9

Fantasy Series 581

Keesokkannya

Dalili segera bersiap - siap untuk keluar. Semenjak mimpi semalam , tubuhnya kembali langsing dan bertenaga seperti sedia kala.

Sebaik Dalili menolak motornya keluar dari pintu pagar rumahnya terasa deruan angin sepoi - sepoi bahasa.
' Terasa seperti di kampung ' Fikir Dalili.

" Ibu ibu tunggu nak ikut. " Dalili terasa mendengar bisikan suara memanggilnya.

Dalili hanya diam terkedu memandang ke arah paya di hadapan rumahnya. Angin yang meniup ke arahnya terasa pelik. Dia sedikit meremang. Kelihatan bulu roma di belakang tangannya mulai berdiri sebelum terasa berat di belakang motornya.

" Argh aku terlalu memikir ! Petang - petang pun takkan meremang. " Rengus Dalili bingung.

" Mana mungkin aku dah bernikah dan mempunyai beberapa orang anak ? Dalam mimpi. Argh cuma mimpi. " Gumam Dalili perlahan sebaik mula bergerak.

Mimpinya semalam terasa seperti realiti. Semua yang terjadi terasa seperti betul - betul berlaku pada dirinya.

" Mungkin aku patut berjumpa dengan Nad ? " Gumam Dalili lagi sebelum menukar haluannya.

Asalnya dia berniat untuk menuju ke kedai. Tetapi dek rasa gundahnya dia segera menuju ke rumah sahabatnya , Nadiah.

" Assalamualaikum Nad oooo Nad. " Panggil Dalili di hadapan rumah Nadiah.

" Waalaikumsalam sekejap - sekejap. " Sahut Nadiah kelam - kabut.

Selang beberapa minit , Nadiah keluar lengkap dengan tudung. Berlari - lari Nadiah ke arah Dalili. Serentak dengan itu , motor Dalili terasa ringan kembali.

" Jom aku tahu kau nak ajak aku berjalankan ? " Soal Nadiah teruja sebaik melihat wajah muram Dalili.

Dalili mengangguk perlahan sebelum Nadiah segera duduk di tempat duduk belakang motor Dalili. Dalili segera memandu ke arah sungai yang biasa dia lepak bersama Nadiah.

Nadiah segera turun sebaik sampai di sungai sebelum menunggu Dalili turun. Tangan Dalili segera ditarik menuju ke arah tempat lepak mereka.

" Aduh ! " Kata Dalili tiba - tiba.

" Kau kenapa ? " Soal Nadiah pelik.

" Jom duduk. Nanti aku cerita " Kata Dalili muram.

" Okay ceritalah " Kata Nadiah teruja.

" Aku tak tahu aku kenapa. " Kata Dalili sebak.

" Tangan kau kenapa ? " Soal Nadiah pelik.

" Tangan aku sakit sejak aku bangun tidur. Aku tak tahu kenapa. " Adu Dalili.

" Kau salah tidurlah kut. " Kata Nadiah cuba menenangkan Dalili.

" Tak pun. Aku tidur tak bergerak. Aku. Aku mimpi peliklah. " Kata Dalili.

" Aku dah agak dah. Aku nampak kau pelik. Mimpi apa ? " Kata Nadiah mengiakan Dalili.

" Aku mimpi seorang lelaki ini. Aku tak kenal dia. Tapi dia kata dia suami aku. Mulanya aku tersesat dekat satu kampung klasik. Aku pun tak tahu di mana. Kemudian aku jumpa dia. " Cerita Dalili.

" Jauh ke kampung itu ? Kau jalan kaki ? " Soal Nadiah.

" Jauh. Aku berkaki ayam. Berkali - kali aku pusing. Aku tak tahu aku di mana. " Kata Dalili.

" Kau yang pergi kampung dia. Bukan dia datang dekat kau. " Kata Nadiah.

" Maksud kau kampung kembar aku ? Yang aku pernah pergi dulu itu ? " Soal Dalili pelik.

" Ya. " Sahut Nadiah yakin.

" Tapi macam mana ? Aku dah lama tak pergi sana. Lagi pun aku sendirian bukan dia yang bawa pun. " Kata Dalili bingung.

" Itu aku tak tahu tapi memang kau yang pergi. Apa yang jadi ? Aku rasa kampung dia ada dekat dengan rumah kau. " Kata Nadiah.

" Mungkinlah. Beberapa bulan lepas aku mimpi aku berkahwin dengan seseorang. Apa nama dia ? Ru Ru Ruzian kalau tak salah. Lepas itu aku tak pernah mimpi macam itu dah. Tapi aku buncit 3 hari ini sampai mak aku tegur. " Kata Dalili.

" Aku pun nampak kau lain tapi taklah tegur. Tapi kau dah elok kurus balik hari ini. Lepas itu apa jadi ? " Soal Nadiah.

" Dia kata aku mengandung anak dia. Aku tak percaya. Aku suruh dia ceraikan aku tapi dia tetap nak anak dia. Dia tak bagi aku balik. " Kata Dalili semakin muram.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience