Chapter 9

Thriller Series 12

Kacang di piring kecil itu berkurang tiga biji sejak Yanto duduk.

Bukan karena dia memakannya — dia tidak ingat memakan satupun. Tapi tangan punya kebiasaan sendiri di situasi tertentu, kebiasaan yang tidak perlu laporan ke otak untuk dijalankan, dan malam ini tangan Yanto rupanya memutuskan bahwa kacang adalah sesuatu yang perlu dipegang sambil mendengarkan hal-hal yang tidak seharusnya disampaikan di ruangan dengan taplak hijau dan rumbai.

Di depannya, dokumen bertajuk PETA KEPENTINGAN WILAYAH RT 06 DAN SEKITARNYA — [VERSI YANG BISA DITUNJUKKAN] terbuka di halaman dua.

Halaman dua berisi peta.

Peta yang, kalau dilihat sekilas, terlihat seperti peta desa biasa — jalan, blok, sawah, sungai, balai desa. Tapi kalau dilihat lebih lama, ada sesuatu yang tidak beres. Bukan karena ada yang salah digambar. Justru sebaliknya.

Terlalu banyak yang benar.

Detail-detail yang tidak seharusnya ada di peta desa biasa. Pergerakan. Titik-titik yang ditandai bukan dengan nama tempat tapi dengan tanggal. Garis-garis yang menghubungkan titik satu ke titik lain dengan cara yang bukan jalan — tapi pola.

Yanto menatap peta itu.

Peta itu terasa seperti menatap balik.

 

"Kau perhatikan sesuatu?" tanya pria batik biru.

"Blok D," kata Yanto.

Tidak ada yang bergerak di meja itu.

Tapi ada perubahan kualitas udara — perubahan kecil, seperti tekanan yang naik satu angka tanpa ada yang menyentuh pengaturannya.

"Kau sudah ke sana," kata pria batik biru. Bukan pertanyaan.

"Belum."

"Tapi kau tahu."

"Admin bilang jangan datang."

"Dan?"

"Aku belum datang."

Pria batik coklat berhenti menulis. Pertama kalinya sejak Yanto masuk. Dia menatap Yanto dengan cara berbeda — cara orang yang baru saja merevisi penilaian awalnya tentang seseorang dan belum memutuskan apakah revisi itu baik atau buruk.

"Admin jarang kirim pesan langsung," kata perempuan batik merah marun dari ujung meja.

"Tahu," kata Yanto.

"Artinya kau dianggap cukup penting untuk diperingatkan secara personal."

"Atau cukup berbahaya untuk perlu dicegah."

Perempuan itu menatapnya sebentar. Lalu, untuk pertama kalinya malam ini, sesuatu yang menyerupai senyum muncul di sudut bibirnya — bukan senyum hangat, tapi senyum orang yang menemukan bahwa lawan bicaranya lebih menarik dari yang diantisipasi.

"Keduanya tidak saling mengecualikan," katanya.

 

Pria batik biru membuka halaman berikutnya.

Halaman tiga bukan peta. Halaman tiga adalah daftar. Nama-nama, tanggal, dan di sebelah setiap nama — satu kata dalam kurung yang formatnya konsisten tapi isinya berbeda-beda.

(Pindah.)

(Diam.)

(Tidak diketahui.)

(Kembali.)

Dan satu, di baris ketiga belas dari bawah, yang berbeda dari semua yang lain:

(Masih di sana.)

Yanto membaca baris itu dua kali.

"Masih di sana," ulangnya pelan. "Di mana?"

"Blok D," kata pria batik biru.

"Siapa?"

Pria batik biru menutup dokumen.

Dengan cara yang menunjukkan bahwa pertanyaan itu valid tapi jawabannya ada di versi lain — versi yang tidak bisa ditunjukkan malam ini, di ruangan ini, dengan tingkat kepercayaan yang belum cukup dibangun antara orang yang baru saja menandatangani formulir kehadiran di atas materai sepuluh ribu dan orang-orang yang sudah menyimpan peta ini lebih lama dari yang mau mereka akui.

"Itu," kata pria batik biru, "ada di dokumen yang tidak bisa kami tunjukkan dulu."

Yanto menaruh kacang yang dipegangnya kembali ke piring.

"Berapa lama sampai bisa ditunjukkan?"

"Tergantung."

"Pada apa?"

"Pada seberapa lama kau bisa tidak ke Blok D."

Yanto menatapnya.

"Itu bukan jawaban."

"Itu satu-satunya jawaban yang bisa kami berikan malam ini."

 

Dari sudut ruangan, kursi itu masih ada.

Masih hadap ke jendela.

Yanto sudah melihatnya sejak masuk. Sudah mencatatnya. Sudah memutuskan untuk tidak bertanya — karena di ruangan ini, pertanyaan yang dijawab adalah pertanyaan yang mereka izinkan dijawab, dan kursi di sudut itu jelas bukan sesuatu yang masuk dalam kategori tersebut.

Tapi kemudian salah satu orang di meja — pria paling kiri, yang sejak tadi tidak bicara sama sekali, yang bahkan Yanto hampir lupa keberadaannya karena cara duduknya yang tidak meminta diperhatikan — menoleh ke arah sudut itu.

Sebentar saja.

Lalu kembali menatap ke depan.

Yanto mencatat ini.

 

"Insiden Dispenser 98," kata Yanto.

Kali ini bukan perubahan tekanan kecil.

Kali ini seluruh meja berubah dalam satu detik — dengan cara yang tidak bisa dijelaskan secara fisik tapi bisa dirasakan secara akurat oleh siapapun yang punya kepekaan terhadap ruangan. Seperti suhu turun dua derajat. Seperti lampu yang tidak berkedip tapi terasa lebih redup.

Pria batik coklat meletakkan pulpennya.

Di atas meja. Rapi. Dengan presisi orang yang butuh sesuatu untuk dilakukan oleh tangannya supaya tidak melakukan hal lain.

Perempuan batik merah marun menatap Yanto dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya.

Pria paling kiri yang tidak pernah bicara — berbicara untuk pertama kalinya.

"Dari mana kau dengar itu?"

Suaranya datar. Tapi berat. Dengan kualitas suara orang yang mengajukan pertanyaan bukan karena tidak tahu jawabannya — tapi karena perlu tahu seberapa banyak yang diketahui orang di depannya.

"Disebutkan," kata Yanto.

"Oleh siapa?"

"Seseorang."

"Seseorang yang mana?"

Yanto tidak menjawab.

Dan ketidakjawabanya itu — dengan cara yang hanya bisa terjadi di ruangan dengan taplak hijau dan rumbai dan kacang di tengah meja — menjadi jawaban yang lebih informatif dari jawaban apapun yang mungkin dia berikan.

Pria paling kiri dan pria batik biru bertukar tatapan.

Satu detik. Tidak lebih.

Tapi satu detik yang mengandung percakapan penuh yang tidak perlu diucapkan karena sudah terlalu sering dilakukan sampai matanya hafal bahasanya.

 

"Dispenser itu," kata pria batik biru akhirnya, dengan nada seseorang yang memilih kata-katanya dengan cara yang sama seperti orang memilih pijakan di permukaan yang tidak sepenuhnya bisa dipercaya, "sudah tidak beroperasi sejak 98."

"Tapi masih menyala," kata Yanto.

"Kadang-kadang.

'Padahal kabelnya dicabut."

"Kami tahu."

"Dan kalian biarkan."

"Kami..." Pria batik biru berhenti. Memilih kata yang tersisa dengan lebih hati-hati lagi. "...sudah tidak lagi menganggap itu sebagai sesuatu yang perlu diselesaikan."

"Karena tidak bisa diselesaikan."

"Karena menyelesaikannya membutuhkan pemahaman tentang mengapa itu terjadi. Dan pemahaman itu..."

"Ada di dokumen yang tidak bisa ditunjukkan," kata Yanto.

Pria batik biru menatapnya.

"Kau cepat," katanya.

'Bukan cepat," kata Yanto. "Polanya konsisten."

 

Perempuan batik merah marun meletakkan tangannya di atas meja — datar, seperti tadi, seperti orang yang meletakkan kartu tapi kali ini dengan bobot yang berbeda.

"Yanto," katanya, untuk pertama kalinya menyebut namanya langsung. "Apa yang kau cari di sini?"

Bukan di balai desa. Bukan di pertemuan ini.

Di sini — dengan intonasi yang mencakup sesuatu yang lebih luas dari ruangan ini.

Yanto menatapnya.

Pertanyaan yang jujur layak mendapat pertimbangan yang jujur. Dia mempertimbangkannya selama beberapa detik — bukan untuk mencari jawaban yang aman, tapi untuk mencari jawaban yang akurat.

"Aku tidak yakin," katanya akhirnya. "Tapi sepertinya sesuatu yang hilang sudah lama."

"Milikmu?"

"Belum tahu. Mungkin milik semua orang. Mungkin tidak milik siapapun."

Perempuan itu menatapnya lama.

"Jawaban yang jujur," katanya pelan.

"Satu-satunya jenis jawaban yang bisa aku berikan malam ini."

Sudut bibirnya bergerak lagi — senyum yang sama seperti tadi. Tapi kali ini sedikit lebih dalam.

"Bagus," katanya. "Simpan kejujuran itu. Kau akan butuh itu lebih dari apapun yang ada di dokumen kami."

 

Pria batik biru menutup semua map di depannya. Satu per satu. Dengan gerakan yang menandakan bahwa bagian resmi dari pertemuan ini sudah selesai — dan apa yang tersisa adalah sesuatu yang tidak masuk dalam agenda tertulis.

"Ada satu hal lagi," katanya.

"Setelah rapat ini, kau akan ditanya-tanya. Oleh orang-orang yang ingin tahu apa yang kita bicarakan."

"Kang Sawit," kata Yanto.

"Dan yang lain."

"Apa yang harus aku jawab?

Pria batik biru menatapnya dengan ekspresi orang yang sudah menjawab pertanyaan ini berkali-kali dalam hidupnya dan setiap kali jawabannya sama karena tidak ada jawaban lain yang lebih baik.

"Katakan yang sebenarnya," katanya. "Bahwa kami menyajikan kacang. Dan air mineral gelas. Dan membahas hal-hal yang tidak bisa kamu jelaskan dengan tepat."

"Karena itu memang yang terjadi."

"Dan itu," tambah perempuan batik merah marun, "adalah jenis kebenaran yang paling sulit dipatahkan. Karena tidak ada yang bisa menyangkal kacang."

 

Rapat selesai jam sepuluh lewat tujuh belas.

Yanto berdiri. Mengangguk. Pergi.

Di pintu, Petugas sudah menunggu dengan clipboard ketiga yang tidak jadi dipakai.

Yanto melewatinya tanpa berhenti.

Petugas menatap punggungnya.

Lalu menatap clipboard ketiga di tangannya.

Lalu menyimpannya kembali ke balik pintu.

Dengan ekspresi orang yang sudah menduga ini akan terjadi tapi tetap harus datang karena prosedur adalah prosedur dan prosedur tidak peduli dengan prediksi.

 

Di luar, malam masih berkabut.

Yanto berdiri di depan pintu balai desa sebentar. Menghirup udara yang terasa berbeda dari udara di dalam — lebih dingin, lebih jujur, lebih tidak tahu apa yang seharusnya terjadi selanjutnya.

Di tangannya, satu lembar kertas.

Bukan dari dokumen resmi. Bukan formulir. Bukan peta.

Kertas kecil, dilipat sekali, yang diselipkan ke telapak tangannya oleh perempuan batik merah marun tepat sebelum dia berdiri — dengan cara yang tidak terlihat oleh siapapun di meja karena dilakukan bersamaan dengan gerakan lain yang lebih besar, dengan presisi orang yang sudah berlatih melakukan ini cukup lama sampai tidak perlu memikirkannya lagi.

Yanto membuka lipatan itu.

Di dalamnya, satu kalimat. Tulisan tangan. Tinta biru. Rapi tapi cepat:

"Blok D. Rumah tanpa nomor. Tanya dispenser-nya."

Yanto membaca kalimat itu tiga kali.

Melipat kembali kertasnya.

Memasukkan ke saku.

Dan menatap ke arah sawah — ke arah galengan yang dari sini hanya bisa terlihat sebagai siluet dalam kabut, tapi keberadaannya terasa dengan cara yang sudah tidak perlu diverifikasi secara visual.

 

Di atas galengan itu, dalam kabut yang membuat segalanya samar kecuali hal-hal yang sudah terlalu lama ada untuk bisa disembunyikan oleh kabut — kodok itu duduk diam.

Dia melihat Yanto keluar dari balai desa.

Melihat Yanto berdiri.

Melihat Yanto membaca sesuatu.

Melihat Yanto menyimpan sesuatu.

Dan melihat Yanto menatap ke arahnya.

Kodok itu tidak bergerak.

Tapi kalau kamu perhatikan cukup lama — kalau kamu berdiri di tempat yang tepat dengan sudut yang tepat dan kepekaan yang sudah diasah oleh terlalu banyak malam di luar ruangan — kamu bisa melihat bahwa arah tatapan kodok itu bukan ke Yanto.

Melainkan ke saku Yanto.

Ke tempat kertas itu disimpan.

Seolah dia sudah tahu isinya.

Seolah dia sudah tahu sejak lama.

"Kkweek."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience