanjutnya, Nadira tidak akan menangis lagi.
Ia sudah terlalu banyak menangis untuk hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Cukup. Kalau hidup mau membawanya ke persimpangan yang tidak ia pilih, ia akan berdiri di sana dengan kepala tegak.
Ia menghabiskan tehnya yang sudah dingin.
Lalu memanggil asisten untuk membereskan meja.
Hari ini masih panjang. Dan Nadira Khairunnisa tidak punya waktu untuk duduk terlalu lama dalam keheningan yang tidak menghasilkan apa-apa.
Share this novel