Series
12
Yanto baru menelan suapan ketiga ketika HP seseorang di barisan belakang berbunyi.
Bukan bunyi notifikasi biasa. Bukan nada dering standar. Ini bunyi yang sudah dipasang khusus nada pendek, dua ketukan, seperti kode yang semua orang di sini tahu artinya tapi tidak ada yang mau mengakui bahwa mereka tahu.
Bunyi grup WhatsApp.
Pria yang HPnya berbunyi itu mengintip layarnya. Wajahnya berubah dengan kecepatan yang tidak proporsional dengan situasi sekitarnya dari tegang, ke bingung, ke sesuatu yang mendekati panik tapi tidak cukup berani untuk sepenuhnya jadi panik.
Dia menyikut orang di sebelahnya.
"Sudah masuk grup," bisiknya.
"Grup mana?"
"Grup RT."
Orang di sebelahnya mengeluarkan HPnya. Membuka. Membaca. Diam.
"Yang mana?"
"Yang bintang lima."
Orang itu menutup HPnya dengan gerakan yang terlalu tenang untuk situasinya. Lalu berbisik ke orang di sebelahnya lagi. Yang itu berbisik ke sebelahnya. Seperti domino, tapi domino-nya adalah sekumpulan orang bersenjata yang satu per satu wajahnya berganti ekspresi menjadi sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan dengan tepat kecuali mungkin: kesadaran bahwa ada kekuatan di dunia ini yang lebih besar dari mereka.
Pria cendol yang sedang menunggu mangkok baksonya selesai diisi menoleh ke belakang.
"Ada apa?"
Tidak ada yang menjawab.
Semua orang menatap HPnya masing-masing.
Di grup bernama "INFO RT 06" yang secara teknis bukan grup rahasia karena namanya ada di HP semua orang di kecamatan itu, tapi secara fungsional adalah organisasi intelijen paling efektif dalam radius dua puluh kilometer sebuah pesan masuk.
Pengirimnya: Admin.
Bukan nama. Bukan nomor. Hanya: Admin.
Tidak ada yang tahu siapa Admin. Beberapa teori beredar ada yang bilang itu Bu Hasanah, ibu-ibu nomor tiga dari pojok yang selalu tahu segalanya sebelum segalanya terjadi. Ada yang bilang itu Pak Tarjo yang pensiunan dan tidak punya kegiatan lain. Ada yang bilang Admin bukan satu orang bahwa itu adalah sistem, jaringan, entitas kolektif yang beroperasi di balik layar kehidupan desa dengan efisiensi yang membuat badan intelijen manapun akan merasa rendah diri.
Tidak ada yang pernah membuktikan satu pun dari teori itu.
Admin hanya ada. Seperti gravitasi. Seperti pajak. Seperti tetangga yang selalu tahu kamu baru berantem sama pasangan padahal pintu sudah ditutup.
Pesan itu berbunyi:
UPDATE MALAM INI:
Ada kegiatan tidak biasa di petak sawah Pak Maman blok C. Sekitar 20+ orang tidak dikenal. Ada juga gerobak bakso yang belum jelas izin usahanya. Warga dimohon tidak panik.
Sudah dikonfirmasi ke Pak RT.
Pak RT sedang mandi.
Akan ditindaklanjuti setelah Pak RT selesai.
Terima kasih.
Admin
Dua belas detik kemudian, reply pertama masuk.
Bu Entin: waduhhh jam segini ya ampun.
Pak Hendra: itu yang di foto kemarin bukan?
Admin: Foto berbeda. Ini situasi baru.
Bu Entin: yang bawa celurit itu siapa ya kok mukanya familiar.
Pak Hendra: iya kayak kenal.
Admin: Sudah diidentifikasi. Mohon tidak disebarkan dulu.
Bu Entin: ohh oke oke
[Bu Entin meneruskan pesan ke 4 grup lain]
Yanto, yang sedang mengambil kerupuk tambahan tanpa izin, tidak tahu bahwa wajahnya dalam kualitas foto yang cukup memadai untuk dijadikan bahan diskusi sudah beredar di tujuh grup WhatsApp berbeda dalam waktu empat menit.
Dia tidak tahu bahwa ibu-ibu di perumahan dekat jalan besar sedang menebak-nebak asal-usulnya berdasarkan model sandal yang dikenakannya.
Dia tidak tahu bahwa seseorang sudah mengirim foto gerobak Kang Bakso ke grup "WASPADA MAKANAN TIDAK HALAL ???" dengan caption yang menimbulkan perdebatan teologis yang tidak perlu.
Yang dia tahu adalah bakso ini — dan ini fakta yang tidak bisa diperdebatkan oleh siapapun adalah bakso terbaik yang pernah dia makan di sawah pada malam berkabut sambil dikepung dua puluh orang.
Dia menyendok kuah.
Panas. Gurih. Dengan rasa yang punya kedalaman seperti seseorang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan dan memutuskan untuk memasaknya menjadi kaldu.
Di sebelahnya, Kang Bakso berdiri dengan posisi yang tidak sepenuhnya bisa disebut santai tapi juga tidak cukup tegang untuk dicurigai, posisi profesional seseorang yang sudah berlatih bertahun-tahun untuk terlihat seperti tukang bakso biasa.
HT-nya berbunyi lagi.
Kali ini volumenya lebih kecil. Tapi cukup untuk Yanto dengar.
"Sudah masuk grup RT. Over."
Kang Bakso tidak bergerak.
"Grup yang mana. Over."
"Yang bintang lima. Over."
Kang Bakso menghela napas dengan cara yang sangat spesifik napas orang yang sudah mengantisipasi kabar buruk tapi tetap tidak siap ketika kabar itu datang.
"Berapa lama. Over."
"Tiga menit lalu. Sekarang sudah di tujuh grup. Over."
"Admin yang upload. Over."
"Siapa lagi. Over."
Hening sebentar di frekuensi itu.
Kemudian...
"Abort protokol satu. Kita tidak bisa bersaing dengan Admin. Over."
"Roger. Over."
Kang Bakso menaruh HT-nya kembali ke balik termos. Menatap Yanto yang masih makan dengan serius. Lalu dengan nada yang sama datarnya dengan semua yang sudah dia ucapkan malam ini.
"Mau tambah?"
Yanto mendorong mangkoknya ke depan.
"Ya."
Di kejauhan, di sebuah rumah dengan lampu teras yang menyala dan suara siaran olahraga yang mengalir dari dalam, seseorang duduk di depan meja dengan tiga HP berjajar rapi.
Layar pertama: grup RT.
Layar kedua: grup kecamatan.
Layar ketiga: sesuatu yang tidak perlu diketahui siapapun untuk saat ini.
Jari-jarinya bergerak.
Tidak cepat. Tidak lambat. Tapi dengan ritme orang yang sudah melakukan ini begitu lama sampai jari-jarinya tidak perlu diperintah lagi.
Foto baru masuk dari tiga sumber berbeda. Diverifikasi silang. Disimpan. Dikategorikan.
Sebuah pesan baru ditulis.
Dikirim.
Admin telah membagikan informasi ke grup "INFO RT 06"
Layar dimatikan satu per satu.
Kursi bergeser.
Dan malam itu, di rumah yang tidak akan bisa kamu temukan di Google Maps karena tidak pernah ada yang menandainya, Admin pergi tidur.
Tugasnya untuk malam ini sudah selesai.
Besok masih ada.
Besok selalu ada.
Di sawah, kodok itu masih duduk di atas galengan.
Dia sudah ada di sini sebelum grup WhatsApp ada.
Sebelum WhatsApp ada.
Sebelum HP ada.
Sebelum manusia menemukan cara untuk menyebarkan informasi dengan kecepatan yang melampaui kebijaksanaan mereka.
Dia sudah melihat semua iterasi dari hal yang pada intinya sama:
manusia tidak bisa menyimpan rahasia.
Hanya caranya yang berubah.
Dulu: dari mulut ke mulut di sumur.
Sekarang: dari jempol ke jempol di grup bintang lima.
Tidak ada yang benar-benar baru di bawah bulan.
"Kkweek."
Share this novel