Chapter 2

Thriller Series 12

Tidak ada yang tahu dari mana arah datangnya.

Angin malam itu bertiup dari timur. Gerimis masih turun dengan konsistensi yang patut diapresiasi tidak bertambah, tidak berkurang, seperti pegawai yang sudah menemukan kecepatan kerja paling minimal yang masih bisa disebut bekerja. Kabut bergeser pelan di atas hamparan padi yang tidak punya kepentingan apapun terhadap situasi di tengahnya.

Dan di antara semua itu.

Tercium bau kaldu.

Bukan kaldu sembarangan. Bukan kaldu instan yang dilarutkan dengan air hangat dan harapan palsu. Ini kaldu yang dimasak lama. Yang tulangnya direbus sampai menyerah dan mengeluarkan semua yang mereka punya. Kaldu yang, kalau kamu tutup mata dan hanya mengandalkan hidung, bisa membuat kamu lupa sebentar bahwa kamu sedang dikepung dua puluh orang bersenjata di tengah sawah pada malam berkabut.

Yanto berkedip.

Pria cendol berkedip.

Dua puluh orang yang tadinya fokus pada posisi mengepung masing-masing, tanpa komando, tanpa koordinasi, tanpa rasa malu semua menoleh ke arah yang sama.

Dari ujung jalan setapak yang membelah sawah, sebuah gerobak bergerak pelan.

Rodanya berderit dengan irama yang tidak dramatis sama sekali. Lampunya satu bohlam kecil yang digantung di besi bengkok berayun kena angin, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di atas aspal basah. Di balik gerobak itu berdiri seorang pria dengan tubuh sedang, wajah yang terlalu tenang untuk jam segini, dan topi caping yang dipakai dengan sudut yang terlalu presisi untuk orang yang hanya lewat secara kebetulan.

Di bahunya tergantung handuk kecil bermotif kotak.

Di balik termos kuahnya, sesuatu berkedip dengan cahaya merah kecil yang berdenyut pelan.

Pria itu berhenti tepat di tepi jalan. Jaraknya dari pusat kepungan mungkin dua puluh meter. Tidak lebih, tidak kurang jarak yang kalau kamu pikirkan terlalu lama, terasa seperti jarak yang sudah diukur sebelumnya.

Dia menaruh gerobak.

Membuka tutup panci.

Dan berteriak dengan suara yang datar sempurna.

"Baksooo... bakso..."

Hening.

Hanya angin. Hanya gerimis. Hanya suara panci yang terbuka dan mengeluarkan kepulan uap yang naik ke udara malam seperti sinyal morse yang tidak ada yang minta tapi semua orang terima dengan perut masing-masing.

Pria cendol, yang dua menit lalu sedang berada di puncak momen paling intens hidupnya, menoleh ke pria di sebelahnya.

"Itu intel," bisiknya.

Pria di sebelahnya mengendus udara.

"Mungkin."

"Lihat HPnya..."

"HT."

"Apapun. Itu intel."

"Iya tapi..." Pria itu mengendus lagi. "...kaldunya asli."

Di barisan belakang, percakapan serupa sedang terjadi dalam volume yang semakin tidak terkontrol. Seseorang berbisik bahwa bakso di jam segini di tengah sawah jelas operasi intelijen. Orang lain berbisik balik bahwa operasi intelijen tidak mungkin baunya seperti itu karena tidak ada anggaran negara yang digunakan untuk kaldu tulang yang direbus selama enam jam. Orang ketiga tidak ikut berdebat karena sudah menghitung uang di saku celananya.

Yanto tidak bergerak.

Matanya berpindah dari pria cendol ke gerobak bakso. Dari gerobak bakso ke cahaya merah kecil yang berdenyut di balik termos. Dari sana ke bohlam yang berayun. Dari sana ke uap yang naik.

Otaknya bekerja.

Kaldu itu dan ini adalah fakta yang tidak relevan tapi tidak bisa diabaikan benar-benar berbau seperti kaldu yang dibuat oleh seseorang yang menganggap memasak sebagai tanggung jawab moral.

Yanto menelan ludah.

Pelan. Diam-diam. Dengan martabat yang masih bisa diselamatkan.

Dari balik gerobak, pria bertopi caping itu mengeluarkan mangkok. Satu mangkok. Ditaruh di atas papan gerobak dengan bunyi tuk yang, di tengah keheningan sawah malam itu, terdengar seperti undangan resmi.

Lalu HT-nya berbunyi.

Volumenya tidak kecil.

"Posisi target?"

Pria bertopi caping itu, tanpa mengubah ekspresi, meraih HT dari balik termos, menekan tombol, dan menjawab dengan suara yang sama datarnya.

"Di depan mata. Over."

"Roger. Status?"

Dia melirik ke arah Yanto. Ke arah dua puluh orang bersenjata. Ke arah satu kodok yang kini sudah pindah ke atas galengan lebih tinggi untuk melihat lebih jelas.

"Situasi kondusif. Bakso masih panas. Over."

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang bersuara.

Kemudian dari tengah kepungan itu, dengan langkah yang tidak terburu-buru sama sekali, Yanto mulai berjalan ke arah gerobak.

Pria cendol membuka mulutnya.

Menutupnya.

Membuka lagi.

"Hei..."

"Sebentar," kata Yanto. Tanpa menoleh.

"Kita belum selesai..."

"Aku tahu."

"Kau mau kemana?"

Yanto berhenti tepat di depan gerobak. Menatap mangkok kosong di atas papan kayu. Menatap uap yang naik dari panci. Menatap pria bertopi caping yang menatap balik dengan wajah yang tidak mengungkapkan apapun kecuali profesionalisme yang membingungkan.

"Pakai kerupuk," kata Yanto.

Pria bertopi caping meraih kerupuk.

"Sambel?"

"Banyak."

Di belakangnya, dua puluh orang bersenjata berdiri dalam kebingungan kolektif yang belum pernah mereka alami sebelumnya dalam karir masing-masing. Beberapa masih memegang senjata. Beberapa sudah menurunkan tangannya tanpa sadar. Satu orang yang paling lapar di antara semuanya dan tidak akan pernah mengakuinya sudah menghitung apakah uang di sakunya cukup untuk satu porsi tanpa topping tambahan.

Pria cendol menghela napas.

Menoleh ke kiri. Ke kanan.

"Ada yang bawa dompet?"

 

Di atas galengan sawah, di ketinggian yang memberikan perspektif yang cukup untuk melihat keseluruhan situasi, kodok itu duduk diam.

Dia sudah melihat banyak hal dalam hidupnya yang panjang.

Perang. Pergantian kekuasaan. Pembangunan yang dimulai dan tidak selesai. Manusia-manusia yang datang dengan rencana besar dan pulang dengan tangan kosong.

Tapi ini.

Ini baru pertama kali dia melihat sebuah kepungan bubar karena bakso.

Dia tidak tahu harus mengkategorikannya sebagai kemajuan atau kemunduran peradaban.

Maka dia memilih diam.

Dan menunggu.

Karena malam ini, seperti biasa, masih panjang.

"Kkweek."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience