Series
42375
"Argh ! Bodoh ! Kau kemana Arin ? Kau buatku gila sendirian disini.. " Adam melemparkan fail - fail yang ada diatas meja kerjanya. Sepulangnya Adam dari luar kota buat dirinya tak tentu fikiran. Diri juga tak terurus.
Baru dua hari ditinggalkan tanpa pesan oleh Arin. Salah siapa ?
"Adam.. Kok kau disini ? Wajahmu kenapa cemberut kayak gitu ?" Tanya Arin pada Adam yang sedang bersandar disofa. Gambaran raut wajah Adam terpancar bersinar saat orang yang dicari - carinya itu nyata berdiri tepat depan matanya
Langsung Adam mendapatkan Arin. Segera memeluk tubuh yang buatnya dirinya tak ketentuan. Rindu ! Satu kata yang buat dirinya galau. Gundah.
"Kau kemana saja Arin ? Aku hampir gila kamu tau nggak ! Jangan ninggalin aku kayak gini lagi.. " Ucap Adam.
"Aku ketemu sama papaku untuk minta restui hubungan kita. Mana mungkin aku pergi gitu aja sedang aku tidak suci lagi. Apa kau ingat ada cowok diluar sana yang akan menginginkan aku lagi ? Setelah kau rampas semua yang berharga padaku ?"
"Aku minta maaf kok sayang.. Iya aku lagi takut kehilanganmu makanya aku sengaja lakuin itu. Jadi selama hampir tiga hari ini kau pulang ke Malaysia ?"
Tanya Adam.
"Adam.. aku ceritakan pada Papaku kalau kau sudah meniduriku. Papa kata never mind saja. Dan Papa jugak nggak apa - apa kok kalau kita nikah diam - diam. Papa mau saja jadi waliku, tapi jangan bilang dulu pada keluargamu. Ya mungkin kali Papa nggak mau berurusan dulu sama keluargamu. Lagian, aku sudah ceritakan pada Papa tentang ibu Laras. "
"Jadi Papamu nggak kenapa - napakan ? Apa Papamu nggak shock bila tahu ibu Laras punya suami sudah ?"
Arin melebarkan senyumnya. Ternyata Adam merisaukan juga keadaan ayahnya.
"Papaku baik - baik saja Dam. Kita punya kejutan besar.. Menikahlah denganku jika kau benar sayang padaku.. Apa kau sudah siap ?" Tanya Arin tiada aba - abanya. Ini tidak lucu. Dan ini juga terdengar konyol bila sang wanita melamar walaupun bukan perigi cari timba.
"Nggak perlu melamarku Arin, sedangkan bagiku, kau adalah suri hatiku. Jika kau menolak sekali pun lamaranku, aku bersumpah akan jadikan kau simpanan ku dan kapan pun kau bakalan nggak punya masa depan bersama mana - mana lelaki.. " Ucap Adam penuh percaya diri.
"Owh ! ternyata itu yang kau fikirkan. Aku sedar sampai kapan pun aku akan terikat denganmu. Ya.. jadi simpananmu selamanya. Sebab.. kita hanya nikah siri."
Terang Arin.
kerutan menempel didahinya Adam. Apa maksudnya Arin nikah siri ?
"Apa katamu ? Nikah siri ? Kau gila apa ya Arin.. bisa - bisa ngomong gitu ke aku ?" Adam protes tak terima.
"Nikah senyap - semyap adalah pilihan utamaku. So..
jangan nak karut semacam ! Kau nak keruhkah lagi
keadaan kita ? Kau nak berurusan dengan nenakku yang galak itu ?"
"Apa nenekmu seseram gimana sih sampai kau sanggup nikah siri denganku ?" Tanya Adam selidik.
"Jangan sampai pisang berbuah dua kali ? Ibu Laras dulu kan dipaksa cerai sama Papa oleh nenek. Apa kau rasa nenekku akan melepaskan kita berdua jika tahu kita udah nikah ? Apalagi jika nenek tahu kau itu anak tirinya Ibu Laras.. " Arin menghela nafas.
"Ya udah ! Nggak usah diterusin ngomongnya. Aku ngerti kok jalan ceritanya walau tidak sepenuhnya.
Kapan sayang kita nikah ? Aku kayak nggak sabar nih maunya peluk sama kamu aja.. " Tanya Adam.
"Kita akan nikah di Malaysia. Kan Papa duduknya cuma dikerusi doang.. jadi kita selesaikan disana aja. Kasihan sama Papa.. "
"Iya sayang. Nikah cepat aku lagi semangat. Sumpah demi apa pun, aku cintanya sama kamu aja.. "
"Thank's Adam.. "
"Sayang.. apa banglo ini rumahmu ? Gede ya ! Kayak kamu lagi kaya lho ternyata dan mewah dari keluargaku"
Share this novel