Series
42375
"Okey deal ! Saya setuju jadi pacar pura-pura kamu.Tapi
ada syaratnya?" Ucap Arin.
"Katakan saja.." Sahut Adam tak sabar ingin tahu syarat apapun yang bakal diajukan oleh Arin.
"Suatu hari nanti, saya akan meminta bantuan dari kamu.Tapi saya tidak akan beritahu sekarang apa syaratnya.Apa kamu setuju?" Kata-kata Arin itu sedikit pun tidak buat Adam gentar atau bimbang walau ia belum ketahui apa syarat itu.
"Setuju ! Apa pun syaratnya, aku pasti akan membantumu.Dan thanks ya, udah jadi pacar pura-pura ku.Lagi dua minggu kita akan ke mansion utama.Aku akan kenalkan kamu pada kedua orang tuaku."
Wajah Adam..tak tergambarkan bagaimana senang dan gembiranya hatinya saat ini.Namun kegembiraannya tidak ternyata cuma itu.Ada lagi hal lain yang buat ia senang tak keruan.Membayangkan betapa cantik dan anggunnya Arin nanti saat ia akan didandan di salon, Adam jadi senyum sendiri seperti orang yang dah tak betul.Arin yang melihatnya hanya tergeleng-geleng.
Hari ini adalah hari ke empat belas dimana selepas kata sepakat Adam dan Arin.Dan saat inilah juga adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Adam.Debaran jantung Adam sangat hebat berdetak.Rasa penasaran dihatinya melihat Arin dengan penampilan barunya sebentar saja lagi itu terkesan mengganggu kesenterasian dirinya.Apalagi memang ia tak pernah melihat Arin dengan ada riasan diwajahnya.
'Pak Adam, kok malah benggong..lihatlah Mbak ini cantiknya alami ternyata?" Ucapnya MUA di salon tersebut.
"Iya sih! Cantik amat.Kalau gini aku bisa gawat nih!"
Katanya Adam kelepasan cakap.
"Gawat apaan sih Pak?" Tanya MUA itu.
'Aduh! Aku keceplosan lagi.Semoga aja Arin nggak kedengaran..' Batin Adam yang masih lagi hanyut dalam pandangan matanya yang tak teralihkan lagi pada wajah cantik Arin.
Dengan gaun separas lutut, warna ungu muda dengan tali halus yang di ikat ke belakang pinggang Arin hingga menampakkan lekuk tubuh yang ramping itu buat Adam hampir tak berkedip.Rambut terurai panjang yang digulung ikal nampak sangat perubahan pada diri Arin. 'Make Up' nipis pada wajah Arin itu ketara sekali
jika wajah nan cantik tersebut adalah seorang gadis melayu.Cantik..Itulah yang sedang ada dalam kepala otak Adam.
"Arin..Kau cantik sekali...Aku ikhlas katakannya."
Akhirnya lolos juga kata pujian dari mulut Adam buat Arin.
"Thanks...Tapi kamu juga apa kurangnya ganteng menurut saya.." Sahut Arin dengan berbisik ditelinganya Adam.Jangan ditanyakan pada jantung Adam saat ini yang bagai nak meletup gara-gara pujian dari Arin itu.
Keheningan tercipta ketika keduanya sedang berada didalam kenderaannya Adam.Sedang keduanya menuju ke mansion utamanya keluarga besarnya Adam, Arin sungguh tak selesa kerana tiada apa-apa yang dibicarakan diantara mereka.Dan kerana itu, Arin cuba
bersuara terlebih dahulu sebagai kata pembuka bicara.
"Adam...boleh saya beritahu ke kamu sekarang tentang syarat yang saya minta dari kamu itu?" Adam menoleh sekilas pada Arin yang duduk disampingnya itu.
"Ya, bilang aja terus..aku siap kok mendengarnya."
Sahut Adam.
"Nanti kapan-kapan kamu ada waktu luang, bisa nggak temani saya mencari seseorang?" Sekali lagi Adam menoleh ke arah Arin.
"Seseorang maksud kamu siapa? Apa dia terlalu penting buat kamu?" Tanya Adam meminta kepastian dari Arin.
"Sebenarnya saya ke negara ini untuk mencari keberadaan ibu kandung yang sejak kecil tak pernah pun ketemuan dengannya.Tapi..saya akan ceritakan soal ini setelah selesai urusan kita ke ayahmu."
"Apa ibumu aslinya Indonesia?" Tanya Adam pada Arin.
"Hmm.Kamu benar.Ibu saya asal dari negara ini."
"Pantas saja cantik kamu ada sedikit lain.Ternyata kamu mix Indo dan juga Malaysia." Jujur Adam mengatakan itu.Dan Arin pula hanya tersipu malu pada kata pujian dari Adam.
Setibanya mereka di mansion utama milik keluarga Adam tersebut, kedatangan mereka disambut oleh ibu dan ayahnya Adam diluar mansion tersebut.
Dan hal itu buat Arin berasa gugup.Tak pernah pun hal sebegini terjadi pada diri Arin selama hidupnya.
Perlahan Adam menggenggam erat tangan Arin.Tautan tangan dari Adam itu buat Arin bagai terkena renjatan elektrik.Mana pernah Arin berpegangan tangan dengan
seorang lawan jenis.Ada satu perasaan aneh yang tiba-tba menyelinap direlung hatinya Arin.
Nampak seperti pasangan ideal Adam dan Arin, langkah kaki mereka terhenti jua tepat dihadapannya kedua orang tuanya Adam.Mereka sama-sama mencium punggung tangan ayah dan ibu Adam.
Dan siapa sangka? Kalau ternyata Arin tidak salah dalam menyetujui permintaan Adam.Dengan Arin memanfaatkan Adam dengan menyetujui idea gila
Adam tersebut.Sebagai kata setuju Arin, Arin juga meminta Adam untuk membantunya mencari keberadaan ibu kandungnya.Tapi siapa sangka Ternyata dunia itu kecil...
Arin tak terkata saat ia melihat dengan jelas bahawa yang sedang berdiri dihadapannya kini mirip sangat dengan ibu kandung yang dicari-carinya selama ini.
'Apakah wanita ini ibu Laras?' Batinnya Arin dalam hati..
Mata Arin hampir terbeliak luas.Kerana terkejut pada Adam yang mengucup dahinya tiba-tiba dihadapan kedua orang tuanya.
Share this novel