Series
12
Mangkok kedua Yanto sudah setengah kosong ketika sesuatu berubah di udara.
Bukan perubahan yang bisa diukur. Bukan perubahan yang bisa ditunjuk dan diberi nama ilmiah. Ini perubahan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang sudah cukup lama hidup di situasi berbahaya sampai tubuh mereka mengembangkan insting tambahan semacam cuaca dalam diri yang berubah tekanannya sebelum badai datang.
Yanto meletakkan sendoknya.
Pelan. Tanpa suara. Tanpa drama.
Di sekitarnya, dua puluh orang yang tadinya sedang dalam proses memesan atau mempertimbangkan untuk memesan bakso juga merasakan hal yang sama sesuatu yang membuat mereka tanpa komando masing-masing berdiri lebih tegak, menarik bahu, dan berusaha terlihat seperti orang yang tidak sedang lapar beberapa menit yang lalu.
Kang Bakso tidak bergerak. Tapi jari-jarinya berhenti mengaduk kuah.
Dari arah jalan besar jalan yang membelah persawahan dan menghubungkan desa ini dengan dunia yang lebih luas dan sama-sama tidak jelas arahnya terdengar suara mesin.
Bukan suara motor biasa. Bukan suara mobil biasa. Ini suara kendaraan yang dibiarkan dalam kondisi yang cukup baik untuk menunjukkan bahwa pemiliknya punya uang, tapi cukup kotor untuk menunjukkan bahwa pemiliknya tidak peduli dengan pendapat orang tentang uangnya.
Lampu sorot muncul di tikungan.
Lalu berhenti.
Mesin mati.
Pintu terbuka.
Yang keluar pertama adalah sepatu.
Bukan karena orangnya keluar dengan cara yang aneh. Tapi karena cahaya dari gerobak bakso Kang Bakso menyorot ke bawah, dan yang tertangkap pertama adalah sepatu kulit hitam yang, di tengah sawah berkabut dengan tanah basah dan lumpur tipis di tepi jalan, adalah pilihan alas kaki yang mengkomunikasikan satu dari dua hal: orang ini tidak berencana berjalan jauh malam ini, atau orang ini tidak peduli dengan konsekuensi apapun dari keputusannya.
Kemudian tubuhnya muncul sepenuhnya.
Gempal. Bukan gempal yang tidak sehat gempal yang merupakan hasil dari bertahun-tahun makan dengan porsi yang tidak pernah dipertanyakan oleh siapapun di mejanya. Kemeja batik lengan pendek dipakai dengan dua kancing atas dibuka, pilihan yang di ruang rapat mungkin disebut kasual profesional tapi di tepi sawah malam ini terasa seperti pernyataan. Rambutnya disisir ke samping dengan minyak yang, bahkan dari jarak ini, aromanya sampai wangi yang percaya diri, wangi yang tidak minta izin untuk hadir.
Di tangannya, tergantung santai di sisi tubuhnya.
Celurit.
Bukan celurit kecil. Bukan celurit yang dibawa untuk jaga-jaga. Ini celurit yang punya sejarah bilahnya mengkilap dengan kilap yang bukan dari baru diasah, tapi dari sering dipakai dan selalu dirawat. Gagangnya kayu tua yang sudah menghitam karena tangan. Dan di sepanjang bilahnya, terukir sesuatu yang baru bisa terbaca kalau kamu cukup dekat dan cukup nekat untuk mencoba membacanya.
Di pangkal gagang, menempel sesuatu yang tidak ada pada celurit manapun yang pernah ada sebelumnya dalam sejarah perceluritan nasional maupun internasional.
Sebuah lampu kecil.
Biru. Berkedip pelan.
Seperti sedang mencari koneksi.
Pria itu berjalan ke arah kerumunan dengan langkah yang tidak terburu-buru. Bukan langkah orang yang tidak sadar ada dua puluh orang di depannya. Tapi langkah orang yang sadar sepenuhnya, menilai sepenuhnya, dan memutuskan bahwa situasi ini tidak membutuhkan kecepatan ekstra dari kakinya.
Pria cendol menyambut dengan anggukan yang mengandung campuran lega dan sesuatu yang mendekati rasa sungkan ekspresi bawahan yang senang atasannya datang tapi juga sedikit berharap atasannya tidak datang karena itu berarti situasinya sudah cukup buruk untuk membutuhkan atasan.
"Kang," kata pria cendol.
Pria gempal itu tidak menjawab langsung. Matanya menyapu kerumunan. Menyapu gerobak bakso. Menyapu Kang Bakso yang berdiri di baliknya dengan ekspresi yang tidak mengungkapkan apapun. Lalu berhenti di Yanto.
Yang sedang memegang mangkok bakso.
Dengan kerupuk yang belum habis.
Mata mereka bertemu.
Beberapa detik berlalu dengan kualitas yang berbeda dari detik-detik biasa.
Kemudian pria gempal itu menoleh ke pria cendol.
"Kenapa dia pegang mangkok?"
"Dia minta makan dulu, Kang."
"Dan kau kasih?"
Pria cendol membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi.
"Kaldunya asli, Kang."
Pria gempal itu yang di sini dan seterusnya akan lebih mudah disebut dengan nama yang sudah beredar di tujuh grup WhatsApp berbeda sejak setengah jam lalu: Kang Sawit menghela napas dengan cara orang yang sudah terlalu sering menghela napas untuk hal-hal yang tidak ingin dia hembuskan.
Dia melangkah ke depan.
Berhenti dua meter dari Yanto.
Menatap.
Yanto menatap balik sambil mengambil kerupuk terakhir dari mangkoknya.
Kang Sawit menatap kerupuk itu.
Menatap Yanto lagi.
"Jadi," kata Kang Sawit, dengan suara yang rendah dan punya berat yang tidak proporsional dengan kalimat yang dibawanya, "kau yang namanya..."
Tangannya bergerak.
Celurit terangkat.
Dan dari bilah baja tua yang sudah melewati lebih banyak malam dari yang mau diingat siapapun, lampu biru kecil di pangkal gagang itu berkedip dua kali.
Lalu menyala penuh.
Terhubung.
Dan dari speaker kecil yang tidak ada yang tahu ada di mana tapi jelas ada di suatu tempat pada konstruksi celurit itu, mengalun sesuatu yang tidak ada yang pesan, tidak ada yang minta, dan tidak ada yang bisa dijelaskan kehadirannya dengan logika apapun yang tersedia.
"Aku cinta kamu... kamu cinta aku..."
Dangdut koplo.
Volume sedang. Beat konsisten. Vokalis perempuan dengan semangat yang tidak terpengaruh oleh konteks apapun.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang bersuara.
Kang Sawit menatap celuritnya.
Celurit itu terus memainkan lagunya.
"Sudah kubilang ganti playlist," gumam Kang Sawit, ke celurit, dengan nada orang yang sudah berkali-kali mengucapkan kalimat yang sama dan sudah berdamai dengan kenyataan bahwa tidak ada yang akan berubah.
Celurit tidak menjawab.
Tentu saja.
Tapi lagunya ganti ke track berikutnya yang nadanya lebih keras lima belas persen.
Di barisan belakang, seseorang tanpa sadar mulai mengangguk-anggukkan kepala mengikuti beat.
Menyadari ini, dia langsung berhenti.
Menatap lurus ke depan.
Pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Orang di sebelahnya yang juga baru saja berhenti mengangguk memilih kebijaksanaan yang sama.
Yanto menelan kerupuk terakhirnya.
Menaruh mangkok di atas papan gerobak Kang Bakso dengan bunyi tuk yang, sekali lagi, terdengar terlalu jelas di tengah keheningan yang tidak sepenuhnya hening karena masih ada koplo.
Lalu dia menatap Kang Sawit.
Menatap celurit.
Menatap lampu biru yang masih berkedip puas.
"Playlist-mu," kata Yanto, dengan nada yang tidak mengandung penilaian tapi entah kenapa tetap terasa seperti penilaian, "perlu dikurasi."
Kang Sawit mengerutkan dahi.
Ini bukan respons yang dia antisipasi.
Dalam pengalaman panjangnya, orang yang menghadapi Celurit Bluetooth untuk pertama kalinya biasanya mengucapkan salah satu dari tiga hal: memohon, mengancam balik, atau diam. Tidak ada yang pernah memberikan saran editorial terhadap pilihan musiknya.
"Kau..."
"Duh ketika cinta melanda hatiku..."
Kang Sawit menghela napas lagi.
"Kita tidak selesai," katanya, ke Yanto, tegas.
"Tahu," kata Yanto.
"Kau harus..."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau tenang?"
Yanto menatapnya sebentar. Lalu menatap ke arah galengan.
Kang Sawit, tanpa bermaksud, mengikuti arah tatapan itu.
Di atas galengan sawah, di ketinggian yang memberikan pandangan yang cukup untuk melihat keseluruhan situasi dengan objektif, seekor kodok duduk di atas batu.
Tidak bergerak.
Menatap ke arah mereka berdua dengan ekspresi yang dan ini adalah interpretasi yang tidak bisa dibuktikan tapi juga sulit dibantah mengandung semacam kelelahan yang tidak dramatis. Kelelahan pengamat yang sudah terlalu banyak menonton adegan serupa dari terlalu banyak generasi dan sudah tidak terkejut lagi tapi juga tidak cukup bosan untuk berhenti menonton.
Kang Sawit menatap kodok itu lebih lama dari yang seharusnya dibutuhkan untuk menatap seekor kodok.
"Itu kodok," katanya akhirnya. Bukan pertanyaan. Lebih ke konfirmasi diri sendiri.
"Ya," kata Yanto.
"Milikmu?"
"Tidak."
"Tapi dia selalu ada?"
Yanto mempertimbangkan pertanyaan ini dengan keseriusan yang tidak proporsional.
"Selalu," katanya akhirnya.
Kang Sawit menatap kodok itu sekali lagi.
Kodok itu tidak bergerak.
Dan untuk pertama kalinya malam ini mungkin untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama Kang Sawit merasakan sesuatu yang sangat spesifik dan sangat tidak nyaman:
Dia tidak yakin siapa yang sedang mengawasi siapa.
"Goyang... goyang... goyang sayang..."
Celurit terus bernyanyi.
Malam terus berjalan.
Dan di atas galengan, kodok itu akhirnya bergerak bukan pergi, hanya berpindah beberapa senti ke kiri, ke posisi yang sedikit lebih nyaman untuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kkweek."
Share this novel