Series
42375
'Eh! Wanita ini..nampak macam seperti kenal..Tapi..'
Kata Arin tanpa perasan wajah itu hampir saja
mirip seperti wajahnya.
Arin melihat wanita itu dimall sebenarnya.Saat dia berbelanja barangan dapur untuk keperluan dirumahnya Adam.
Benar-benar tidak asing dimatanya Arin.Mencuba membuang bayangan kelibat wanita separuh baya tersebut, itu tidaklah semudah yang difikirkan oleh Arin.
Malah semakin bayangan itu menghantui.
'Apakah ini adalah petanda aku akan bertemu dengan ibuku tidak lama lagi? Mudah-mudahan secepatnya aku menemukanmu ibu..kasihan Papa yang kehilangan semangatnya kerana terlalu merinduimu.." Kata Arin dalam hatinya lagi sambil mengusap hujung sudut matanya yang sempat basah.
Selesai membeli belanjaan dapur langsung saja Arin pulang ke rumah dengan menaiki teksi online.
Adam tidak tahu sebenarnya kalau Arin keluar belanja.
Mungkin kalau Adam maklum, dia akan menemani Arin.
'Kenapa Adam datang kesini? Aku jadi aneh dengan si Adam ni..katanya seminggu sekali datang.Baru je kemarin dari sini..' Arin bergumam dalam hati setelah nampak kenderaan milik Adam terpakir kemas depan kondominium.
Arin mula melangkah masuk ke dalam kondiminium mewah itu.Selangkah demi selangkah Arin menuju ke dapur tempat tujuan utamanya untuk menyimpan barang belanjaannya tadi.
"Kamu belanja ternyata.Kenapa nggak bilang aja ke aku? Aku temanin dong.Lagian kamu punya uang buat beli semuanya ini?" Tanya Adam.
"Nggak apa-apa sih! Lagian semua ini kebutuhan buat makan minum saya selama tinggal disini." Sahut Arin.
"Tapi itukan tidak termasuk dalam etika kerjaanmu. Biarin aja kali.Nanti gajian aku tambahkan saja ke
basimu." Arin tersenyum bahagia.Rupanya sisi baik Adam tak berkira sangat.
Lain pula jadinya pada diri Adam.Melihat senyuman manis Arin, dia jadi salah tingkah.
'Cantik amat sih! Manis ternyata senyumnya..' Batinnya
Adam berkata sendiri.
"Adam, kamu ada apa hal datang sini? Maaf kalau saya lancang.Bukannya kamu bilang kalau kamu cuma mampir ke sini satu kali dalam seminggu?" Tanya Arin basa basi.
"Hah! Hmm...Nggak aku..aku sebenarnya kabur dari ayahku.Ya, aku binggung deh! Terus aja di omelin nyuruh aku bawain calon isteri dalam dua minggu ni..kalau nggak, aku bakalan dijodohin sama anak teman lama ayahku." Arin ternganga mendengar ucapan dari Adam itu.
"Pasti seru ya Dam kisah kamu? Ya bawa aja girlfriend kamu buat dikenalin sama ayahmu?" Ucap Arin selamba.
"Emang gampang gitu? Cewekku lagi diluar negara lho.
Lagian..mana mungkin ayahku bakal terima cewekku yang..."
"Cewek bule?" Potong Arin.Adam menghela nafas. Sejenak ia berfikir siapa tahu kalau ada idea muncul untuknya lepas dari masalahnya.
"Bantuin dong? Jadi cewek pura-pura sementara?"
Mata Arin terbeliak luas.Terkejut atas permintaan dari Adam tersebut.
"Idea gila kamu ya? Kamu ingat ayahmu itu nggak kenal
sama saya..udah satu tahun lho Adam saya kerja diperusahaannya ayahmu." Kata Arin tidak setuju.
"Aku bayar kok! Asal kamu mau pacaran pura-pura sama aku? Bantuin dong Arin.Aku akan mengubah penampilanmu biar ayah nggak perasaan kalau itu kamu.." Pinta Adam.
"Bagi saya waktu tiga hari untuk berfikir.Tidak mudah lho Adam..akting didepan orang tua.Jadi pacar
pura-pura itu harus perannya seperti benaran.Ah! Nggak mau ah!" Tekan Arin.
"Okey! Aku akan berimu waktu untuk berfikir.Aku mohon jangan hampakan permintaanku?" Benar-benar Adam memohon.
"Kamu umurnya sekarang berapa ya Dam? Kok kamu bukan baru pulang ya dari luar negara habis kuliah? Malah dijodohin." Arin penasaran pada jalan cerita kehidupannya Adam.Jadi dia bertanya langsung saja.
"Begini, aku sebenarnya udah siap kuliah satu tahun yang lalu.Biasalah anak muda..aku rest dulu dalam setahun itu sebelum ayah serahkan tugasnya diperusahaan itu padaku.Aku sudah berumur 27 tahun lho Arin.." Begitulah sedikit penerangan Adam serba sedikit tentang dirinya.
"Oh sama ternyata ya umur kita.Saya juga 27 tahun sekarang." Kata Arin tanpa ditanya oleh Adam.
"Wah! Bagus lho Arin.Siapa tahu kalau kita benaran berjodoh nanti?" Ucap Adam santai.
Seketika senyum dibibir Arin memudar.Dia sama sekali tidak menduga kalau Adam berkata seenaknya sahaja.
Arin jadi kahwatir.Permintaan Adam itu buat hatinya gundah.Takut nanti kalau dia setuju pada idea gila Adam itu, dari kekasih pura-pura bakal jadi sungguhan.
Arin menarik nafasnya dalam-dalam.Sangat sulit untuknya buat keputusan..
Arin memanfaatkan Adam dengan menyetujui idea gila Adam tersebut.Sebagai kata setuju Arin, Arin juga meminta Adam untuk membantunya mencari keberadaan ibu kandungnya.Tapi siapa sangka? Ternyata dunia itu kecil...
Share this novel