BAB 5 : MASAKAN GOSONG

Drama Completed 209

terlihat seorang Siska yang sedang menyapu , sudah menjadi kebiasaan Siska, rutinitas di rumahnya, Siska pun sudah sebagian dari tanggung jawabnya untuk mengurus semua rumah, maupun mengurus adik-adiknya.

untung baginya mengurus adik-adiknya tidak sesulit apa yang dia pikirkan, karna adik-adiknya masih mudah di omongin kalo ada masalah di salah satu adiknya.

apalagi di rumah sekarang dia hanya bertiga, yang cuman mengurus kedua adiknya aja yang di rumah, jadi baginya tidak ada penekanan untuk kedua adiknya.

"kak, bau apa nih" teriak Rendi yang baru keluar dari kamarnya.

"ha, emang bau apa dek" jawab Siska yang belom sadar kalau dirinya sedang memasak.

"yah ampun kak, liat nih, kaka masak apa, sampe gosong begini" teriak Rendi lagi pada kakanya.

"oh iya, kaka lagi masak nasi goreng dek,hahahaha" jawab Siska yang telah tersadar, namun sambil ketawa kaya gak bersalah.

siska pun bergegas menuju dapur, dan melihat seorang Rendi yang kesel akan kelalaian kakanya.

"kaka beg*apa gimana sih, lagi masak di tinggal" ucap Rendi serasa mengatakan kakanya sendiri seperti gak becus.

"yudh sih santay aja kali, gak usah bentak-bentak" jawab Siska yang menunduk akan kemarahan Rendi.

ntah siapa yang harus kita belain, kak Siska atau bang Rendi, sebab kak Siska yang salah kelalaiannya, Rendi pun bener menegur kakanya, di balik itu Rendi pun juga salah menegur kakanya dengan nada kasar.

bentakan Rendi terdengar begitu kencang , membuat seorang Amel yang sedang tidur pun terbangun.

"ya ampun, ada apa sih pagi-pagi teriak"ucap Amel yang hendak menuruni tangganya.

"liat tuh, kelalaian kak Siska masak sampai gosong" tunjuk Rendi pada masakan kak Siska yang item seperti areng.

"yudh sih bang, gak usah pake bentak-bentak kak Siska juga, mungkin kak Siska lupa" jawab Amel menatap bang Rendi, sambil memeluk kakanya yang tengah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"yudh yuk kak sama Amel, gak usah dengerin ucapan bang Rendi" ajak Amel pada kak Siska.

Amel pun mengajak kakanya menuju ruang tamu, Amel tahu karna Amel juga seorang perempuan, pasti kalau ada lelaki yang bentuknya pasti seorang perempuan akan sedih, walaupun yang bentaknya adiknya sendiri.

Rendi pun dengan seorang diri, membereskan peralatan masak tersebut.

"kaka gak apa-apa" tanya Amel pada kakanya.

kak Siska pun hanya mengangguk.

"biarin kak nanti adek laporin ke bang andi, biar di marahin balik" ucap Amel dengan penuh emosi seraya ingin sekali bang Rendi, kena marah bang andi.

"udah gak usah dek" larang Siska.

setau Siska, jika Amel melaporkan kepada bang andi, kalau Rendi bentak-bentak padanya, bang andi pasti akan marah besar, sejatinya bang andi tidak suka akan hal, prilaku buruk, apalagi pada saudara kandung nya sendiri, bagaimana nanti jika sama orang lain, akan berbuat bagaimana.

"lebih baik kamu mandi terus siap-siap buat sekolah" perintah kak Siska pada Amel.

"baik kak" jawab Amel.

Amel pun berjalan menuju kamar mandi, sebelum tiba di kamar mandi Amel melihat bang Rendi lalu mengatakan.

"awas kau bang aku laporin bang andi nanti" ejek Amel.

"bodo amat, laporin aja" jawab Rendi dengan masa bodo.

walaupun dengan jawaban Rendi bodo amat, seperti tidak perduli, namun Rendi merasa bersalah juga pada diri sendiri, karna sudah membentak pada kakanya sendiri.

Rendi pun berjalan menghampiri kak Siska berada.

"kak"

"hmm"

"Rendi minta maaf yah" ucap Rendi merasa bersalah pada kakanya.

"iya kaka maafin".

" makasih kak, lain kali Rendi gak akan bentak-bentak kaka lagi dah "ucap Rendi lagi sambil memeluk sang kaka.

" yudh sana kamu mandi, hari ini masuk kuliah kan "perintah kak Siska.

" kebetulan hari ini gak ada jam pelajaran kak, mungkin nanti siang"jawab Rendi.

"yudh nanti kamu antarin adek kamu ke sekolah yah, kaka mau lanjutin beres-beres rumah lagi"

"baik kak"

Rendi bergegas ke kamarnya untuk mengganti bajunya.

"dek tunggu abang yah, mau ganti baju dulu, nanti abang yang anter kamu sekolah, kata kak Siska" ucap Rendi pada Amel yang melihat, Amel sedang berjalan menurunin tangga.

"iya bang, aku nunggunya di depan rumah yah" jawab Amel.

saat Amel jalan menuju ke luar rumah, kak siska masih ada di ruang tamu sedang menyapu.

"kak, aku pamit berangkat sekolah dulu yah" ucap Amel berpamitan pada kakanya.

"iya dek, maaf kaka gak bisa anter kamu yah, kaka masih lanjutin beres-beres rumah , kamu sama bang Rendi dulu ok"

"baik kak".

rendi pun telah selesai mengganti pakaian, segera menyusul adiknya keluar.

" kak Rendi pamit dulu yah" ucap Rendi.

"iya dek, Hati-hati kamu bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut" pesan kaka nya.

"baik kak" jawab Rendi kembali, sambil berjalan arah keluar rumah.

***

sampailah rendi di sekolahan Amel, Amel pun segera turun dari mobil, dan memasuki sekolah.

sebelum rendi melanjutkan menyetir mobil, Rendi melihat seorang siswi sedang berbicara bersama siswi lain di halaman lapangan upacara.

Rendi melihatnya dengan antusias, dan berpikir terlebih dalam.

"apa siswi itu yang di maksud Amel, yang udah bikin dia bonyok, kalau pun di wajah dia itu tanda lahir masa iya tanda lahir mukanya seberantakan begitu kaya bekas tonjokan" gumam Rendi dalam hati

"tapi gwa gak mau su'udzon dulu ahh, barangkali bener-bener ituh tanda lahir di mukanya".

tidak ambil pusing memikirkan nya Rendi pun menginjak gas mobil untuk menuju pulang.

di pertengahan jalan, Rendi terpikir akan motor milik nya, Rendi pun segera pergi ke sebuah rumah makan yang pernah ia singgah.

tempat rumah makan tersebut tidak jauh dari sekolahan Amel, bahkan dari rumah menuju sekolahan Amel, malahan sudah kelewat.

sampai lah Rendi di rumah makan tersebut, Rendi segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah makan itu.

"permisi bu" ucap Rendi pada ibu-ibu yang melayani pelanggan-pelanggan.

"iya dek ada apa" jawab ibu tersebut.

"ini, saya mau menanyakan motor saya, Kira-kira dimana yah"

"ohh kamu yang kemarin ituh yah, yang nitip motor, kalo kamu mau anter orang yang kecelakaan" tanya ibu tersebut.

"iya bener bu"

"bentar yah, ibu panggilkan anak ibu dulu".

" baik bu"

ibu pemilik warung pun berjalan menuju sebuah ruangan, kemungkinan ruangan itu di peruntukan anaknya kalau sedang istirahat.

setelah ibu pemilik warung memanggik anaknya, ibu tersebut keluar dari ruangan itu bersama anaknya.

"nih nak, orang yang kemarin nitip motor sama ibu" ucap ibu itu sambil menunjuk Rendi , orang yang nitip pada dirinya.

"yudh kalo begitu, mari ikut saya bang" ajak anak pemilik rumah makan tersebut.

Rendi dan anak pemilik rumah makan tersebut berjalan ke dapur, setelah sampainya di pintu belakang rumah makan itu, Rendi terkejut.

sebab Rendi di kaget kan dengan garansi yang begitu luas, terdapat 4 motor sport satunya punya Rendi, dan 2 mobil , yang satu mobil pajero yang satunya lagi mobil yaris.

"pantesan ibu tadi gak kaget liat gwa naik mobil" gumam Rendi dalam hati.

"nih motornya bang, bentar yah saya mau ambil kunci sama tasnya dulu di kamar saya" ucapa anak pemilik warung itu.

"baik bang" jawab rendi dengan anggukan.

sambil menunggu anak pemilik warung itu, Rendi menggeleng-geleng tidak menyangka.

seorang keluarga yang kaya raya namun, memiliki warung makan yang sederhana, bagaimana bisa.

dan gak abis pikir, yang di kira Rendi rumah yang di samping rumah makan itu, rumah milik orang lain, ternyata dugaannya salah.

"bang" panggil anak pemilik warung itu.

Rendi pun masih belum menyadari akan datangnya anak pemilik warung itu.

"bang" panggil kedua kalinya.

"eh iya" rendi pun tersadar dari lamunannya.

"kok bengong gitu bang" tanya anak itu heran.

"eh engga apa-apa kok" Jawab Rendi boong.

"makasih yah bang, dah mau bantu" ucap Rendi lagi pada anak itu.

"iya sama-sama bang, oh iya nama abang siapa, saya bastian"tanya anak itu mengulurkan tanganya.

"nama saya rendi" jawab Rendi balas uluran tangan bastian itu.

mereka pun bersalaman.

"yudh yah bang saya pamit dulu" ucap bastian berpamitan.

"iya bang, oh iya bang jangan panggil saya bang, soalnya saya masih kelas 1 SMP, memang sih badan doang tinggi soalnya keturunan, hehe" jawab bastian ketawa kecil.

"oh ok kalau gitu"

Rendi pun mengeluarkan motor yang di susuli bastian untuk membukakan pintu gerbangnya.

sebelum Rendi pulang ke rumah, Rendi pun berpamitan pada ibunya bastian.

"bu, makasih banyak yah sudah membantu" ucap Rendi.

"oh iya dek, sama-sama" jawab ibu bastian.

setelah Rendi bersalaman pada ibunya bastian, Rendi pun menuju parkiran rumah makan itu, tidak ambil pusing, bahkan tidak mau bikin repot kakanya untuk ambil mobilnya.

Rendi pun memesan mobil pik up di internet untuk membawakan motornya ke rumah, sedangkan Rendi menggunakan mobilnya lagi.

mobil pik up pun dateng setelah beberapa jam Rendi menunggu.

kemudian Rendi segera menjalankan mobilnya itu,dan di ikuti mobil pik up yang m membawa motornya Rendi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience