Series
42375
Wajah Laras sangat cantik dimata Arin. Tapi Arin tidak perasan kalau wajah itu ada mirip dengan wajahnya.
Tapi fikirannya masih persoalkan siapa Adam terhadap ibu Laras.
"Ke sini nak.. mendekatlah sama tante. " Panggil ibu Laras pada Arin.
"Nak.. kau terlihat begitu cantik. Tante jadi ingat saat tante masa muda dulu. Kau sama persis sama tante. "
Seraya mengelus bahu Arin. Adam sangat senang melihatnya dan Adam sangat yakin kalau ibunya itu dapat menerima Arin dengan baik.
"Duduklah Arin. Pasti kau penasaran kenapa Om menyuruh kalian kesini ? Mulai saat ini panggil Om saja.
Nggak usah panggil bapak lagi. Toh sebentar lagi kita bakal jadi satu keluarga. " Ucap tulus ayahnya Adam.
"Adam.. kok nempel terus sana sama si Arin ? Nggak bakalan lari kok !" Ejek ayah Adam yang tak tahan melihat anaknya itu melekat saja pada Arin. Seperti takut kehilangan.
"Cih ! Seperti ayah tidak pernah saja muda." Kata Adam buat ayahnya tercengang tidak percaya pada kata - kata Adam tadi itu. Apakah benar anaknya ini sudah benar - benar jatuh cinta ?
"Tentu saja. Bahkan ayah sudah jatuh cinta dua kali. Selepas kematian ibu kandungmu, ayah jadi bucin pada ibumu yang sekarang ini.. " Ucapan kata dari ayah Adam itu sudah memberi kesimpulan kalau ternyata ibu
Laras itu ibu tirinya Adam.
"Ha.. ha.. ha.. tu kan ayah. Ayah saja jatuh cinta sudah dua kali. Eh ! Kok ayah sih kenapa bahas soal cinta padaku ?" Wajah Adam nampak sangat hairan pada kata - kata ayahnya.
"Ya iyalah sih ! Asal kau tahu Adam. Ayah pasti kalau kau saat ini sedang jatuh cinta. Ayah juga dulu pernah sepertimu Adam. Bila sudah ada wanita yang pas dihati, ayah selalu menempel pada pujaan hati ayah.
Tanyakan saja pada ibu Laras.. bagaimana bucinnya ayah dulu padanya.. " Kata ayah Adam.
"Mas udahlah. Itukan masa muda kita. Nggak usah dibahas lagi. Toh kita udah tua juga. " Sela ibu Laras.
" Uh ! Sepatutnya kamu belain dong suamimu. Jangan diberi muka sangat sama anak bawel nih !" Adam melototi ayahnya. Apa telinganya tidak salah dengar jika ayahnya mengatakan dirinya bawel dihadapan Arin?
"Mas kan kita lagi ada tamu. Kalian berdua kenapa sih ?
Arin pasti ngerasa hairan tingkah kalian berdua.. Nak Arin, jangan diladeni ya atas ucapan suami ibu dan juga Adam. " Ibu Laras tersenyum manis pada Arin sewaktu mengatakannya.
"Mas kenapa nggak bilang maksud tujuan kita memanggil Arin ke sini.. Bicarakanlah Mas.. " Kata ibu Laras pada sang suaminya.
"Oh iya.. benar juga. Biar Om terus - terang saja. Om sama tante sudah sepakat kalau kita akan bertemu dengan orang tuamu Arin. Kami akan melamarmu bagi Adam. Jadi sebelumnya, kami ingin pendapat darimu dulu. Apakah kau setuju atau kalian punya plan lain ?"
Tanya ayahnya Adam.
"Om.. apa ini tidak terburu -buru ? Lagian saya sih sama Adam juga baru kenalan. Jika boleh, biar kami saling kenal lebih baik. Iya kan Dam.. " Arin menatap ke arah Adam yang juga memang sedang menatap kearahnya.
"Aku sih nggak apa - apa kok Rin. Asal kau tau aja kalau aku benaran cinta sama kamu. Lambat atau cepat, kau harus jadi isteriku juga nanti.. " Adam mencuba memujuk Arin. Tapi Adam sudah lupa kalau dia punya perjanjian sama Arin dimana mereka harus ketemu dulu sama ibu Arin.
"Iya itu saya tahu Dam.. tapi tidak sekarangkan ? Ini masih terlalu awal. " Balas Arin.
Ah ! Adam sangat kecewa dengan jawapan dari Arin itu.
Tapi mana mungkin Adam dapat memujuk Arin untuk menyetujui permintaan ayahnya.
"Jadi kalau gitu.. Om boleh kasih syarat ? Om beri kalian sebulan untuk rapatkan hubungan. Apapun nanti,
selepas sebulan Om akan ketemu sama orang tua mu Arin. Kalian harus nikah. Tiada penolakan. "
Kata ayah Adam penuh penekanan.
Arin dan Adam sama - sama mengangguk mengerti.
Apa pun sekarang keduanya cuma mampu ikuti syarat dari ayah Adam.
"Adam.. apa boleh aku bertanya sesuatu padamu ? Ini tentang ibumu ?"
Share this novel