Chapter 5

Thriller Series 12

Jam sebelas malam di desa ini bukan jam yang sama dengan jam sebelas malam di tempat lain.

Di kota, jam sebelas malam adalah jam di mana orang masih di jalanan, masih di kafe, masih di manapun yang bisa dibenarkan dengan alasan produktivitas atau sosialisasi. Di desa ini, jam sebelas malam adalah jam di mana semua orang yang masih di luar rumah sudah punya alasan masing-masing dan sebagian besar dari alasan itu tidak akan terdengar masuk akal kalau disampaikan ke orang yang belum pernah tinggal di desa.

Kecuali satu alasan.

Ronda.

Pos ronda RT 06 berdiri di pertigaan jalan sekitar tiga ratus meter dari tepi sawah Pak Maman Blok C. Bangunannya sederhana atap seng, tiang kayu, dua bangku panjang, dan satu meja yang permukaannya sudah mencatat sejarah panjang dalam bentuk bekas gelas, bekas tulisan yang tidak dilanjutkan, dan satu ukiran nama yang sepertinya dibuat oleh orang yang sangat bosan sekitar tahun 2014.

Di meja itu, sebuah senter diletakkan menghadap ke atas, menerangi atap seng dengan cahaya yang melebar dan memudar di tepinya. Di sebelah senter: termos, tiga gelas plastik, satu bungkus kerupuk yang sudah hampir habis, dan sebuah HT tua model lama yang antenanya sudah sedikit bengkok tapi masih berfungsi.

Dan di bangku panjang, duduk tiga orang.

Pak Bambang. Enam puluh dua tahun. Pensiunan. Alasan resminya ronda adalah kewajiban warga. Alasan sebenarnya adalah dia tidak bisa tidur sebelum jam satu pagi sejak anaknya menikah tiga tahun lalu dan rumah tiba-tiba terasa terlalu sepi untuk diisi sendiri. Dia tidak pernah bilang ini ke siapapun. Semua orang di RT sudah tahu.

Pak Udi. Lima puluh delapan tahun. Masih aktif kerja, jaga toko kelontong, tapi tokonya tutup jam delapan dan setelahnya tidak ada kegiatan yang cukup menarik untuk mengalahkan ronda. Pemegang rekor tidak pernah absen ronda dalam dua belas tahun terakhir. Prestasinya ini tidak pernah secara resmi diakui oleh siapapun, tapi dia juga tidak pernah secara resmi meminta pengakuan.

Pak Darto. Usianya tidak jelas karena dia sendiri sudah tidak terlalu yakin. Katanya tujuh puluh, istrinya bilang enam puluh tujuh, KTP-nya bilang sesuatu yang berbeda lagi. Yang jelas: dia sudah ronda di pos ini sejak pos ini dibangun, dan mungkin juga sebelum pos ini dibangun di lokasi yang kurang lebih sama.

Mereka bertiga duduk dalam keheningan yang nyaman jenis keheningan yang hanya bisa terbentuk di antara orang-orang yang sudah cukup sering diam bersama sampai diam itu sendiri menjadi percakapan.

Pak Bambang menatap ke arah sawah.

Pak Udi mengaduk tehnya yang sudah dingin.

Pak Darto tidak melakukan apapun dengan cara yang sangat penuh pengalaman.

 

"Sudah lama itu," kata Pak Bambang akhirnya.

Tidak perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan itu. Mereka bertiga sudah memantau situasi di tepi sawah dari sini sejak sebelum gerobak bakso datang. Senter mereka tidak cukup kuat untuk menerangi sejauh itu. Tapi mata tua yang sudah terbiasa dengan gelap desa punya jangkauan yang berbeda dari mata yang terbiasa dengan lampu jalan.

"Dari tadi," koreksi Pak Udi.

"Kang Sawit sudah datang?" tanya Pak Darto, tanpa mengubah posisi duduknya.

"Dari tadi," jawab Pak Bambang.

Pak Darto mengangguk dengan gerakan kepala yang sangat kecil. "Celuritnya bunyi?"

"Tadi koplo."

"Yang mana?"

"Goyang sayang."

Pak Darto mengangguk lagi. "Biasanya itu kalau dia agak gugup."

Pak Bambang dan Pak Udi menoleh ke Pak Darto dengan kecepatan yang sinkron.

"Gugup?" kata Pak Udi.

"Kalau tenang, biasanya lagu Campursari." Pak Darto mengambil gelas tehnya. "Sudah lama saya perhatikan."

Hening sebentar.

"Pak Darto kenal Kang Sawit?" tanya Pak Bambang.

"Kenal tidak. Tahu iya."

"Bedanya?"

Pak Darto minum tehnya dulu. Pelan. Dengan cara orang yang tidak pernah terburu-buru untuk menjelaskan apapun karena pengalaman mengajarkan bahwa penjelasan yang terburu-buru jarang menghasilkan sesuatu yang berguna.

"Kenal itu kamu duduk semeja, saling tahu nama, pernah berantem dan baikan." Dia menaruh gelas. "Tahu itu kamu cukup lama di dunia ini sampai nama-nama tertentu mulai muncul berulang. Kamu tidak perlu ketemu. Cukup dengar. Cukup lihat dari jauh. Lama-lama kamu tahu pola orangnya."

Pak Bambang memproses ini.

"Dan kebiasaan Kang Sawit?"

"Datang kalau ada yang tidak beres." Pak Darto menatap ke arah sawah. "Dan selalu datang terlambat."

 

Pak Udi meraih HT tua di meja.

Menekan tombol.

"Pos dua, ini pos satu. Ada yang lewat dari arah barat tadi. Over."

Suara berisik. Lalu jawaban.

"Pos dua terima. Satu kendaraan, plat luar kota. Berhenti di tepi sawah Pak Maman. Sudah kami catat. Over."

"Penumpang? Over."

"Satu orang. Besar. Bawa celurit. Over."

"Bunyi musiknya apa waktu turun? Over."

Jeda sebentar di frekuensi itu. Seperti orang yang tidak mengira akan ditanya pertanyaan ini tapi juga tidak sepenuhnya terkejut.

"Koplo, Pak. Over."

Pak Udi menaruh HT. Menatap Pak Darto.

Pak Darto hanya mengangguk sedikit dengan ekspresi orang yang hipotesisnya baru saja dikonfirmasi.
 
"Yang di tengah itu siapa?" tanya Pak Bambang.

"Yang mana?"

"Yang tadi makan bakso. Sendiri. Di tengah kepungan."

Pak Udi dan Pak Darto sama-sama menatap ke arah sawah.

Di kegelapan yang bisa mereka baca tapi tidak bisa sepenuhnya dijelaskan ke orang lain, sosok Yanto berdiri dengan cara yang spesifik cara berdiri yang tidak mengumumkan apapun tapi entah kenapa menyampaikan segalanya ke orang yang tahu cara membacanya.

"Tidak tahu," kata Pak Udi.

"Bukan dari sini," kata Pak Darto.

"Tapi pernah lihat," kata Pak Bambang.

Dua orang lainnya menoleh.

"Di mana?" tanya Pak Udi.

Pak Bambang mengerutkan dahi. Mengingat dengan cara orang tua mengingat tidak dengan cara linier, tapi dengan cara memutar dan memilah dan mencocokkan satu fragmen dengan fragmen lain sampai ada yang klik.

"Foto lama," katanya akhirnya. "Di balai desa. Yang hitam putih itu."

"Foto yang mana?"

"Yang tidak ada keterangannya. Yang kalau kamu tanya Bu Lurah siapa orang-orangnya, dia bilang tidak tahu padahal mukanya bilang tahu."

Pak Udi dan Pak Darto diam.

Angin bergeser.

Gerimis turun beberapa tetes lagi sebelum berhenti lagi tidak konsisten, seperti langit sedang mempertimbangkan sesuatu dan belum sampai pada kesimpulan.

"Itu foto tahun berapa?" tanya Pak Darto pelan.

"Tidak ada keterangannya," jawab Pak Bambang. "Tapi kertasnya... sudah lama."

Pak Darto menatap ke arah sawah lagi.

Di kegelapan sana, di atas galengan yang tidak bisa mereka lihat jelas dari sini tapi keberadaannya terasa dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

"Kodoknya masih di sana?" tanya Pak Darto.

Pak Bambang menyorotkan senternya. Cahaya yang tidak cukup kuat, jarak yang tidak cukup dekat.

Tapi cukup untuk menangkap satu titik kecil di atas galengan.

Tidak bergerak.

"Masih," kata Pak Bambang.

Pak Darto mengangguk pelan.

"Bagus," katanya. "Kalau kodok itu pergi, baru kita perlu khawatir."

 

Tidak ada yang bertanya kenapa.

Di pos ronda RT 06, di antara tiga orang yang sudah cukup lama hidup di desa ini untuk tahu bahwa beberapa hal tidak perlu dijelaskan untuk dipahami, pernyataan itu diterima dengan cara yang sama seperti mereka menerima banyak hal lain.

Diam. Anggukan kecil. Dan teh yang sudah dingin tapi tetap diminum sampai habis.

 

"Shift kita sampai jam dua," kata Pak Udi.

"Iya," kata Pak Bambang.

"Kalau belum selesai juga di sana?"

"Tetap pulang jam dua."

"Mereka masih di sana bagaimana?"

Pak Bambang mengangkat bahu. "Urusan mereka."

Pak Darto mengambil kerupuk terakhir dari bungkusnya.

"Sudah," katanya. "Kerupuknya habis. Tidak ada lagi yang perlu dibahas malam ini."

 

Tiga ratus meter dari sana, di atas galengan sawah, kodok itu menoleh ke arah pos ronda.

Sebentar saja.

Lalu kembali menatap ke arah yang selama ini dia tatap.

Pak Darto benar.

Kalau kodok itu pergi, baru semua orang perlu khawatir.

Tapi malam ini dia tidak kemana-mana.

Malam ini, seperti malam-malam yang sudah terlalu banyak untuk dihitung, dia hanya duduk.

Dan menunggu.

"Kkweek."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience