BAB 6 : ANDI PULANG

Drama Completed 209

sampailah Rendi di rumah, Rendi pun segera keluar mobil dan membukakan pintu gerbangnya supaya mudah untuk memasuki motor dan mobilnya.

"mas motornya mau di turunin di mana" tanya seorang laki-laki yang menghantarkan motor milik Rendi.

"oh iya Pak, tolong turunin di sini aja" jawab Rendi pada bapak tersebut.

bapak tersebut segera menurunkan motornya yang ia bawa di mobilnya, di bantu dengan seorang Rendi.

akhirnya motor Rendi pun telah di turunkan dari mobil pik up tersebut.

serasa sudah beres bapak yang menghantarkan motornya Rendi, segera berpamitan.

"baik mas, kalau sudah beres saya pamit dulu yah" ucap bapak itu berpamitan pada Rendi.

"oh iya Pak, nih pak untuk tambahan bapak" jawab Rendi yang memberikan sebuah amplop pada bapak tersebut.

"waduh mas gak usah" tolak bapak itu.

"udah pak gak apa-apa, Terima aja" tutur Rendi dengan senyuman.

"Terima kasih banyak ya mas" ucap bapak itu berterima kasih pada Rendi.

"iya sama-sama" jawab Rendi.

"mari mas" ucap bapak itu kembali.

kemudian bapak itu memasuki mobilnya, dan mobil pun melaju.

Rendi pun yang melihat mobil pik up sudah menjauh darinya, Rendi segera memasuki motor dan mobilnya itu.

serasa mobil dan motornya sudah di masukin ke garansi, Rendi pun menutup pintu gerbangnya kembali.

kemudian Rendi berjalan untuk masuk rumah.

"kak Rendi pulang" sahut Rendi yang sudah memasuki rumah.

"iya dek" jawab kak Siska.

Rendi yang mendengar jawaban dari kakanya, Rendi segera menghampiri sang kaka.

"kak, lagi makan apa tuh, kayaknya enak banget" tanya Rendi yang melihat kakanya sedang makan dengan menikmatinya, kemudian Rendi pun ikut duduk di samping kakanya.

"ini kaka makan, daging sapi di rendang, tadi kaka abis masak" jawab kak Riska

"ohh kirain makan yang tadi pagi, hehe" ledek Rendi yang masih mengingat kejadian tadi pagi, waktu kak Siska masak nasi goreng.

"isssh, apaan sih" jawab kak Siska cemberut.

"Yailah kak, cuman bercanda kali" ucap Rendi mengelus pipi sang kaka, agar kakanya tidak ngambek lagi.

"yudh tuh kamu makan dulu, nanti keburu rendang daging sapinya berubah jadi sapi lagi" sahut Siska ngadi-ngadi untuk menetralkan suasana.

"ahahaha, kaka bisa aja balikin candaanya" jawab Rendi yang sedang menyendok nasi ke piringnya.

yah begitu lah keluarga mereka, terkadang berantem, terkadang akur, yang penting di salah satu antara mereka yang sedang emosi, yang lain pun harus memenangkan nya.

ketika mereka berdua sedang menikmati makan nya, terdengar suara di balik tas milik Rendi.

"Rendi, Rendi ada yang telefon nih, angkat dong, kalo gak HP nya di ambil lagi sama lenternir" suara panggilan telefon milik Rendi.

mereka berdua yang mendengar nya,sontak kaget dengan keanehan suara panggilan HP milik Rendi.

"eh buseh itu suara panggilan alay banget, ada kata kalo gak di angkat di ambil lenterin gitu" sahut kak Siska yang ketawa mendengar suara panggilan telefon milik Rendi.

Rendi yang mengenali suara itu dari HP nya, Rendi pun membuka sleting tasnya dan mengambil HP nya.

di lihat lah oleh Rendi, yang menelfon Rendi adalah bang Andi, Rendi pun segera mengangkat telefon dari abang nya itu.

"halo ren" ucap andi di balik telefon.

"iya bang,kenapa"jawab Rendi.

" kamu dimana dek, bisa jemput abang gak di bandara "ucap bang andi kembali.

Rendi yang di suruh, belum juga Rendi menjawab ucapan bang andi, lantas kak Siska pun menyerobot menjawab ucapan abangnya itu.

" biar Siska aja bang, Rendi lagi makan soalnya" jawab Siska secara tiba-tiba , bikin Rendi kaget.

"ok dek, abang tunggu yah" ucap bang andi.

kemudian telefon di tutup oleh bang andi.

"eh buseh kak, santay aja kali ngomong nya, pelan aja bisa kan" sahut Rendi yang kesel dengan nada suara kakanya, gimana tidak kesel, ngomong nya pas banget di samping telinga Rendi.

"iya, iya maaf dek sayang" ucap Siska yang mencium pipi Rendi dan segera mengambil kunci mobil yang ada di meja makan.

"dek kaka nitip rumah yah" pesan kak Siska yang sambil berjalan menuju keluar rumah.

"iya, iya" jawab Rendi.

"hadeh, gini amat yah punya kaka satu-satunya, untung cuman satu, coba kalau 10" gumam Rendi dengan tingkah lakunya kak Siska.

***
di tempat Siska berada, Siska pun telah bertemu bang andi dan adik nya yang kedua yaitu Riska.

"kak, Riska kangen tau" ucap Riska memeluk kakanya.

"iya sayang, kaka juga kangen sama kamu" jawab Siska.

andi yang mendengar ucapan Siska, sontak andi berkata.

"loh jadi, Siska gk kangen nih sama abang" ucap andi yang bercanda.

"kangen juga sih, hehe" jawab Siska dengan muka malunya, begitu pun Riska yang mendengar jawaban kak Siska pun ikut ketawa.

"yudah yuk, kita langsung pulang aja, keburu sore, sini kunci mobilnya biar abang yang nyetir" ajak andi pada kedua adiknya.

"yuk bang" jawab Siska.

"bang andi, biar riska sama kak Siska aja yang bawa barang-barangnya" Riska pun menawarkanya agar barang-barangnya di bawakan.

"yudh kalian berdua bawa semua pesanan untuk yang ada di rumah aja, biar tas ini abang yang bawa" ucap andi.

mereka bertiga pun langsung menuju mobil dan memasuki barang-barangnya ke dalam bagasi mobil, kemudian mereka segera masuk ke dalam mobil.

mobil pun berjalan menuju rumah, di perjalanan andi hanya mendengarkan obrolan dari kedua adiknya itu, ntah apa yang mereka bicarakan sampai tertawa terbahak-bahak.

andi yang ingin tahu pun bertanya.

"kalian pada ngomongin apa sih kayaknya seru banget" tanya andi pada kedua adiknya.

"dih kepo banget deh, kaya bang Rendi aja yah kak, kepoan, haha" jawab Riska yang meledek abangnya sendiri, kak Siska pun ikut tertawa mendengar jawaban Riska.

"gak bang bercanda kok, ini kita lagi ngomongin, cerita aku, yang pernah aku ceritain ke abang itu loh di sana" sahut Riska lagi, takutnya Riska yang meledek seperti itu, bang andi malah kesel sama Riska.

"ohh yang itu dek" jawab andi paham.

akirnya mereka pun sampai di rumah, yang sudah menempuh perjalanan pulang sekitar 2 jam lebih, tapi dengan mereka bertiga sambil mengobrol, tidak akan terasa bagi mereka.

setelah mereka sampai di garansi, mereka pun turun dan mengambil barang-barangnya untuk di masukan ke dalam rumah.

ketika bang andi membuka pintunya, terlihat Amel yang sedang berdiri menunggu kedatangan bang andi dan kak Riska.

"bang andi, kak Riska" sapa kedatangan andi dan Riska sambil memeluk keduanya.

"bang, kak, Amel kangen banget sama kalian" ucap Amel pada andi dan Riska, dengan wajah yang ingin menangis.

"iya adek sayang, kak Riska juga kangen kok sama kamu, iya kan bang andi" sahut Riska.

"iya, abang juga kangen kok sama Amel" ucap bang andi.

"yudh sini kita duduk di sofa yuk" ajak andi pada adik-adiknya.

"Rendi dimana dek" tanya andi pada Amel.

"ada bang di kamar, apa mau amel panggilin" jawab Amel.

"gak usah biar abang aja"

"baik bang"

bang andi pun berjalan menuju kamar Rendi.

"dek" panggil andi mengetuk pintu kamar Rendi.

"iya bang" jawab Rendi.

"lagi ngapain kamu di dalam, keluar yuk bentar kumpul di ruang tamu" ajak andi pada Rendi.

"baik bang" jawab Rendi

Rendi pun membuka pintu kamarnya, dan berjalan ke ruang tamu bersama bang andi.

akhirnya mereka berlima pun berkumpul lagi , setelah berapa tahun lamanya kini mereka bersatu lagi.

mereka pun saling berbincang, begitu pun tidak lupa masalah Amel yang ingin di ceritakan kepada keluarganya ketika andi sudah pulang, selaku anak pertama dan jadi tulang punggung keluarga.

bang andi pun tidak marah setelah Amel menceritakan semuanya pada abang dan kakanya itu, begitu pun yang lain tidak ada reaksi apapun.

bahkan seorang Rendi yang sikap nya gampang emosi, Rendi pun tidak marah.

yah itu lah keluarga mereka, suatu masalah jika ada seorang bang andi yang ikut bergabung, adik-adiknya tidak akan ada yang berani berbuat maupun bersikap yang bikin bang andi benci.

sekiranya cerita Amel sudah selesai, bang andi memutuskan besok, dia yang akan datang ke sekolahanya Amel dengan seorang diri, sekalian nganter Amel ke sekolah.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience