"nah ni kita sudah sampai" ucap sang ayah pada keluarganya.
mereka pun menatap dengan tanpa gairah.
"yah ayah, kirain mau ngajak jalan kemana, kita mah dah sering yah ke mall" saut Riska pada ayahnya.
"tapi ini mah beda sayang, kalian sepuasnya main permainan yang ada di mall ini" balas sang ayah.
"ahh palingan juga sama permainanya gitu-gitu doang" Jawab siska cemberut.
"yudh yuk turun, nanti liat ajah deh sama kamu, kalo bener apa kata ayah, riska jangan ada kata seneng ok" ledek sang ayah.
"yudh deh" saut riska.
mereka pun turun dari mobil, setelah mereka turun, mereka segera berjalan menuju arah pintu masuk mall.
"udah dong dek, jangan cemberut gitu, malu nanti di liat orang banyak di mall" ucap siska memberitahu dengan merangkul adiknya.
"iya iya kak" jawab riska.
sampailah mereka di dalam mall, bener yang di katakan sang ayah, mall tersebut banyak berbagai mainan, sebab dari awal masuk saja, terlihat berbagai jenis mainan, mungkin bisa terhitung orang yang jual barang-barang elektronik, pakaian, maupun semacamnya, mall tersebut seperti dunia mainan.
"gimana sayang, rame kan" tanya sang ayah pada riska yang sedang menggendong amel.
"iya yah, hihi" jawab riska dengan nyengir.
"yayah yayah" suara amel yang menyebut ayahnya, mereka pun langsung menengok arah amel yang sedang di gendong ayah nya.
"mau apa kamu sayang" tanya ayahnya.
amel pun menggerakan tanganya ke arah depan seperti orang menunjuk ke suatu tempat, ayah pun mencari apa yang sedang amel tunjuk, ternyata terdapat balon es krim yang lumayan besar.
"ohh kamu mau es krim sayang" ucap sang ayah.
ya bgtu namanya juga masih anak kecil, mau sesuatu harus merengek dulu, jadi harus kita yang peka kepadanya, apa yang iya inginkan.
"yudh yuk ke sana" ajak sang ayah.
kemudian ayah mengajak keluarganya menuju pedagang es krim, lalu sang ayah memesan 6 es krim, sebab di karenakan amel masih kecil jadi yah berdua sama ibunya.
"yah aku boleh beli dua gak" tanya riska senyum melihat ayahnya, supaya agar di belikan.
"dih maruk bener si dek" saut rendi pada riska.
"biarin sih wlee" ejek riska pada rendi.
"yudh kalo gtu, rendi juga mau dong 1 lagi yah, pliss" ucap rendi sambil memohon pada sang ayah.
"yudh mba, pesan 4 lagi buat 4 anak saya yang gede" ucap sang ayah pada mba pelayanya.
sebelum terlambat mba pelayan membuat 4 es krim lagi, sontak andi dan siska berbicara.
"saya gak usah mba 3 aja bikin" saut andi pada mba pelayan.
"eh saya juga mba gak usah" saut siska juga pada mba pelayanya.
"baik de" jawab mba pelayanya pada andi dan siska.
"loh kenapa gak mau kalian" tanya sang ayah pada andi dan siska.
" gak apa-apa yah, ya kan bang, lagi juga satu cukup kok" jawab siska melihat bang andi, bang andi pun hanya menganggukan kepalanya pertanda iya.
"yudh kalo gitu" bales sang ayah.
serasa sudah cukup membeli es krim nya, mereka pun berjalan lagi sambil melihat-lihat isi dalam mall tersebut.
ada satu buah permainan yang keliatanya menarik, bentuk nya kotak lumayan besar, ntah apa namanya permainan itu karna mereka belum pernah melihatnya.
"yah yah, coba ke sana yuk, kayaknya permainan itu seru" ucap andi pada sang ayah sambil menunjukkan jarinya ke arah sebuah permainan.
"ohh yang bentuknya gede itu" tanya sang ayah pada andi.
"iya bener yah" jawab andi.
lalu andi dan ayahnya berjalan menuju ke tempat mainan yang di maksud, di susul sama yang lain.
mereka pun sampai pada permainan itu.
"ini mah kaya permainan ludo ya yahh" tanya sang ibu pada ayahnya untuk memastikan benar atau salah.
"iya bener, kaya permainan ludo, tapi ini dengan bentuk mesin" jawab sang ayah.
"tapi bentar ayah mau liat dulu, ini pake coin apa pake kartu yah" ucap sang ayah yang mengecek sisi permainan itu.
setelah ayah mengecek sisi-sisi permainan itu, sang ayah pun pergi ke tempat pengisian saldo kartu tamzon itu.
"bentar ya, ayah mau ngisi saldo kartu ini dulu, kalian tunggu sini sama ibu" pesan ayah.
"baik yah" jawab serempak sang anak.
setelah menunggu beberapa menit, sang ayah kembali ke mereka.
"siapa yang mau main ini" tanya sang ayah pada anaknya.
"aku yah"
"aku yah"
"aku yah"
jawab andi, rendi dan siska yang mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
"kamu gak mau main nak" tanya ayah pada riska, karna dia doang yang tidak menjawab.
"gak ahh, gak ngerti, mending main yang lain" jawab riska.
"yudh riska sama ibu aja yuk sayang, kita tempat kolam renang bola, sekalian nemenin adek kamu" ajak sang ibu yang menunjuk ke arah tempat kolam renang bola.
"yudh yuk bu" jawab riska senang.
"yudh ya yah, aku sama riska ke kolam renang bola dulu" pamit ibu pada suaminya.
"iya sayang, hati-hati" pesan sang suami.
mereka berpisah untuk bermain keinginan mereka.
suasana begitu rusuh, dengan banyak suara sebuah permainan yang ada di mall tersebut.
"dih ayah curang nih udah berapa kali ayah menang terus" ucap andi pada ayah nya.
"mana ada ayah curang, ini kan yang ngocok dadu nya dari sistemnya" jawab sang ayah menjelaskan.
sudah 4 kali berturut-turut ayah memenangkan permainan dadu.
karna ayah melihat mereka kasian akhirnya sang ayah mengalah.
"yudh gini aja, ayah gak ikutan dulu, kalian bertiga dulu, semisal di antara kalian ada yang menang sekali, ayah kasih hadiah" ucap ayah mengasih challenge kepada ketiga anaknya.
"yang bener yah" tanya siska.
"iya bener, masa ayah boong sih" ucap ayah lagi.
mereka bertiga pun semangat akan challenge yang ayah berikan pada mereka, mereka pun kesel karna tidak ada yang menang bahkan objek yang mereka keluarkan dari sarangnya di masukan lagi oleh lawan, begitu ajah sampai bikin pusing kepala, ayah yang melihatnya juga geregetan karna sudah satu jam mereka memainkan ludo.
"dah ahh, cape masa gak ada yang menang satu pun di antara kita" ucap siska merengek.
"mau di lanjut lagi apa gak nih" saut sang ayah memberi kesempatan.
"gak yah" jawab mereka bertiga serempak.
"yudh mau ganti permainan" tanya ayah pada ketiga anaknya.
" iya yah ganti permainan aja" jawab andi.
"yudh kita cari yuk" ajak sang ayah pada ketiga anaknya.
mereka berempat pun berjalan sambil menengok kanan kiri mencari permainan yang seru.
terlihat di sebelah kolam renang bola, terdapat permainan unik.
Share this novel