Chapter 10

Thriller Series 12

Ada aturan tidak tertulis di desa ini.

Bukan aturan yang dibuat dalam rapat. Bukan aturan yang ada di papan pengumuman balai desa atau di grup WhatsApp manapun termasuk yang bintang lima. Ini aturan yang tumbuh sendiri dari kebiasaan kolektif orang-orang yang tinggal cukup lama di tempat yang sama sampai mereka tahu mana hal yang boleh dibicarakan dan mana hal yang lebih baik tidak.

Aturan itu sederhana:

Blok D tidak dibicarakan setelah matahari terbenam.

Bukan karena ada yang melarang. Bukan karena ada sanksi tertulis di peraturan RT yang bisa dikutip dengan nomor pasal. Tapi karena pada suatu titik — tidak ada yang bisa ingat kapan tepatnya — orang-orang berhenti membicarakannya. Dan ketika sesuatu sudah cukup lama tidak dibicarakan, diam itu sendiri menjadi aturan.

Yanto membaca kertas kecil itu sekali lagi di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip — lampu yang menyala dengan konsistensi seperti pegawai yang sudah menemukan kecepatan bekerja paling minimal yang masih bisa disebut bekerja.

Blok D. Rumah tanpa nomor. Tanya dispenser-nya.

Dia melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam saku.

Lalu berjalan.

 

Blok D ada di peta.

Tapi tidak dengan cara yang sama seperti blok-blok lain ada di peta.

Blok A punya jalan masuk yang jelas. Blok B punya warung di tikungan yang jadi patokan. Blok C punya sawah Pak Maman yang belakangan ini terlalu sering jadi lokasi kejadian yang tidak bisa dilaporkan dengan kalimat yang masuk akal.

Blok D punya sebuah jalan yang ada tapi terasa seperti tidak direncanakan — jalan yang muncul di antara dua blok lain dengan cara yang, kalau kamu pikirkan terlalu lama, terasa seperti sesuatu yang memaksakan diri untuk ada di antara hal-hal yang sudah ada sebelumnya.

Jalannya tidak sempit. Tidak gelap secara khusus. Tidak ada kabut tebal, suara aneh, atau semua hal yang biasanya ada di tempat-tempat yang ingin dianggap berbahaya.

Hanya sepi.

Jenis sepi yang berbeda dari sepi di sawah tadi malam — itu sepi yang hidup, yang diisi suara kodok, angin, dan aliran sungai. Sepi di Blok D adalah sepi yang sudah ada sejak lama sampai lupa kalau ada keadaan lain selain sepi.

 

Rumah-rumah di Blok D ada.

Hal itu yang pertama kali diperhatikan Yanto — bukan karena tidak ada bangunan, tapi karena bangunan yang ada terasa seperti rumah yang pernah ditinggali tapi sudah lupa rasanya dihuni. Cat temboknya tidak bisa dibilang bagus, tapi juga tidak rusak parah — dalam kondisi netral, terjadi karena tidak ada yang merawat tapi tidak ada juga yang merusak. Jendelanya tertutup semua. Pintunya tertutup semua.

Tidak ada lampu yang menyala.

Tidak ada suara yang terdengar dari dalam rumah mana pun.

Tapi ada sesuatu yang berbeda dari rumah kosong biasa — sesuatu yang baru disadari Yanto saat dia berhenti di depan rumah ketiga dan mengamatinya lebih lama dari yang seharusnya.

Tidak ada nomor rumah.

Bukan hanya rumah ketiga saja. Tidak ada satu pun rumah di sepanjang jalan ini yang bernomor. Di tempat yang biasanya ada papan nomor — di tiang pagar, di tembok dekat pintu, atau di mana saja — hanya ada bekasnya saja. Bentuk persegi panjang yang warnanya sedikit berbeda dari cat tembok di sekitarnya. Bekas yang menunjukkan bahwa nomor itu pernah ada di sana.

Lalu dilepas.

Kapan dan oleh siapa, tidak ada yang bisa menjawabnya hanya dari melihat keadaan di sana.

 

Rumah tanpa nomor.

Yanto berjalan semakin masuk ke dalam.

Kalau semua rumah tidak bernomor, maka petunjuk itu tidak ada gunanya kecuali ada satu rumah yang berbeda dari yang lain, berbeda bukan karena nomornya dilepas, tapi karena memang tidak pernah ada nomornya dari awal.

Dia mencari perbedaan itu.

Dan menemukannya di ujung jalan.

Rumah paling ujung. Ukurannya tidak lebih besar dari yang lain. Catnya sama saja, tidak lebih bagus atau lebih buruk. Jendelanya tertutup rapat sama seperti rumah-rumah lainnya.

Tapi di tempat rumah-rumah lain punya bekas papan nomor — bentuk persegi panjang yang warnanya sedikit berbeda — rumah ini tidak punya bekas apa pun.

Temboknya rata, warnanya sama semua. Seperti tidak pernah ada apa pun yang ditempel di sana.

Seperti memang dari awal tidak direncanakan untuk punya nomor.

 

Yanto berdiri di depan pintu rumah itu.

Pintunya dari kayu. Sudah tua tapi tidak lapuk — jenis tua karena umur, bukan karena tidak dirawat. Gagangnya dari besi yang sudah menghitam karena sering dipegang — artinya pintu ini dulu sering dibuka tutup. Artinya dulu sering ada orang yang lewat sana.

Dia mengetuk pintu.

Tiga kali, dengan jeda yang teratur.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada kursi yang bergeser, tidak ada tanda bahwa ada orang yang mendengar.

Yanto menunggu sepuluh detik.

Lalu mengetuk lagi.

Kali ini lebih keras. Caranya menunjukkan kalau ini bukan ketukan pertama, dan orang yang mengetuk sudah tahu bedanya rumah yang benar-benar kosong dengan rumah yang ada isinya tapi malas menjawab.

Lalu terdengar suara dari dalam.

Bukan suara langkah kaki. Bukan suara orang bicara. Bukan suara benda jatuh.

Suara yang tidak langsung dikenali Yanto, sampai beberapa detik kemudian otaknya mencocokkan dengan apa yang dia tahu —

Suara air.

Seperti air yang sedang dipanaskan. Seperti gelembung-gelembung kecil yang naik ke permukaan. Seperti —

Suara dispenser air.

 

Pintu terbuka.

Tidak ada yang membuka dari dalam. Tapi pintu itu jadi terbuka sendiri karena diketuk cukup keras, dan engselnya sudah cukup longgar untuk bergerak hanya karena getaran, tanpa perlu disentuh tangan.

Bagian dalamnya gelap. Bukan gelap gulita — ada sedikit cahaya dari satu sumber yang belum terlihat Yanto dari depan pintu, tapi bisa dirasakan keberadaannya karena ruangan itu tidak sepenuhnya gelap.

Dan suara air itu terdengar semakin jelas.

Yanto masuk ke dalam.

 

Ruangan pertama kosong melompong.

Tidak ada perabot, tidak ada barang-barang. Lantainya bersih, bukan karena baru disapu, tapi karena memang tidak pernah ada kotoran yang menumpuk di sana. Dindingnya polos. Tidak ada foto, kalender, atau bekas paku yang menancap.

Di pojok ruangan, ada satu pintu lain yang terbuka sedikit.

Cahaya dan suara itu datang dari sana.

Yanto berjalan mendekati pintu itu.

 

Di balik pintu yang terbuka sedikit itu:

Ada sebuah dispenser air.

Berdiri tepat di tengah ruangan kecil itu, dan di ruangan itu tidak ada apa pun selain dispenser itu saja. Model yang sudah agak lama — galonnya ditaruh di atas, ada dua keran di bawah, bodi plastik putihnya sudah menguning di beberapa bagian. Mereknya tidak terbaca karena stikernya sudah pudar sekali.

Kabel listriknya tidak tercolok ke mana-mana. Ujung kabelnya menggantung lemas di samping dispenser, tidak menyentuh stopkontak karena memang tidak ada stopkontak di ruangan itu.

Tapi lampunya menyala.

Lampu indikator kecil di bagian depan — yang biasanya menyala untuk menunjukkan air sedang dipanaskan atau sudah dingin — menyala warna merah. Terang dan diam, tidak berkedip sedikit pun.

Dan suara air mendidih itu terdengar jelas dari dalam mesin itu.

Yanto berdiri di ambang pintu ruangan kecil itu.

Menatap dispenser itu.

Dispenser itu tidak melakukan hal aneh lain selain apa yang sudah dilakukannya — menyala, mendidih, ada di sana — dengan tenang, seperti benda itu sudah melakukan hal yang sama terlalu lama sampai tidak butuh alasan lagi untuk ada.

Tanya dispenser-nya.

Yanto menatap benda itu dengan cara yang tidak pernah dia gunakan untuk melihat barang elektronik sebelumnya — cara yang biasanya dia pakai kalau sedang menatap hal-hal yang mungkin bisa menjawab pertanyaannya.

“Kamu,” kata Yanto kepada dispenser itu, dengan nada datar dan sadar betul kalau kalimat itu adalah hal yang tidak mungkin dia ceritakan pada siapa pun nanti tanpa dianggap gila, “seharusnya kamu tidak menyala.”

Suara air mendidih terus terdengar.

“Insiden 98,” kata Yanto lagi. “Kamu ada hubungannya dengan itu.”

Suara air mendidih terus terdengar.

“Sudah berapa lama kamu ada di sini?”

Suara air mendidih terus terdengar.

Lalu tiba-tiba ada yang berubah.

Warna lampu indikator berganti.

Dari merah berubah jadi biru.

Perlahan. Seperti memang sudah diatur begitu, bukan karena rusak.

Dan dari dalam badan dispenser itu — padahal dispenser itu kan tidak punya pengeras suara — terdengar sebuah suara.

Bukan suara orang bicara. Bukan suara mesin berbunyi. Tapi sesuatu yang ada di antara keduanya, kualitas suaranya seperti rekaman lama yang sudah diputar berkali-kali sampai suara berisiknya jadi menyatu dengan suaranya sendiri.

Tiga kata saja.

Hanya tiga.

“Jangan buka galonnya.”

 

Yanto menatap galon air yang ada di atas dispenser itu.

Galon biru biasa, ukuran standar. Tidak tembus pandang — isinya tidak bisa dilihat dari luar. Tutupnya terpasang rapat. Tidak ada label, tidak ada tulisan apa pun.

Hanya sebuah galon.

Yang untuk pertama kalinya sejak dia masuk ke rumah itu, terasa seperti benda yang paling penting di sana.

Dia tidak menyentuhnya.

Belum.

 

Di luar rumah tanpa nomor di ujung Blok D, di atas pagar pembatas yang rendah, seekor kodok duduk diam.

Dia sudah ada di sana sebelum Yanto datang.

Sudah ada di sana sebelum malam ini tiba.

Sudah ada di sana, dalam wujudnya yang berulang dan sedikit berbeda, sejak sebelum rumah ini dibangun, sebelum Blok D punya nama, dan sebelum desa ini ada di peta.

Dia mendengar tiga kata yang keluar dari dispenser itu.

Dia tahu apa isi galon itu.

Dan dia memilih diam saja.

Seperti biasa.

Seperti selalu.

“Kkweek.”

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience