Series
12
Listrik mati jam sebelas empat puluh tujuh menit.
Bukan jam dua belas. Bukan jam tiga pagi jam-jam yang sudah punya reputasi untuk hal-hal seperti ini. Jam sebelas empat puluh tujuh adalah jam yang tidak dramatis, tidak simbolis, dan tidak ada dalam tradisi manapun sebagai jam yang perlu diwaspadai. Itu yang membuatnya mengganggu. Kalau mau mati, matilah di jam yang sudah tersedia untuk itu. Jangan mati di jam tanggung yang tidak memberi siapapun waktu untuk bersiap.
Satu kampung.
Gelap.
Serentak.
Di pos ronda, senter Pak Bambang jadi satu-satunya cahaya yang masih ada di radius yang bisa dilihat. Pak Udi langsung meraih HT. Pak Darto tidak bergerak sama sekali, seperti pemadaman ini bukan hal yang mengubah rencananya malam ini karena memang tidak ada rencananya yang perlu diubah.
"Pos dua, ini pos satu. Listrik mati. Situasi? Over."
Berisik. Lalu—
"Pos dua terima. Mati semua dari arah sini. PLN atau bukan belum tahu. Over."
"Ada apa-apa sebelum mati? Over."
Jeda.
"Tidak ada, Pak. Normal saja. Terus mati. Over."
"Roger. Tetap posisi. Over."
Pak Udi menaruh HT.
Menatap ke arah sawah yang sekarang lebih gelap dari sebelumnya kalau sebelumnya gelap dengan kualitas malam biasa, sekarang gelap dengan kualitas yang berbeda. Lebih padat. Lebih dalam. Seperti gelap yang tahu dirinya sedang diperhatikan dan memutuskan untuk tidak berpura-pura.
"Aneh," kata Pak Bambang.
"Sering," kata Pak Darto.
"Sering mati seperti ini?"
"Sering mati tepat waktu yang tidak tepat." Pak Darto mengambil termos. Menuang kopi ke gelasnya dengan gerakan yang tidak membutuhkan cahaya karena sudah dilakukan terlalu banyak kali untuk membutuhkan panduan visual. "Sudah lama begini. Sebelum tiang listriknya ada pun, lampunya juga sering mati."
Pak Bambang dan Pak Udi menatap Pak Darto.
Pak Darto minum kopinya.
Tidak melanjutkan.
Di tepi sawah, pemadaman itu membuat situasi yang sudah tidak sederhana menjadi lebih tidak sederhana dengan cara yang tidak ada yang pesan.
Kang Sawit mengeluarkan HP dari saku. Senter HP menyala cahaya putih tajam yang menyorot ke bawah dan menciptakan bayangan ke atas yang membuat wajahnya, yang sudah tidak bisa disebut ramah dalam cahaya normal, kini menjadi sesuatu yang berbeda kualitasnya.
Di bilah celuritnya, lampu biru kecil itu masih berkedip.
Masih terhubung.
"Sewu kutho uwes tak liwati..."
Track berganti ke campursari.
"Nah," gumam Pak Darto, tiga ratus meter dari sana, tanpa bisa mendengar apapun. "Sudah tenang sedikit."
Yanto tidak mengeluarkan HP.
Matanya menyesuaikan dengan cepat bukan kemampuan supernatural, hanya kemampuan orang yang sudah cukup sering berada di tempat yang tidak ada lampunya sampai mata punya pilihan selain beradaptasi.
Di sekelilingnya, dua puluh orang yang tadinya sudah mulai menemukan keseimbangan antara mengancam dan lapar sekarang sedang dalam proses menemukan keseimbangan baru antara mengancam dan tidak bisa lihat apa-apa.
Seseorang di barisan belakang menyalakan senter HP.
Lalu orang di sebelahnya.
Lalu yang lain.
Dalam tiga puluh detik, tepi sawah itu diterangi oleh dua belas senter HP dengan berbagai tingkat kecerahan dan berbagai arah yang tidak terkoordinasi, menciptakan efek pencahayaan yang kalau difoto akan terlihat seperti konser musik underground dengan anggaran yang sangat terbatas.
Kang Bakso tidak menyalakan apapun.
Gerobaknya punya lampu sendiri bohlam kecil yang ternyata baterai, bukan listrik PLN. Cahayanya hangat dan konstan dan sama sekali tidak terpengaruh oleh pemadaman, seperti Kang Bakso sudah mengantisipasi kemungkinan ini atau memang selalu beroperasi di kondisi yang tidak bergantung pada infrastruktur yang bisa dipadamkan.
Di balik termos, HT-nya berbunyi pelan.
Dia tidak menjawab.
"Sering mati lampu di sini?" tanya seseorang di barisan belakang. Ke siapa tidak jelas mungkin ke orang di sebelahnya, mungkin ke udara.
"Kadang-kadang," jawab seseorang yang lain.
"Tadi normal?"
"Tadi normal."
"Terus kenapa mati?"
Tidak ada yang menjawab ini.
Karena pertanyaannya sendiri sebenarnya tidak membutuhkan jawaban membutuhkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih dekat ke pengakuan bersama bahwa ada hal-hal yang terjadi di sini yang lebih baik tidak ditanya terlalu dalam.
Pria cendol menatap ke arah balai desa yang bisa dilihat samar-samar dari sini atapnya, bagian atasnya, gelap sekarang seperti semua bangunan lain.
"Kursinya bunyi lagi tidak?" tanyanya ke pria di sebelahnya, dengan nada yang terlalu santai untuk pertanyaan itu.
Pria di sebelahnya mengerutkan dahi. "Kursi mana?"
"Yang di balai desa. Kadang kalau mati lampu ada suara kursi diseret. Dari ruang dalam."
"Ruang dalam kosong."
"Iya."
Hening sebentar.
"Belum bunyi," kata pria itu akhirnya.
"Nanti," kata pria cendol, dengan nada yang mengandung kepasrahan orang yang sudah cukup sering mendengar sesuatu untuk tidak lagi terkejut dengan keberadaannya, hanya dengan timingnya. "Biasanya nanti."
Pria di sebelahnya memilih tidak meneruskan percakapan ini.
Yanto mendengar percakapan itu.
Tidak menunjukkan reaksi apapun di wajahnya.
Tapi matanya bergeser ke arah balai desa. Ke atapnya yang gelap. Ke jendela-jendelanya yang lebih gelap. Ke pintu utamanya yang tertutup dan dari jarak ini tidak bisa dibedakan apakah dikunci atau hanya ditarik.
Dia menatap ke sana lebih lama dari yang seharusnya dibutuhkan untuk menilai sebuah bangunan kosong di kegelapan.
Lalu menatap ke arah galengan.
Kodok itu masih ada.
Dalam gelap yang lebih pekat dari sebelumnya, keberadaannya lebih sulit diverifikasi secara visual tapi ada. Yanto tahu ada dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa dia jelaskan kalau diminta menjelaskan.
Kodok itu juga sedang menatap ke arah balai desa.
Jam dua belas kurang delapan menit, HP seseorang di kerumunan menerima notifikasi.
Bukan bunyi pesan biasa. Bunyi notifikasi grup.
Dia melihat layarnya.
Grup: INFO RT 06.
Pengirim: Admin.
Pesan: sebuah foto.
Foto itu hitam putih bukan karena filter, tapi karena memang hitam putih, seperti foto lama yang dipindai atau difoto ulang dari cetakan fisik. Menunjukkan sebuah ruangan. Ruangan yang, kalau kamu perhatikan cukup lama, bisa dikenali sebagai ruang dalam balai desa dari sudut yang tidak ada kameranya sekarang.
Di sudut foto itu, sebuah kursi.
Tidak ada keterangan.
Tidak ada teks pendamping.
Hanya foto.
Dikirim jam dua belas kurang delapan menit tepat.
Pria itu menyikut orang di sebelahnya. Menunjukkan layarnya. Orang di sebelahnya membaca. Menunjukkan ke orang di sebelahnya. Dalam dua menit, tujuh orang sudah melihat foto itu dengan ekspresi yang sama bukan takut, tapi sesuatu yang lebih spesifik dari takut dan lebih tidak nyaman untuk diakui.
"Admin yang foto ini kapan?" bisik seseorang.
Tidak ada yang tahu.
"Tanya Admin?"
"Tidak ada yang berani tanya Admin."
Di pos ronda, HT berbunyi.
"Pos satu, ini pos tiga. Ada yang aneh di grup RT. Over."
Pak Udi mengangkat HT. "Foto? Over."
"Sudah lihat? Over."
"Belum. Sinyal lemah sini. Over."
"Foto ruang dalam balai desa. Hitam putih. Kursinya..." Suara di HT berhenti sebentar. "Posisinya beda dari biasanya. Over."
Pak Udi dan Pak Bambang saling menatap.
Pak Darto minum kopinya.
"Kursi di foto itu," kata Pak Darto pelan, tanpa ditanya, "terakhir dipindah waktu rapat pembagian sembako dua bulan lalu. Waktu itu semua kursi ditata hadap ke depan."
"Dan sekarang?" tanya Pak Bambang.
"Foto itu kursinya hadap ke jendela."
Hening.
Dari arah balai desa, tidak ada suara apapun.
Itu yang membuatnya mengganggu.
Bukan suara kursi diseret.
Keheningannya.
Seperti apapun yang ada di sana sudah selesai bergerak sebelum ada yang sempat mendengar.
Pak Bambang menatap ke arah balai desa.
Pak Udi menatap ke arah sawah.
Pak Darto menuang kopi untuk yang kedua kalinya malam ini.
"Mau?" tawarnya ke Pak Bambang.
"Mau," jawab Pak Bambang, tanpa mengalihkan pandangannya dari balai desa.
"Mau," jawab Pak Udi juga, tanpa mengalihkan pandangannya dari sawah.
Pak Darto menuang tiga gelas.
Mereka bertiga minum kopi dalam kegelapan, masing-masing menatap ke arah yang berbeda, tidak berbicara apapun yang perlu diucapkan karena semuanya sudah dipahami.
Di luar sana: gelap. Gerimis tipis. Satu kampung tanpa listrik.
Di pos ini: senter satu, termos satu, tiga gelas kopi, dan ketenangan orang-orang yang sudah cukup lama di dunia ini untuk tahu bahwa panik tidak pernah menyelesaikan apapun yang tidak bisa diselesaikan dengan duduk dan menunggu.
"Shift kita sampai jam dua," kata Pak Udi akhirnya.
"Iya," kata Pak Bambang.
"Listriknya mungkin nyala lagi sebelum itu."
"Mungkin."
"Kalau tidak?"
Pak Darto mengangkat bahu sangat kecil.
"Tetap pulang jam dua."
Jam dua belas tepat, listrik menyala kembali.
Serentak. Tanpa kedip-kedip terlebih dahulu. Langsung menyala penuh seperti tidak pernah mati.
Di seluruh kampung, suara televisi yang tidak dimatikan sebelum pemadaman kembali mengudara. Kipas angin berputar lagi. Lampu-lampu teras menyala.
Di balai desa, lampu ruang dalam menyala.
Dan dari luar, dari sudut yang memungkinkan untuk melihat melalui jendela yang menghadap ke jalan, kursi itu terlihat.
Hadap ke depan.
Seperti biasa.
Seperti tidak pernah kemana-mana.
Tidak ada yang bicara soal foto Admin malam itu.
Tidak di grup RT.
Tidak di pos ronda.
Tidak di tepi sawah.
Foto itu dibaca dua ratus tiga belas kali.
Tidak ada yang reply.
Tidak ada yang berani minta Admin hapus.
Tidak ada yang berani tidak minta Admin hapus.
Foto itu tetap ada di sana, di antara notifikasi arisan dan info jadwal kerja bakti, seperti sesuatu yang sudah memutuskan sendiri bahwa tempatnya ada di sana dan tidak meminta pendapat siapapun untuk keputusan itu.
Di atas galengan, kodok itu sudah tidak menatap ke arah balai desa.
Sejak listrik menyala kembali, pandangannya sudah kembali ke depan.
Ke sawah.
Ke malam.
Ke hal-hal yang hanya bisa dilihat dari ketinggian galengan oleh makhluk yang sudah cukup lama ada untuk tidak perlu menjelaskan apa yang dilihatnya.
Kursi itu memang pernah hadap ke jendela.
Sudah lama.
Sudah berkali-kali.
Tapi setiap kali listrik menyala, kursi itu selalu kembali ke posisi semula.
Selalu.
Kodok itu tidak tahu apakah itu meyakinkan atau justru sebaliknya.
Mungkin keduanya.
"Kkweek."
Share this novel