Series
42375
Sangat malang nasibnya Arin hari ini. Dengan rasa remuk yang masih dirasakan pada intinya, rasa hatinya sudah mula pudar untuk mencintai kekasihnya yang bangsat itu. Fikiran Arin mula berkecamuk. Buntu. Wajahnya terlihat kacau. Menoleh kesamping, sosok sang kekasih yang begitu tega merenggut kesucian masih lena dalam tidurnya. Setitis demi setitis airmata
Arin jatuh membasahi pipinya. Mulut didekap dengan tangan agar suara tangisannya tak buat Adam terjaga.
Tapi siapa menduga kalau Adam terdengar sayup - sayup isakan Arin.
Adam membuka matanya perlahan. Tangannya mengusap lembut pada pipi Arin. Sebelah tangannya merapikan rambut Arin yang beranantakan. Lalu Adam menutup tubuh polos Arin dan dirinya yang masih telanjang tanpa seurat benang pun dengan selimut.
"Maaf ! Aku sengaja lakukannya.. Biar kau terikat denganku. Nggak usah khawtir kok, aku nggak akan ninggalin kamu. Justeru itu aku malah senang karna sebentar lagi aku bisa menikahimu dan jadikanmu isteriku.. "
"Aku nggak nyangka lho Dam.. bisa - bisanya kau lakukan perkara jijik ini.. apalagi kita bukan muhrim.. kau benar - benar buatku kecewa.. " Arin kini menangis sejadi - jadinya.
"Ya sudah ! Kita ketemu orang tuamu, aku akan melamarmu lalu menikahimu.. "
"Apa kau lupa siapa orang tuaku ? Ibu Laras itu ibu kandungku. Kau akan keruhkan keadaan bila mempertemukan Ibu Laras dan nenekku ?" Itu yang Arin bimbangkan.
"Emang nenek kamu ngapain sama ibu ?" Tanya Adam dengan dahi berkerut.
"Nenek yang pisahin Papa dan ibu Laras dengan cara paksa.. " Adam tercenggang. Sedikit sebanyak dia mula faham kenapa Arin menolak lamarannya.
"Kenapa nggak bilang sama aku dulu kalau nenekmu ada sangkut paut dalam hal ini ?" Adam menghela nafas.
"Nenek pasti membunuhku jika tahu bakal suamiku ialah anak tiri dari wanita yang dibencinya, yang pernah ia usir. Kau belum kenal sama nenekku yang pentingkan darjat.. " Arin terlepas cakap. Dia lupa kalau dia tidak pernah menceritakan latar belakang keluarganya.
"What !! Darjat ! ku kira selama ini kau cuma dari keluarga yang biasa - biasa sahaja.. Kenapa sih Arin, banyak hal yang kau sembunyiin dariku.. aku curiga deh sama kamu.. atau kau cuma manfaatin aku doang.. " Air muka Arin mendadak berubah. Kalau awal mulanya, mungkin tuduhan Adam itu betul tapi tidak sekarang.
"Itu nggak penting sekarang Adam.. aku sangat kecewa kau seenaknya memperlakukan aku bagaikan binatang ! Do you ever listen what I said !" Adam melotot tak percaya kalau Arin boleh berbahasa inggeris sebaik itu. Apakah Arin berpendidikan tinggi ?
Adam belum pastikan itu.
"Apa lagi yang aku belum tahu tentangmu Arin ?"
Adam bertanya curiga. Benar - benar Adam tidak habis fikir. Ada seorang kekasih tapi masih saja belum kenal sepenuhnya.
"What is so important now ? Apa yang harus aku lakuin sekarang ? I'm confused. " Kata Arin. Ya benar kalau sekarang fikirannya sangat bingung. Buntu.
Ternyata Arin fasih berbahasa inggeris. Dan Adam yakin kini kalau Arin bukan orang biasa - biasa. Pasti dia berpendidikan tinggi juga. Adam terasa seperti dipermainkan pula saat ini.
"Hmm.. Kita nikah !" Begitu mudah Adam mengungkapnya. Arin terbeliak hampir nak terkeluar biji matanya.
'Apakah semudah itu Adam meminta nikah dariku ? Apa
dia ingin Papa cepat meninggal dan nenek akan membuangku dari keluarga ? Dasar.. ' Batinnya Arin seraya menggelengkan kepalanya.
Share this novel