BAB 11 : MASA LALU PART 4

Drama Completed 209

Tepatnya di umur 3 tahunya amel, kejadian yang tidak terduga, masih beruntung amel tidak ikut oleh kedua orang tuanya yang sedang mengurus sebuah kontrakan tepatnya di sebrang kota tempat kelahirannya ayah andre, sedangkan amel yang di titipkan oleh adiknya ayah andre yaitu andri.

adiknya ayah andri sempat menolak akan perginya kedua orang tua amel yang mengurus pembangunan sebuah kontrakan di karenakan di umur amel yang di bilang masih terbilang kecil.

begitu pun umur anak-anak andre masih menjenjang menggali ilmu.

tapi apa boleh buat, tekad ayah andre sudah bulat, dimana ketika amel sudah berumur 3 tahun, ayah andre akan menyelesaikan pembangunan karna sebentar lagi akan selesai.

"drrtt, drttt, drrttt" suara ponsel bergetar milik ayah andre.

"bang, emang jadi abang berangkat untuk mengurus pembangunan kontrakan" tanya andri di balik telefon.

"jadi mungkin minggu ini" jawab ayah andre.

"emang gak abang pikir-pikir lagi, kasian anak-anak abang, kalau terjadi apa-apa bagaimana" saut andri.

"abang dah bulat ambil keputusan sama istri abang bahkan, saya sudah bilang sama andi minta tolong jagain adik-adiknya" ucap ayah andre menjelaskan.

"terus bagaimana dengan anak-anak abang, mau di tinggal kan kalian gak di rumah" jawab andri yang kasian pada anaknya sang abang.

"saya nitip sama kamu dulu, kemungkinan sekitar 2 atau 3 saya bakal kembali lagi" ucap ayah andre meyakinkan pada andri agar tidak memikirkan yang tidak-tidak.

"yudh kalau begitu, tapi jangan lupa bang beri kabar ke anak-anak mu tiap hari" jawab andri.

"kalau masalah itu, saya usahan".

panggilan telefon pun di tutup.

" hadeh kenapa begitu sih abang yah" gimana andri pada dirinya.

larangan andri pada abangnya sama sekali tidak bisa berfungsi, andri sudah kehabisan akal supaya andre tidak jadi berangkat, hanya satu yang di dalem pikiran andri yaitu keponakannya yang masih di bilang umurnya masih anak-anak, yang begitu harus membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya.

"kamu paham kan nak apa yang ayah ucapkan pada kamu" tanya ayah andre pada andi, yang kebetulan sedang berdua aja di ruang tamu.

"paham yah" jawab andi lemes.

sebenarnya andi pun tidak ingin ayah dan ibu pergi, tapi sang ayah yang benar-benar kuat tekadnya, sang ayah meyakinkan pada anaknya, bahwa akan Baik-baik aja.

andi yang seorang anak hanya bisa memahami dan manut apa yang di lakukan seorang ayah.

andi yang di bilang anak pertama bisa di handalkan, apalagi sudah terlihat dewasa, masih tidak mempan cegah sang ayah untuk pergi, bagaimana dengan adiknya yang hanya bisa manut.

***

hari minggu pun telah tiba, kesepakatan seorang ayah pada adiknya dan anaknya minggu lalu benar-benar jadi.

pagi itu keluarga ayah andre siap-siap untuk ke rumah adiknya ayah andre, untuk menitipkan anak-anak nya kepada adiknya.

dalam perjalan, di dalam mobil anak-anak ayah andre hanya terdiam dan menerima akan kepergian ayah dan ibunya.

Bu Vina sebagai seorang ibu dari mereka, hanya bisa terdiam juga sesekali melihat ke belakang yang terdapat anak-anak nya sedang menunduk pasrah.

"maaf yah nak,ibu dan ayah meninggalkan kalian, pasti ibu dan ayah akan kembali lagi, janji" gumam bu Vina.

beberapa menit perjalanan menuju rumah adiknya andre, mereka pun sampai di rumahnya.

lalu mereka masuk dengan di sambut adik nya andre beserta istri dan anaknya.

kemudian selama 1 jam mereka berbincang, mereka berangkat menghantarkan ayah andre sama istrinya ke bandara.

tidak butuh waktu lama hanya sekitar 1 jam setengah mereka pun sampai di bandara.

sambil menunggu jam terbang pesawat yang akan di tumpangi oleh andre dan istrinya.

sang anak hanya menangis namun tidak terlalu kencang.

"ayah jangan pergi ninggalin kita, hikss ee" ucap andi yang memeluk ayahnya, begitu pun rendi memeluk sang ayah dengan air mata yang mendung.

"bu kenapa kalian tega sih" ucap siska memeluk bu Vina, begitu Riska juga ikut memeluk ibunya.

"udah sayang jangan nangis, ibu bakal kembali lagi kok sama ayah, ibu janji" saut bu vina meyakinkan anaknya.

sekitar 20 menit pesawat yang akan di tumpangi kedua orang tua amel, mereka pun meninggalkan anak-anak nya dan keluarga adiknya andre, tidak lupa andre dan Vina memeluk, mencium, dan mengusap pada anak-anak nya.

Bu Vina yang tidak tega meninggalkan anaknya, raut wajah bu Vina seketika ingin mengeluarkan air mata, apalagi ketika bu Vina mencium amel dan memegang tubuh amel, seraya ingin melepaskan tangisanya.

"dek , Vina titip amel dulu yah" ucap bu Vina pada istri adri.

"iya kak, aku bakal jagain semua anak-anak mu kok" jawab istrinya andri memeluk Vina yang sudah menagis di pelukanya.

"udah-udah jangan sedih yang penting kaka sehat-sehat di sana" saut istri andri, seraya mengingatkan kesehatan Vina.

lalu kedua orang tua amel, meninggalkan anak mereka.

***

keesokan harinya berada di pendiaman rumah andri, andri beserta keluarganya berusaha untuk mengajak anak-anak abang nya untuk seperti hal biasanya.

andri yang di didik oleh keluarga besarnya dulu, dia sudah di ajarkan oleh kedua orang tuanya untuk tidak saling membedakan, apalagi sesama keluarganya maupun saudara-saudaranya.

maka dari itu andri sudah menganggap anak-anak abang nya udah andri anggap seperti anaknya sendiri.

andri yang mempunyai 3 seorang anak, bahkan andri pun mendidik mereka seperti andri di didik dulu, agar keturunan keluarga besar andri bisa mengikuti prilaku orang tuanya.

bunda zahra yang sudah menyiapkan masakan untuk mereka sarapan, lalu bunda zahra memanggil keluarganya untuk sarapan bersama.

bu zahra adalah seorang istri dari andri, dengan nama kepanjangan Wanda mutiara zahra, namun suka di panggil zahra sejak kecil, jadi sampai ia besar dah punya keluarga panggilanya tetep zahra.

"pah, sarapan dulu yuk, mamah dah nyiapin nih" panggil bunda zahra membuka pintu kamar nya yang di dalam ada suaminya bersama amel.

"iya bund" jawab pak andri.

pak andri pun keluar dari kamar sambil menggendong amel, yah bgtu lah namanya juga anak kecil, walaupun sudah bisa jalan kadang minta di gendong kadang minta turun secara tiba-tiba.

"yudh nih bunda gendong dulu amel" ucap pak andri yang memberikan amel pada bunda nya.

ketika bunda zahra ingin menerimanya, amel pun menggelengkan kepalanya, sontak mereka berdua ketawa kecil melihat amel yang gak mau di gendong sama bunda zahra.

"wulan, zaki, okta sarapan dulu yuk" teriak pak andri pada ketiga anaknya.

"baik pah" jawab wulan pada pak andri.

"riska, siska bangun dek kita sarapan dulu yuk" ucap wulan membangunkan riska dan siska.

ketika wulan sedang membangunkan keponakannya, ada orang yang tiba-tiba memanggil namanya.

"kak wulan udah di tunggu sama papah juga yang lain tuh" panggil zaki mengetuk pintu kamar wulan.

"iya dek, kamu duluan aja, kaka lagi bangunin riska sama siska dulu" jawab wulan.

"yudh zaki duluan"

zaki pun kembali menuruni tangga berjalan kembali ke dapur.

"mana kaka" tanya pak andri.

"itu katanya nanti nyusul pah, lagi bangunin riska sama siska dulu" jawab zaki.

"ohh yudh kalo gitu"

mereka pun mulai sarapan.

ketika mereka baru memulai sarapan, wulan pun dateng untuk bergabung bersama mereka.

"riska sama siska dah aku bangunin, tapi gak mau makan pah" ucap wulan yang hendak duduk di kursi makan.

"yudh nanti papah aja yang bangunin mereka" jawab sang papah.

kemudian mereka pun melanjutkan menikmati sarapanya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience