Series
12
Perempuan satu-satunya di meja itu — yang duduk di ujung kanan, dengan batik merah marun dan cara duduk yang mengkomunikasikan bahwa dia tidak membutuhkan sandaran kursi untuk merasa tegak ... berbicara untuk pertama kalinya.
"Korupsi," katanya, tanpa pembukaan, "bukan tentang uang.
Semua orang di meja menoleh ke arahnya.
Yanto menunggu.
"Uang itu hanya cara." Dia meletakkan tangannya di atas meja, datar, seperti orang yang meletakkan kartu. "Korupsi adalah jalan hidup. Cara memandang dunia. Cara memutuskan siapa yang berhak atas apa. Siapa yang eksis. Siapa yang tidak."
"Dan?" kata Yanto.
"Dan yang di balik Hambalang itu," kata perempuan batik merah marun, "sudah menjalani jalan itu begitu lama sampai dia tidak bisa membayangkan jalan lain. Bukan karena tidak mau. Karena tidak tahu lagi ada jalan lain."
Hening.
"Kenapa ini relevan untukku?"
"Karena," kata perempuan itu, "kamu adalah sesuatu yang tidak masuk dalam petanya. Dan hal-hal yang tidak masuk peta ... dalam sistem seperti itu... tidak didiamkan. Dihapus."
Dari sudut ruangan, tidak ada suara.
Kursi di sudut itu tidak bergerak.
Tetap hadap ke jendela.
Tetap kosong.
Tapi Yanto, dari posisi duduknya, bisa melihat ke arah jendela yang dihadapi kursi itu.
Dan di luar jendela itu...
Di galengan sawah yang terlihat samar dari sini...
Ada titik kecil yang tidak bergerak.
Yanto minum air mineralnya.
Meletakkan gelas kembali di atas taplak hijau.
"Jadi," katanya, "apa yang kalian mau dariku?"
Pria batik biru membuka map ketiga.
"Pertama," katanya, "tanda tangan di formulir kehadiran."
Dia menyodorkan satu lembar kertas.
Di bagian bawah: kolom tanda tangan. Di atas kolom tanda tangan: kalimat kecil yang tercetak.
Di atas materai 10.000.
Yanto menatap kalimat itu.
Menatap pria batik biru.
"Aku tidak bawa materai," kata Yanto.
"Petugas di luar punya."
"Tadi dia bilang ada di warung Pak Hendra."
"Yang tutup jam delapan," kata pria batik coklat sambil tetap menulis di buku catatannya.
"Iya."
"Kami punya stok." Pria batik biru membuka laci meja. Mengeluarkan satu materai. Meletakkan di depan Yanto.
Yanto menatap materai itu.
Menatap formulirnya.
Mengambil pulpen yang disodorkan.
Dan menandatangani bukan karena formulirnya penting, bukan karena materainya mengikat secara hukum apapun yang signifikan, tapi karena di ruangan ini, di meja dengan taplak hijau dan rumbai dan kacang di tengah dan lima orang dengan batik dan map yang sudah disiapkan...
Menolak menandatangani formulir kehadiran terasa seperti pilihan yang akan membutuhkan energi lebih besar dari yang situasinya layak dapatkan.
Pena menyentuh kertas.
Dari sudut ruangan, tidak ada suara.
Tapi kursi itu, dalam cahaya lampu yang tidak sepenuhnya menjangkaunya dalam sudut yang membuat siapapun yang melihatnya tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dilihat...
Tampak sedikit berputar.
Ke arah meja.
Sangat sedikit.
Sangat pelan.
Di luar, di galengan sawah yang terlihat dari jendela yang dihadapi kursi kosong di sudut ruangan, kodok itu duduk diam.
Dia bisa melihat ke dalam ruangan itu dari sini.
Bukan dengan jelas. Tapi cukup.
Cukup untuk melihat siluet meja dan kursi dan taplak hijau dan lima orang dan satu orang yang baru saja menandatangani sesuatu.
Cukup untuk melihat kursi di sudut itu.
Kodok itu dan kursi itu sudah saling tahu keberadaan masing-masing sejak lama.
Lebih lama dari yang mau diingat siapapun.
Tapi malam ini adalah malam pertama ada orang ketiga yang duduk di ruangan yang sama dengan keduanya.
Dan orang itu baru saja menandatangani sesuatu.
Di atas materai 10.000.
Kodok itu tidak tahu apakah itu awal atau akhir dari sesuatu.
Mungkin keduanya.
"Kkweek."
Share this novel