5_Nama

Drama Series 42375

Diruang tamu kondominium milik Adam itu, Arin yang dipaksa duduk oleh Adam buatnya bertambah jengah dan hal itu juga buat Arin tak henti-henti menatap pada wajah Adam.

"Kenapa memandangku seperti itu? Apa kau tidak pernah nampak pria ganteng kayak aku? Hah?" Hampir saja Arin tertawa mendengar Adam yang terlalu percaya diri.Pria itu yang benar saja? 

"Ya..kalau dibilang ganteng, ya cukup ganteng.Tapi sayang deh, sikap Bapak pula..ya ampun. Galak amat."

"Heii ! Jangan panggil aku Bapak.Mau aku robek ya mulutmu? Sembarangan aja." Begitulah cara Adam bicara ketus yang tak suka dirnya digelar Bapak. 

"Pak, jujur saya nggak tau namanya Bapak siapa? Yang saya tahu, Bapak anaknya Pak Wira kan? Nama Bapak siapa?"

Lama Adam memandang Arin.Kini dia tidak tahu apa yang harus ia simpulkan terhadap sikapnya Arin yang ternyata polos dan bar-bar dimata Adam.

"Nama saya Arin Anastasya.Kalau Bapak sendiri,namanya siapa?" Seraya menghulurkan tangannya pada Adam tanda dia ingin kenalan.

"Turunkan tanganmu.Panggil saja Adam."

Terbit sebuah senyum dibibir Arin bila Adam sudi memberi tahu namanya. Sekurang- kurangnya, Arin tidak lagi dimarahi seenaknya jildat oleh Adam hanya kerana memanggilnya sebutan Bapak.

"Kenapa membawa saya ke sini? Ini rumahmu ya?" Tanya Arin to the point pada Adam.

Adam juga tidak tahu sebenarnya mengapa ia membawa Arin masuk ke kondominiumnya. Tiada motif apa pun.Mungkin kerana dirinya yang terlalu marahkan Arin sampai sedar tak sedar kalau ia telah mengheret paksa Arin.

"Saya bertanya ni, kenapa membawa saya ke sini?" Tanya Arin sekali lagi.

"Kau mau pulang ya?" Tanya Adam pula pada Arin.

"Ya, Saya mau izin pamit pulang sekarang, boleh ya?" Arin berharap semoga Adam memberinya izin untuk pulang.Lagi pula apa juga urusan untuknya terus berada didepan pria ketus ini. 

"Kau benaran ingin pulang? Oh iya! Bukankah kau ingin terima lamarannya Pak Satya?" Ucap Adam ketus pada Arin.Tanpa dia tahu kalau Arin berkata bohong semata. 

Sebenarnya, Arin juga tidak tahu Pak Satya itu siapa,? Ketika dipejabat, masa dia berdebat dengan Adam, dia cuma mereka cerita saking dirinya yang telah direndahkan oleh Adam.

"Ah iya..kerana saya nggak punya kerjaan sudah, mendingan lebih baik langsung kahwin aja sementara masih ada yang ngelamar."

Terpaksa Arin teruskan saja sandiwara yang ia mulakan demi untuk keluar dari kondominium milik Adam tersebut.

"Adam, Kau butuh art ya? Saya boleh bersihin semua ruang kondominium ini? Kondominium ini pasti milik kamu kan?" Adam jadi geleng kepala. Ternyata Arin tidak punya rasa malu selain sikapnya yang bar-bar itu. 

"Aku tidak butuh art. Lagi pula kondominium ini jarang sekali aku tempati.Tambah lagi aku nggak mau ada pembantu yang kurang sopan kayak kamu." Ada sedikit rasa sakit hati yang singgah dihatinya Arin setelah mendengar ucapan dari Adam. 

"Nggak apa-apa kalau Adam tidak memberi saya kesempatan buat kerja disini. Ya sudah kalau gitu.Saya pamit pergi."

Arin lalu bangkit dari duduknya.Jujur saja kalau hatinya kecewa kerana Adam tak terima ia bekerja.Ssdangkan ia butuh kerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri.

"Eh ! Tunggu dulu? Aku belum habis ngomong sama kamu, kenapa kau malah pergi?"

Langkah kaki Arin terhenti.Dia menoleh ke arah belakang.Ditatapnya pria yang bukan siapa-siapa padanya itu.Senyum getir penuh hambar terbit dibibir Arin.

"Saya rasa tiada apa yang patut di omongin lagi." Kata Arin lalu meneruskan langkah longlainya meninggalkan Adam sendirian.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience