BAB 4: Pria yang Terlalu Banyak Bicara

Romance Series 91

_____

Aku memindahkan laptopku ke meja di seberang, yang kebetulan kosong dan—yang paling penting—nggak ada bekas muntahan kucing di bawahnya.

Aku duduk dengan napas masih agak kesal. Pria itu pasti sengaja. Pasti.

Tapi ya sudahlah. Aku buka dokumen kerjaanku, mencoba fokus. Ada satu artikel tentang "Hidden Cafes di Seoul" yang harus kuselesaikan minggu depan. Ironis, ya? Nulis tentang kafe tersembunyi di Seoul, padahal aku lagi ngumpet di kafe pinggir pantai di Gangneung.

Baru lima menit aku mengetik, sebuah gelas kosong diletakkan di samping laptopku.

"Refill?"

Aku mendongak. Ji-hoon berdiri di samping mejaku, memegang teko kopi dengan senyum yang sama menyebalkannya tadi.

"Nggak perlu, terima kasih," jawabku cepat, kembali menatap layar.

"Tapi kopimu sudah habis."

"Aku memang nggak mau nambah."

"Yakin? Gratis lho. Khusus untuk tamu yang pertama kali datang dan kelihatan... stresse."

Aku menoleh, menatapnya tajam. "Aku nggak kelihatan stres."

Dia mengangkat alis. "Kamu ngetik kalimat yang sama sudah tiga kali. Dan kamu menggigit ujung sedotan sampai gepeng."

Aku buru-buru melepas sedotan dari mulutku. Sial.

"Kamu observatif juga, ya," kataku datar.

"Hobi," jawabnya sambil nyengir. "Jadi, refill? Aku bikin cold brew baru hari ini. Enak. Lebih enak dari yang tadi."

Aku menghela napas. "Nggak. Aku mau kerja."

"Oke, oke. Kalau berubah pikiran, panggil aja." Dia berbalik badan, lalu berhenti sebentar. "Oh ya, namamu siapa? Aku lupa nanya."

"Seo-ah."

"Seo-ah," dia mengulang, seolah-olah mencicipi namaku. "Nama yang bagus. Cocok buat seseorang yang kelihatannya serius tapi sebenarnya butuh liburan."

Aku menatapnya datar. "Kamu ini selalu banyak bicara, ya?"

Dia tertawa. "Hanya sama orang yang menarik."

Lalu dia benar-benar pergi, kembali ke balik mesin kopinya.

Aku mencoba fokus lagi.

Sungguh. Aku benar-benar mencoba.

Tapi setiap sepuluh menit, ada aja alasan Ji-hoon buat datang ke mejaku.

"Seo-ah, kamu mau air mineral? Kamu kelihatan dehidrasi."

"Seo-ah, AC-nya terlalu dingin? Aku bisa naikkan suhunya."

"Seo-ah, kamu suka kucing? Kucingku namanya Doraeji. Dia suka tidur di dekat orang yang kelihatan sedih."

"AKU NGGAK SEDIH," jawabku pelan tapi tegas, tanpa mendongak dari laptop.

"Oke, oke. Nggak sedih. Cuma... moody."

Aku mendengus. Tapi entah kenapa, sudut bibirku naik sedikit. Sedikit. Aku buru-buru menurunkannya lagi sebelum dia lihat.

____

Jam menunjukkan pukul tiga sore saat aku akhirnya membereskan laptopku. Kepalaku penat, tapi setidaknya artikel itu sudah setengah selesai.

Aku berdiri, meregangkan tubuh, lalu berjalan ke kasir untuk pamit.

Ji-hoon sedang mengelap meja, dan saat melihatku, dia langsung tersenyum. "Mau pulang?"

"Iya."

"Besok datang lagi?"

Aku menatapnya. "Belum tentu."

"Yakin? Kopimu masih ada sisa di gelas. Artinya kamu belum jatuh cinta sama rasa kopi kami."

Aku memutar bola mata. "Kamu ini... selalu punya alasan, ya?"

"Hanya buat bikin kamu kembali," jawabnya santai.

Aku terdiam sebentar. Kalimat itu... entah kenapa, terdengar sedikit berbeda. Bukan godaan. Tapi... sesuatu yang lebih lembut.

"Nggak janji," kataku akhirnya, lalu berbalik badan keluar dari kafe.

Malam itu, aku duduk di tepi kasur guesthouse, menatap laut yang gelap dari jendela.

Aku mencoba nonton drakor, tapi nggak masuk ke otak. Aku mencoba baca buku, tapi halamannya nggak bergerak. Aku mencoba tidur, tapi mataku nggak mau merem.

Yang ada di kepalaku cuma satu: senyum Ji-hoon yang menyebalkan itu.

Kenapa aku mikirin dia? Dia cuma barista yang terlalu ramah. Itu aja.

Aku menghela napas, lalu tanpa sadar, aku membuka jendela kamar lebih lebar. Angin malam masuk, membawa aroma garam dan sesuatu yang... familiar.

Kopi.

Dan kemudian, aku mendengarnya.

Suara gitar.

Pelahan, lembut, dimainkan dengan jari-jari yang terlatih. Melodinya sedih, tapi indah. Aku mencondongkan tubuh, mencoba melihat dari mana suara itu berasal.

Dan di sana, di teras kafe Wave & Bean yang remang-remang, duduk seorang pria dengan gitar di pangkuannya.

Ji-hoon.

Tapi ekspresinya... beda.

Bukan senyum menyebalkan seperti tadi siang. Bukan tatapan jahil yang bikin aku kesal. Tapi wajah yang... lelah. Sedih. Seperti sedang memikul sesuatu yang berat sendirian.

Dia menyanyikan sesuatu, pelan, hampir seperti bisikan. Aku nggak bisa mendengar liriknya, tapi nadanya... bikin dadaku terasa sesak.

Aku nggak bergerak. Aku cuma berdiri di jendela, menatapnya dari kejauhan, sampai dia selesai memainkan lagunya.

Lalu dia meletakkan gitarnya, menunduk, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Jantungku berdegup kencang.

Siapa kamu sebenarnya, Kang Ji-hoon?

???

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience