Series
42375
'Wanita itu? Benar-benar buatku kesal? Apa dia ingat dia punya kuasa untuk melawan ucapanku? Mimpi saja kau OB gila, dasar wanita nggak punya sopan santunnya.' Adam bergumam sendiri dalam ruangannya.Tiba-tiba Adam terkekeh sendiri.Dia ingat pada pertama kali OB itu masuk ke ruangannya.
"Cantik" Satu ayat yang lolos dari mulut Adam.
Ya, Adam akui kalau OB itu cantiknya sangat asli. Tapi sayang sekali, pertama sekali ketemuan sudah tidak sefahaman.
"Namanya aja aku nggak tahu, gini pula jadinya.Cih ! Bikin kesal banget sih!?" Gumam Adam semula.
Adam menarik nafasnya panjang.Lalu mengusap wajahnya kasar. Hari pertamanya masuk kerja otaknya jadi serabut gara-gara OB tersebut.
Adam bangkit dari tempat duduknya.Langkah kakinya menunju ke lantai bawah.Tapi tujuannya entah ke mana.Dia sendiri belum pasti.
Tanpa ada tujuan tetap, Adam melajukan mobil miliknya.Dia berputar-putar disekeliling gedung tersebut.Adam menghentikan mobil mendadak sekali. Bunyi klakson jelas terdengar.
'Arghh!! Sial apa yang kau bawa wanita bodoh?!' Ternyata masih besar rasa kesal yang menganjal dihatinya Adam.
'Awas saja kau OB, kalau sampai ketemuan lagi, aku akan mengerjaimu cukup-cukup.Aku tak kan lepaskan kau dengan mudah.' Adam memukul stering mobil.Sungguh dia sangat benci pada keadaan yang sedang dirasainya saat ini.
Adam bersandar pada tempat duduk pengemudi. Tiba-tiba mata Adam tertumpu pada sosok yang buat moodnya rosak.
"Aku menemukanmu OB gila!!" Langsung saja Adam keluar dari mobil lalu menerkam tubuh Arin dari arah belakang.
"Lepaskan! Tolong! Ada pria gila nyulik saya!?"
Teriak Arin.Dan teriakan dari Arin itu buat mata Adam melebar penuh.
"What? Kau bilang aku pria gila?" Adam membungkam mulut Arin dengan telapak tangannya. Lalu mengheret Arin masuk kedalam mobilnya.
Adam melajukan mobilnya setelah ia mengunci pintu mobil tersebut.Sakit hati Adam membakar ke seluruh raganya.Kebenciannya Adam memburu bila Arin mengatakan kalau dia Pria gila.
"Pak, Berhenti. Bapak mau nyulik saya? Iyakan? Saya bakalan lapor Bapak ke polisi." Ucap Arin tanpa ada rasa takutnya dia mengatakan itu pada Adam.
Mendadak Adam menghentikan mobilnya. Sehingga kepala Arin terbentur ke depan.
"Aduh!!" Arin meringis sakit pada bahagian dahinya. Arin memegang dahinya takut jika ada luka akibat benturan tadi.
"Pak, Pelan-pelan dong.Ini dahi saya sakit lho Pak." Protes Arin pada Adam.Adam melirik ke arah Arin.
"Itu belum cukup Mbak OB gila, kau harus membayar sakit hati yang kau mulakan."
Memang benar apa yang Adam ucapkan.
"Pak, apa yang telah saya buat sampai Bapak panggil saya OB gila?" Tanya Arin tak puas hati pada perlakuan Adam terhadapnya.
"Kau sudah lupa, bukankah tadi kau memanggilku pria gila? satu lagi, jangan memanggilku dengan sebutan Bapak atau Pak. Aku bukan majikan mu lagi juga bukan bapak mu." Ucap Adam sombong.
"Habis maunya dipanggil apa? Kok kita bukan siapa-siapa bukan? Saya juga nggak tau namamu siapa? Saya panggil Tuan aja deh.."
"Sudahku katakan tadi aku bukan majikanmu lagi. Aku bukan tuanku juga.." Arin menatap tajam pada Adam yang buatnya merasa gila menghadapi karenah bekas majikannya itu. Menurut Arin, mungkin saja pria ini ada masalah gangguan jiwa.
"Lebih baik buka kunci pintunya, saya mau turun.Percuma saja kita debat tak mau kalah.
Buang masa lho?!" Pinta Arin pada Adam.Sungguh Arin tak habis fikir pada pria yang ada didepannya saat ini.
"Enak aja ya kamu perintahku segala?Kau ingat kau siapa?" Sahut Adam santai.
"Nyabelin banget sih! Saya mau turun sekarang.." Adam tak menggubris langsung pada permintannya Arin. Dia malah melajukan semula mobilnya.
Sehinggalah tiba ke suatu tempat, Adam memberhentikan mobilnya disebuah kondominium mewah milik Adam.
Sekali lagi Adam mengheret paksa tubuh Arin menunju ke kondominium tersebut. Walau Arin sudah berusaha untuk cuba melepaskan diri, namun tenaganya tidak cukup melawan betapa kuatnya Adam mencengkam tangannya.
Share this novel