Chapter 8.A

Thriller Series 12

Balai desa itu, dari luar, terlihat seperti balai desa biasa.

Cat temboknya putih yang sudah tidak sepenuhnya putih lagi warna yang terjadi ketika cat putih dibiarkan bernegosiasi dengan iklim tropis selama cukup lama sampai keduanya mencapai kompromi yang tidak memuaskan siapapun. Lampunya menyala. Tiangnya kokoh. Papan namanya terpasang dengan sekrup yang satu sudah mulai miring tapi belum cukup miring untuk dianggap darurat.

Dari luar, tidak ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Tapi Yanto, yang sudah berdiri di depan pintu masuknya selama beberapa detik dengan amplop undangan di tangan, tahu bahwa terlihat biasa dan biasa adalah dua hal yang di desa ini sudah lama tidak identik.

Dia menatap pintu.

Pintu menatap balik atau setidaknya terasa seperti itu, dengan cara pintu-pintu tertentu di tempat-tempat tertentu terasa seperti punya pendapat tentang siapa yang boleh masuk.

Yanto mengetuk.

 

Pintu dibuka oleh seorang pria yang usianya sulit ditebak karena wajahnya punya kualitas tertentu yang membuat semua rentang usia antara empat puluh dan enam puluh sama-sama masuk akal. Seragamnya bukan seragam resmi hanya kemeja polos yang dimasukkan ke dalam celana dengan presisi yang menunjukkan bahwa dia menganggap hal ini penting. Di dadanya, name tag plastik bening dengan kertas putih di dalamnya yang bertuliskan satu kata:

PETUGAS.

Bukan nama. Bukan jabatan spesifik.

Hanya: PETUGAS.

"Malam," kata Yanto.

"Malam," kata Petugas.

Tidak ada yang membuka pintu lebih lebar.

Yanto mengeluarkan amplop undangan. Menyodorkan.

Petugas menerimanya. Membukanya. Membaca isinya dengan cara orang yang membaca sesuatu yang sudah dia ketahui isinya tapi tetap perlu dibaca secara prosedural karena prosedur adalah prosedur dan prosedur tidak peduli dengan pengetahuan sebelumnya.

Lalu mengembalikan amplopnya.

"KTP," kata Petugas.

Yanto mengeluarkan KTP. Menyodorkan.

Petugas menerimanya. Melihatnya. Membaliknya. Melihat sisi belakang. Membalik lagi. Mengangguk pelan dengan cara orang yang menemukan bahwa dokumen yang diperiksa memenuhi syarat secara fisik tapi belum tentu secara administratif.

"Fotokopi KTP," kata Petugas.

Yanto menatapnya.

"Fotokopi?"

"Sepuluh lembar."

"Sepuluh."

"Rangkap sepuluh. Untuk arsip."

Hening.

Di kejauhan, suara jangkrik. Suara angin. Suara malam yang tidak punya kepentingan dengan apa yang sedang terjadi di depan pintu ini tapi tetap ada sebagai backsound karena alam tidak mengenal konsep off duty.

"Ini undangan," kata Yanto, pelan dan sangat terukur, "yang kalian kirim ke aku. Malam ini."

"Iya."

"Dan aku perlu fotokopi KTP sepuluh lembar."

"Untuk arsip."

"Dimana aku bisa fotokopi malam ini."

Petugas mempertimbangkan pertanyaan ini.

"Warung Pak Hendra punya mesin fotokopi," katanya akhirnya. "Tapi tutup jam delapan."

"Sekarang jam delapan lewat empat puluh."

"Iya.

Hening lagi.

"Ada fotokopi lain?"

"Di kecamatan. Tapi buka besok."

"Pertemuannya malam ini."

"Iya."

"Jadi?"

Petugas mengeluarkan clipboard dari balik pintu clipboard yang sudah ada di sana sebelumnya, yang keberadaannya di balik pintu menunjukkan bahwa percakapan ini bukan pertama kali terjadi dan sudah diantisipasi dengan formulir yang sesuai.

"Bisa isi formulir pengecualian prosedur dulu."

 

Formulir pengecualian prosedur itu satu lembar kertas A4 yang diisi dengan kolom-kolom berukuran kecil yang total judmlah pertanyaannya, kalau dihitung, adalah dua puluh tujuh.

Yanto menerimanya. Membacanya.

Kolom pertama: Nama Lengkap Sesuai KTP.

Kolom kedua: Nomor KTP.

Kolom ketiga: Alasan Tidak Membawa Fotokopi KTP.

Kolom keempat: Alasan Fotokopi Tidak Bisa Didapatkan Sebelum Acara.

Kolom kelima: Saksi yang Bisa Mengkonfirmasi Alasan di Kolom 4.

Kolom keenam: Nomor HP Saksi.

Kolom ketujuh belas: Apakah Anda Pernah Menghadiri Pertemuan Karang Taruna RT 06 Sebelumnya? (Ya / Tidak / Tidak Tahu)

Kolom dua puluh dua: Referensi dari Anggota Aktif Karang Taruna RT 06.

Kolom dua puluh tiga: Tanda Tangan Referensi.

Kolom dua puluh tujuh: Tandatangan Pemohon di Atas Materai 10.000.

Yanto menatap kolom terakhir itu.

"Materai."

"Sepuluh ribu."

"Aku tidak bawa materai."

"Ada di warung Pak Hendra."

"Yang tutup jam delapan."

"Iya."

Yanto mengembalikan clipboard.

Tanpa mengisi apapun.

Dengan cara yang tidak agresif tapi juga tidak bisa disebut ramah cara seseorang yang sudah menghitung semua opsi yang tersedia dan memutuskan bahwa ini bukan salah satu dari mereka.

"Ada prosedur lain?" tanyanya.

Petugas meraih clipboard lain dari balik pintu.

 

Dari dalam balai desa, menembus ketebalan tembok dan pintu dan segala lapisan prosedur yang menyelimutinya, terdengar suara.

Bukan suara keras. Bukan suara rapat yang sedang berlangsung. Ini suara yang lebih spesifik dan lebih mengidentifikasi diri dengan cara yang tidak perlu penjelasan tambahan:

Suara kursi plastik yang digeser di atas lantai keramik.

Gesreeek.

Pelan.

Teratur.

Seperti seseorang di dalam sedang mengatur posisi duduk. Atau seperti sesuatu yang sudah terbiasa bergerak di waktu-waktu tertentu dan tidak merasa perlu minta izin.

Yanto menoleh ke arah sumber suara.

Petugas tidak menoleh.

Petugas sudah terlatih untuk tidak menoleh.

 

"Tamu," terdengar suara dari dalam.

Bukan keras. Tapi jelas. Dengan kualitas suara orang yang sudah terbiasa didengar tanpa perlu menaikkan volume.

Petugas menoleh ke dalam sebentar. Lalu membuka pintu lebih lebar.

"Silakan," kata Petugas ke Yanto. "Formulirnya bisa diisi di dalam."

"Tadi katanya harus diisi sebelum masuk."

"Prosedurnya fleksibel."

"Baru saja tidak fleksibel."

"Sudah difleksibelkan."

Yanto menatapnya sebentar.

Lalu masuk.

 

Ruang pertemuan balai desa RT 06 adalah ruangan yang tidak besar tapi tidak kecil ukuran yang tepat untuk menampung jumlah orang yang cukup untuk disebut rapat tapi tidak cukup besar untuk memungkinkan siapapun duduk di barisan belakang dengan alasan tidak mendengar dengan jelas.

Di tengah ruangan, meja panjang.

Di atas meja: taplak hijau. Bukan taplak hijau sembarangan taplak hijau dengan rumbai di keempat sisinya, rumbai yang menggantung dengan jarak yang terlalu teratur untuk kebetulan, rumbai yang dipilih dan dipasang oleh seseorang yang menganggap bahwa rumbai adalah bagian dari sinyal bahwa apa yang akan terjadi di meja ini serius dan layak dihadiri dengan postur yang sesuai.

Di atas taplak: deretan gelas bening isi air mineral gelas, ditata rapi di depan setiap kursi. Di tengah meja, satu piring kecil isi kacang kulit. Bukan kacang banyak. Kacang yang cukup — kacang yang mengkomunikasikan kami menghargai kehadiran anda tanpa berlebihan mengkomunikasikan kami punya anggaran besar untuk ini.

Di belakang meja, duduk lima orang.

Lima orang yang semuanya memakai batik.

Batik dengan motif berbeda-beda. Batik lengan panjang, batik lengan pendek, batik yang disetrika rapi dan batik yang disetrika cukup. Tapi semuanya batik karena dress code adalah dress code, dan di Karang Taruna RT 06, dress code bukan saran.

Yanto berdiri di depan meja itu dengan kemeja yang bukan batik.

Lima pasang mata menatapnya.

Yanto menatap balik.

Hening yang punya tekstur — hening yang terisi penuh oleh hal-hal yang belum diucapkan tapi sudah ada di ruangan.

Kemudian orang yang duduk paling tengah pria dengan batik biru gelap, rambut putih di pelipis, tangan terjalin di atas meja dengan cara yang menunjukkan bahwa tangannya sudah lama terbiasa dijalin di atas meja membuka mulut.

"Kamu tidak pakai batik," katanya. Bukan tuduhan. Bukan juga pertanyaan. Sebuah observasi yang disampaikan dengan nada seseorang yang sudah mengantisipasi observasi ini tapi tetap merasa perlu mengucapkannya.

"Tidak ada yang bilang wajib," kata Yanto.

"Dress code: batik bebas sopan."

"Ini sopan."

Pria batik biru menatap kemeja Yanto sebentar.

"Memang sopan," akuinya. "Tapi bukan batik."

"Bebas sopan. Bukan wajib batik."

"Bebas sopan' artinya bebas asal sopan. Bukan bebas tidak pakai batik."

"Itu interpretasi."

"Ini ketentuan."

"Ketentuan tertulis?"

Pria batik biru membuka map di depannya. Mengeluarkan satu lembar kertas. Menyodorkan ke arah Yanto.

Yanto menerimanya. Membacanya.

Di sana tertulis, dalam huruf Times New Roman ukuran dua belas, dengan spasi satu setengah yang menunjukkan dokumen resmi yang dibuat dengan sungguh-sungguh:

KETENTUAN DRESS CODE PERTEMUAN KARANG TARUNA RT 06.
Pasal 7 Ayat 2:
"Peserta diharapkan mengenakan pakaian batik dalam kategori 'bebas sopan', yang diartikan sebagai: bebas dalam pilihan motif batik, namun tetap sopan dalam pemilihan model dan warna. Penggunaan pakaian non-batik dapat dipertimbangkan atas permohonan tertulis yang diajukan minimal tiga hari sebelum pertemuan."

Yanto membaca ini.

Membacanya sekali lagi.

"Aku baru dapat undangannya tadi malam."

"Iya."

"Tiga hari sebelumnya aku belum tahu ada pertemuan."

"Iya."

"Jadi permohonan tertulisnya..."

"Tidak sempat diajukan," kata pria batik biru, dengan nada yang mengandung simpati tulus dari seseorang yang memahami situasinya tapi tidak memiliki kewenangan untuk mengubah ketentuannya. "Tapi kamu sudah di sini. Jadi kita lanjutkan. Duduk dulu."

Yanto menarik kursi.

Duduk.

Di depannya: gelas air mineral dan kacang yang tidak dia minta tapi ada.

Di seberangnya: lima orang dengan batik dan map dan ekspresi orang yang sudah mempersiapkan pertemuan ini lebih lama dari yang terlihat.

Dan di sudut ruangan di sudut yang gelap, di luar jangkauan lampu utama tapi tidak di luar jangkauan yang bisa dilihat kalau kamu tahu harus melihat ke mana...

Sebuah kursi.

Bukan di meja.

Sendiri di sudut.

Hadap ke jendela.

Tidak ada yang duduk di sana.

Tidak ada yang menjelaskan kenapa ada di sana.

Tidak ada yang melihat ke arah sana.

 

"Nama," kata pria batik biru.

"Yanto."

"Nama lengkap."

"Yanto."

Pria batik biru menatapnya.

"Itu nama lengkapnya?"

"Itu nama yang aku punya."

Seseorang di sebelah kiri pria batik biru pria dengan batik coklat dan kacamata yang agak turun di hidungnya — mencatat sesuatu di buku catatannya dengan cara yang tidak tergesa dan tidak santai. Cara mencatat yang sudah dilatih sampai menjadi reflek.

"Alamat?"

"Sementara di sini."

"Alamat tetap?"

"Tidak tetap."

"Pekerjaan?"

Yanto berpikir sebentar.

"Tidak bisa dijelaskan dalam satu kata."

Pria batik coklat mengangkat pulpen dari buku catatannya. Menatap Yanto. Menatap kolomnya. Menatap Yanto lagi.

"Wiraswasta?" tawarnya.

"Kalau itu membantu."

"Membantu administrasi."

"Tulis wiraswasta."

Pria batik coklat menulis. Dengan ekspresi orang yang tahu bahwa apa yang ditulisnya tidak sepenuhnya akurat tapi juga tahu bahwa beberapa hal lebih mudah diproses dalam sistem kalau diberi label yang sudah punya kolom.

 

Pria batik biru membuka map keduanya. Mengeluarkan dokumen lain. Meletakkannya di atas meja dengan cara yang menunjukkan bahwa ini adalah bagian yang lebih serius dari pertemuan.

"Kamu tahu kenapa kamu diundang," katanya. Bukan pertanyaan.

"Tidak sepenuhnya."

"Kamu tahu sebagian?"

"Aku tahu bahwa orang-orang yang tidak suka aku ada hubungannya dengan sesuatu yang ada hubungannya dengan sesuatu yang ada di sini."

"Itu cukup akurat."

"Tapi tidak lengkap."

"Tidak lengkap," setuju pria batik biru. "Maka kamu di sini."

Dia mendorong dokumen itu ke arah Yanto.

Yanto menerimanya.

Di halaman pertama, tertulis judul dengan huruf kapital:

PETA KEPENTINGAN WILAYAH RT 06 DAN SEKITARNYA.
[VERSI YANG BISA DITUNJUKKAN]

Yanto membaca kata-kata di dalam tanda kurung itu dua kali.

"Ada versi yang tidak bisa ditunjukkan?"

"Selalu ada," kata pria batik biru.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience