Chapter 7

Thriller Series 12

Amplop itu ada di depan pintu pada jam yang tidak ada yang melihatnya diletakkan.

Bukan karena tidak ada yang jaga. Tapi karena di antara pemadaman listrik, foto grup RT yang tidak ada yang berani reply, dan situasi di tepi sawah yang masih belum selesai dengan cara yang bisa dilaporkan ke siapapun dengan kalimat yang masuk akal perhatian semua orang sedang di tempat lain. Dan sesuatu, atau seseorang, memanfaatkan jeda itu dengan presisi yang tidak bisa disebut kebetulan tapi juga tidak bisa dibuktikan sebaliknya.

Amplop putih. Ukuran standar. Tersegel rapi dengan cara yang menunjukkan bahwa siapapun yang menyegelnya menganggap penyegelan amplop adalah hal yang layak dilakukan dengan serius. Di permukaannya, satu nama ditulis dengan tangan tulisan tangan yang terlalu bagus, terlalu konsisten huruf per hurufnya, seperti seseorang yang pernah mengikuti kelas kaligrafi atau setidaknya sangat ingin terlihat seperti pernah mengikuti kelas kaligrafi.

Yanto.

Tidak ada alamat.

Tidak ada pengirim.

Tidak ada perangko karena amplop ini tidak dikirim melalui sistem yang membutuhkan perangko. Amplop ini diantarkan dengan cara yang lebih tua dari sistem pos dan lebih efisien dari kurir manapun yang bisa dipesan lewat aplikasi.

Tangan. Langsung. Tanpa jejak.

 

Di dalam amplop, satu lembar kertas dilipat tiga.

Kertasnya bukan kertas sembarangan bukan kertas fotokopi yang dipakai untuk surat-surat yang tidak menganggap dirinya penting. Ini kertas yang punya tekstur. Yang kalau dipegang terasa berbeda dari kertas biasa dengan cara yang sulit dijelaskan tapi langsung terasa. Kertas yang dipilih oleh seseorang yang memahami bahwa medium adalah bagian dari pesan.

Isinya ditulis dengan tangan yang sama. Rapi. Padat. Tanpa basa-basi pembuka yang tidak perlu.

 

Kepada Yth.
Saudara Yanto

Dengan hormat,

Karang Taruna RT 06 mengundang kehadiran Saudara dalam Pertemuan Rutin Bulanan yang akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Besok malam.
Waktu : Setelah Isya.
Tempat : Balai Desa, Ruang Pertemuan.
Dress Code : Batik bebas sopan.

Kehadiran Saudara sangat kami harapkan.
Mohon konfirmasi kehadiran melalui saluran yang Saudara ketahui.

Hormat kami,
Karang Taruna RT 06

 

Tidak ada tanda tangan.

Tidak ada stempel.

Tidak ada nomor yang bisa dihubungi.

Dan di bagian paling bawah, ditulis lebih kecil dari teks lainnya, dengan tekanan pena yang berbeda seperti ditambahkan setelahnya, atau seperti sesuatu yang ragu-ragu antara perlu ditulis atau tidak, dan akhirnya diputuskan perlu:

P.S. Tolong datang.

 

Yanto membaca surat itu dua kali.

Melipatnya kembali.

Memasukkan ke saku.

Di sekitarnya, situasi di tepi sawah sudah memasuki fase yang bisa disebut jeda taktis fase di mana semua pihak sudah terlalu lama berdiri di tempat yang sama sampai kakiknya mulai punya pendapat sendiri tentang kebijakan malam itu, dan kelelahan mulai mengikis ketegangan dengan cara yang tidak dramatis tapi tidak bisa dihindari. Beberapa orang sudah duduk di galengan. Satu orang tertidur sambil masih memegang senjatanya dengan cara yang entah harus dikagumi atau dikhawatirkan.

Kang Sawit berdiri dengan posisi yang masih menunjukkan bahwa dia belum menyerah pada situasi ini, tapi celuritnya sudah diminta diam oleh campursari yang mengalun pelan dan kondisi ini membuat ekspresinya sedikit lebih tidak mengancam dari yang dia maksudkan.

"Surat dari mana?" tanya Kang Sawit, menatap saku Yanto.

"Karang Taruna."

Kang Sawit berkedip.

Sesuatu yang sulit diidentifikasi bergerak di balik matanya bukan takut, bukan juga hormat dalam pengertian biasa. Lebih ke pengenalan. Seperti nama yang disebut dalam konteks yang tidak dia antisipasi tapi langsung dia pahami signifikansinya.

Dia tidak bertanya lebih lanjut.

Dan itu, Yanto catat, lebih informatif dari kalau dia bertanya.

 

Di pertigaan tiga ratus meter dari sana, tepat di bawah papan pos ronda yang tulisannya sudah pudar, tiga orang berdiri menghadap HP yang disenderkan ke galon kosong milik warung yang sudah tutup.

Musik pendek berdentum dari speaker kecil.

Beat-nya bersih. Cepat. Dengan tempo yang tidak memberi otak banyak waktu untuk mempertanyakan apa yang sedang terjadi sebelum tubuh sudah ikut bergerak.

Salah satu dari mereka jaket hoodie, sandal jepit, ekspresi orang yang tidak punya rasa malu dan karena itu justru tampak lebih bebas dari kebanyakan orang dewasa di radius dua kilometer mulai bergerak mengikuti ritme dengan energi yang tidak peduli dengan konteks sekitarnya.

Yang kedua merekam dengan sudut yang sudah diperhitungkan.

Yang ketiga bertugas sebagai direktur kreatif:

"Eh ulang, kurang sinkron."

Pengambilan kedua dimulai.

Di belakang mereka secara harfiah, masuk ke frame bagian kiri bawah selama dua detik sebelum keluar lagi Kang Sawit berjalan melewati pertigaan dengan celurit di tangan dan campursari mengalun dari bilahnya.

Tidak ada yang sadar.

Bukan karena mereka tidak memperhatikan lingkungan. Tapi karena konsentrasi yang dibutuhkan untuk menjaga sinkronisasi di pengambilan ketiga adalah konsentrasi yang tidak menyisakan kapasitas untuk hal-hal di luar frame.

"Nah, itu!" kata direktur kreatif.

Mereka memutar hasilnya.

Tiga kepala menunduk ke layar, melihat playback dengan intensitas yang setara dengan intensitas apapun yang sedang terjadi di sawah dua ratus meter dari tempat mereka berdiri.

Tidak ada yang melihat sosok di kiri bawah.

Tidak ada yang mendengar campursari yang sudah berlalu.

Video itu diunggah dengan caption yang diketik dengan kecepatan orang yang tidak sedang mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari kata-katanya:

"gabut malam mingggu "

Dikirim.

 

Di suatu tempat di rumah yang lampunya menyala lagi setelah pemadaman, di depan tiga layar yang kembali aktif jari-jari itu bergerak.

Video itu ditemukan dalam waktu empat puluh detik.

Diputar.

Di frame kedua detik pertama, sesuatu diidentifikasi.

Diputar ulang.

Di-pause.

Di-zoom.

Kiri bawah. Dua detik. Keluar frame.

Disimpan.

Dikategorikan.

Admin menambahkan file baru ke arsip.

Nama file: [DIKLASIFIKASI]

Lalu offline.

 

Pak Darto, yang jam segini seharusnya sudah dalam perjalanan pulang tapi karena suatu alasan yang tidak dia jelaskan ke siapapun masih duduk di pos ronda sendirian setelah Pak Bambang dan Pak Udi pulang merasakan sesuatu.

Bukan sesuatu yang bisa ditunjuk.

Hanya perasaan yang datang kadang-kadang di usianya. Perasaan bahwa ada hal-hal yang baru saja bergerak di luar kemampuan siapapun untuk menghentikannya, dan satu-satunya pilihan yang tersisa adalah memutuskan apakah kamu mau berdiri di tempat yang tepat ketika semuanya sampai.

Dia menatap ke arah sawah.

Ke galengan.

Kodok itu masih ada.

"Tahu juga, ya," gumam Pak Darto ke kodok itu, dengan nada orang yang sudah terbiasa berbicara ke hal-hal yang tidak akan menjawab dan sudah berdamai dengan konsekuensinya.

Kodok itu tidak menjawab.

Tapi kepalanya bergerak sedikit.

Sangat sedikit.

Cukup untuk dilihat oleh mata yang tahu harus melihat ke mana.

Pak Darto mengangguk pelan.

"Iya," katanya. "Besok malam bakal ramai."

Dia berdiri. Melipat kursinya. Mengambil termos yang sudah kosong.

"Kalau mau batik, aku punya yang biru. Masih bagus."

Lalu berjalan pulang.

Langkahnya tidak terburu-buru.

Tidak pernah.

 

Kodok itu menatap punggung Pak Darto yang menghilang di tikungan jalan.

Dari semua manusia yang pernah berbicara kepadanya dan jumlahnya lebih banyak dari yang mau diingat, lebih banyak dari yang akan dipercaya Pak Darto adalah satu dari sangat sedikit yang tidak pernah menunggu jawaban.

Dia hanya berbicara.

Lalu pergi.

Seperti seseorang yang sudah tahu bahwa percakapan yang baik tidak selalu membutuhkan respons verbal untuk menjadi percakapan yang berarti.

Kodok itu tidak punya cara untuk mengkonfirmasi apakah Pak Darto akan memakai batik biru.

Tapi kalau dia punya cara.

Jawabannya iya.

"Kkweek."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience