Series
12
Malam itu sawah tidak punya rencana apa-apa.
Kabut turun pelan seperti orang yang tidak enak hati mau ganggu tidur orang lain. Gerimis jatuh satu-satu, tidak lebat, tapi cukup untuk bikin baju tembus dan semangat runtuh. Di kejauhan, sungai mengalir deras dengan suara yang terlalu dramatis untuk situasi ini seolah alam sudah tahu malam ini akan ada sesuatu, dan memutuskan untuk kasih backsound gratis.
Dan di tengah itu semua berdiri satu orang.
Yanto.
Tidak ada yang tahu nama lengkapnya. Beberapa orang pernah mencoba bertanya. Tidak ada yang pernah berhasil mendapat jawaban yang sempurna. Entah karena Yanto tidak mau bilang, atau karena semesta selalu menemukan cara untuk menginterupsi.
Malam ini, dia dikepung.
Bukan dikepung satu dua orang. Dikepung dengan penuh dedikasi dari kiri, kanan, depan, belakang, bahkan ada satu orang yang entah kenapa naik ke atas galengan sawah seolah ketinggian setengah meter itu memberi keunggulan taktis berarti. Semuanya membawa senjata. Semuanya memasang muka yang sudah dilatih untuk tampak menakutkan.
Yanto berdiri di tengah.
Tangannya kosong. Mukanya datar. Matanya menyapu sekeliling dengan tatapan yang membuat beberapa orang di barisan belakang tiba-tiba mendadak ingat punya hutang yang harus dibayar besok pagi.
Hening.
Hanya suara sungai. Suara gerimis. Dan suara satu kodok di pojok sawah yang sedang menikmati malamnya sendiri, tidak tahu dan tidak peduli bahwa dua puluh meter dari tempatnya duduk, sejarah sedang mau dibuat.
Kemudian dari kerumunan itu melangkah satu sosok.
Tubuhnya gempal. Bahunya lebar. Tangannya memegang celurit dengan cara yang menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya dia memegang celurit. Tapi wajahnya wajahnya adalah wajah yang kalau kamu lihat di pasar, kamu langsung bayangin dia lagi nuangin es ke dalam plastik sambil tanya "mau gulanya banyak?"
Wajah tukang es cendol.
Tapi malam ini dia bukan jual cendol.
Dia berhenti dua langkah di depan Yanto. Mata mereka bertemu. Gerimis turun di antara mereka berdua seperti efek dramatis yang tidak ada yang pesan tapi semua orang terima dengan lapang dada.
Pria itu membuka mulut.
"Siapa kau?"
Dua kata. Sederhana. Tapi beratnya menggantung di udara seperti tagihan listrik yang sudah tiga bulan belum dibayar.
Seluruh sawah hening.
Bahkan sungai seperti mengecilkan volumenya sebentar.
Yanto menatapnya. Tatapan yang dingin. Tatapan yang kalau punya suhu, termometer akan minta berhenti kerja. Tatapan yang membuat pria cendol itu untuk satu detik kecil yang tidak akan pernah dia akui sampai mati merasakan lututnya sedikit ingin bernegosiasi untuk duduk.
Yanto menarik napas.
Pelan.
Membiarkan momen itu menggantung.
Lalu dengan suara yang rendah dan berat, mulutnya terbuka...
"Aku..."
Dan dari pojok sawah.
"Kkweek krookk."
Pria cendol berkedip.
Yanto berhenti.
Semua orang menoleh ke arah yang sama ke pojok sawah, ke satu titik gelap di antara batang-batang padi, di mana seekor kodok duduk di atas batu kecil dengan ekspresi yang, kalau kamu lihat cukup lama, tampak seperti ekspresi seseorang yang baru saja menyelesaikan kalimat orang lain.
Kodok itu tidak bergerak.
Tidak minta maaf.
Tidak merasa bersalah sama sekali.
Yanto menutup mulutnya. Menatap kodok itu sebentar. Lalu menatap kembali ke pria cendol di depannya.
Pria cendol itu membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Di barisan belakang, seseorang berbisik ke temannya, "tadi itu kodok atau...?" dan temannya menjawab "diem dulu" dengan nada yang tidak yakin sama sekali.
Momen itu momen paling legendaris yang tidak ada yang akan pernah bisa ceritakan dengan benar berlalu dalam diam.
Dan Yanto, dengan tenang yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah terlalu sering diinterupsi oleh hal-hal di luar kendalinya, hanya mengembuskan napas pelan.
Namanya bisa nanti.
Malam ini masih panjang.
Di pojok sawah, kodok itu melompat pelan ke atas batu yang lebih tinggi.
Mencari sudut pandang yang lebih baik.
Ini baru awal.
Share this novel